Pada Mei 2018 mendatang, Bandara Kertajati di Majalengka sudah memasuki tahap soft launching, dan pada Juni 2018 dicanangkan untuk beroperasi melayani penumpang keberangkatan internasional, khususnya untuk rute Haji dan Umrah. Sebagai wujud kesiapan pelayanan Haji dan Umrah 2018, belum lama ini telah dilakukan kesepakatan kerja sama antara pihak bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) dan Bandara Kertajati.
Baca juga: Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi
Kerja sama yang dilakukan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) tersebut dipimpin oleh Direktur Utama Virda Dimas Ekaputra saat berkunjung ke Bandara AMAA Madinah Senin lalu. “Dalam mewujudkan hal tersebut kami dengan sederhana mengusulkan beberapa konsep kerja sama terkait pelayanan penumpang Haji dan Umrah antara Bandara Madinah dan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertajati ini,” kata Virda yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (13/3/2018).
Virda mengatakan optimalisasi kualitas pelayanan dibutuhkan, mengingat jumlah masyarakat Indonesia yang pergi Haji dan Umrah tidak sedikit setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia memperkirakan 17 persen orang Jawa Barat melakukan kunjungan Haji setiap tahunnya, sedangkan 20 persen lainnya melakukan Umrah.
Adapun kenaikan rata-rata penumpang Umroh dari Indonesia ke Madinah tumbuh 53 persen per tahunnya. Bisa dikatakan, Indonesia memberi kontribusi cukup besar pada kunjungan ke Madinah sehingga kawasan Asia Pasific menjadi traffic yang cukup sibuk yakni sekitar 31 persen di banding empat benua yang lain.
“Oleh karena itu kerja sama tersebut kita lakukan. Sebab saat Kertajati beroperasi kita juga ingin melakukan pelayanan prima dan memberikan berbagai fasilitas memadai untuk kebutuhan haji dan umroh,” sebut Virda.
Sebagai bandara yang ingin menumbuhkan ramah kepada halal traveler BIJB sendiri tengah menunjukan hal tersebut. Salah satunya membangun lounge umrah eksklusif dan 12 ruang salat untuk membuat para jamaah nyaman saat di bandara. Sebagai upaya menarik perhatian jemaah haji BIJB juga akan membangun fasilitas manasik Haji dan Umroh yang di dalamnya terdapat miniatur Kabah.
“Jadi kami menempatkan sebuah wilayah untuk Haji dan Umrah. Ini akan menjadi cara yang efektif untuk menangkap bisnis potensial tidak hanya bagi jemaah tetapi juga banyak pihak yang terlibat di dalamnya,” terangnya.
Managing Director Tibah Airports Operation Sofiene Abdessalem mengatakan, pihaknya menyambut baik upaya kerja sama yang dibangun PT BIJB. Kerja sama bilateral ini tentu akan saling menguntungkan karena bisa sama-sama mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam hal pelayanan kebandarudaraan. “Kami menyambut baik kesempatan untuk bekerja sama dengan rekan-rekan kami BIJB untuk berbagi pengetahuan dan keahlian. Ini dilakukan untuk meningkatkan pengalaman perjalanan penumpang antara dua bandara yang sedang fokus pada penumpang Haji dan Umrah,” papar Sofiene.
Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi
Bandara Kertajati yang saat ini masih memiliki landasan pacu atau runway sepanjang 2.500 meter tengah menggenjot untuk bisa terealisasi hingga 3.000 meter pada grand opening Juni 2018 mendatang. Dengan runway 3.000 X 60 meter, berarti pesawat terbang berbadan lebar seperti Boeing 777 yang biasa melayani penumpang haji dan umroh akan bisa mendarat tanpa hambatan.
Sedangkan terminal yang pada tahap satu akan memiliki luas 9.6000 meter persegi akan diperluas sampai 209.500 meter persegi. Kapasitas awal yang semula hanya menampung 5 juta penumpang, nantinya akan ultimate sampai 29 juta penumpang setiap tahunnya
Keselamatan penumpang merupakan aspek yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan dengan alasan apapun. Alih-alih mengambil tindakan preventif setelah sebuah kecelakaan terjadi, maka tidak heran jika belakangan ini banyak perusahaan yang bergerak di bidang transportasi mulai memasang instrumen keselamatan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk meningkatkan pelayanan dan meningkatkan rasa aman kepada setiap para penumpang.
