Biaya Rendah dan Kualitas Menurun? Permintaan Perjalanan Udara Justru Meningkat
Sepuluh tahun lalu pesawat terbang masih terbilang moda transportasi mahal, mewah, glamor dan menarik. Penumpangnya pun biasanya kalangan menengah ke atas, karena harga tiket yang bisa dikatakan cukup mahal dan tidak bersahabat dengan masyarakat menengah kebawah.
Baca juga: Biar Nyaman di Penerbangan Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Baca Ini!
Kini sudah berbeda, sebab kalangan menengah ke bawah beberapa sudah bisa menikmati pesawat terbang dengan harga yang cukup terjangkau. Namun, dengan berbiaya rendah, banyak sekali fasilitas dan kenyamanan yang hilang bagi penumpang.
KabarPenumpang.com merangkumnya dari laman cnn.com, bahwa ada sebuah survei yang pernah dilakukan International Air Transport Association (IATA) pada 2015 lalu dan mendapatkan bahwa banyak penumpang yang menginginkan mengantre di konter keamanan bandara tidak lebih dari sepuluh menit. Bahkan setengahnya memilih menunggu hanya 1-3 menit saja untuk pemeriksaan barang bawaan mereka.
Ada beberapa hal yang membuat penerbangan masa kini lebih murah. Namun, hal tersebut justru bisa membuat penumpang tidak nyaman dan marah saat sampai di dalam pesawat. Namun, dengan harga murah ini menciptakan lebih banyak permintaan untuk perjalanan udara yang bisa menyebabkan penundaan karena lalu lintas udara sedikit tersedat. Hal ini juga menjadikan kualitas pelayanan yang menurun terhadap penumpang.
Sebenarnya, untuk pelayanan disesuaikan dengan harga yang dibayarkan. Jika pelanggan memilih membayar lebih mahal untuk kelas bisnis dan kelas satu, pasti akan ada layanan yang berbeda dibandingkan dengan kelas ekonomi.
Perbedaan paling mencolok ialah dimana saat berada di dalam kabin, jarak antara kursi kelas ekonomi lebih sempit. Tak hanya itu, dengan biaya lebih murah, untuk mendapatkan makanan dan fasilitas bagasi lebih Anda harus membayar diluar dari harga tiket yang sudah dibeli.
Tak sama seperti dahulu dimana, saat membeli tiket pesawat, maka yang didapat penumpang adalah kemudahan dalam bagasi yang lebih besar serta layanan makanan, minuman dan beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Toilet pun kini di uji apakah sangat dibutuhkan atau tidak, tetapi jika toilet dikurangi maka akan semakin sedikit kenyamanan yang didapat penumpang.
Baca juga: Benarkah Penumpang Kelas Ekonomi Kurang Perhatian? Ini Kata Awak Kabin
Bahkan kini penumpang kelas ekonomi lebih memilih membawa tas jinjing atau ransel namun membayar biaya yang sama dengan penumpang menggunakan koper. Tetapi ini adalah pandangan sepihak dan tidak bisa di salahkan dengan apa yang digunakan penumpang.
Dengan hal ini semua terutama kualitas kenyamanan yang turun, tetapi permintaan perjalanan bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa, meski kualitas layanan menurun, penumpang masih bersedia terbang dengan harga yang lebih rendah.
Satu Hari Lebih Cepat, Rangkaian MRT Jakarta Tiba Hari Ini di Tanjung Priok
Akibat cuaca buruk di kawasan Laut Cina Selatan, jadwal kedatangan rolling stock atau kereta untuk Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mengalami pemunduran jadwal, dari yang seharusnya tiba pada akhir Maret 2018, kemudian direvisi menjadi tiba 5 April 2018. Namun kenyataan pengiriman MRT gelombang pertama ini bisa sampai lebih cepat. Tepatnya hari ini (4/4/2018) pada pukul 05.00 WIB kapal kargo pembawa rolling stock MRT telah merapat di dock 101 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Baca juga: Progres MRT Jakarta Tak Terlalu Signifikan, Rolling Stock Terlambat Tiba Karena Kendala Cuaca
Tapi sebelum bisa pindah tangan kepada pihak MRT Jakarta, kereta ini harus melalui proses bea cukai dan pembongkaran muatan sebelum rolling stock dikeluarkan dari Vessel. Dua rangkaian kereta tersebut akan diturunkan dari kapal kargo pada Kamis 5 April 2018 kemudian dilakukan pengiriman ke depo Lebak Bulus menggunakan multi-axle trailer.
Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (4/4/2018), proses pengiriman dua rangkaian kereta tersebut akan berlangsung hingga tanggal 8 April 2018 mendatang dari pukul 22.00-05.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak kepadatan lalu lintas ibu kota.
Sebelum tiba di Indonesia, dua rangkaian kereta tersebut telah dilakukan serangkaian uji coba dan simulasi pengiriman sejak Februari 2018 lalu. Kereta MRT tersebut bukanlah kereta bekas, melainkan kereta baru yang dibuat oleh perusahaan kereta api Nippon Sharyo, Jepang.
Setelah dua rangkaian tiba, untuk 14 rangkaian kereta lainnya akan mulai dikirim pada akhir Juni ini dan di targetkan Oktober 2018 mendatang seluruhnya yakni 16 rangkaian kereta MRT Jakarta akan tiba di Jakarta dan disiapkan untuk mengikuti rangkaian proses trial run. Di fase 1, PT MRT sendiri menyiapkan 16 rangkaian kereta dengan 14 kereta akan digunakan serta dua lainnya menjadi cadangan.
Baca juga: Lima Wanita Tangguh Jadi Masinis MRT Jakarta
Nantinya pada Maret 2019 mendatang, MRT Jakarta fase 1 akan beroperasi dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB. Untuk rentang waktu kedatang antar kereta di stasiun sekitar lima menit saat jam sibuk dan sepuluh menit di waktu biasa.
Seoul Subway Gunakan Jaringan LTE-R dari SK Telecom
Salah satu provider terbesar di Korea Selatan, SK Telecom merambah jaringan Seoul Subway atau kereta bawah tanah. SK Telecom sendiri hadir sebagai penyedia LTE-R (Railway) dan mengumumkan tanda tangan kontrak kerja samanya dengan Pemerintah Metropolitan Seoul pada 26 Maret 2018 kemarin.
Baca juga: Mobile Broadband di Atas Rel Kereta
KabarPenumpang.com melansir dari laman koreaittimes.com (27/3/2018), nantinya jalur kereta yang akan terintegrasi dengan jaringan LTE-R ini adalah Seoul City hingga jalur kereta Hanam. SK Telecom sendiri akan menyebarkan jaringan LTE-R sepanjang 7,7 km dari jalur Hanam yakni dari Stasiun Sangil-dong di Seoul ke Stasiun Chagwoo di Gyeonggi.
“Penyebaran akan dilakukan pada bulan Desembeer 2020,” ujar seorang juru bicara SK Telecom. SK Telecom mengatakan, jaringan LTE-R tersebut akan memungkinkan komunikasi dengan data termasuk panggilan video. Bahkan ini bisa dilakukan dalam kereta yang berjalan pada kecepatan lebih dari 350 km per jam.
Selain itu jaringan LTE yang dirancang SK Telecom tersebut juga untuk memastikan keselamatan dan konektivitass bawah tanah dalam kasus kecelakaan dan situasi darurat lainnya. Seperti jika terjadi bencana alam, bisa memberitahu pihak kepolisian maupun pemadam kebakaran.
Dengan jaringan ini juga membangun sistem dimana operasional kereta api, petugas mesin, staf dan personel pemeliharaan dapat melakukan panggilan grup. Tak hanya itu, dengan jaringan LTE-R juga memudahkan pihak kereta jika terjadi keadaan darurat, maka bagian pusat kontrol dan mesin bisa mendapatkan klip video secara langsung di setiap gerbong penumpang.
Selain itu sistem navigasi akan dikembangkan sehingga petugas bisa memeriksa informasi operasional kereta secara real time baik itu waktu keberangkatan ataupun kedatangan. Sistem LTE-R ini akan dimulai dari Jalur Hanam dimana pemerintah metropolitan Seoul akan mengganti jaringan yang menua di jalur kereta bawah tanah yakni jalur 2 dan 5.
