Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

ilustrasi bio-toilet di India. Sumber: naidunia.jagran.com

Perkeretaapian India diketahui akan mencoba teknologi bio-toilet asal Jepang. Sebagai permulaan, satu bio-toilet ini sudah ditempatkan di Stasiun Madgaon yang terletak di jalur Konkan, Goa, India – guna memastikan efisiensi dan keandalan dari proyek percontohan yang tengah dikembangkan oleh Negeri Matahari Terbit ini. Nantinya, akan ada lebih banyak lagi bio-toilet yang ditempatkan, seperti di daerah Ibukota dan Stasiun Varanasi yang masuk ke dalam wilayah operasi Northern Railways.

Baca Juga: Perkeretaapian India Siap Tinjau Kebijakan ‘Pay and Use’ Pada Toilet Stasiun

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (16/9/2018), sekiranya 150 bio-toilet akan dikirimkan Jepang secara cuma-cuma dan semuanya akan dipasang di infrastruktur kereta api India, tidak di dalam kereta apinya. Mengenai masa depan dari bio-toilet ini akan bergantung dari hasil proyek percontohan ini sendiri.

Teknologi bio-toilet dari Jepang ini berbeda dengan yang digunakan oleh Indian Railways, dimana bio-toilet asal Jepang menggunakan serbuk gergaji dan sistem penggilingan khusus untuk mengurai kotoran di dalam tangki toilet – berbeda dengan yang digunakan Indian Railways, dimana proses penguraian tersebut dilakukan oleh bakteri.

Para pengguna kereta api dan infrastruktur kereta di India telah cukup lama mengeluhkan satu masalah besar yang selama ini sudah mendarah daging, yaitu masalah toilet dimana mereka mengeluhkan toilet yang selama ini mereka gunakan mengeluarkan bau tidak sedap – terutama di layanan kereta jarak jauh.

Sebuah laporan dari Comptroller and Auditor General of India (CAG) pada tahun 2017 silam menemukan bahwa sebanyak 223 bio-toilet Indian Railways mengeluarkan bau tidak sedap, dimana ini mengindikasikan adanya masalah pada sistem pembilasan dan suplai air yang tidak memadai.

Ini menjadi masalah besar bagi Indian Railways mengingat beberapa perjalanan yang mereka operasikan memakan waktu selama 30 hingga 40 jam. Guna mengatasi masalah toilet ini, selain penggunaan bio-toilet, pihak operator kereta api India ini akan menguji toilet hibrida yang menggunakan teknologi penyedot debu – yang mungkin mirip dengan sistem toilet di pesawat.

Baca Juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah

Rencananya sebanyak 2.000 toilet hibrida ini akan ditempatkan di 500 gerbong, dan kelanjutannya tergantung pada respon para penggunanya. “Sistem toilet hibrida (vakum) ini akan mengurangi penggunaan air dalam masalah pembilasan toilet,” ujar salah satu pihak Indian Railways.

Dirinya yang ingin tetap anonim menambahkan, masalah toilet seperti ini bukanlah sepenuhnya tanggung jawab dari operator semata – melainkan para penggunanya juga harus turut berperan serta dalam menjaganya, minimal dengan tidak membuang sampah seperti botol plastik, pembalut, dan sampah anorganik lainnya ke dalam toilet yang bisa mengganggu sistem pembuangan.