Landing Craft Tank Mulai Gerus Pendapatan Pengusaha Kapal Ferry

Foto: Nusabali.com

Dominasi moda angkutan penyeberagan barang seperti truk antar pulau selama ini lumrah disokong oleh kapal ferry. Di Indonesia penyedia layanan ferry adalah BUMN PT ASDP Indonesia Ferry dan para pengusaha kapal swasta yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai dan Penyeberangan (Gapasdap). Meski jalur penyeberangan berbasis ferry selalu dibutuhkan, namun belakangan omset pendapatan pengusaha kapal ferry dilaporkan mengalami penurunan signifikan, pasalnya pengemudi truk angkutan barang sebagian mulai beralih menggunakan jasa Landing Craft Tank (LCT).

Baca juga: Mengenal Jenis Tarif di Lintasan Ferry Terpadat, Merak – Bakauheni

Tidak tanggung-tanggung, penurunan pendapatan akibat LCT mencapai 25 persen, demikian dikatakan Ketua DPP Gapasdap Khoiri Soetomo, dikutip dari Tempo.co (20/4/2017). Tidak adanya ketentuan batas ketinggian barang bawaan pada truk menjadi daya pikat tersendiri bagi pengemudi truk untuk beralih ke jasa LCT. Padahal tidak adanya ketentuan batas ketinggian pada truk yang dibawa berbuntut pada masalah standar keselamatan dan mengganggu stabilitas kapal. Karena tak dirancang dengan standar keselamatan yang baik, kelengkapan seperti “life jacket”, “inflatable life raft” (ILR), dan sprinkler di setiap geladak juga tidak ada .Dari sisi keamanan LCT tidak dilengkapi dengan CCTV dan tenaga keamanan.

Secara bisnis, LCT pun dioperasikan dari pelabuhan yang berdekatan dengan pelabuhan yang telah eksis. Sebagai contoh di lintasan LCT Bojanegara – Muara Piluh, Bakauheni yang berimpit dengan lintasa kapal ferry Merak – Bakauheni. Sayangnya pemerintah justru memberikan peluang kepada perusahaan pelayaran untuk mengoperasikan kapal jenis LCT dan mereka tidak melengkapi dengan standar keselamatan yang memadai, baik bagi penumpang dan muatannya (geladaknya terbuka sehingga barang mudah rusak terkena air).

Imbas dari menurunnya omset pendapatan kapal ferry, menyebabkan perusahaan pelayaran yang beroperasi di lintas Merak-Bakauheni merasa berat untuk menutup biaya operasional. Pihak Gapasdap mengusulkan agar LCT dioperasikan di lintas yang tidak berimpit dengan lintas Merak-Bakauheni, Kami harapkan pemerintah memberikan solusi yang terbaik terhadap permasalahan tersebut guna keberlangsungan layanan di lintas penyeberangan Merak-Bakauheni. Gapasdap tidak meminta dilindungi dan diproteksi berlebihan oleh pemerintah. Keadilan dalam aturan adalah hal utama agar kedua belah pihak bisa hidup bersama dan berdampingan,” ujar Khoiri.

Mengenal Landing Craft Tank
Aslinya jenis kapal ini diciptkan untuk kepentingan militer, kiprah LCT mulai popular semenjak Perang Dunia Dua di Eropa. Memiliki dek yang luas dan rata, menjadikan LCT cocok untuk mengangkut tank, prajurit atau bahan logistik. Dalam perkembangannya, dek kapal ini juga bisa dipasangi senjata anti serangan udara, meriam dan juga peluncur roket. Beberapa kapal ini juga digunakan sebagai penyapu ranjau.

Kini LCT lebih popular untuk keperluan komersial, karena kapal ini sangat efisien untuk pengangkutan heavy cargo, bulldozer, excavator, dump truck, loader dan alat berat lainnya yang sangat diperlukan untuk pekerjaan pertambangan dan proyek konstruksi . Selain itu bahan-bahan konstruksi berukuran besar seperti pipa besi, lembaran baja, tanki air dan sebagainya juga dapat diangkut dengan LCT. Ciri khas lain dari LCT adalah tidak memerlukan pelabuhan yang besar untuk mendaratkan barang yang diangkutnya dan bisa melakukan bongkar muat hampir di mana saja.