Baca juga: Samsung Electronics Luncurkan LTE Railway Perdana di Korea Selatan
Nantinya, pengumuman penawaran tersebut diharapkan akan dibuat akhir tahun 2018 ini. “Agar dapat menangani bencana di kereta bawah tanah secara efektif, penting untuk membangun LTE-R yang terhubung ke jaringan komunikasi keselamatan bencana nasional. Kami akan menerapkan LTE-R dengan pengalaman 30 tahun kami dalam bisnis teknologi telekomunikasi seluler,” ujar Kepala unit bisnis publik SK Telecom Chiu I
Libur Paskah 2018, Trafik Penumpang Bandara Soekarno-Hatta Naik 13,2 Persen
Ada yang spesial dari libur Paskah 2018 ini, selain jatuh menjadi rangkaian long weekend, momen libur Paskah 2018 juga bertepatan dengan ‘tanggal muda,’ dimana daya beli masyarakat masih cukup tinggi di masa tersebut. Dan terkorelasi dengan hal di atas, jumlah penumpang di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) pada libur Paskah 2018 memang mengalami peningkatan dibandingkan libur Paskah 2017 lalu. Meningkatnya jumlah penumpang ini baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlibur ke dan dari Indonesia.
Baca juga: Diskon 50 Persen di Sabtu-Minggu, Akankah Kereta Bandara Soekarno-Hatta Makin Diminati?
Peningkatan wisatawan ini juga bisa dikarenakan adanya kerja sama antara pihak bandara dan kementerian Pariwisata untuk mempromosikan Indonesia. Tahun 2018 diketahui sebanyak 197.038 orang atau 18,4 persen kenaikan penumpang terjadi di bandara Soetta dibandingkan Paskah 2017 lalu.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, peningkatan ini sudah terjadi sejak 29 Maret 2018. Senior Manager Of Branch Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Erwin Revianto mengatakan, pada 29 Maret 2018 jumlah penumpang yang berangkat dan tiba ada 217.856 penumpang, sedangkan tahun 2017 lalu hanya 195.313.
Kemudian tanggal 30 Maret 2018 penumpang meningkat menjadi 197.038 dibanding tahun 2017 yang hanya 166.428. Sedangkan pada 31 Maret 2018 mencapai 165.233 penumpang dibanding tahun 2017 hanya 141.729. Pada puncaknya di 1 April 2018 ada 196.503 penumpang sedangkan tahun 2017 lalu sebanyak 182.505.
“Dibandingkan tahun 2017 lalu, total tren penumpang liburan Paskah tahun ini mencapai 13,2 persen. Total pesawat juga mengalami kenaikan hingga 8,9 persen,” ujar Erwin. Dia juga menambahkan, kegiatan arus balik terjadi pada Sabtu (31/3/2018). Untuk jumlah total penumpang internasional yang datang pada 2018, juga mencatat kenaikan yang mencapai 14,7 persen.
“Dalam beberapa tahun terakhir telah ada tren penumpang yang senang menghabiskan liburan mereka di sejumlah lokasi wisata, termasuk turis asing karena kami bekerja dengan maskapai penerbangan dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia,” kata Erwin.
Baca juga: Mulai 1 Maret 2018, Airport Tax Penumpang di Terminal 3 Soekarno-Hatta Naik Rp30 Ribu
Menurutnya, kehadiran Skytrain atau kereta layang dan kereta bandara di Soekarno-Hatta dapat menarik perhatian pengguna layanan dalam mentransformasi interaksi penumpang karena dapat memberikan layanan yang lebih efisien. “Bandara Soekarno-Hatta sudah menyiapkan infrastruktur operasional dengan sistem, baik di sisi udara, atau di sisi darat,” kata Erwin.
Boeing 767 “Reborn,” Berpeluang Isi Segmen New Mid-market Aircraft
Sepinya bengkel Boeing akan produksi pesawat penumpang model 767-300ER bukanlah menjadi pertanda buruk bagi masa depan perusahaan mereka. Kendati sepi, namun perusahaan yang bermarkas di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini diketahui tengah menantikan kemungkinan hadirnya segmen baru dalam dunia aviasi global, yaitu New Mid-market Aircraft (NMA).