Baca Juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?
Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asahi.com (7/3/2018), salah satu operator kereta asal Negeri Sakura Jepang, East Japan Railway Co. (JR East) menggelontorkan dana segar sekira US$4,7 miliar atau yang setara dengan Rp64,7 triliun untuk menghadirkan instrumen keselamatan berupa safety gates di 243 stasiun di Tokyo. Adapun upaya ini dilakukan JR East guna mencegah penumpang jatuh ke rel ketika menunggu kereta datang.
Menurut salah satu juru bicara dari pihak JR East, pekerjaan ini sudah mulai berjalan karena ditargetkan pemasangan safety gates ini rampung sepenuhnya pada tahun fiskal 2032. “Itu berarti semua stasiun yang berada di 24 jalur utama JR East dengan radius 50km ini sudah memiliki safety gates,” terangnya.
Dalam pemasangannya, pihak JR East memprioritaskan beberapa stasiun, seperti stasiun Tokyo, Shinbashi , Yokohama, Shinanomachi, dan Sendagaya. Hal tersebut dilandaskan pada letak stasiun yang berdekatan dengan National Stadium, lokasi utama dari perhelatan Tokyo Olympic and Paralympic Games 2020. “Safety gates harus terpasang terlebih dahulu di stasiun-stasiun tersebut,” tambah pihak JR East.
Dalam hal ini, kehadiran safety gates memiliki fungsi yang serupa dengan Platform Screen Doors (PSD) yang kerap ditemui di stasiun-stasiun jaringan kereta bawah tanah. Walaupun fungsinya sama, namun bentuk dan tugas yang diemban oleh kedua instrumen keselamatan ini berbeda.
Bisa kita bayangkan, PSD yang terpasang di stasiun bawah tanah tidak hanya berfungsi sebagai penahan penumpang agar tidak jatuh ke rel, melainkan berfungsi juga sebagai pengaturan sirkulasi udara dan penyesuaian suhu ruangan. Bentuknya yang menjulang seperti tembok dan menutupi keseluruhan bangunan stasiun juga mampu meredam hempasan angin dan polusi suara yang ditimbulkan saat kereta lewat.
Berbeda dengan safety guards yang rencananya akan terpasang di sejumlah stasiun di Jepang. Mengingat kondisi stasiun yang kebanyakan outdoor, maka pemasangan PSD pun sepertinya terdengar terlalu muluk-muluk. Seperti yang sudah disinggung di atas, tugas yang diemban oleh safety guards ini tidaklah seberat PSD, hanya sebatas memberikan barikade tambahan agar penumpang tidak nyelonong ke dalam rel.
Baca Juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors
Dikaitkan dengan isu yang terjadi di dalam negeri, PT MRTJ, yang kini tengah disibukkan dengan beragam persiapan menjelang peluncuran layanan pertamanya pada bulan Maret 2019 mendatang pun pernah menegaskan bahwa nantinya stasiun-stasiun yang berada di bawah tanah akan dilengkapi dengan PSD.
Jika warga Ibukota masih bingung dengan konsep PSD yang nantinya akan diberlakukan oleh PT MRTJ, instrumen keselamatan ini hampir serupa dengan automatic doors yang pernah menjadi ‘pengaman’ di halte Bus TransJakarta pada awal kemunculannya. Namun seiring berjalannya waktu dan sifat buruk sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab, automatic doors yang semula dicanangkan untuk mencegah penumpang jatuh ke lintasan TransJakarta, kini sudah tidak berfungsi lagi dan dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Dengan jumlah penduduk kedua terbesar di dunia (1,3 miliar jiwa) dan memiliki jaringan kereta api yang tersebar luas, membuat India kembali berbenah untuk menempatkan layanan yang layak bagi perkeretaapiannya. Hal ini terlihat dari pihak Indian Railway Station Development Corporation (IRSDC), yang akan membenahi lebih dari 600 stasiun dengan bantuan pihak swasta yang diajukan melalui proposal.
Baca juga:India Lakukan Survei Stasiun Terbersih, Indonesia Kapan?KabarPenumpang.com yang melansir dari laman hindustantimes.com (11/3/2018), bahwa kemungkinan pengguna kereta akan mendapatkan sesuatu yang unik dari proyek pembenahan stasiun tersebut, yakni disediakannya titik poin untuk ber-selfie atau swafoto di stasiun kereta. Tak hanya itu, lift, eskalator dan perbaikan di bagian luar stasiun-stasiun tersebut juga akan dilakukan untuk membuat penumpang lebih nyaman nantinya.
Perbaikan fasilitas di 70 stasiun ini harus diselesaikan pada Desember 2018 mendatang. Dari 70 stasiun tersebut yang di tawakan oleh Indian Railway dalam proposal yang diajukan adalah Lonawala di Pune, Mumbai, Nagpur, Lucknow, Varanasi, Jaipur, Delhi dan Mysore.
“Telah diupayakan Railway untuk membangun dan memperbaiki kembali stasiun kereta api untuk memberikan pengalaman lebih baik dan kaya kepada penumpang. Sekitar 600 stasiun telah diidentifikasi dan pilih untuk tujuan pengembangan perkeretaapian India kepada IRSDC. Namun, sebagai langkah awal akan ada 70 stasiun akan dibenahi,” ujar ketua Dewan Kereta Api Ashwani Lohani.
Manajer Divisi Perkeretaapian India diketahui, telah diminta untuk menunjuk konsultan arsitektural dalam mempersiapkan rencana pembenahan dan perbaikan stasiun-stasiun tersebut.
“Pekerjaan untuk memperbaiki dan membenahi stasiun-stasiun ini harus selesai pada Desember 2018. Pekerjaan tersebut mencakup perbaikan bagian-bagian yang jelas terlihat pandangan mata maupun yang tidak pada bangunana stasiun,” ujar seorang pejabat kereta api lainnya.
Adapun yang masuk dalam perbaikan adalah daerah sirkulasi penumpang yang harus dibangun kembali untuk menyediakan jalur baik penurunan maupun penjemputan serta lahan parkir yang memadai. Tempat sampah besar juga harus di sediakan untuk memudahkan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir.
Baca juga: Dukung Promosi Kendaraan Elektrik, India Hadirkan Stasiun Pengisian Daya di Dua Stasiun Kereta
Untuk pencahayaan, dalam proposal tersebut juga menyebutkan akan menggunakan lampu LED demi menerangkan semua titik lokasi, baik itu untuk swafoto, titik pertemuan, kios atau tempat makan. Pihak perkeretaapian juga memutuskan untuk mengizinkan struktur komersial baik itu hotel atau rumah sakit dibangun dekat stasiun kereta.
Selain itu, pihak kereta api India juga menyewakan tanahnya selama 99 tahun kepada pihak swasta untuk memanfaatkannya dalam tujuan komersial. Ini akan dilakukan pada 600 stasiun yang akan dikembangkan IRSDC.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan seorang penumpang kapal pesiar Norwegian Epic yang terjatuh pada Selasa (6/3/2018) malam. Kesiapan dan kegesitan regu penyelamat dalam menindaklanjuti kecelakaan ini patut di apresiasi, pasalnya insiden yang terjadi di dekat Bahama ini tidak menelan korban jiwa.
Baca Juga: MSC Meraviglia, Kapal Pesiar Terbesar dari Mediterranean Shipping Cruises
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (8/3/2018), insiden yang sempat diabadikan oleh seorang penumpang ini terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat, tepat setelah jam makan malam usai. Ketika dimintai keterangan sebagai saksi mata, seorang penumpang yang bernama Kareen Kennedy tengah berada di ruang makan dek kelima. Ia mendengar pengumuman melalui interkom yang menyebutkan “Code Oscar portside” sebanyak tiga kali.
“Ketika hendak memesan makanan penutup, saya bertanya kepada pelayan yang tetiba melihat ke luar jendela, ‘Apa yang terjadi?’ lalu ia menjawab, ‘Seseorang melompat dari kapal,’” kenang Kareen. Mendengar jawaban pelayan tersebut, Kareen langsung bergegas menuju balkon kabin dek ke-14 untuk menyaksikan kejadian tersebut. Dari situ, ia melihat dua buah kapal penyelamat diturunkan dari kapal induk dan mulai berpatroli menggunakan lampu sorot.
