Monday, July 15, 2024
HomeAnalisa AngkutanLima Dampak Perang Rusia-Ukraina yang Bikin Maskapai Internasional Pusing

Lima Dampak Perang Rusia-Ukraina yang Bikin Maskapai Internasional Pusing

Perang Rusia-Ukraina terus berlangsung. Bahkan dalam skala yang semakin besar. Hal ini mau tak mau dan suka tidak suka sangat berimbas pada industri transportasi udara. Maskapai internasional harus menerima setidaknya lima dampak dari perang tersebut. Dilansir dari Forbes, berikut selengkapnya.

Baca juga: Apple Pay dan Google Pay Dilarang di Rusia, Metro Moskow Kacau

1. Harga bahan bakar naik

Rusia diketahui memproduksi sekitar 10 persen dari pasokan minyak global, atau sekitar 10,5 juta barrel per hari. Sanksi bertubi-tubi terhadap Rusia sudah pasti berdampak pada harga minyak dunia lantaran suplai terganggu.

Terbukti, harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak April 2022 naik 3,06 dollar AS menjadi di level 100,99 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 4,13 dollar AS menjadi di level 95,72 dollar AS per barrel.

Naiknya harga bahan bakar minyak sudah pasti membuat harga Avtur turut naik. Ini tentu akan membuat maskapai serba salah. Menaikkan harga tiket sudah pasti mempengaruhi pilihan penumpang. Tidak menaikkan harga tiket dipastikan rugi.

2. Hindari ruang udara Rusia-Ukraina

Maskapai di seluruh dunia mau tak mau harus mengambil jalur memutar menghindari ruang udara Rusia dan Ukraina. Hal itu dilakukan agar terhindar dari bahaya. Sudah bukan satu dua kali pesawat sipil tertembak saat melintas di atas wilayah konflik.

Sejak hari pertama perang, ruang udara Ukraina tampak sepi. Kebanyakan maskapai menghindari wilayah Ukraina dengan melintas ke bagian utara negara tersebut, meliputi Rusia, Belarusia, dan lainnya.

Namun, mengingat Rusia juga menutup ruang udaranya bagi maskapai-maskapai dari 36 negara, sudah pasti ini akan membuat maskapai-maskapai internasional jauh lebih memutar lagi.

3. Titanium langka

Pesawat dibuat dengan komposisi 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium.

Terkait titanium, hampir seluruh produsen pesawat ataupun perusahaan lain di industri dirgantara internasional bergantung pada titanium produksi Rusia, seperti Boeing, Airbus, Embraer, Rolls-Royce, Pratt & Whitney, sampai Safran. Saking pentingnya titanium Rusia, masalah besar disebut menanti industri penerbangan.

“Jika [pasokan] dari Rusia itu hilang – itu akan menjadi masalah besar,” kata Kevin Michaels, direktur pelaksana konsultan kedirgantaraan AeroDynamic Advisory. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mensertifikasi pemasok lain? Itu akan memakan waktu yang sangat lama.”

4. Aliansi maskapai goyah

Dua dari tiga aliansi maskapai dunia, Skyteam dan Oneworld, bermitra dengan maskapai-maskapai Rusia. Maskapai internasional lainnya juga demikian. Aeroflot, diketahui memiliki kerjasama strategis dengan mitra Skyteam-nya, Delta dan Air France/KLM.

Sedangkan, JSC Siberia Airlines, yang lebih dikenal sebagai S7, bekerjasama dengan mitra Oneworld-nya, American Airlines dan British Airways. Dengan sanksi bagi maskapai-maskapai Rusia, sudah pasti kerjasama tersebut hancur berantakan.

Baca juga: Aeroflot Airlines, Maskapai Terbesar Rusia dan Dunia Gabungan dari Maskapai Ukraina

5. Wisatawan takut ke Eropa

Musim panas 2022 menjanjikan lonjakan penumpang pesawat kepada maskapai internasional, baik dari AS ke Eropa maupun dari Eropa ke AS. Namun, untuk tujuan ke AS, utamanya negara-negara pecahan Uni Soviet, itu dianggap banyak wisatawan global sebagai daerah rawan, sekalipun tak terlibat perang Rusia Ukraina secara langsung.

Demikian juga dengan destinasi lain di Perancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris, keempatnya dianggap wisatawan internasional sebagai daerah rawan andai eskalasi meningkat. Hal ini pada akhirnya membuat schedule maskapai berantakan saat musim panas mendatang.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru