Peristiwa yang memilukan dialami pada rangkaian Kereta Api (KA) Menoreh dengan nomor KA 177 rute Semarang Tawang – Pasar Senen. Kejadian yang berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026 pukul 02:47 WIB ini berada di km 201+400 petak jalan Babakan – Waruduwur. Lokomotif dengan nomor sei CC 201 89 06 terlihat ringsek dibagian kabin.
Pada jam-jam tengah malam di lokasi tersebut kondisi jalan relatif sepi dan jarak pandang pun terbatas. Secara tiba-tiba benturan keras antara kereta dan truk membuat suara dentuman terdengar hingga radius ratusan meter. Sontak pasca peristiwa benturan tersebut sampai membangunkan warga sekitar.
Dari keterangan Kasatlantas Polresta Cirebon Kompol Mangku Anom Sutresno menjelaskan, kecelakaan bermula saat sebuah truk tangki pengangkut air hendak melintasi perlintasan sebidang. Saat berada tepat di tengah rel, truk mengalami mogok dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sopir truk sempat berupaya memindahkan kendaraannya keluar dari jalur kereta.
Informasi yang dikutip dari laman Metro TV, menerangkan bahwa sopir truk mengalami luka-luka karena berusaha menyelamatkan kendaraannya dari tabrakan. Akibat peristiwa tersebut, truk tangki terseret sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Benturan keras juga menyebabkan lokomotif KA Menoreh anjlok.
Peristiwa kecelakaan itu sempat terekam kamera warga dan dengan cepat menyebar luas di sejumlah grup WhatsApp. Dalam video yang beredar, terlihat KA Menoreh melaju dengan kecepatan tinggi sebelum menghantam truk yang berada di tengah lintasan rel. Usai tabrakan, bagian depan kereta tampak mengalami kerusakan, sementara truk terpental dan hancur di sekitar perlintasan. Asap dan serpihan kendaraan terlihat berserakan, menandakan kerasnya benturan yang terjadi.
Minimnya fasilitas keselamatan di lokasi perlintasan menjadi sorotan utama dalam insiden ini. Warga setempat menyebut perlintasan tersebut kerap dilalui kendaraan tanpa pengamanan memadai. Meski telah lama dikeluhkan, perlintasan itu masih beroperasi tanpa palang pintu dan penjagaan. Menurut keterangan warga bahwa kejadian tersebut sangat cepat, dan tiba-tiba ada benturan keras.
Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, termasuk memeriksa saksi, rekaman video, serta kondisi teknis kendaraan dan kereta. Insiden di Cirebon ini menambah daftar panjang kecelakaan di perlintasan sebidang, sekaligus menjadi peringatan keras bagi semua pihak akan pentingnya keselamatan di jalur kereta api. Dan bagi warga sekitar, tragedi dini hari itu menjadi pengalaman mencekam yang sulit dilupakan.
Tak hanya sekadar namanya yang unik, stasiun ini ternyata memiliki sejarah penting dalam dunia perkeretaapian. Saat ini jalur antara Stasiun Sepanjang menuju Stasiun Wonokromo masih menggunakan satu jalur, itu berarti Stasiun Sepanjang adalah batas akhir jalur ganda dari arah Jakarta. Tak heran, selain melayani penumpang kereta api lokal, stasiun ini juga melayani persilangan dan penyusulan antarkereta api.
Diketahui bahwa Stasiun Sepanjang ternyata sebagai salah satu ikon penting di Kabupaten Sidoarjo, stasiun ini menjadi titik temu jalur kereta api yang menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Malang, Pasuruan, dan Surabaya. Tak hanya itu, sejarah yang tak terlupakan pada stasiun ini juga sangat melegenda.
Stasiun yang hanya 1 km di selatan Kota Surabaya ini menyimpan sejarah panjang perjalanan kereta api di Jawa Timur. Sejak dibangun pada akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1897, Stasiun Sepanjang memainkan peran krusial dalam jalur transportasi kereta api yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Proyek yang digagas oleh Staatsspoorwegen (SS) ini bertujuan untuk mempercepat akses transportasi dari arah barat, mengurangi waktu perjalanan yang semula melalui jalur Tarik – Tulangan yang lebih panjang.