Tak lama setelah ia melihat pemandangan tersebut, Kapten kapal kembali mengumumkan bahwa regu penyelamat telah berhasil menemukan seorang penumpang wanita yang tidak diketahui identitasnya, dimana wanita ini yang disinyalir melompat keluar dari jendela kapal. Sontak, seluruh penumpang yang berada di atas Norwegian Epic pun dapat bernafas lega.
“Regu penyelamat berhasil menemukan seorang wanita mengambang di atas air, dan segera menjemputnya. Guna menghindari kondisi yang tidak diinginkan, kini wanita tersebut telah mendapatkan penanganan medis,” ungkap Kapten pelayaran, sebagaimana yang dicatat oleh Kareen. “Perlu Anda ketahui, kami harus terlebih dahulu mengembalikan kapal penyelamat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Port Canaveral,” lanjut sang kapten.
Baca Juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana!
Setibanya di Port Canaveral pada Rabu pagi, wanita yang terjun ke laut lepas tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit setempat guna mendapatkan pengangan lebih lanjut. “Pikiran yang terlintas pertama kali di pikiran saya adalah ‘Apa yang akan dilakukan oleh regu penyelamat?’ karena pada saat itu, kapal kami tengah melaju dalam kecepatan yang tinggi, sehingga saya salut dengan apa sudah dilakukan oleh regu penyelamat,” ujar Kepala Pemadam Kebakaran, Mark Schollmeyer.
“Kami bersyukur tim kami bereaksi cepat dan mampu menyelamatkan wanita tersebut,” demikian pernyataan Norwegian Cruise Line. “Semoga korban bisa cepat lekas pulih,” imbuhnya.
Ketika dilema dengan becak yang hadir kembali dan membuat ibu kota Jakarta semakin macet, putra sulung mantan ketua MPR RI Amien Rais ini justru membawa becak listrik ke Balai Kota DKI Jakarta. Becak listrik yang di bawa Hanafi Rais ini kemudian langsung diterima oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Baca juga: Menilik Asam Garam Becak di Ibu Kota, Sempat Tenggelam Hingga Rencana Penghidupan Kembali
Becak listrik bisa dioperasikan dengan dua cara yakni di gas ataupun di gowes seperti mengendarai sepeda. Pada bagian kemudi sebelah kanan terdapat setang gas yang dilengkapi dengan klakson, lampu dan tuas rem.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa becak listrik tersebut diberi nama HAN. Seperti halnya sepeda listrik (Selis), becak listrik ini dilengkapi dengan dinamo sebagai penyimpanan listriknya, jika listrik tersebut habis, pengemudi becak bisa mengayuh pedal agar bisa kembali berjalan.
Hanafi mengatakan, becak listrik tersebut sudah diperkenalkan sejak tahun 2014 lalu di Yogyakarta. “Kalau risetnya sudah sejak tahun 2012. Kalau secara pembuatannya perakitannya itu untuk satu becak konvensional diubah jadi becak listrik itu cuma sebentar cuma lima hari aja,” ujar Hanafi.
Dia mengatakan, becak ini tidak menimbulkan polusi suara seperti becak motor yang beroperasi di beberapa kota di Indonesia. Untuk charging daya listrik becak ini butuh tiga jam dengan daya listrik PLN 100 W.
“Ada charger khusus untuk mengisi daya becak. Becak ini bisa menempuh jarak sekitar 40 km untuk sekali pengisian. Sekali isi daya becak ini bisa dipakai ke Ciputat bolak balik dari Balai Kota DKI,” kata Hanafi.
Kecepatan maksimal laju becak listrik sendiri bisa mencapai 25 km per jam. Untuk harga totalnya sendiri bisa mencapai Rp18 juta dan akan lebh murah jika di produksi secara massal. “Mekanikal listriknya itu kurang lebih Rp 10 juta untuk prototipe ini, tapi kalau mau produksi banyak tentu lebih murah. Kalau total kira-kira bisa Rp 18 juta,” ujar Hanafi yang juga populer sebagai politisi Partai Amanat Nasional (PAN).