Baca Juga: Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan
NMA sendiri merupakan pesawat yang mampu menempuh penerbangan jarak jauh dengan jumlah penumpang yang lebih banyak dari pesawat narrow body, namun tidak melebihi kapasitas dari pesawat wide body. Tidak hanya untuk Boeing, NMA sendiri dipercaya dapat menjadi jawaban untuk para penyedia jasa alias maskapai yang selama ini merasa ‘tanggung’ dengan konfigurasi penerbangan mereka.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com, diperkirakan pasar dari NMA sendiri akan muncul dan menguat pada satu dekade ke depan. Pasca debutnya redup di segmen produksi pesawat penumpang, debut produksi Boeing 767 memang terus berlanjut, namun dikhususkan sebagai peswat tanker dan kargo militer (KC-46A Pegasus). Redupnya popularitas Boeing 767 dimulai saat Boeing merilis Boeing 777 dan 787 Dreamliner. Tingkat efisiensi dan kapasitas angkut penumpang menjadi dua faktor utama yang akhirnya menggiring produksi pesawat penumpang Boeing 767 mengalami kemunduran secara perlahan.
“Menghidupkan kembali pesawat penumpang 767, saya rasa tidak mungkin,” ungkap Wakil Presiden Pemasaran Boeing Commercial Airplanes, Randy Tinseth. Namun pernyataan Randy tersebut berbanding terbalik dengan laporan musim gugur periode kemarin yang menunjukkan bahwa Boeing 767 bisa menjadi ‘jembatan’ hingga debut NMA pada 2024-2025 mendatang. Ketika melihat peluang bisnis di dalamnya, United Airlines langsung menyatakan minatnya akan pesawat dengan kapasitas angkut menengah ini.
Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing
“NMA sendiri mampu menampung 220 hingga 270 penumpang dalam sekali perjalanan, dengan maksimal jarak tempuh mencapai 5.000nm (Nautical Miles ; setara dengan 9260 km),” tambah Randy. Ia pun mengatakan bahwa beberapa pihak maskapai yang tertarik dengan mengganti armada 757 dan 767 mereka yang lama dengan Boeing 767 yang baru. “Mereka akan setia menunggu hingga pesawat ini memasuki operasi komersialnya pada tahun 2025 mendatang,” tutur Randy.
Selain United, dua kompetitornya dari negara yang sama, Delta Air Lines dan American Airlines pun mengaku tertarik untuk menggunakan jasa dari pesawat yang pertama kali mengudara pada 26 September 1981 ini.
Hore! Google Assistant Kini Sudah Tersedia Dalam Bahasa Indonesia
Setelah beberapa waktu ke belakang Google melakukan gebrakan di Indonesia dengan menggelontorkan sejumlah dana segar terhadap GoJek, kini mesin pencarian nomor Wahid seantero jagad ini kembali memberikan dampak terhadap perkembangan teknologi di Tanah Air. Ya, perusahaan teknologi multinasional yang bermarkas di Mountain View, California, Amerika Serikat ini secara resmi telah merilis Google Assistant versi Bahasa Indonesia.
Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!
Sesuai dengan namanya, Google Assistant sendiri merupakan asisten virtual yang akan memudahkan kehidupan sehari-hari Anda. “Google Assistant merupakan asisten virtual yang dirancang begitu conversational, yang benar-benar bisa merespons dialog dengan baik antara penggunanya dengan Google. Ia juga dapat membantu menyelesaikan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap CEO Google, Sundar Pichai. Google Assistant Bahasa Indonesia ini sendiri secara resmi diluncurkan pada Senin (2/4/2018) kemarin.
Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, fitur Google Assistant berbahasa Indonesia ini dapat Anda gunakan pada smartphone yang sudah menggunakan sistem operasi Android Lolipop 5.0 ke atas atau iOS 9.1 ke atas. Selain itu, Anda juga harus terlebih dahulu memperbarui aplikasi Google Search ke versi yang paling baru, dan mengubah setelannya menjadi Bahasa Indonesia. Setelah itu, Anda dapat merasakan sensasi memiliki sebuah asisten virtual pribadi.
Sebelumnya, Google Allo, aplikasi serupa Google Assistant yang menggunakan Bahasa Indonesia pertama kali muncul pada Agustus 2017 silam. “Kini, dengan hadirnya Google Assistant di jutaan smartphone di Indonesia, kami berharap Google Assistant akan memudahkan aktivitas para pengguna. Aktifitas tersebut mulai dari memasang alarm, menyetel pengingat, memutar musik di YouTube, mendapatkan petunjuk arah dari Google Maps dan lain-lain,” papar Google, dikutip dari laman cnnindonesia.com (2/4/2018).