Pada masa itu, jalur ini menjadi sangat vital, mengingat Surabaya adalah pelabuhan utama yang mengangkut hasil perkebunan. Mobilitas kereta api hingga 180 hingga 200 gerbong setiap harinya membuat Stasiun Sepanjang ini menjadi titik strategis yang sangat sibuk.
Stasiun Sepanjang tidak hanya penting dalam konteks sejarah transportasi, tetapi juga memiliki peran dalam pengaturan lalu lintas kereta api. Salah satu komponen penting di stasiun ini adalah rumah sinyal.
Rumah sinyal yang ada di sini, meski kini sudah digantikan oleh sistem sinyal elektrik, dulu memiliki fungsi untuk mengatur jalannya kereta. Dengan sistem mekanik, petugas yang mengatur perjalanan kereta api, dengan cara menarik tuas sinyal maupun wesel yang terhubung oleh kawat baja yang berada di samping rel kereta api.
Meskipun banyak fasilitas lama yang sudah tidak digunakan lagi, Stasiun Sepanjang dan rumah-rumah sejarah yang ada di sekitarnya tetap menjadi saksi bisu perkembangan transportasi kereta api di Indonesia. Kini Stasiun Sepanjang tetap menjadi tempat yang menyimpan memori penting, menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam jejak kereta api kolonial.
Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Stasiun Sidoarjo merupakan stasiun pemberhentian terakhir Kereta Commuter Line Jenggala dengan rute Surabaya – Sidoarjo. Stasiun Sidoarjo merupakan stasiun kereta api kelas I yang berada di kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Stasiun ini berada di ketinggian +4 meter di atas permukaan laut.
Stasiun Sidoarjo juga merupakan stasiun tertua di Jawa Timur dan salah satu peninggalan kolonial Belanda dalam bentuk arsitektur yang banyak dipertahankan fungsinya hingga saat ini. Pada abad 18, Sidoarjo merupakan salah satu sentra produksi gula. Hal ini ditandai dengan berdirinya 10 pabrik gula di sidoarjo.yaitu ada di beberapa tempat yakni Ketegan, Taman, Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian, dan Watu Tulis.
Kota Sidoarjo pada masa itu merupakan daerah industri gula yang potensial di Nusantara. Sebagai konsekuensi dari pembukaan pabrik gula tersebut, pemerintah kolonial Belanda juga menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut hasil gula dari Sidoarjo menuju ke Pelabuhan atau kota lain.
Gula merupakan komoditas primadona yang diminati di daerah Eropa. Sehingga, pemerintah Belanda merasa penting untuk membuka jaringan jalan kereta api (rel). Pembangunan jalur kereta api dari Surabaya hingga Pasuruan yang membelah Sidoarjo, dikerjakan oleh Staats Spoorwegen lebih dari tiga tahun, dan diresmikan pada 16 Mei 1878.
Stasiun Sidoarjo sebagai bangunan bersejarah (cagar buday) yang dilestarikan, tetap mempertahankan elemen-elemen arsitektur yang ada. Elemen pintu dan jendela pada stasiun memiliki peran yang penting sebagai jalur sirkulasi. Pengaruh gaya arsitektur kolonial Belanda di Indonesia pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19 dikenal dengan sebutan Indische Empire.
Elemen pintu dan jendela stasiun kereta api sidoarjo yang masih terjaga keasliannya dapat menjadi bahan masukan apabila dilakukan perbaikan maupun penggantian pada elemen tersebut. Hal ini dilakukan agar kelestarian bangunan bersejarah seperti stasiun ini dapat tetap terjaga.
Stasiun Sidoarjo memiliki kelengkapan sesuai standar bangunan stasiun yang berada di kota atau kabupaten pada umumnya, yakni memiliki halaman depan, bagian hall yang ada di bangunan stasiun, peron, dan emplasemen. Stasiun ini juga tergolong sebagai stasiun besar yang memiliki fungsi sebagai tempat kereta api berheni, tempat kereta api berangkat, dan tempat kereta api bersilang, menyusul atau disusul.