Penyerahan becak listrik ini kepada Pemprov DKI Jakarta, dikarenakan rencana Anies yang akan mengoperasikan kembali becak di ibu kota. Sebelumnya, Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan wacana untuk mengganti becak yang ada di jakarta dengan sepeda listrik. Menurutnya, sepeda listrik merupakan salah satu angkutan yang masuk kategori ramah lingkungan.
“Jadi kemarin kebetulan ada program bersama-sama PLN, salah satu yang disorot adalah angkutan perumahan yang ramah lingkungan dan yang diusulkan adalah sepeda listrik,” ujar Sandiaga.
Baca juga: Becak: Dikagumi di Eropa, Tersingkir di Dalam Negeri
Seorang pengamat transportasi yang juga Direktur Utama Damri, Setia N Milatia Moemin sempat mengatakan bahwa kebijakan Pemprov DKI terkait penghidupan kembali becak di Ibukota merupakan salah satu sinyal yang mengindikasikan bahwa Ibukota mengalami kemunduran. “Kalau becak sih saya melihatnya tidak manusiawi ya. Buat saya sih itu suatu kemunduran dalam hal kemanusiaan,” ungkap Tia.
Seorang petugas keamanan bandara biasanya merupakan orang-orang terpilih, terlatih dan dapat dipercaya. Sebab meski yang ditangani adalah penumpang, tetapi mereka juga harus waspada dengan barang yang dibawa oleh para penumpang.
Baca juga: [Video] Turun dari Pesawat, Pria Mabuk Gigit Petugas Keamanan Bandara
Sehingga pemeriksaan bukan hanya pada barang bawaan melainkan penumpang juga akan diperiksa melalui mesin detektor. Tapi, apa jadinya jika seorang petugas keamanan justru mencuri barang atau uang milik penumpang?
Belum lama ini, seorang wanita yang merupakan petugas keamanan bandara di Bangkok, Thailand kedapatan mencuri uang milik penumpang. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (13/3/2018), bahwa petugas tersebut bernama Busakorn Somkwamdee yang tertangkap kamera pengawas atau CCTV saat membuka tutup tas seorang pelancong.
Saat itu tas pelancong tersebut berada di dalam kerancang ban berjalan. Dia kemudian merogoh uang tunai senilai £450 atau sekitar Rp8,6 juta dari tas penumpang sebelum masuk mesin pemindai.
Tampang tak bersalah petugas keamanan yang tertangkap mencuri
Dengan cepat Somkwamdee mengeluarkan seikat besar uang Yuan dan memasukkan saku kanannya. Padahal saat itu ada seorang penumpang yang berdiri di sebelahnya.
Namun penumpang warga negara Cina yang ketakutan langsung menghubungi pihak bandara saat tahu uangnya hilang. Dia menyadari uangnya hilang saat duduk di ruang keberangkatan Bandara Suvarnabhumi Bangkok, Thailand.
Polisi kemudian mengamankan Somkwamdee yang tertangkap basah dengan empat ribu Yuan atau sama dengan £450 di sakunya pada Senin, (12/3/2018) sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Tak hanya itu, pihak bandara dan polisi berpikir mungkin ada pencurian lainnya.
Somkwamdee diketahui telah bekerja di bandara Suvarnabhumi Bangkok selama dua tahun. Setelah tertangkap dia kemudian diinterogasi dan mengakui pencurian tersebut serta dikenakan skorsing.
Deputy director of the airport, Kittipong Kittikajorn mengatakan, petugas keamanan tersebut mengakui pencurian itu dan mengklaim dirinya pertama kali melakukannya.
“Pejabat bandara sedang meninjau CCTV untuk memeriksa apakah ada angggota lainnya yang mencuri barang-barang miliki penumpang. Kami percaya mungkin pencurian lain bisa terjadi karena dia melakukan ini dengan sangat profesional. Tangannya cepat dan dia tahu cara menghindari kamera CCTV,” ujar Kittipong.
Dia mengatakan jika semua bukti sudah dikumpulkan, maka petugas keamanan tersebut akan diadili. Tak hanya itu, uang yang diambilnya pun sudah dikembalikan kepada penumpang yang kehilangan yang tersebut.