Google Assistant sendiri diberdayakan oleh machine learning dan dibuat berdasarkan pengalaman Google selama kurang lebih 20 tahun di bidang Penelusuran, termasuk Natural Language Understanding, Computer Vision, dan memahami konteks dari pengguna. Karena itulah, Google Assistant dapat memahami maksud ucapan si pengguna dan membalasnya dengan respon yang sesuai.
Baca Juga: Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel
Jika pertanyaan yang dilontarkan si pengguna mengacu pada hal yang ambigu atau memiliki beberapa kemungkinan jawaban, maka Google Assistant akan membalasnya dengan pertanyaan lanjutan. Ini dimaksudkan agar Google dapat lebih mengerucutkan kemungkinan dan memberikan kemungkinan jawaban terbaik kepada si pengguna.
Diketahui, beberapa aplikasi lokal yang sudah dilengkapi dengan fitur Google Assistant saat ini adalah “Al-Qolam”, “Joox”, “Kaskus”, “Klikdokter”, “Mobile Legends”, “Tebak Gambar”, dan “Vira dari Bank BCA”.
Toyota Luncurkan SORA, Bus Berbahan Bakar Sel yang Ramah Lingkungan
Seolah tiada henti menelurkan inovasi yang mampu meredam pencemaran udara melalui zat Karbon Dioksida (CO2), Toyota belum lama ini memulai penjualan bus berbahan bakar sel pertama yang diberi nama SORA (Sky, Ocean, River, Air). Dengan diluncurkannya penjualan bus SORA secara massal, Toyota berharap bus-bus ramah lingkungan ini dapat diperkenalkan di wilayah metropolitan Tokyo, terutama saat perhelatan Olimpiade dan Paralympic Games Tokyo 2020.
Baca Juga: Jelang Olimpiade 2020, Toyota Rilis Bus “SORA” Yang Super Ramah Lingkungan
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman greencarcongress.com (28/3/2018), Toyota Fuel Cell System (TFCS), yang dikembangkan untuk Mirai Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV), telah dimanfaatkan untuk mewujudkan kinerja lingkungan yang tinggi tanpa emisi CO2 atau Substances of Concern (SoC) yang dipancarkan ketika moda ini beroperasi, serta kenyamanan yang maksimal dengan indikator minimnya getaran yang ditimbulkan.
SORA dilengkapi dengan perangkat output daya eksternal berkapasitas tinggi, yang dapat memberikan output tinggi dan pasokan listrik berkapasitas tinggi (output maksimum 9 kW, dan pasokan listrik 235 kWh) dan memiliki teknologi yang memungkinkan bus ini menggunakan sumber daya darurat ketika terjadi sebuah bencana yang mengakibatkan mesin bus ini mati. Tidak hanya di segi mesin penggeraknya saja yang mutakhir, soal kenyamanan, SORA pun tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kursi yang ada di dalam bus mini ini dapat dilipat sesuai dengan kebutuhan. Sebut saja jika ada penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda hendak menggunakan bus ini, penumpang lain yang ada di dalam dek bisa melipat kursi tersebut dan memberikan ruang lebih kepada penyandang disabilitas tersebut, atau bahkan berguna juga bagi seorang Ibu yang membawa kereta bayi.
Kelebihan dari kendaraan ini adalah hadirnya delapan buah kamera berresolusi tinggi yang tersebar di dalam dan luar moda, dimana kamera ini berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap penumpang yang berada di dalam moda dan menjadi ‘mata tambahan’ bagi bus ini sendiri. Hadirnya kamera-kamera ini dapat membantu pengemudi untuk mendapatkan informasi tentang kondisi di sekitaran bus, seperti adanya orang yang menyeberang atau rintangan lain yang berada di dalam range pantauan kamera ini.
Baca Juga: Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia
Bagi para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk pun tidak perlu khawatir dirinya akan terlempar ketika bus mulai berakselerasi atau melakukan pengereman mendadak. Hal ini dikarenakan bus mini SORA menggunakan fungsi kontrol akselereasi yang memungkinkan pergerakan moda menjadi jauh lebih halus ketimbang kendaraan lain.
Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda
Eksistensi kendaraan otonom dewasa ini dapat dikatakan semakin pekat di pasar dan siap dikomersialkan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya perusahaan yang melakukan uji coba terhadap kendaraan masa depan ini, salah satunya adalah Hino Motors yang mengembangkan kendaraan otonom berbentuk bus mini. Diketahui, perusahaan yang terkenal akan produksi moda bermassa berat ini melakukan serangkaian uji coba di dekat Bandara Internasional Haneda, Jepang pada akhir Februari kemarin.
Baca Juga: Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com, dalam menghadirkan moda futuristik ini, Hino tidak berdiri sendiri, melainkan turut menggandeng raksasa teknologi Negeri Sakura, SoftBank Group dan maskapai All Nippon Airways (ANA). Ada pun tujuan dari koalisi yang terjalin di antara tiga perusahaan ini adalah untuk memasarkan moda transportasi nirawak di lingkungan bandara pada tahun 2020.
Industri teknologi tinggi Jepang melihat bandara sebagai salah satu titik potensial dalam mengaplikasikan teknologi robotika dan kecerdasan buatan terbaru. Sebut saja seperti moda otonom hasil kerja sama tiga perusahaan yang sudah di sebutkan di atas, dimana pada ajang uji coba tersebut, kendaraan ini berhasil beroperasi tanpa pengemudi dengan kecepatan 10 km per jam. Adapun tujuan utama dari uji coba bus otonom ini adalah untuk meggantikan peran manusia yang selama ini menangani sektor antar-jemput kargo dan penumpang dari dan menuju terminal.
Dalam mengembangkan bus mini ini sendiri, tiga perusahaan tersebut tidak menempuh kendala sebanyak moda serupa yang beroperasi di jalanan konvensional. Bagaimana tidak, area apron tidaklah seriuh jalanan lain di luar komplek bandara, mulai dari hilir mudik kendaraan sampai pejalan kaki. Jadi, wajar saja jika kendaraan yang dikembangkan oleh tiga perusahaan ini dapat dengan mudah lolos uji coba moda otonom tingkat 4, dimana bus dapat sepenuhnya menggunakan personalisasi otonom selama pengoperasiannya.
ANA sendiri berharap agar kendaraan ini terus disempurnakan hingga pada akhirnya dapat memulai operasi konvensionalnya pada Maret 2019 mendatang. “Kami berusaha untuk memanfaatkan robot dan kecerdasan buatan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan,” ungkap Shinya Katanozaka, Presiden ANA Holdings. “Layanan penanganan darat yang disediakan oleh pihak maskapai di bandara telah mengalami perkembangan dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir, namun tidak terlalu signifikan,” tandasnya.
Baca Juga: SkyDrive, Moda Otonom Yang Digadang Nyalakan Api Olimpiade 2020
Selayaknya moda otonom lain, bus mini kembangan Hino ini juga nantinya akan mempekerjakan satu operator yang mampu memantau keseluruhan kinerja bus otonom. Hal ini akan berdampak pada potensi kru darat yang kemungkinan kehilangan mata pencahariannya. Menanggapi hal tersebut, Shinya menepis kekhawatiran para kru darat. “Otomatisasi kerja tidak dimaksudkan untuk mencuri pekerjaan manusia,” katanya. “Kehadirannya (otomatisasi) untuk meningkatkan efisiensi kerja, dan para tenaga kerja dapat dialihkan untuk tugas lain,” imbuh Shinya.
Hadirkan Tayangan Ciamik Selama Penerbangan, Beberapa Perusahaan Mengekor Netflix
“Perjalanan udara menawarkan mobilitas dengan menggunakan salah satu moda transportasi paling canggih, tapi membosankan,” mungkin jargon tersebut melekat di benak Anda semua yang pernah melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang. Statemen tersebut pun pernah dilontarkan oleh Presiden Inflight Motion Pictures, David Flexer pada tahun 1962 silam, dimana kala itu, perkembangan di dunia teknologi belumlah se-bombastis dewasa ini.
Baca Juga: Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan
Ya, mengarungi hamparan awan berjam-jam lamanya tanpa eksistensi dari sarana hiburan seperti pemutar musik atau berbagai tayangan yang menarik memang kerap kali membuat penumpang memutar otak dan memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa membunuh waktu tempuh perjalanan. Berangkat dari situ, maka tidak heran jika banyak maskapai yang mulai melakukan inovasi untuk menghadirkan berbagai hiburan di dalam kabin. Mulai dari hadirnya layar di belakang sandaran bangku penumpang, hingga yang paling mutakhir adalah hadirnya WiFi selama penerbangan.
