Mau Sarapan Nikmat di Kereta, Tak Tahunya Ada Cacing di Paket Makanan

Pengantar makanan cepat saji di dalam kereta (www.hindustantimes.com)

Makanan di kereta menjadi satu benefit yang diberikan di kereta beberapa negara dalam perjalanan yang cukup jauh yakni lebih dari tiga jam. Pembiayaan makanan ini pun biasanya sudah mencakup dari tiket yang dibeli oleh para penumpang.

Baca juga: Tergerus Zaman, Tradisi Bawa Bekal dan Berbagi Makanan di Kereta India Mulai Hilang

Seperti di India, makanan yang tersaji di kereta kelas satu atau eksekutif merupakan benefit selain kenyaman kursinya. Namun apa jadinya jika dalam makanan yang disuguhkan kepada penumpang ternyata ada serangga atau binatang kecilnya?

KabarPenumpang.com melansir dari laman hindustantimes.com (5/5/2018), bahwa seekor cacing tersaji bersama dengan sarapan di dalam kereta Shatabdi dari Kalka menuju New Delhi. Karena hal ini Indian Railways mau tak mau harus membayar Rs10 ribu atau sekitar Rp2,1 juta kepada penumpang.

Denda ini diberlakukan oleh Forum Redressal Perselisihan Konsumen Chandigarh sebagai biaya kompensasi. Departemen katering dan pariwisata kereta api juga diminta untuk mengembalikan biaya katering Rs270 atau sekitar Rp56 ribu untuk sarapan ke penumpang Sektor 21.

Insiden ini terjadi saat Shalini Jain bepergian menggunakan kereta dengan kedua putranya pada 3 Juli 2016 lalu. Perjalanan Jain dari Chandigarh menuju New Delhi tersebut disajikan makanan dan dirinya sontak kaget karena ada cacing hidup dalam makanannya yang tersaji.

Hal ini membuat Jain mengembalikan makanan itu kepada staf katering dan juga mengembalikan makanan yang ada pada anak-anaknya karena tidak ingin mereka makan makanan tidak higienis dan sehat. Jain mengatakan saat itu juga dirinya ditawari kembali satu bungkus makanan tetapi dia dan putranya tidak mau menerima makanan tersebut.

Karena hal ini selain mengembalikan makanan, dirinya juga mengajukan keluhan karena makanan tersebut. Jain juga menyatakan bahwa ketika dia meminta staf kereta api, termasuk pemeriksa tiket kereta api (TTE) untuk memberikan daftar pengajuan keluhan, mereka tidak memberikannya kepadanya.

Kemudian pada 12 Oktober 2016 atau tiga bulan setelah insiden tersebut, Jain kemudian mengirim keluhan yang dirasakannya kepada Menteri Kereta Api tetapi tidak ada balasan yang didapatkannya. Sehingga dia mengajukannya pada Forum Redressal Perselisihan Konsumen Chandigarh karena dalam Undang-Undang Perkeretaapian memaksa penjualan makanan pada penumpang dengan menu yang ditentukan sebelum di sajikan.

“Ini makanan yang disajikan setara dengan perdagangan yang tidak adil dan pelayanannya pun kurang,” ujar Jain dalam keluhannya.

Keluhan yang dilayangkan kepada Perusahaan Katering dan Pariwisata Kereta Api India ditolak dan mereka mengatakan tidak memiliki peran dalam menyediakan layanan katering kereta api No.12006 dari Kalka menuju New Delhi pada Shatabdi Express. Mereka mengatakan pada tanggal tersebut diberikan oleh layanan penyedia yang dipekerjakan oleh Northern Railway sesuai kebijakan katering 2010.

Baca juga: Soal higienis? Makan di Kereta dan Pesawat Tak Jauh Berbeda

Meskipun instruksi detail, sebagaimana tercantum dalam Kebijakan Katering yang direvisi, 2010, disirkulasikan oleh Commercial Circular NO.35/2010 oleh Pemerintah India, tidak ada langkah efektif yang diambil oleh sebagian besar Zona Kereta Api untuk meningkatkan kualitas layanan makanan ke penumpang di atas kereta.

“Ini adalah kekeliruan serius di bagian Pejabat Katering terutama Pengawas, yang secara menyedihkan gagal mengawasi persiapan dan pelayanan makanan untuk penumpang di kereta. Pelapor telah membayar Rs270 sebagai biaya katering, tetapi tidak bisa makan dan menderita banyak dan bahkan anak-anaknya yang kecil tidak diberi makan selama perjalanan,” ujar forum tersebut.