Baca juga:Gegara Ada Kawanan Sapi di Landasan, Manager Bandara di Nigeria Diganjar Skorsing
“Kami telah menghubungi perusahaan keamanan yang mempekerjakan penjaga dan menginstruksikan mereka untuk memperbaiki proses penyaringan saat mempekerjakan penjaga,” tegas Kittipong.
Bandara memperketat keamanan minggu lalu setelah delapan dari penangan bagasi tertangkap mencuri barang bebas bea senilai sekitar £20 ribu atau sekitar Rp382 juta dari sebuah maskapai penerbangan.
Meski kini tergerus zaman dan lebih banyak terlupakan, sepeda sebagai alat transportasi pribadi atau sebagai ojek seperti di kawasan Kota Tua masih digunakan oleh beberapa pecinta sepeda. Bahkan, kini sepeda lebih banyak sebagai penunjang olah raga bukannya untuk transportasi dan menjadi minoritas dibandingkan angkutan umum lainnya yang membuat udara kota menjadi buruk karena polusi hasil dari knalpot kendaraan.
Baca juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?
Namun, seperti bangkit dari mati surinya, kini ojek sepeda mulai kembali merajai dunia dan berkembang kembali melalui platform ride sharing. Seperti Uber yang sudah memulainnya di San Francissco, Amerika Serikat dan bekerja sama dengan JUMP melalui layanan bike sharingnya.
Hal tersebut kemudian diikuti oleh Grab yang menghadirkan layanan GrabCycle baru-baru ini. KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (9/3/2018), hadirnya GrabCycle ini adalah jasa yang diluncurkan GrabVentures sebagai proyek pertamanya.
GrabVentures sendiri difokuskan menangani proyek vertikal diluar taksi seperti pembayaran dan transportasi. Sebenarnya dinamakan GrabCycle, karena menawarkan berbagai layanan mulai dari bike sharing sampai sekuter listrik.
Penyewaan sepeda ini Grab akan memanfaatkan GrabPay, layanan uang elektronik atau sistem pembayaranan non tunai untuk memudahkan transaksi. Head of GrabVentures Reuben Lai mengatakan, layanan GrabCycle tersebut akan dimulai pada negara Singapura untuk kawasan Asia Tenggara.
Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan akan menyasar semua negara di Asia Tenggara dan tak terkecuali di Indonesia.
“Fokus kami adalah mengujinya untuk memastikan kami mendapatkan konsumen di sini menyukainya. Apabila konsumen menyukainya, maka tidak ada yang menghentikan kami untuk terus mengembangkannya di seluruh Asia Tenggara,” ujar Lai.
Baca juga: Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?
Diketahui, saat ini GrabCycle di Singapura bermitra dengan empat operator yakni oBike, GBikes, Anywheel dan PopScoot. Lai mengkali, dengan GrabCycle ini bisa menjadi pelengkap jaringan transportasi umum yang telah disediakan. Adanya penyewaan sepeda juga bisa membantu penghijauan kota yang lebih asri, ramah lingkungan dan layak untuk dihuni.
“Dengan GrabCycle, kita melangkah lebih dekat ke arah visi menjadi platform dengan pilihan transportasi yang sesuai dengan kebutuhan,” tuturnya.
Beragam tindakan unik yang dilakukan oleh setiap manusia dapat terjadi dimana saja dan siapa saja, tidak terkecuali pengemudi angkutan ride-sharing berbasis aplikasi, Uber. Beragam tindakan yang dilakukan oleh driver angkutan semacam ini kerap kali mengundang simpati para pengemudinya, bahkan tidak sedikit yang mengundang amarah. Namun untuk kasus yang satu ini, silakan Anda kategorikan sendiri.
Baca Juga: Lagi, Oknum Pengemudi Uber di India Coreng Nama Perusahaan
Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (16/2/2018), seorang penumpang wanita yang bernama Tirhas Hailu dijemput dengan menggunakan layanan Uber yang ia pesan. Ia dijemput di Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport dan perjalanan tersebut berjalan lancar mulanya.