Tak pelak, industri hiburan dalam penerbangan menjelma menjadi sebuah bisnis multi-miliar dollar, dimana yang dilakukan oleh para penyedia jasa layanan penerbangan ini semata-mata hanya untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasanya. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thrillist.com (20/3/2018), program hiburan selama penerbangan di sini akan dikerucutkan menjadi penayangan atau pemutaran beragam film Hollywood.
Wakil Presiden Eksekutif Konten dan Media di Global Eagle, penyedia layanan konten hiburan dalam penerbangan yang memasok konten digital ke 185 maskapai di seluruh dunia, Walé Adepoju mengatakan bahwa penayangan program di pesawat tidak jauh berbeda dengan apa yang kita tonton di televisi. “Pemrograman untuk maskapai adalah seperti pemrograman untuk sebuah kota atau negara,” tuturnya.
Berbeda dengan Netflix yang mampu mengolah data skala besar dengan menggunakan platform tunggal, Global Eagle lebih memperhatikan genre film, tahun pemutaran, dan tayangan yang banyak diminati oleh penumpang dalam penerbangan sebelumnya. Sebut saja ketika musim libur musim panas, Global Eagle akan mengemas tayangan berkategori SU (Semua Umur), dimana pada rentang waktu tersebut, ada banyak anak-anak yang turut serta dalam suatu penerbangan.
Baca Juga: Inflighto, Mudahkan Penumpang Berbagi Keindahan dari Dalam Pesawat
Lain halnya dengan maskapai asal Negeri Paman Sam, JetBlue yang lebih mengedepankan jajak pendapat yang disebar melalui akun sosial media mereka. Dengan begitu, pihak JetBlue beranggapan bahwa penumpang dapat memilih tayangan yang ingin mereka tonton selama penerbangan.
Pada akhirnya, dengan berkiblat pada Netflix, beragam penyedia layanan hiburan selama penerbangan terus berlomba dengan caranya masing-masing agar bisa memenangkan hati penumpang dan membuat perjalanan jarak jauhnya jadi lebih menyenangkan.
“Kempa,” Robot Humanoid Khas India Hadir di Bandara Bengaluru
Otomatisasi saja rasanya tak cukup untuk memperlihatkan tingkat kemajuan suatu bandara internasional. Dengan dalih untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa penerbangan, robotisasi kini mulai menjadi terobosan untuk memeriahkan layanan di bandara-bandara besar. Setelah hadir di Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Jerman, robot bandara kini dikabarkan juga bakal hadir di Negeri Anak Benua.
Baca juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence
KabarPenumpang.com melansir dari laman business-standard.com (1/4/2018), dimana kini salah satu bandara di Bengaluru India yakni Kepegowda International Airport siap menggunakan robot humanoid baru yang tidak hanya akan menyambut pelancong di bandara tetapi juga memberikan informasi yang dibutuhkan.
Diketahui robot humanoid tersebut akan diberi nama Kempa. Kempa sendiri dibuat oleh Siera Techologies, salah satu start-up di Bengaluru yang menggunakan Artificial Intelligence dan sedang dalam uji coba.
Menteri Inovasi dan Teknologi India Priyank Kharge men-tweet video berdurasi satu menit yang memperlihatkan robot Kempa tersebut memberikan informasi dalam bahasa Kanada dan bahasa Inggris. Robot Kempa akan membantu penumpang dengan memberikan rincian penerbangan, detail check in dan segala sesuatu terkait bandara seperti toko atau restoran.
Selain itu, Kempa sendiri akan memberitahukan penumpang tentang negara India serta tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi seperti warisan dan budaya. Untuk menggunakan robot tersebut secara utuh, masih menunggu persetujuan dan keputusan dari Menteri Kharge.
Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang
Nantinya jika sudah ada keputusan yang pasti dengan Kempa, maka Bandara Internasional Kempegowda kota akan bergabung dengan beberapa bandara lain di seluruh dunia. Dimana mereka telah bereksperimen dengan robot yang membantu penumpang, memindai bagasi dan mengeluarkan tiket masuk pesawat. Meskipun saat ini Kempa dalam tahap akhir pengujian coba sebelum digunakan, ada kemungkinan, hadirnya robot Kempa ini akan mejadi favorit untuk calon penumpang.
