Gubernur DKI Targetkan Stasiun JIS Beroperasi Akhir Tahun 2025

Stasiun Commuter Line pada lintas Jakarta Kota – Tanjung Priok memang sudah cukup lama dan tak kunjung selesau. Ya, Stasiun Jakarta Internasional Stadium (JIS) yang saat ini masih belum bisa digunakan untuk masyarakat. Padahal pembangunan stasiun ini digadang-gadang agar lebih terjangkau dan mudah untuk masyarakat yang akan berkunjung ke-JIS tersebut. Stasiun yang terletak di Jalan RE Martadinata, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara ini terletak bersebelahan secara langsung dengan stadion JIS. Stasiun itu berada tepat di tengah-tengah antara proyek pembangunan jalan tol Harbour Road III dan gedung Kampung Susun Bayam. Selama ini, seluruh pengunjung JIS dari luar Jakarta harus turun di Stasiun Commuter Ancol dan naik angkot M15 untuk menuju JIS. Moda transportasi lain adalah Transjakarta Koridor 14, 14A, 14B, dan 12P. Meski rencana akhir tahun stasiun ini akan rampung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung selalu optimistis nantinya sudah bisa digunakan oleh masyarakat sebagai transportasi yang mudah dan praktis.
Peninjauan area lokasi Stasiun JIS oleh KAI dan jajaran lainnya. (Foto: Dok. KAI)
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga mengatakan stasiun baru di kawasan JIS akan meningkatkan kemudahan akses transportasi bagi masyarakat. Kawasan stadion sering menjadi pusat kegiatan besar yang membutuhkan dukungan transportasi publik yang lebih efisien. Alasan awal Stasiun JIS dibangun yang berada di antara Stasiun Ancol dan Stasiun Tanjung Priok ini sebagai simpul baru jaringan mobilitas Jakarta. Lokasi ini dipilih untuk memperkuat peran kereta api dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta konektivitas kawasan perkotaan. Kehadiran Stasiun JIS tentu akan mendukung pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) berbasis transportasi massal modern. Konsep ini mendorong masyarakat beraktivitas menggunakan moda publik yang ramah lingkungan dan efisien. Pramono mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono terkait operasional Stasiun KRL JIS. Jika nantinya hal ini terwujud, kawasan JIS bisa menjadi legasi yang luar biasa. Sebelumnya, Pramono mengakui masalah transportasi dan aksesibilitas menuju JIS selama ini dikeluhkan masyarakat, terutama saat acara besar seperti konser dan pertandingan sepak bola. Untuk mengatasi hal ini, Pemprov DKI Jakarta berencana mengintegrasikan area parkir Ancol dengan JIS. Menurut Pramono, dalam waktu dekat wajah JIS akan berubah karena adanya pembangunan infrastruktur yang saling terhubung. Salah satunya adalah rencana pembangunan jembatan sepanjang 350 meter yang akan menghubungkan JIS dengan kawasan Ancol. Dengan beroperasinya Stasiun JIS nanti, kedepannya masyarakat tentu akan memperoleh akses lebih mudah menuju kawasan utara Jakarta pada berbagai kegiatan besar. Proyek ini juga memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dalam menghadirkan layanan transportasi publik berkelanjutan.
Jalur KRL Lintas Kemayoran – Ancol Hingga Kini Belum Digunakan, Ini Alasannya

