Lika-Liku Karyawan Freeport, Berangkat Kerja Harus Pakai ‘Bus Perang’ Anti Peluru

0
Bus anti peluru Freeport. Foto: Indomiliter

Di Jakarta, sehari-hari karyawan swasta maupun BUMN bisa dengan mudah dan bebas memilih kendaraan untuk bisa sampai ke tujuan. Namun, tidak demikian dengan karyawan maupun para tamu PT Freeport Indonesia (PTFI). Mereka umumnya hanya mempunyai satu pilihan kendaraan untuk mobilitas dari dan ke lokasi tambang, dalam hal ini dari Timika-Tembagapura. Kendaraan tersebut adalah truk ‘bus’ anti peluru, Iveco Trakker 380 buatan Italia.

Baca juga: Intip Kemampuan Truk Offroad Kelas Dunia Milik TNI AL, Tatrapan 6×6

Pamor bus anti peluru Freeport itu mungkin belum bisa menyalip truk setinggi rumah dan ban besar yang harga satuannya bisa setara sedan kelas atas (Rp500 jutaan) milik PTFI. Namun demikian, bus tersebut sangat diandalkan untuk meredam ancaman dan gangguan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Disarikan dari Indomiliter.com, bus angkut ala perang berkat kemampuan anti pelurunya ini sejatinya merupakan truk yang dimodifikasi. Bus ini dibangun dari basis truk Iveco Trakker 380 4×4, untuk memenuhi spesifikasi sebagai ‘bus,’ posisi bak bagian belakang diganti dengan manhaul bus bodies. Modifikasi karoseri pada truk buatan Italia ini dilakukan oleh perusahaan swasta nasional PT Sanggar Sarana Baja.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Bus anti peluru yang biasa digunakan untuk perjalanan dari Timika-Tembagapura sejauh 2,5 – 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam ini hampir seluruh bagiannya anti peluru, termasuk jendela bus yang juga ditutup dengan plat logam anti peluru dengan hanya menyisakan seperdelapan bagian di sisi atas jendela agar cahaya bisa masuk.

Sayangnya fitur tersebut tak tersemat di bagian ruang kemudi bus anti peluru ini. Karenanya, sopir mendapat perlindungan tambahan dengan mengenakan rompi anti peluru, kevlar hingga helm anti-peluru.

Akan tetapi, bus berkapasitas 56 penumpang dengan disokong mesin diesel 340 hp ini tak diketahui secara persis apakah bagian bannya sudah mengadopsi run flat tyre (RFT) atau tidak, dengan RFT bila ban diterjang proyektil masih dapat berjalan sampai jarak tertentu.

Baca juga: Singapore Duck Tour, Wisata Amfibi dengan Rantis eks Perang Vietnam

Namun demikian, bila pun terjadi penembakan, bus tersebut akan tetap aman karena dilindungi oleh satu unit kendaraan berisi pasukan pengamanan bersenjata lengkap. Selain itu, bus biasanya tak berjalanan sendirian melainkan selalu beriringan dengan kendaraan serupa.

Meski bus anti peluru ini dianggap aman untuk melindungi dari serangan KKB, hal itu tentu sangat relatif, mengingat bus tersebut bisa saja luluh lantak bila KKB menggunakan peluncur roket anti-tank (bazooka) atau senapan anti anti tank, yakni senapan yang bisa menembus kendaraan lapis baja ataupun anti peluru dengan kecepatan rata-rata lesatan mencapai 900 meter per detik.

LEAVE A REPLY