Tirhas Hailu. Sumber: dailymail.co.uk
Namun ketika di tengah perjalanan, si pengemudi berusaha untuk mengambil sebuah gelas. Tirhas berasumsi bahwa si pengemudi merasa haus dan hendak minum. Alih-alih menggunakan gelas untuk minum, si pengemudi malah mengarahkan gelas tersebut ke arah pangkal pahanya. Tirhas semakin dibuat bingung ketika si pengemudi yang tidak disebutkan namanya ini mulai menurunkan ritsleting celananya.
Kondisi yang sangat hening di dalam mobil membuat Tirhas bisa dengan leluasa mendengar segala aktifitas tersembunyi yang dilakukan oleh si pengemudi. Tak lama setelah ia mendengar suara ritsleting yang diturunkan, Tirhas mendengar suara aliran air. Setelah mencari tahu sumber suara tersebut, ia menemukan si pengemudi Uber itu tengah buang air kecil di gelas tersebut.
Dapat dibayangkan jika posisi Anda berada di dalam kondisi tersebut? Mungkin Anda akan merasa jijik atau merasa dilecehkan. Melihat kejadian tersebut, Tirhas langsung berinisiatif untuk mengambil ponsel dan mengabadikan momen tersebut. “Sangat di luar dugaan. Itu satu tindakan yang seharusnya tidak terjadi,” ungkap Tirhas.
Setibanya di tujuan Tirhas menanyakan tindakan yang sudah dilakukan oleh si pengemudi tadi, dan menunjukkan bukti rekaman yang tersimpan di ponselnya. “Itu lebih baik daripada saya mengompol,” itu jawaban yang diterima Tirhas.
Baca Juga: Waspada! Pengemudi Uber Punya Trik Baru Untuk Kelabui Penumpang
Menanggapi hal tersebut, pihak Uber hanya bisa meminta maaf kepada Tirhas atas tindakan yang kurang mengenakkan tersebut. “Kami akan menindak tegas pengemudi yang tidak bisa menghargai konsumen,” jelas pihak Uber.
Apakah Anda pernah mengalami gangguan ketika sedang berkendara? Nampaknya hampir semua pengendara tidak dapat menampik pertanyaan tersebut. Semua pengendara pasti pernah mengalami gangguan selama mereka tengah berkonsentrasi untuk mengemudikan kendaraannya. Tapi sepertinya pertanyaan kedua ini nampaknya akan menimbulkan banyak varian jawaban. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara? Tentu setiap jawaban yang terlontar memiliki pembelaannya masing-masing.
Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak
Ya, gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara bisa datang dari mana saja. Mulai dari pesan yang masuk ke ponsel Anda, mengatur ulang GPS Anda, hingga tangisan si kecil yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagi sebagian dari Anda yang memanfaatkan keterampilan Multi-Tasking ketika berkendara, tentu hal tersebut akan sangat berbahaya bagi keselamatan Anda sendiri.
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thegazette.com, Direktur National Advanced Driving Simulator Laboratories, Dr. Daniel McGehee menyebutkan bahwa ada tiga jenis gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara: visual, manual, dan kognitif.
Segala macam gangguan yang memaksa Anda untuk memalingkan pandangan dari jalan disebut gangguan visual. Baik itu Anda mengecek ponsel untuk memperbaiki GPS, atau menenangkan si kecil yang menangis di bangku belakang.
Sementara itu, Dr. Daniel menyebutkan bahwa gangguan manual dimulai ketika Anda mulai melepaskan kemudi dari tangan Anda, untuk apapun itu masalahnya. Mulai dari memasukkan ulang koordinat GPS di ponsel hingga menggunakan make up ketika sedang terjebak macet atau berhenti di lampu lalu lintas.
Lebih lanjut, Dr. Daniel mendeskripsikan gangguan kognitif sebagai gangguan yang berasal dari pemikiran si pengemudi, seperti melamun, atau penggunaan aplikasi text-to-type dimana ponsel akan mengetik secara otomatis sesuai dengan kalimat yang Anda sebutkan. Namun menurutnya, gangguan semacam ini terbukti meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas.