Pengguna kereta api hingga saat ini tetap menjadi transportasi andalan walaupun tengah dilanda keterlambatan dan pembatalan. Namun bagi masyarakat yang melakukan perjalanan singkat dan praktis, terkadang mereka tetap bertahan sampai datangnya kereta yang mereka pesan.
Pemesanan tiket kereta api yang makin mudah baik melalui aplikasi Access by KAI maupun website kai.id sudah bisa di akess manapun, meskipun hanya melalui ponsel atau pun gadget lainnya. Jadwal kereta api, jam keberangkatan, serta rute yang ditempuh merupakan pilihan masyarakat yang ingin melakukan perjalanan hingga ke destinasi tujuan.
Namun, ada kabar yang mungkin sedikit mengganggu kenyamanan penumpang terutama yang ingin memesan tiket kereta api melalui aplikasi maupun website. Ya, kedua sistem tersebut sementara waktu tidak bisa diakses pada malam ini. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan melakukan migrasi dan penguatan kapasitas Rail Ticketing System (RTS) pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 00.00 hingga 04.00 WIB.
Langkah ini mencakup seluruh sistem pemesanan tiket, baik Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) maupun KA Lokal (KAI & KAI Commuter), guna memastikan keandalan layanan menjelang masa Angkutan Lebaran. Peningkatan infrastruktur ini dilakukan untuk memastikan seluruh kanal pemesanan tiket memiliki performa yang stabil dan responsif.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026) yang dikutip laman CNBC mengatakan bahwa sistem tersebut akan migrasi ke infrastruktur yang lebih modern agar seluruh kanal pemesanan. Hal ini sangat penting agar masyarakat dapat memesan tiket mudik dengan lebih lancar tanpa kendala teknis.
Tentunya, selama proses migrasi yang berlangsung empat jam tersebut, seluruh layanan pemesanan, pembayaran, hingga pembatalan tiket secara online melalui aplikasi Access by KAI, situs web kai.id, serta kanal eksternal/mitra resmi lainnya tidak dapat diakses sementara.
Mengingat tetap adanya aktivitas perjalanan kereta api pada jam tersebut, KAI memastikan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan. Untuk pelayanan pemesanan tiket, bagi calon penumpang yang ingin membeli tiket secara mendadak (go-show) atau melakukan transaksi darurat, pelayanan tetap dialihkan secara manual melalui loket stasiun (offline).
Untuk penyimpanan tiket baik di aplikasi maupun di website dan berangkat pada periode migrasi, diimbau kepada masyarakat untuk menyimpan dengan cara screenshot (tangkapan layar) tiket/kode booking dari aplikasi atau mengecek kode booking di email untuk memperlancar proses boarding.
KAI menegaskan bahwa seluruh data pelanggan dan riwayat transaksi dipastikan tetap aman selama proses transisi berlangsung. Perencanaan matang dan pengujian berlapis telah dilakukan untuk memastikan sistem kembali beroperasi normal tepat pada pukul 04.00 WIB.
Baru-baru ini Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim bahwa negaranya telah berhasil mengujicoba rudal balistik terbarunya yang memiliki kemampuan supersonik. Jika ditelisik lebih lanjut, mungkin hal tersebut tidaklah mengherankan, mengingat Rusia sejak medio 60-an mengembangkan teknologi yang melebihi kecepatan suara tersebut. Salah satu mahakaryanya adalah pesawat Tupolev Tu-144.
Baca juga: Tupolev “Concordski” Tu-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya
Akan tetapi, walaupun Tupolev Tu-144 menjadi pesawat penumpang dengan teknologi supersonik pertama di dunia, persisnya lahir dua bulan lebih dahulu dibanding Concorde, namun pesawat buatan Tupolev bersaudara tersebut tetap saja kalah pamor dibanding dengan Concorde.
Meskipun Concorde sudah sejak lama pensiun, namun foto-fotonya masih beredar luas di internet. Namun, dari sekian banyak foto-foto yang beredar, rupanya, hanya ada satu momen dimana pesawat yang lahir pada 2 Maret 1969 berhasil didokumentasikan saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik.
Dilansir theaviationgeekclub.com, momen didokumentasikannya pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecapatan supersonik terjadi pada bulan April 1985. Gambar tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer berkebangsaan Inggris. Meskipun terdengar mudah, sekedar memotret pesawat Concorde yang tengah melintas, faktanya, proses tersebut tidaklah mudah.
Disebutkan, mula-mula, pesawat Royal Air Force (RAF) Tornado yang ditumpangi Adrian terbang lebih dahulu hingga akhirnya berpapasan dengan Concorde di atas Laut Irlandia. Meskipun pesawat Tornado dapat menyamai kecepatan daya jelajah Concorde, namun, hal tersebut hanya berlangsung selama beberapa menit mengingat besarnya konsumsi bahan bakar.
Menyiasati hal tersebut, pesawat Concorde kemudian mengurangi kecepatan. Dari semula Mach 2 menjadi Mach 1.5 – Mach 1.6 atau sekitar 1.000 mph. Bila diubah menjadi satuan kilometer, 1.000 mph berarti 1.609 kilometer per jam atau tiga kali lipat kereta super cepat. Luar biasa cepat bukan? Dalam keadaan tersebutlah, selama empat menit, pesawat Tornado dan Concorde berada dalam posisi hampir sejajar untuk kemudian diambil gambar dari beberapa sudut. Dari situlah kemudian satu-satunya momen pesawat Concorde saat sedang mengudara dengan kecepatan supersonik berhasil diabadikan.
Sebagai informasi, pesawat Concorde mengukuhkan diri menjadi pesawat supersonik setelah berhasil melahap penerbangan dari Bandara Jhon F. Kennedy di New York menuju Bandara Heathrow di London dalam tempo 2 jam 52 dan 59 detik.
Baca juga: Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya
Dengan kecepatan rata-rata mencapai Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam), Aerospatiale-BAC Concorde melayani penumpang secara reguler dari Bandara Heathrow London dan Bandara Charles de Gaulle Paris ke Bandara John F Kennedy New York, Bandara Internasional Washington Dulles, dan Bandara Internasional Grantley Adams di Barbados selama 27 tahun.
Walapun dijual dengan tiket yang cukup mahal (berkisar 23 juta rupiah atau 140 juta rupiah kurs hari ini) dalam setiap penerbangannya, rata-rata Concorde dipenuhi sekitar 92 hingga 128 penumpang. Concorde akhirnya resmi mengehentikan opersionalnya pada tahun 2003 setelah serangkaian kecelakaan dan permasalahan teknologi yang tak kunjung terpecahkan.
Di dunia ini, ada begitu banyak bandara ekstrem. Matekane Air Strip di Lesotho, Afrika, misalnya, menjadi salah satu yang terekstrem di dunia karena berada di ketinggian 2,299 mdpl, memiliki runway terpendek di dunia (hanya 396 meter), dan ujung runway menuju jurang sedalam 600 meter. Jadi, bila sedikit saja pilot melakukan kesalahan, bukan tak mungkin pendaratan akan berujung maut.
Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”
Eropa juga memiliki bandara tak kalah ekstrem. Bandara Courchevel di Perancis, misalnya, masuk ke dalam kategori ekstrem karena hanya memiliki panjang landasan sejauh 537 meter. Padahal, bandara-bandara pada umumnya memiliki panjang landasan sejauh 1.200 atau 1.800 meter.
Tak cukup sampai di situ, Bandara Courchevel juga disebut ekstrem berkat posisinya di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl); termasuk tingkat kecuraman yang tinggi, mencapai 18,66 persen.
Tetangga Perancis, Jerman, juga tak mau kalah. Negeri Bavaria ini bukan hanya punya satu bandara ekstrem, namun dua. Tetapi, keduanya memiliki kadar ekstrem yang berbeda, di samping juga menawan. Dua itu adalah Bandara Leipzig/Halle di Leipzig dan Farrenberg Airfield, di distrik Mössingen Talheim, Baden-Württemberg, Jerman.
Tak seperti dua bandara ekstrem sebelumnya, Bandara Leipzig disebut ekstrem bukan karena ketinggian ataupun runway pendek, melainkan karena keberadaannya yang berbagi ruang dengan mobil dan kereta api. Namun, tak seperti bandara di Gibraltar yang memang mobil harus menunggu giliran lewat dengan pesawat, di Bandara Leipzig atau biasa disebut Bandara Schkeuditz, mobil dan kereta tetap bisa melaju bebas di bagian bawah dan pesawat taxiing di bagian atas atau jembatan.
Tetapi, bila dilihat dengan seksama, sejujurnya, aktivitas pesawat dan mobil serta kereta secara bersamaan justru menghasilkan pemandangan yang unik. Hanya saja, pemandangan itu masih tidak terlalu menarik dibandingkan dengan bandara ekstrem yang terletak di atas awan, Farrenberg Airfield.
Dilansir dari berbagai laman sumber, bandara atau mungkin lebih tepatnya lapangan terbang tersebut memang hanya terletak di ketinggian tak lebih dari 1.000 mdpl, yakni 819,6 mdpl. Namun, perubahan cuaca yang cepat, ditambah hembus angin kencang, membuat lapangan terbang ini menjadi ekstrem sekaligus juga menawan.
Bagaimana tidak menawan, di posisi tertentu, daratan di sekeliling lapangan terbang sama sekali tak terlihat akibat hamparan awan putih bergelombang. Landasan pacunya juga tampak tak begitu panjang sekalipun tak ada informasi lengkap atas itu.
Baca juga: Matekane Air Strip, Bandara Terekstrem dengan Ujung Runway Langsung Mengarah Ke Jurang
Instrument pendaratannya pun juga minim. Dari segi visual pendaratan, hanya ada sebuah garis lurus berwarna putih di tengah hijaunya rumput untuk touchdown pesawat. Maka dari itu, tak ada pesawat besar mendarat di sini, melainkan hanya pesawat-pesawat kecil saja.
Pada musim liburan, eksotisme pemandangan, kekayaan sejarah, dan iklim yang bisa dibilang bersahabat membuat festival tahunan di sini ramai dikunjungi wisatawan. Saat itu terjadi, Farrenberg Airfield menjadi salah satu akses yang paling diminati.
Jika Obskaya – Karskaya Line yang terdapat di Rusia mendapat predikat sebagai jalur kereta paling utara di Bumi, lalu kira-kira ada dimana ya jalur kereta paling selatan di Bumi? Apakah di Kutub Selatan? Nampaknya jawaban tersebut kurang tepat, karena jalur terkait terletak di, Argentina. Ya, Southern Fuegian Railway disebut-sebut sebagai jalur kereta paling selatan yang ada di muka Bumi.
Baca Juga: Obskaya – Karskaya, Jalur Kereta Paling Utara yang Akan Bawa Anda ke Ujung Dunia!
Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah sumber, Southern Fuegian Railway atau yang kerap dijuluki Tren del Fin del Mundo (Train of the End of the World) ini merupakan jalur kereta uap dengan lebar rel 500 mm, yang terletak di Provinsi Tierra del Fuego, Argentina. Pada awalnya, jalur ini dibangun sebagai jalur pengiriman untuk melayani penjara Ushuaia, khususnya untuk mengangkut kayu. Namun seiring berjalannya waktu, jalur ini tidak lagi mengangkut kayu dan beralih fungsi menjadi sebuah heritage railway di Tierra del Fuego National Park.
Sumber: Espejismosur.tur.ar
Walaupun kini jalur kereta paling selatan di Dunia ini sudah berubah menjadi jalur wisata, namun sepenggal cerita suram mewarnai awal berdirinya Southern Fuegian Railway. Seperti yang sudah disinggung di atas, pada akhir abad ke-19, daerah Ushuaia di Isla Grande de Tierra del Fuego berkembang menjadi daerah pengasingan bagi narapidana, dengan kloter tahanan pertama tiba pada tahun 1884.
Di tahun 1902, barulah serangkaian pekerjaan dibebankan kepada narapidana untuk membangun sebuah penjara. Guna memudahkan dan mempercepat proses pembangunan, sebuah rel dibangun yang dikhususkan untuk mengangkut bahan bangunan seperti bebatuan, pasir, dan kayu. Dalam catatan sejarah, kala itu bentang rel yang digunakan masih menunjukkan angka 1000 mm.
Tren del Fin del Mundo Jaman Dulu. Sumber: Wikipedia
Tujuh tahun berselang, kepala penjara menginstruksikan pemerintah untuk melakukan peningkatan jalur dengan menggunakan rel dengan bentang 600mm dan permohonan akan penggunaan lokomotif uap. Tak butuh waktu lama, seluruh permintaan kepala penjara pun dituruti oleh pemerintah.
Gempa dahsyat yang melanda Tierra del Fuego pada tahun 1949 melumpuhkan jalur kereta penjara tersebut. Kendati demikian, pemerintah setempat bersikukuh untuk membersihkan jalur dan mengaktifkan kembali jalur tersebut, walaupun Penjara Ushuaia sudah tidak beroperasi sejak 1947. Sayangnya setelah jalur tersebut sudah siap untuk digunakan kembali, tidak ada layanan kereta yang melintasinya dan ditutup pada tahun 1952.
Rel kayu Tren del Fin del Mundo Jaman Dulu. Sumber: wikipedia
Berpuluh tahun setelah pensiun dari masa operasi, pada tahun 1994, Southern Fuegian Railway kembali mengalami renovasi dan bentang rel mereka kembali menyusut ke angka 500mm. Tidak lagi menjadi jalur yang melayani kereta penjara, melainkan jadi kereta wisata berbalut layanan super mewah. Layanan kereta mewah bernama Tren del Fin del Mundo (Train of the End of the World) ini membawa penumpang menyusuri Pico Valley di ngarai Toro dan menuju ke Stasiun Cascada de la Macarena.
Baca Juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya
Julukan jalur kereta paling selatan di Dunia ini secara tidak langsung turut menyeret nama Stasiun Cascada de la Macarena yang kini banyak dijuluki orang sebagai stasiun kereta paling selatan di muka Bumi.
Usai menunggu pesawat sekitar dua sampai empat jam, penumpang mulai diizinkan masuk ke pesawat dan menuju ke kursi yang tertera di tiket. Sesampainya di kursi, pesawat tak langsung berangkat, butuh beberapa waktu untuk persiapan penerbangan. Menjelang take off atau setelah pintu pesawat ditutup, biasanya rasa dingin di pesawat membuat penumpang ingin buang air kecil (BAK) ke toilet. Bolehkah?
Baca juga: Kenapa Penumpang Diminta Tutup Tirai Jendela pada Penerbangan Siang Hari? Dilarang Lihat Pemandangan?
Dunia penerbangan memang mempunyai sederet prosedur ketat dalam rangka mencapai keselamatan dan keamanan penerbangan.
Di setiap penerbangan, pramugari atau kru kabin maskapai manapun pasti akan mengingatkan agar tirai jendela harus dibuka saat menjelang take off dan landing.
Alasan mengapa tirai harus dalam keadaan terbuka saat kedua kondisi tersebut tentu sudah didengar masyarakat, yaitu untuk memudahkan kru mendapatkan visual kondisi di luar pesawat, dalam hal ini mesin, sayap, atau kondisi pesawat itu sendiri, apakah miring, tegak lurus, menukik ke bawah, dan lain sebagainya.
Andai terjadi keadaan darurat, seperti hard landing, tergelincir akibat hujan deras, atau bahkan belly landing, pastinya tak ada lagi waktu bagi penumpang untuk membuka tirai jendela agar tak menutupi pandangan penumpang dan kru, bukan?
Dikutip dari Quora, sebelum lepas landas, penumpang diwajibkan untuk tetap berada di kursi masing-masing dengan memakai seat belt, melipat meja baki, menegakkan kursi, dan menaikkan tirai jendela.
Terkait menggunan seat belt ini, bukan hanya penumpang bahkan pramugari/pramugara pun juga diwajibkan mengenakan seat belt di kursi mereka di galley. Ini bukan semata-mata aturan oleh regulator melainkan untuk keamanan dan keselamatan semua.
Mengingat ada kewajiban mengenakan seat belt, sudah pasti penumpang tidak akan diperbolehkan ke toilet sebelum pesawat lepas landas, dalam artian saat pesawat tengah bersiap lepas landas. Demikian juga saat pesawat hendak turun landas atau mendarat, peraturan yang sama juga berlaku.
Kendati begitu, kejadian penumpang berada di toilet sebelum lepas landas dan sebelum mendarat bukan tak pernah terjadi.
Pada Mei lalu, seorang penumpang dilaporkan terkunci di kamar mandi atau toilet pesawat sebelum landing selama 45 menit. Ini terjadi setelah penumpang yang bersangkutan berada di toilet saat pilot memerintahkan kru untuk mengkondisikan penumpang atau bersiap untuk mendarat.
Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Terbuka Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Jawabannya
Sesuai prosedur, pramugari/pramugara akan meminta penumpang untuk mengenakan seat belt, menaikkan tirai jendela, melipat meja baki, dan mengembalikan kursi ke posisi semula, serta mengunci toilet.
Tanpa sadar, ternyata di dalam toilet tersebut terdapat seorang penumpang dan proses mendarat sudah kadung dilakukan. Pramugari tidak dapat beranjak dari tempatnya. Jadilah penumpang tersebut mendarat dengan posisi berada di toilet.
Angkutan kereta api lokal merupakan angkutan yang bisa terbilang memiliku tarif yang murah meriah dibanding dengan transportasi lain. Ya di setiap kota besar biasanya memiliki perjalanan kereta api lokal yang sangat membantu masyarakat untuk menempuh perjalanan ke berbagai area di wilayah perkotaan. Seperti halnya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya ini. Beberapa kereta lokal yang di kelola oleh layanan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sudah berkontribusi kepada masyarakat.
Dengan tarif yang relatif murah, kereta api lokal di wilayah ini ada bermacam-macam, seperti Commuter Line Dhoho/Penararan, Commuter Line Blorasura, Commuter Line Jenggala, dan Commuter Line Supas. Beberapa diantaranya memiliki tarif paling murah, yaitu Commuter Line Jenggala dan Commuter Line Supas. Untuk Commuter Line Jenggala saja dengan rute Indro – Sutabaya Gubeng – Mojokerto hanya dikenakan tarif Rp5.000, sedangkan untuk Commuter Line Supas dengan rute Surabaya Gubeng – Pasuruan dikenakan tarif Rp6.000
Itulah alasan masyarakat khususnya yang berdomisili di Jawa Timur paling diminati saat menggunakan kedua kereta lokal ini. Masyarakat pengguna Commuter Line Jenggala maupun Commuter Line Supas tentu bermacam-macam. Ada yang hanya sekadar menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan, maupun masyarakat yang rutinitas adalah pekerja/karyawan.
Commuter Line Jenggala merupakan rangkaian kereta bertenaga diesel elektrik yang saat ini masih aktif beroperasi. Berawal diresmikan pada tanggal 12 November 2014 silam, telah menjadi transportasi andalan bagi masyarakat Mojokerto, Tarik, Tulangan dan Sidoarjo untuk menghubungkan wilayah tersebut. Dengan adanya perjalanan kereta api Jenggala yang merupakan KA Perintis dengan rute Mojokerto, Tarik, Tulangan, Sidoarjo PP warga diwilayah tersebut lebih mudah dalam bepergian.
Sedangkan Commuter Line Supas yang merupakan kepanjangan dari Surabaya – Pasuruan ini juga diminati masyarakat khususnya yang berdomisili di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Rangkaian Commuter Line Supas ini ditarik oleh lokomotif yang memiliki 6 kereta berkapasitas 106 tempat duduk di setiap unitnya. Layanan Commuter Line Supas yang digadang-gadang akan tembus hingga Stasiun Probolinggo ini tentu membuat masyarakat sebagai pengguna setianya menjadi kabar baik. Karena merupakan harapan masyarakat juga yang ingin berwisata di Kota Probolinggo.
Saat ini Commuter Line Jenggala dan Commuter Line Supas telah berkontribusi kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya dalam hal bertransportasi. Murah meriah, terjangkau, dan praktis tentu yang telah dirasakan selama menggunakan layanan Commuter Line ini. Masyarakat pun berharap pelayanan yang dioperasikan, tak hanya kedua rangkaian yang disebutkan. Tetapi seluruh pelayanan kereta api yang dikelola di wilayah Daop 8 Surabaya.
Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung dan merupakan stasiun yang dahulu sibuk dengan aktivitas bongkar muat peti kemas, Stasiun Gedebage kini sudah berfungsi sebagai angkutan penumpang Kereta Commuter Line Bandung Raya. Ya, stasiun yang bersebelahan dengan depo gerbong ini juga merupakan stasiun alternatif bagi penumpang yang menggunakan kereta api baik dari Stasiun Padalarang atau Stasiun Bandung maupun Stasiun Cicalengka.
Diketahui sebelum dialih fungsikan untuk angkutan penumpang, Stasiun Gedebage hanya digunakan sebagai persilangan kereta api yang berlawanan arah. Stasiun ini kerap kali dijadikan pemberhentian sementara kereta api khususnya Commuter Line untuk menunggu kereta api yang melintas dari arah berlawanan. Selain itu Stasiun Gedebage juga tempat menyimpan dan pengecekan di dalam depo gerbong terutama jenis gerbong datar.
Di stasiun yang terletak pada ketinggian + 672 meter di atas permukaan laut dan jadi stasiun paling timur di Kota Bandung ini, menurut cargo.kai.id, ada Terminal Peti Kemas Bandung-Dry Port 476 atau Terminal Petikemas Gedebage (TPGD). Luas terminal berjenis container yard atau warehouse ini mencapai 300.000 m², dengan luas area penimbunan peti kemas-export 1.560 m², peti kemas-import (CFS-2) seluas 1.560 m², dan peti kemas-empty seluas 6.000 m².
Layanan kereta api peti kemas di Gedebage ini pun sejalan dengan beroperasinya Terminal Peti Kemas Bandung pada 23 Desember 1987. Terminal Gedebage ini sebenarnya merupakan pengganti gudang persediaan kereta api di Cikudapateuh yang didirikan pada 1920-an. Perpindahan dari Cikudapateuh ke Gedebage tersebut terjadi pada tahun 1987.
Dalam pernyataan yang beredar di media sosial bahwa sekitar 200 meter di sebelah timur perlintasan Jalan Gedebage, ada bekas perhentian/halte Gedebage Baru yang dinonaktifkan karena KRD Bandung Raya sudah tak lagi melayani halte itu. Di haltenya hanya tersisa bekas tegel dan peron. Jadi dulunya dapat dikatakan Stasiun Gedebage melayani penumpang, meski juga terbuka kemungkinan adanya layanan kereta barang.
Selain itu nama ‘Gedebage’ ternyata dari hasil revisi di jaman perusahaan Jawatan Kereta Api. Sejak tahun 1884 hingga awal Mei 1931 sempat menggunakan nama Gedehbage, alih-alih kini menjadi Gedebage. Oleh karena itu, selama beberapa bulan di kantor pusat Jawatan Kereta Api sibuk merevisi nama-nama stasiun agar pelafalannya sama dengan yang digunakan oleh jawatan pos dan telegraf (Post- en Telegraafdienst). Salah satu yang diubah oleh mereka adalah Gedehbage menjadi Gedebage.
Kini Gedebage menjadi stasiun yang diminati warga Bandung bagian timur untuk melakukan perjalanan dengan kereta Commuter Line. Setelah peluncurannya pada 1 Juni 2023 kini Stasiun Gedebage memiliki bangunan yang megah dengan fasilitas lengkap serta keamanan dan kenyamanan bagi penumpang kereta api.