Meski Vakum Selama 4 Tahun, Stasiun Argopuro Ternyata Memiliki Keunikan

Yang sering naik kereta api (KA) ke wilayah paling timur Pulau Jawa, pasti tidak asing dengan stasiun yang satu ini. Meski namanya tak berpengaruh dengan brand eksekutif, namun ternyata memiliki keunikan tersendiri. Ya, ini dia Stasiun Argopuro. Dari namanya memang tertulis “argo” yang tentu tahu merupakan kata lain selain eksekutif, tapi tentu bukan hal itu yang dimaksud. Seperti yang dikabarkan dari berbagai sumber, ternyata stasiun kecil (kelas III) ini sempat beroperasi selama 4 tahun. Maksud dari tidak beroperasi tentunya bukan di non aktifkan, melainkan tidak digunakan sebagai angkutan penumpang. Jadi tidak ada kereta api penumpang yang singgah maupun berhenti di stasiun ini. Stasiun Argopuro berhenti melayani naik-turun penumpang hingga sekitar tahun 2021. Dilihat dari keunikannya, ternyata stasiun ini memiliki bangunan yang mirip dari stasiun lain. Karena informasinya memang dibangun di waktu yang hampir bersamaan. Sejarahnya Karena ada tiga stasiun yang dibangun di sepanjang jalur kereta api sampai dengan Banyuwangi, yaitu Stasiun Karangasem (sekarang Banyuwangi Kota), Stasiun Argopuro, dan Stasiun Banyuwangi Baru (sekarang stasiun Ketapang). Sejarah menyebutkan, saat itu jalur kereta api di Banyuwangi masih menggunakan jalur peninggalan Staatspoorwegen, perusahaan milik pemerintah Kolonial Belanda, yang dibuka pada tahun 1903 dan membentang dari Stasiun Kalisat hingga Stasiun Banyuwangi (lama). Dari sana, angkutan pupuk dan barang kemudian diantar dengan kereta api hingga kawasan Pelabuhan Boom. Hanya, karena proses sedimentasi di sana, akhirnya pemerintah membangun Pelabuhan Tanjung Wangi (Pelabuhan Meneng). Pemindahan pelabuhan itu berdampak pada aktivitas ekspor impor dan distribusi pupuk berpindah. Sehingga pemerintah berupaya membuat jalur baru KA hingga Pelabuhan Tanjung Wangi. Saat ini, Stasiun Argopuro hanya melayani satu jenis kereta, yaitu KA Pandanwangi. Meskipun demikian, ke depan, stasiun ini direncanakan untuk melayani lebih banyak kereta baik jarak jauh maupun kereta komersial lainnya. Dengan kata lain, ada harapan untuk memperluas layanan dan meningkatkan konektivitas antar daerah.
KA Pandanwangi melintas di Stasiun Argopuro. (Foto: Dok. Radar Banyuwangi)
Dilansir dari laman stasiunfakta, berikut jadwal KA Pandanwangi yang berhenti di Stasiun Argopuro: KA 491A Pandanwangi berangkat dari Jember pukul 05.10, tiba di Argopuro pukul 08.11 dan melanjutkan perjalanan ke Ketapang. KA 493A Pandanwangi berangkat dari Jember pukul 14.15, dan tiba di Argopuro pukul 17.08. Selain itu, terdapat pula jadwal kereta dari arah Ketapang, yaitu KA 492A Pandanwangi yang berangkat pada pukul 09.50 dan KA 494A Pandanwangi pada pukul 18.15.
Cukup dengan Rp8.000 Sudah Bisa Merasakan Lewati Dua Terowongan Kereta Bersejarah

Zapata AirScooter: Wahana Terbang Pribadi Hybrid $200.000, Dirancang Tanpa Lisensi Pilot

Di balik perusahaan Zapata berdiri penemu dan juara jet ski Perancis, Franky Zapata. Setelah meraih ketenaran dunia dengan Flyboard Air (papan hover berdaya jet), Zapata kini meluncurkan produk yang lebih fokus pada pasar sipil yang disebut AirScooter. Meskipun laporan awal mengaitkan harga US$250.000 dengan varian militer Flyboard Air (EZ-Fly), produk terbaru yang bernama AirScooter diperkirakan akan dijual sekitar US$200.000 per unit. Dirancang oleh Franky Zapata, melalui perusahaannya Zapata Racing (sekarang menjadi Zapata Company), menciptakan kendaraan VTOL (Vertical Take-off and Landing) berkursi tunggal yang mudah dioperasikan (seperti skuter), sangat aman, dan dapat diterbangkan oleh masyarakat umum dengan pelatihan minimal. Wahana ini didesain agar mudah diakses, mematuhi regulasi penerbangan ringan (seperti FAA Part 103 di AS), sehingga memungkinkan pengguna menerbangkannya tanpa memerlukan lisensi pilot setelah menjalani pelatihan singkat berbasis simulator. Zapata AirScooter mengusung propulsi hybrid-electric (mesin bensin/jet fuel dan motor listrik). Berkat sistem propulsi hybrid yang efisien, jejak karbon AirScooter diklaim sebanding dengan mobil penumpang biasa. Endurance terbangnya disebut lebih dari 2 jam, sementara kecepatan maksimalnya 100 km per jam dan kecepatan jelajah sekitar 80 km per jam. Untuk keamana, Zapata AirScooter menggunakan sistem Distributed Electric Propulsion (DEP) dengan banyak baling-baling/rotor, yang memberikan redundansi. Jika satu baling-baling mati, perangkat lain dapat mengambil alih, meningkatkan keselamatan penerbangan. Zapata AirScooter mengusung kendali fly-by-wire berbantuan Komputer (dioperasikan dengan dua joystick). Kontrol fly-by-wire dirancang agar intuitif, sehingga pelatihan yang dibutuhkan minimal, biasanya hanya melalui kursus virtual reality dan simulator. Berat kosong skuter udara ini adalah 112 kg, dan kapasitas muatan sekitar 120 kg. Secara teknis skuter ini mampu mencapai ketinggian hingga sekitar 3.000 meter.
Toyota dan Joby Aviation Tuntaskan Uji Terbang Taksi Udara Pertama di Jepang

Indonesia Menjadi Negara Pertama di Dunia yang Terapkan “Seamless Corridor” Biometrik

Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia telah menjadi otoritas pertama di dunia yang memperkenalkan koridor biometrik dalam skala besar dengan teknologi biometrik on-the-move (biometrik saat bergerak). Inovasi baru dari Amadeus ini menggunakan biometrik berkemampuan AI (Kecerdasan Buatan) untuk memvalidasi identitas penumpang “sambil bergerak” melalui koridor lebar, tanpa perlu berhenti untuk menunjukkan dokumen secara manual kepada petugas perbatasan atau di konter. Teknologi ini mengubah proses imigrasi dari proses yang lambat dan dicirikan oleh antrean menjadi pengalaman yang cepat, lancar, dan tanpa hambatan. Sebagai bagian dari inisiatif “All Indonesia,” sebuah program transformasi digital besar yang dipimpin pemerintah yang bertujuan merampingkan proses masuk bagi wisatawan internasional. Otoritas imigrasi Indonesia telah menyebarkan dua koridor biometrik di Bandara Jakarta (Soekarno-Hatta), dan satu koridor biometrik ketiga telah dipasang di Bandara Juanda Surabaya.
Proses Imigrasi Makin Cepat, Kini Total Ada 69 Unit Autogate di Bandara Soekarno-Hatta
Koridor ini akan memberikan prioritas pada lansia dan penumpang penyandang disabilitas di fase pertama. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia untuk merangkul teknologi transformatif bagi semua orang. Dalam jangka panjang, aplikasi di masa depan diharapkan dapat diperluas untuk semua penumpang di seluruh infrastruktur bandara negara. Wisatawan yang memerlukan bantuan khusus dapat mendaftar untuk menggunakan koridor biometrik baru melalui aplikasi “All Indonesia,” yang menyatukan deklarasi imigrasi, bea cukai, kesehatan, dan karantina menjadi satu pengalaman digital yang sederhana. Sebagai verifikasi awal, pelancong dapat membagikan detail paspor mereka dari rumah, memungkinkan layanan imigrasi melakukan pemeriksaan latar belakang lanjutan sebelum pelancong tiba di bandara. Di imigrasi, pelancong dapat berjalan dengan lancar melalui koridor khusus, yang memindai wajah mereka dan mencocokkannya dengan foto yang tersimpan untuk mengonfirmasi identitas mereka secara akurat saat mereka melintasi perbatasan. Teknologi ini sebelumnya telah diuji selama musim haji, di mana telah memfasilitasi perjalanan sekitar 220.000 orang antara Indonesia dan Arab Saudi setiap tahun. Selama periode itu, koridor tersebut mampu memproses lebih dari 30 lintasan perbatasan per menit, peningkatan sepuluh kali lipat dalam kapasitas dibandingkan e-Gate biometrik biasa. Inovasi seamless corridor ini diklaim sebagai peningkatan dari proyek biometrik yang pernah diumumkan oleh Emirates di Bandara Internasional Dubai pada 2018, karena teknologi ini menghilangkan kebutuhan akan e-Gate fisik (penumpang tidak perlu berhenti sama sekali).
Bikin Cemas dan Panik , Ini Beberapa Sebab Pemeriksaan Paspor di Bandara Bisa Berlangsung Lama

Setelah Jepang, Belanda dan Singapura, Airbus Luncurkan Tech Hub di Korea Selatan

Airbus mengumumkan pendirian Airbus Tech Hub di Korea Selatan. Berlokasi di Daejeon, pusat ekosistem riset dan pengembangan (R&D) nasional, pusat baru ini akan menjadi pusat riset dan inovasi kolaboratif, sekaligus memperkuat peran Korea Selatan sebagai mitra teknologi strategis bagi Airbus. Airbus Tech Hub akan berfokus pada tiga pilar riset utama yang memanfaatkan kekuatan industri Korea Selatan, yakni pengembangan teknologi energi masa depan, komposit ringan tingkat lanjut, serta teknologi pertahanan dan antariksa generasi berikutnya. Pendirian Airbus Tech Hub di Korea Selatan dilakukan melalui kerja sama erat dengan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya (Ministry of Trade, Industry and Resources/MOTIR) serta Pemerintah Kota Daejeon. “Setelah lebih dari lima dekade kemitraan industri yang sukses dengan Korea Selatan, peluncuran Airbus Tech Hub di Daejeon menjadi wujud nyata dari komitmen kami yang semakin kuat. Tech Hub ini memungkinkan Airbus untuk mengakses berbagai teknologi canggih di Korea Selatan, yang akan mempercepat pengembangan teknologi pesawat masa depan sekaligus memperkuat posisi Korea Selatan sebagai mitra jangka panjang yang tepercaya,” ujar Mark Bentall, Head of R&T Programme Airbus. Untuk mempercepat misi Tech Hub, Airbus menandatangani tiga nota kesepahaman (MoU) dalam upacara peluncuran tersebut: MoU pertama, dengan MOTIR, membentuk kerangka kerja yang memungkinkan Airbus meluncurkan proyek riset dan inovasi dengan cepat di dalam ekosistem teknologi Daejeon. MoU kedua, dengan Pemerintah Kota Daejeon, menegaskan komitmen untuk mendukung dan mempercepat inisiatif riset dan inovasi Airbus di wilayah tersebut. MoU ketiga, dengan Korea International Trade Association (KITA), berfokus pada pemanfaatan platform inovasi terbuka KITA untuk menjaring dan melibatkan mitra baru sesuai dengan area fokus teknologi Airbus. Di antara proyek yang diumumkan pada peluncuran Airbus Tech Hub di Korea Selatan, Airbus menjalin kemitraan dengan LIG Nex1 untuk mengembangkan teknologi antena chip satelit (space chip antenna) yang digunakan untuk transmisi dan penerimaan sinyal komunikasi. Secara terpisah, Airbus menggandeng EMCoretech untuk mengembangkan teknologi penyaringan aktif (active filtering) yang dibutuhkan pada aplikasi elektrifikasi guna meredam electromagnetic interference (EMI). Hubungan Airbus dengan Korea Selatan telah terjalin selama lebih dari 50 tahun, dimulai pada tahun 1974 saat Korean Air memesan pesawat berbadan lebar A300B4 edisi pertama. Sejak saat itu, Korea Selatan telah menjadi pelanggan sekaligus mitra utama bagi Airbus berbagai di lini bisnis termasuk pesawat komersial, pertahanan, antariksa, dan helikopter.
Sejarah Panjang Korean Air, Maskapai Nasional yang Awalnya Dimiliki Pemerintah
Kehadiran industri Airbus di Korea juga diperkuat oleh kemitraan jangka panjang dengan pemasok tingkat utama seperti Korea Aerospace Industries (KAI) dan Korean Air Aerospace Division (KAL-ASD).  Mereka memproduksi komponen penting untuk program pesawat sipil Airbus, termasuk struktur sayap, perakitan badan pesawat (fuselage), serta komponen komposit pesawat untuk keluarga A320, A330, dan A350. Selain itu, sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Korea Selatan juga berkontribusi dalam rantai pasok Airbus. Saat ini, pengadaan Airbus di Korea Selatan telah mendukung sekitar 6.000 tenaga kerja terampil dan memberikan kontribusi sekitar USD 600 juta per tahun bagi perekonomian lokal. Tech Hub baru ini melengkapi pembukaan Composite Technology Centre (CTC), anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Airbus, di Busan. Kantor CTC yang baru akan bekerja sama dengan Busan Techno Park dalam riset dan pengembangan material komposit dan proses manufaktur yang canggih untuk industri kedirgantaraan. Korea Selatan menjadi lokasi keempat dalam jaringan global Airbus Tech Hubs, mengikuti Jepang, Belanda, dan Singapura dengan fasilitas serupa. Proyek ini dirancang untuk mendorong kolaborasi antara industri, akademisi, lembaga pemerintah, dan start-up guna mempercepat inovasi dan mendorong batas-batas teknologi kedirgantaraan.

Lagi, Uji Coba Jembatan Simpang Joglo Libatkan Belasan Lokomotif

Jalur kereta api (KA) di Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta tengah melakukan uji coba di kawasan Solo. Jalur KA yang berupa sebuah jembatan ini berada di jalur antara Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Kadipiro atau jalur pintas menuju Semarang. Nah, jembatan yang digadang-gadang merupakan jembatan sangat ikonik ini karena konstruksi yang dipakai merupakan teknologi paling mutakhir yang kali pertama dipakai di Indonesia. Strukturnya adalah baja pipa. Biasanya dari baja padat dan ini menjadi yang pertama di Indonesia. Penyambungannya juga menggunakan sistem las, berbeda dengan biasanya menggunakan sistem baut. Mulanya, pembangunan rel layang di Simpang Tujuh Joglo, Solo, merupakan solusi terobosan untuk mengatasi kemacetan di perlintasan sebidang Simpang Joglo. Proyek ini merupakan bagian penting dari upaya pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Solo Balapan – Kalioso, serta peningkatan rekayasa lalu lintas di Simpang Joglo, Kota Surakarta. Nah, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) serta Kementerian Perhubungan tengah melakukan kembali uji coba jembatan tersebut. Sebelumnya uji coba dilakukan pada tahun 2024 lalu. Uji coba kali ini tetap menggunakan lokomotif dari berbagai seri, seperti seri CC 201, CC 203, dan CC 300.
8 unit lokomotif tengah uji coba beban di Jembatan Layang Simpang Joglo.
Lokomotif ini tetap dengan cara digabung masing-masing rangkakan sebanyak 8 unit. Karena total keseluruhan yang uji coba sebanyak 17 unit lokomotif. Jembatan yang memiliki jalur ganda ini melakukan uji beban dengan melangsirkan lokomotif selama berjam-jam dalam kurun 2 hari. Sebelumnya penyusunan unit lokomotif agar menjadi satu rangkaian tersebut dilakukan di Stasiun Solo Balapan. Setelah tersusun, lokomotif tersebut berjalan menuju Stasiun Kadipiro dengan formasi masing-masing 2 unit lokomotif. Pengiriman dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Kadipjro ini memakan waktu lebih dari 2 jam yang dimulai pada pukul 16.00 WIB. Saat semua unit terkumpul di Stasiun Kadipiro, formasi rangkaian terbentuk kembali sedikitnya 2 rangkakan yang masing-masing terdiri dari 8 unit lokomotif. Akhirnya, Selasa 18 November 2025 pukul 19.0p WIB uji coba beban jembatan pun dilakukan. Meski dibawah guyuran hujan, uji coba tersebut tak urungkan niatnya untuk mengejar target agar terselesaikan. Tak bisa dipungkiri uji coba beban jembatan ini harus segera dilakukan agar jalur tersebut bisa dioperasikan untuk lintasan kereta api. Karena melewati jembatan ini, setidaknya telah berhasil melakukan antisipasi kemacetan yang sebelumnya sering kali terjadi di wilayah tersebut. Uji dinamis ini telah dilakukan dengan melewati jalur KA elevated beberapa kali serta uji statis yang dilakukan dengan melakukan pengereman saat melaju hingga berhenti tepat di tengah jalur KA elevated simpang joglo. Dengan pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan KA dan kereta api dapat menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik bagi Indonesia.
Tak Sekadar Sebagai Cagar Budaya, Stasiun-stasiun di Solo Ini Jadi Daya Tarik Wisatawan

Upgrade Besar Emirates: 111 Pesawat Masuk Program Retrofit Lanjutan

Program retrofit Emirates memasuki fase berikutnya, dengan 60 pesawat A380 dan 51 Boeing 777 yang akan menerima inovasi kabin terbaru. Mulai Agustus 2026, maskapai ini akan memperkenalkan sejumlah produk baru dalam pesawat, di samping sistem hiburan dalam pesawat generasi berikutnya yang sepenuhnya imersif dan konektivitas WiFi yang ditingkatkan dengan Starlink pada pesawat-pesawat ini sebagai bagian dari upaya modernisasi armadanya yang ekstensif. Emirates Engineering, bekerja sama dengan mitra Airbus, Safran, Recaro, Panasonic, Starlink, dan UUDS, akan memperkenalkan desain tempat duduk terkini dan lounge dalam pesawat baru pada 60 pesawat A380, dipasangkan dengan sistem hiburan dalam pesawat Astrova canggih dari Panasonic, guna menghadirkan pengalaman penumpang yang lebih baik dan konsisten pada 111 pesawat berikutnya yang akan diperbarui. Maskapai ini telah berperan penting dalam mendorong inovasi produk bersama para mitranya, bekerja sama erat dengan produsen dan pemasok pesawat untuk terus meningkatkan kenyamanan penumpang, privasi, dan pengalaman perjalanan secara keseluruhan. Komitmen terhadap keunggulan produk berarti maskapai ini secara berkala berdialog dengan para mitra mengenai inisiatif terbaru dalam furnitur kabin, sistem hiburan dalam pesawat, dan teknologi kabin mutakhir, serta tidak ragu untuk melakukan investasi signifikan demi mencapai tujuan jangka panjangnya. Kelas Bisnis di A380 dan Boeing 777 akan menerima peningkatan yang canggih dengan kursi generasi terbaru Emirates, terinspirasi oleh kursi kulit mewah S Lounge karya Safran, yang sudah ada di armada A350 maskapai ini. Setiap kursi menciptakan ruang yang lebih privat dengan detail yang cermat untuk meningkatkan pengalaman, mulai dari pengisian daya nirkabel yang terintegrasi di meja koktail samping hingga pencahayaan di kursi yang dapat disesuaikan. Pelanggan akan dapat menikmati hiburan ICE 4K, penyimpanan yang dirancang dengan cermat, fasilitas minibar, dan berbagai pilihan pengisian daya termasuk USB-C dan port nirkabel. Ekonomi Premium, adalah kelas kabin terbaru Emirates, akan dilengkapi dengan teknologi tempat duduk canggih Recaro dengan sistem sandaran mekanis. Kursi kulit yang luas akan tetap menawarkan kenyamanan maksimal dengan sandaran kaki dan telapak kaki terintegrasi, sandaran kepala yang dapat disesuaikan, dan berbagai fasilitas canggih termasuk pengisian daya di kursi, meja koktail di samping, dan layar hiburan 13,3 inci, yang menciptakan keseimbangan sempurna antara nilai dan kemewahan. Pelanggan Kelas Ekonomi akan diuntungkan dengan diperkenalkannya kursi Safran Z400 baru yang ringan, dirancang khusus untuk penerbangan jarak jauh, dengan setiap detail dirancang untuk kenyamanan dan kemudahan. Kursi ini mencakup sandaran kepala delapan arah yang dapat disesuaikan untuk penyangga leher dan kepala yang tak tertandingi, serta sentuhan teknologi canggih lainnya. Emirates telah memilih Panasonic Avionics untuk meningkatkan produk IFE-nya pada A380 dan Boeing 777 dengan platform hiburan dalam pesawat Astrova yang canggih, yang mencerminkan komitmen maskapai untuk menghadirkan pengalaman generasi mendatang. Pelanggan Emirates akan menikmati kejernihan visual yang memukau pada layar 4K OLED HDR10+ yang menyaingi sistem home cinema premium, dengan warna yang hidup, kontras tak terbatas, dan warna hitam sempurna yang menghidupkan setiap frame. Audio Spasial membenamkan pelanggan dalam suara yang kaya dan multidimensi, baik menggunakan headset premium Emirates maupun perangkat nirkabel mereka sendiri melalui Bluetooth. Pengisian daya USB-C 67W yang bertenaga di setiap kursi memastikan semua perangkat tetap terisi daya selama perjalanan. Desain modular sistem ini memungkinkan peningkatan independen pada tampilan, penyaluran daya, dan konektivitas seiring perkembangan teknologi. Platform ini juga mengintegrasikan Arc 3D 4K Moving Map dari Panasonic, menghadirkan pengalaman pelacakan penerbangan yang imersif. Terintegrasi sempurna dengan program Skywards Emirates, mesin rekomendasi cerdas platform ini mempelajari preferensi individu untuk menyarankan konten yang dipersonalisasi selama penerbangan.
Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu
Di balik layar, wawasan interaksi real-time memungkinkan Emirates untuk terus menyempurnakan pustaka hiburannya, memastikan pilihan yang tersedia selalu mencerminkan apa yang ingin ditonton, didengar, dan dijelajahi oleh pelanggan. Emirates semakin meningkatkan pengalaman perjalanan dengan konektivitas Starlink di seluruh armada, yang dipasang bersamaan dengan program pembaruan kabin di pesawat A380 dan Boeing 777. Strategi peluncuran terkoordinasi ini, yang mengintegrasikan instalasi konektivitas ke dalam jadwal pembaruan yang ada, mempercepat penyediaan pengalaman Emirates yang lengkap di seluruh jaringan globalnya. Program retrofit ini dibangun berdasarkan rekam jejak investasi berkelanjutan Emirates dalam produk dan layanannya. Pertama kali diumumkan pada tahun 2021 dengan 120 pesawat yang dijadwalkan untuk pembaruan penuh, maskapai ini memperluas program retrofitnya menjadi 191 pesawat pada Mei 2024 sebelum ditingkatkan lebih lanjut menjadi 219 pesawat di akhir tahun yang sama, sebuah bukti komitmennya untuk menghadirkan pengalaman luar biasa di seluruh armadanya. Hingga saat ini, 76 pesawat telah menjalani pembaruan, dengan setiap A380 membutuhkan waktu sekitar 22 hari dan setiap Boeing 777 membutuhkan waktu 18 hari untuk dimodernisasi. Program ini berjalan secara konsisten, dengan dua pesawat baru yang diperbarui setiap bulannya siap meningkatkan pengalaman di rute-rute penerbangan di seluruh dunia.
Garuda Indonesia Sajikan “Nasi Kapau” Sebagai In-Flight Meals di Rute Jakarta – Amsterdam

Polemik Stasiun Cikarang jadi ‘Hotel Darurat’, Masyarakat: Berharap KRL Beroperasi 24 Jam

Masih hangat dikabarkan mengenai polemik tentang para pekerja yang rela menginap di Stasiun Cikarang hingga mendapat perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) yang pertama atau saat menjelang subuh. Ya, ramai di media sosial mengenai para pekerja yang tertinggal perjalanan KRL terakhir kemudian harus rela menginap di Stasiun Cikarang. Bak “hotel darurat” masyarakat yang pulang bekerja hingga larut malam tak mencukupi waktu untuk menggunakan KRL meskipun jam terakhir sudah selesai beroperasi. Lain halnya pekerja lembur di kawasan Cikarang, ada pula masyarakat yang tetap menginap karena mereka tak mau ketinggalan jadwal KRL pertama untuk bekerja di Jakarta. Bagi pejuang rupiah, dengan cara seperti mereka rela menginap di stasiun dengan alasan lebih irit ongkos. Sedangkan untuk menggunakan moda transportasi lain, tentu saja harus merogoh kantong lebih dalam. Dalam keterbatasan di malam yang semakin larut, para pekerja ini tidak punya pilihan.
Antusias Masyarakat Pengguna KRL Sangat Tinggi, Perlukah Beroperasi 24 Jam?
Kursi-kursi di ruang tunggu, lantai Stasiun Cikarang yang dingin pada akhirnya jadi persinggahan sementara. Semua dilakukan demi bertahan hidup dan juga dapur bisa tetap ngebul. Fenomena ini bahkan mendapat perhatian dari Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi. Menhub berjanji akan mempertimbangkan kereta KRL Jabodetabek bisa beroperasi selama 24 jam sebagai solusinya. Dudy akan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terkait kemungkinan layanan KRL 24 jam tersebut. Ia menjelaskan koordinasi dengan KAI juga untuk mempertimbangkan biaya operasional perusahaan seandainya layanan KRL berlangsung 24 jam.
Penumpang duduk dan beristitahat di tangga Stasiun Cikarang. (Foto: Dok. Tempo)
Menurut para penumpang, ruang tunggu stasiun tidak boleh digunakan setelah jam operasional berakhir. Para petugas meminta penumpang keluar, membuat mereka harus bertahan di area terbuka hingga pukul 4 pagi. Banyak yang menilai kondisi ini tidak ideal, terlebih bagi pekerja yang berpenghasilan pas-pasan dan harus pulang tengah malam karena sistem shift. Para pekerja yang rutin bermalam di stasiun punya harapan adanya akses untuk mereka beristirahat. Seiring berjalannya waktu, jumlah penumpang Stasiun Cikarang juga turut meningkat. Dari total 5,07 juta penumpang pada tahun kemarin naik menjadi 5,25 juta penumpang di 2025. Namun kenaikan jumlah penumpang ini ternyata tidak diiringi dengan penambahan rangkaian kereta serta jumlah keberangkatan.
Resmi Ditutup! Mulai 28 November 2025 Pintu Selatan Stasiun Bekasi Sementara Tak Bisa Diakses Masyarakat

Mulai Desember Penumpang Naik KRL ke Stasiun BNI City Bisa Lewat Stasiun Karet

Kabar yang melegakan bagi para pejuang rupiah yang tiap hari menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya lintas Tanah Abang – Manggarai. Rencana adanya jalan pintas di stasiun ini segera digunakan. Ya, sebagaimana diketahui di jalur tersebut ada tiga stasiun yang berdekatan, yakni Stasiun Karet, Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman. Namun, beberapa tahun lalu kabar yang kurang baik bahwa akan dilakukan penutupan untuk Stasiun Karet. Padahal banyak masyarakat yang naik dan turun KRL di Stasiun Karet cukup banyak. Hal ini karena berdekatan dengan perkantoran dan tempat perbelanjaan di kawasan tersebut. Terlebih Stasiun Karet memang sudah ada sejak dibangunnya jalur Tanah Abang – Manggarai. Dengan adanya kabar tersebut tentu para penumpang yang terbiasa naik dan turun di Stasiun Karet mengeluh. Karena akses mereka jika tidak dari stasiun tersebut akan terasa lebih jauh dan memakan waktu yang lebih lama. Karena mereka mau tidak mau harus naik dan turun KRL di Stasiun BNI City yang merupakan stasiun terdekat dari Stasiun Karet. Namun, hal tersebut ternyata tidak terjadi. Stasiun Karet yang digadang-gadang akan ditutup permanen ternyata tetap dioperasikan. Pasalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan penggabungan Stasiun Karet dan BNI City rampung bulan depan. Penggabungan dua stasiun menjadi bagian dari integrasi transportasi di kawasan Dukuh Atas. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, sejumlah fasilitas pendukung penggabungan dua stasiun tersebut sudah terpasang. Namun begitu, pihaknya akan memastikan kembali kesiapan kedua stasiun tersebut. Dudy menargetkan integrasi Stasiun Karet dan BNI City rampung bulan depan. Sebagai informasi, penggabungan Stasiun Karet dan BNI City ini menjadi bagian dari proyek Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Dukuh Atas yang ditargetkan rampung pada 2027. Dengan TOD, berbagai moda transportasi seperti LRT, MRT, KRL Commuter Line, dan Kereta Bandara diharapkan terintegrasi dalam satu lokasi. Dudy sebelumnya menegaskan Stasiun Karet tidak akan ditutup. Nantinya, penumpang tetap bisa mengakses Stasiun Karet seperti biasa untuk naik kereta di Stasiun BNI City. Jadi penumpang bisa memilih bisa naik dari Stasiun Karet atau bisa juga dari Stasiun BNI City. Akses ini diharapkan bisa menjangkau perjalanan KRL dengan lebih mudah dan menghindari dari penumpukan penumpang jika sewaktu-waktu terjadi pada jam sibuk.
Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

Masa Lalu Stasiun Bekasi, Sempat Berstatus Sebagai Halte Besar

Tak hanya di Stasiun Gambir maupun Stasiun Pasar Senen, informasi soal Stasiun Bekasi yang menjadi incaran para penumpang untuk naik dan turun kereta api pun sangat diminati. Stasiun Bekasi kali ini menjadi tujuan serta keberangkatan bagi masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Bekasi dan sekitarnya. Bahkan stasiun ini merupakan stasiun alternatif bagi penumpang yang tak sempat berangkat dari stasiun awal atau waktu yang sangat sempit. Stasiun Bekasi (BKS), atau yang juga dikenal sebagai Stasiun Bekasi Kota, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Marga Mulya, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat pada ketinggian +19 meter, termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi I Jakarta dan KAI Commuter dengan jarak 27 km arah timur dari Jakarta Kota. Tapi tahukah kamu bahwa Stasiun Bekasi menyimpan nilai sejarah yang tinggi? Mengutip Heritage PT KAI disebutkan cikal bakalnya pembangunan Stasiun Bekasi pada masa Hindia Belanda, di Batavia (Jakarta) terdapat beberapa perusahaan kereta api baik pemerintah maupun swasta. Salah satunya Perusahaan Bataviasche Ooster Spoorwegmaatschappij (BOS) yang membuka jalur timur, Jakarta-Bekasi-Karawang. Berdasarkan Undang-undang 9 Juni 1898 Stablaad 222, BOS mendapatkan ijin konsensi pembangunan jaringan kereta api di Jakarta. Pembangunan ini dibagi menjadi empat tahap, yakni Jakarta-Bekasi, Bekasi-Cikarang, Cikarang-Kedunggedeh, dan Kedunggedeh-Karawang. Tahap awal dirampungkan sampai ke Bekasi. Bersamaan itu diresmikan Stasiun Bekasi pada tanggal 31 Maret 1887.
Bekasi tempo dulu. (Foto: Dok. Istimewa)
Awalnya operasional di Stasiun Bekasi dilaksanakan oleh BOS. Namun, sewaktu proses pembangunan ke Karawang, BOS mengalami kesulitan dana dan buruknya manajemen. Lalu BOS meminta bantuan dana kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah pun menyepakati dengan syarat setelah pekerjaan rampung, lintas Batavia-Karawang dibeli oleh perusahaan kereta api negara yaitu Staatssporwegen (SS), termasuk Stasiun Bekasi. Pada tahun 1900 tercatat delapan kereta yang berhenti di Stasiun Bekasi. Fyi, pada tahun 1930 silam, bahwa status Stasiun Bekasi hanyalah Halte besar. Di mana tempat naik dan turun para penumpang karena titik transportasi yang sudah terintegrasi dengan Jatinegara. Sebab, jalan raya baru dibangun pada era tahun 1911-1920 oleh seorang jendral atau kekinian bisa disebut sebagai gubernur. Sedangkan jalur kereta api baru dibangun sekitar tahun 1970-1980. Stasiun Bekasi juga merupakan jalur ekonomi pada jamannya. Penduduk biasanya memanfaatkan stasiun untuk mengantar hasil pangan karena daerah yang dikenal Kota Patriot ini sebagai penghasil padi, karet, tebu dan gula. Tahun 1954, Djawatan Kereta Api (cikal bakal PT KAI) menetapkan Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 tentang klasifikasi stasiun menjadi 6 kelas, Stasiun Kelas 5. Hal ini dimaksud guna menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan. Berdasarkan SK tersebut, Stasiun Bekasi masuk dalam kategori stasiun kelas 4. Kini, Stasiun Bekasi merupakan stasiun Besar B. Semula stasiun ini hanya memiliki 4 jalur yang melayani kereta api jarak jauh, kereta rel listrik dan kereta angkutan batu bara. Namun saat ini stasiun beralih fungsi menjadi angkutan penumpang secara menyeluruh, yaitu banyaknya kereta api jarak jauh yang berhenti disini bahkan kereta kelas argo sekalipun. Staisun Bekasi dengan bangunan yang megah serta penjagaan ketat yang dipantau dari kejauhan menggunakan CCTV yang berada di setiap sudut stasiun serta penjaga keamanan stasiun yang bertugas 24 jam. Dengan adanya keamanan tersebut menjadikan Stasiun Bekasi semakin nyaman bagi para penumpang yang setia menggunakan kereta api.
Jembatan Bekasi – 130 Tahun Beroperasi dan Masih Setia Layani Lalu Lintas Kereta