“Dengan Anda berbicara selama berkendara, itu secara tidak langsung akan memecahkan konsentrasi Anda,” tutur Dr. Daniel. “Mungkin kebanyakan dari Anda merasa percaya diri ketika melakukan segala sesuatunya secara berbarengan, namun secara tidak disadari, hal tersebut memaksa otak kita untuk mengalihkan fokus secara cepat dan lama kelamaan itu akan membuyarkan konsentrasi otak yang dampaknya akan sangat berbahaya,” imbuhnya.
Berlandaskan pada penjelasannya, Dr. Daniel mengatakan bahwa ada baiknya untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kita mulai berkendara, mulai dari mempertimbangkan untuk menggunakan kacamata hitam, menyetel posisi bangku senyaman mungkin, memasukkan koordinat GPS dengan benar, atau bahkan mematikan ponsel Anda ketika hendak berkendara. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengingkatkan konsentrasi selama berkendara.
Baca Juga: Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!
Untuk gangguan dari si buah hati yang duduk dengan kursi khusus di jok belakang, persiapkanlah hal-hal yang dapat mencegah si kecil menangis selama kita sedang berkendara. “Karena dengan kesadaran akan keselamatan dan persiapan yang matang sebelum berkendara akan meningkatkan peluang Anda untuk tiba di tujuan dengan selamat.” Tutupnya.
Walaupun menawarkan kemudahan kepada para penumpang, namun pada kenyataannya kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi bukanlah menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah kemacetan. Ambil contoh di Jakarta, dimana hampir setiap hari ratusan pengemudi ojek online ‘mangkal’ di dekat stasiun demi lebih mendekatkan diri kepada para calon penumpangnya. Kehadirannya yang mungkin dinilai lebih mudah dijangkau oleh calon penumpang berimbas pada kemacetan di daerah sekitarnya.
Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia
Padahal, kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini pada awalnya ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi di jalanan. Sebagaimana yang tertera di laman resmi Uber, menyebutkan bahwa lebih sedikit kendaraan menandakan bahwa lebih sedikit pula bahan bakar dan polusi udara yang dikeluarkan. Namun pada kenyataannya,kehadiran moda tranportasi berbasis aplikasi ini tidaklah membawa pengaruh positif pada volume kendaraan di Ibukota, malah sebaliknya.
Di sisi lain, kondisi transportasi berbasis massal pun bisa dibilang kurang memadai. Dapat dibayangkan Commuter Line Jabodetabek dan Bus TransJakarta yang selalu dijejali oleh penumpang dikala peak hours? Khusus untuk Bus TransJakarta, kondisi tersebut semakin diperparah dengan kemacetan yang dewasa ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka tidak heran jika kebanyakan masyarakat Jakarta dan sekitarnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan moda transportasi berbasis massal.
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (12/3/2018), sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute of Transportation of California menemukan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi ride-sharing seperti Gojek, Uber, dan Grab berpengaruh pada pengurangan jumlah penumpang angkutan berbasis massal seperti Commuter Line dan Bus TransJakarta. Dengan begitu, tingkat polusi udara di kota terkait pun secara otomatis akan meningkat.
Untuk kasus pengadaan Electric Vehicles (EV) yang hingga saat ini masih digalakkan di beberapa negara di dunia nampaknya bisa menjadi solusi untuk masalah polusi udara yang sudah disebutkan di atas, namun tidak untuk masalah kemacetan. Banyak pengamat transportasi yang menilai bahwa hanya dengan beralih menggunakan transportasi umum sajalah yang mampu mengentaskan masalah kemacetan saat ini
Menurut Dirut Perum Damri yang juga merangkap sebagai pengamat transportasi, Setia N. Milatia Moemin, penggunaan sarana transportasi umum mampu menampung lebih banyak penumpnag dalam sekali perjalanan. “Semisal ada 100 orang, mungkin butuh 20 kendaraan pribadi (mobil) untuk menampung semuanya. Namun 100 orang tersebut bisa langsung berangkat dengan menggunakan satu buah LRT atau MRT,” tuturnya kepada KabarPenumpang.com, Kamis (1/3/2018) kemarin.
Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!
Masalah ini benar-benar bergantung pada kesadaran seseorang untuk beralih menggunakan transportasi umum, dan bagaimana pemerintah dapat menarik minat masyarakat Ibukota untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadinya.