Era bus listrik benar-benar mulai terlihat jelas. Sebab hampir semua negara saat ini sudah menghadirkan bahkan menggunakan bus listrik untuk digunakan sebagai moda transportasi massal. Namun masalah lainnya dari kehadiran bus listrik adalah pengisian daya ketika bus kehabisan tenaga untuk beroperasi.
Baca juga: BlueSG Singapura Hadirkan Stasiun Pengisian Daya untuk Mobil Listrik Lain
Kempower menjadi salah satu solusi untuk membantu pengisian daya pada bus listrik. Di mana Kempower ini hadir di depot bus Bergkvarabuss AB di Strängnäs, Swedia.
Infrastruktur charging ini termasuk dalam total pengiriman yang dilakukan Scania ke Bergkvarabuss yang mampu menampung enam kendaraan. Pegiriman akan mencakup solusi pengisian cepat Kempower C- dan S-Series serta master Depot Kempower ChargerEye.
Pengisian daya cepat Kempower EV ini terhubung melalui master Depot Kempower ChargeEye yang merupakan platform remote control untuk depot bus listrik. Dengan hadirnya platform, maka pengisian dapat dipantau dan dikendalikan secara real time serta daya yang tersedia bisa didistribusikan secara diamis ke bus yang paling membutuhkan pengisian daya.
Stasiun pengisian cepat untuk depot bus dikirim, dipasang dan ditugaskan oleh Wennström atas nama Scania. Wennström adalah pemasok komprehensif Nordik untuk penyimpanan, distribusi, dan pengisian energi.
Baca juga: Citroen Ami Buggy – Adopsi Tenaga Listrik untuk Bertualang di Alam Bebas
“Dengan pilihan Wennström, kami mendapatkan kombinasi yang sangat baik dari sistem pengisian daya yang canggih secara teknis dan kontrak yang dilaksanakan secara profesional,” kata Henrik Eng, Direktur Penjualan bus di Scania.
Stasiun-stasiun kereta api di Indonesia tak sekadar melayani penumpang naik dan turun saja, namun sudah menjadi tempat untuk bertemu, bercengkerama, bahkan hanya mencoba jajanan khas yang telah tersedia. Selain itu banyaknya stasiun yang terkenal sekali pun tentu sangat paham dengan ciri khasnya tersendiri, termasuk bangunan yang menjadi ikonik di kawasannya.
Selain banyaknya bangunan bersejarah, stasiun kereta api kini sudah sangat rapi bahkan lebih terlihat cantik. Baik stasiun besar maupun kecil, stasiun kereta api bahkan dijadikan lokasi favorit bagi para penumpang sembari menunggu kereta api yang akan mereka naiki. Selain fasilitas lengkap, stasiun kereta api di Indonesia juga menyimpan sejarah yang membuat penumpang yang melihatnya merasa kagum.
Stasiun-stasiun yang Instagramable saat ini sudah mulai tersebar di sejumlah kota di Pulau Jawa maupun Sumatra, sehingga sangat cocok dijadikan spot foto. Penasaran ada di mana saja stasiun kereta tercantik di Indonesia? Berikut kabarpenumpang akan merangkumnya untuk kalian.
• Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota atau yang lebih dikenal sebagai Stasiun Beos ini berlokasi di Jalan Lada, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta.
Bagi kalian yang suka mengambil foto dengan latar belakang bangunan vintage, maka stasiun yang satu ini adalah pilihan yang tepat. Diketahui stasiun ini adalah karya besar dari arsitektur asal Belanda yang bernama Frans Ghijsels. Dia dikenal sebagai arsitektur yang memadukan antara struktur dan teknik modern barat dengan bentuk tradisional dan balutan art deco.
Stasiun Jakarta Kota juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya, lho. Dan meskipun sudah pernah direnovasi, tetapi bangunan khas Belanda ini masih tetap terjaga dengan baik.
• Stasiun Bandung
Kita bergeser ke wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung. Ya, stasiun berikutnya adalah Stasiun Bandung. Stasiun kereta api ini merupakan kelas besar tipe A yang berlokasi di perbatasan antara Kelurahan Pasirkaliki, Cicendo, dan Kebon Jeruk, Andir. Lebih Tepatnya di Jalan Stasiun Barat, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung.
Stasiun Bandung diketahui mulai dibangun pada 1882 silam dan kemudian diresmikan pada tahun 1884. Sudah beroperasi lebih dari 100 tahun, stasiun ini masih mempertahankan beberapa bagian bangunan dengan gaya arsitektur art deco. Jika berhenti di Stasiun Bandung, jangan lupa untuk mengabadikan momen Anda lewat foto ya.
• Stasiun Semarang Tawang
Terkenal dengan julukan ‘tempat kelahiran kereta api’, Stasiun Semarang Tawang ini didesain langsung oleh arsitektur asal Belanda, yakni Sloth Blauwboer dan diresmikan pada Juni 1914 silam.
Bangunan bekas Belanda di Stasiun Tawang ini tidak kalah Instagramable dari stasiun lainnya. Selain itu, yang unik dari stasiun ini adalah ketika kereta datang, maka lagu Gambang akan diputar untuk menyambut kedatangan Anda.
• Stasiun Yogyakarta
Beralih ke lokasi paling favorit masyarakat untuk berlibur, Stasiun Yogyakarta atau bisa juga disebut Stasiun Tugu ini memiliki bangunan yang cantik nan bersejarah. Stasiun Tugu ini berlokasi di Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Stasiun Tugu termasuk salah satu stasiun yang memiliki spot foto yang cantik.
Banyak orang yang mengambil foto di bagian depan stasiun ini, apalagi di malam hari. Sebab perpaduan antara jam dinding, tulisan Jogjakarta, serta bangunan kunonya dan cahaya lampu menjadikan foto tampak lebih Instagramable.
• Stasiun Bogor
Beralih ke jalur selatan di wilayah Jabodetabek. Ya, Stasiun Bogor merupakan stasiun yang bisa dijadikan sebagai spot foto terutama dibagian pintu keluar timur atau menuju Alun-alun Kota Bogor. Stasiun yang dikenal saat era Kolonial Belanda dengan nama Buitenzorg ini adalah stasiun tipe kelas besar tipe A.
Stasiun Bogor terletak di Jalan Nyi Raja Permas, Cibogor, Bogor Tengah, Kota Bogor. Dan Bangunan di tempat ini pun sangat kental dengan nuansa Eropa. Sehingga begitu Anda melewati pintu masuk dan lobi utamanya, Anda mungkin akan merasa seperti berada di Belanda.
• Stasiun Malang
Diketahui memiliki dua stasiun, yakni Kota Baru dan Kota Lama. Tetapi yang menjadi tujuan utama para penumpang adalah Stasiun Malang Kota Baru yang terletak di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.
Jika sebelumnya, bangunan pada Stasiun Malang tampak begitu lawas. Kini, setelah dilakukan renovasi, bangunannya menjadi modern. Area di dalamnya pun cocok untuk dijadikan spot foto, lho.
• Stasiun Medan
Kita menyeberang ke Pulau Sumatra. Berlokasi di Gang Buntu, Medan Timur, Kota Medan, Sumatra Utara, Stasiu Medan merupakan stasiun bersejarah dan tertua yang dibuka sejak tahun 1886. Itu berarti stasiun ini sudah berdiri sejak lebih dari 130 tahun. arsitektur dari Stasiun Medan telah mengalami perubahan total dari bentuk mulanya. Bahkan, juga dibangun gedung baru untuk kereta api bandara.
Hal yang masih tersisa dari bangunan lama adalah menara jam di bagian depan stasiun, depo lokomotif yang bergaya Belanda, atap peron yang menaungi jalur dua dan tiga, serta jembatan gantung yang berada di ujung selatan stasiun. Bangunan yang tampak begitu modern ini menjadikan Stasiun Medan menjadi stasiun tercantik di Indonesia.
Nah, itulah beberapa stasiun-stasiun tercantik yang sangat cocok untuk diabadikan dengan kamera. Tentunya penumpang yang menggunakan kereta api dari stasiun-stasiun yang disebutkan, tidak merasa jenuh selama menunggu kereta api tiba. Dan tentunya bagi para penumpang diharapkan terus menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan selama di berada di stasiun kereta api.
Kereta Rel Listrik (KRL) yang biasa kita gunakan sehari-hari memang sangat membantu dalam melakukan perjalanan singkat ke berbagai tujuan di Jabodetabek. Rangkaian KRL yang datang dari berbagai negara yaitu Jepang, Cina, maupun Indonesia telah menghiasi jalur Comnuter Line di berbagai rute.
Hal ini membuat PT Commuter Indonesia (KCI) selalu mengedepankan prioritas masyarakat sebagai pengguna transportasi umum untuk selalu merawat dan menjaga rangkaian KRL agar tak selalu terjadi gangguan saat dioperasikan. Untuk perawatan KRL sendiri memang butuh lokasi dan ruang khusus agar perjalanan KRL kembali lancar. Maka dari itu kawasan depo yang berlokasi di Depok inilah menjadi solusi untuk merawat KRL tersebut.
Saat ini Depo KRL Depok tak hanya sebagai perawatan berbagai macam KRL saja, tapi menjadi lokasi unik yang membuat perhatian warga sekitar. Apalagi sampai warga asing yang telah mengetahui bahkan mendatangi kawasan Depo KRL Depok ini untuk mengabadikan momen yang tak biasa ini.
Ya, pemandangan yang tak biasa di Depo KRL Depok ini terlihat sejumlah tumpukan KRL Commuter Line yang sudah tidak berfungsi tersusun rapi di salah satu sudut Depo KRL Depok, Jalan Kampung Rawageni, Cipayung, Kota Depok. Keberadaan gerbong-gerbong tersebut dapat disaksikan dari jembatan Jalan Terusan Dipo.
Rangkaian kereta disusun berjajar dalam beberapa baris dan ditumpuk hingga dua tingkat. Setiap unit diberi nomor identifikasi menggunakan cat semprot berwarna merah. Banyaknya KRL itu ditempatkan di atas lahan yang baru diuruk. Kondisi tanah di sekitarnya masih basah yang terlihat jelas. Di area tersebut juga terdapat dua unit alat berat, salah satunya berupa crane, yang digunakan untuk proses penataan.
Tak jauh dari lokasinya, sejumlah komponen kereta lainnya terlihat tersusun rapi, menandakan adanya proses pengelompokan atau penataan material. Kereta-kereta tersebut merupakan rangkaian yang telah berusia tua dan masuk dalam kategori afkir atau konservasi. Pintu-pintu kereta yang sudah tidak digunakan pun dibiarkan terbuka, menampilkan interior tempat duduk penumpang saat masih beroperasi.
Bagi warga sekitar yang bermukim di area depo, ini merupakan pemandangan tersebut kerap menarik perhatian warga, termasuk pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan asing. Anak-anak pun sering datang ke jembatan pada sore hari hanya untuk melihat aktivitas keluar-masuk kereta di depo. Beberapa bahkan diantar orang tua mereka menggunakan sepeda motor.
Berdasarkan data tahun 2025, KCI mencatat terdapat sekitar 242 unit kereta atau 25 rangkaian yang sudah tidak dapat dioperasikan yang disimpan sementara di Depo KRL Depok. Bahkan menurut Vice President Corporate Secretary PT KAI Commuter, Karina Amanda, menjelaskan bahwa kereta-kereta tersebut mengalami kerusakan berat dan telah memasuki masa konservasi.
Konservasi masih terus berlanjut jika KRL berikutnya memang sudah tidak layak beroperasi. Bahkan ke depannya, seluruh rangkaian kereta yang telah afkir itu nantinya akan dipindahkan ke lokasi konservasi sarana KRL yang berada di Stasiun Pasirbungur, Subang, Jawa Barat.
Industri penerbangan dunia bersiap menyaksikan sejarah baru. Maskapai nasional Australia, Qantas, mengonfirmasi akan memulai uji coba operasional untuk rute penerbangan non-stop terlama di dunia pada tahun 2026. Proyek ambisius yang dikenal dengan nama “Project Sunrise” ini akan menghubungkan Sydney secara langsung dengan kota-kota global seperti London dan New York tanpa perlu melakukan transit.
Penerbangan revolusioner ini diperkirakan akan memakan waktu antara 19 hingga 22 jam di udara. Untuk mewujudkan hal tersebut, Qantas telah memesan armada khusus Airbus A350-1000 yang dimodifikasi dengan tangki bahan bakar tambahan agar mampu menempuh jarak ultra-jauh. Langkah ini merupakan jawaban Qantas atas permintaan penumpang yang menginginkan efisiensi waktu dan kenyamanan tanpa harus terganggu oleh proses transit di hub internasional.
Menyadari tantangan fisik berada di dalam pesawat selama hampir satu hari penuh, Qantas mendesain interior pesawat dengan fokus utama pada kesehatan dan kesejahteraan penumpang (wellbeing). Airbus A350 Project Sunrise ini nantinya hanya akan mengangkut 238 penumpang—jauh lebih sedikit dari kapasitas standar—untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas. Salah satu fitur yang paling dinantikan adalah adanya “Wellbeing Zone”, sebuah area terbuka di dalam pesawat di mana penumpang bisa melakukan peregangan, berolahraga ringan, serta mendapatkan hidrasi tambahan.
Selain area khusus, konfigurasi kabin juga dirancang mewah di semua kelas. Penumpang First Class akan menikmati “suite” pribadi yang menyerupai kamar hotel mini, sementara kelas Ekonomi akan mendapatkan ruang kaki yang lebih luas dibandingkan penerbangan standar. Pencahayaan di dalam kabin juga akan disesuaikan secara otomatis menggunakan sistem khusus untuk membantu meminimalisir efek jet lag bagi penumpang setelah mendarat.
Project Sunrise bukan sekadar pencapaian teknis bagi Qantas, tetapi juga menjadi strategi maskapai untuk mendominasi pasar penerbangan premium dunia. Dengan rute langsung dari pantai timur Australia ke Eropa dan Amerika Serikat, Qantas optimis dapat menarik pelancong bisnis dan wisata yang mengutamakan kenyamanan maksimal. Jika uji coba di tahun 2026 berjalan lancar, rute ini akan secara resmi memegang gelar sebagai penerbangan komersial terpanjang yang pernah dioperasikan manusia, melampaui rekor yang saat ini dipegang oleh Singapore Airlines.
Stasiun Probolinggo merupakan stasiun kereta api yang masuk kategori kelas I. Secara spesifik stasiun ini terletak di ketinggian +5 meter di Mayangan, Probolinggo, di mana daerah tersebut masuk dalam Daerah Operasi (Daop) 9 Jember. Stasiun ini sendiri adalah salah satu penghubung antara wilayah Banyuwangi dan Surabaya dan merupakan satu satunya stasiun yang melayani penumpang untuk wilayah Probolinggo.
Stasiun ini digadang-gadang merupakan tempat naik dan turun penumpang yang cukup banyak dari berbagai wilayah di Pulau Jawa. Tak heran semua kereta api yang melintasi Stasiun Probolinggo wajib berhenti termasuk kereta api tambahan. Meskipun melayani kereta api reguler atau jarak jauh, sayangnya Stasiun Probolinggo tidak sama sekali melayani kereta lokal atau Commuter Line. Padahal masyarakat sangat mengharapkan dengan dijalankan kereta lokal tersebut.
Namun, kabar yang beredar di berbagai laman media sosial bahwa Stasiun Probolinggo nantinya akan menghadirkan kereta Commuter Line. Ya, kereta lokal ini digadang-gadang akan diteruskan perjalanannya daei Stasiun Surabaya Kota hingga ke Stasiun Probolinggo. Kereta yang dimaksud adalah Commuter Line Supas (Surabaya – Paauruan).
Saat ini layanan Comnuter Line Supas hanya berakhir sampai Stasiun Paauruan. Tarif yang dikenakan Commuter Line Supas ini adalah Rp6.000. Ternyata rencana perpanjangan rute kereta ini hingga ke Probolinggo dirasa perlu. Karena desakan kebutuhan masyarakat yang bekerja dari Probolinggo ke Surabaya, atau sebaliknya. Selain itu, usulan rute ini diharapkan meningkatkan wisatawan yang akan berkunjung ke Kota Probolinggo menggunakan moda transportasi tersebut.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan sejak mengoperasikan layanan Commuter Line di wilayah Jawa Timur pada 2022, pihaknya terus mendukung pengembangan layanan perkeretaapian, khususnya di kawasan Surabaya dan sekitarnya. “Dengan adanya penambahan lintas layanan ini diharapkan dapat mendorong perekonomian masyarakat di wilayah Jawa Timur,” ujar Karina.
Selain itu, sebagai pintu gerbang Gunung Bromo banyak wisatawan lokal maupun internasional yang turun di Stasiun Probolinggo. Potensi yang sangat menguntungkan ini tidak hanya bagi perkeretaapian tapi juga bagi masyarakat karena pembiayaan kereta commuter yang di subsidi pemerintah pusat sangat ekonomis.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Perkerteaapian (DJKA) akan mendukung terkait penyesuaian izin operasi, izin lintas pelayanan, dan juga penambahan penyesuaian terhadap alokasi anggaran subsidi (PSO), serta perlu adanya revisi keputusan menteri terkait dengan tarif dan juga perjalanan kereta api.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan KAI Commuter, rencana ini disambut sangat positif oleh masyarakat. Tingkat keinginan masyarakat di Probolinggo untuk menggunakan layanan Commuter Line mencapai 100%. Potensi akuisisi pengguna di Stasiun Probolinggo diprediksi mencapai 304 orang per hari.
Dari sisi prasarana, Stasiun Probolinggo saat ini memiliki 4 jalur pelayanan dan 2 jalur stabling. Beberapa perbaikan fasilitas penunjang juga akan direncanakan untuk dilakukan, seperti penambahan kanopi area peron, perluasan ruang tunggu pengguna, serta penambahan petugas operasional seperti petugas loket, pengamanan, dan kebersihan untuk memastikan pelayanan prima bagi pengguna.
Tentunya, DJKA bersama dengan KAI Commuter juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo guna mewujudkan integrasi transportasi lokal sebagai transportasi lanjutan menuju pusat kota dan kawasan wisata.
Sebuah ambisi besar untuk menyatukan dua benua kini semakin mendekati kenyataan. Spanyol dan Maroko dilaporkan telah memperkuat kerja sama mereka untuk merealisasikan proyek infrastruktur paling ikonik abad ini: jalur kereta api bawah laut yang melintasi Selat Gibraltar. Proyek raksasa senilai US$7,4 miliar (sekitar Rp115 triliun) ini diprediksi akan mengubah peta perjalanan global dan mendefinisikan ulang konektivitas antara Eropa dan Afrika.
Jalur kereta api bawah laut ini akan menghubungkan kota Madrid di Spanyol dengan Casablanca di Maroko secara langsung. Proyek ini bukan sekadar pembangunan terowongan biasa, melainkan sebuah simbol integrasi ekonomi dan budaya yang akan memangkas waktu tempuh antarbenua secara drastis. Jika selama ini perjalanan melintasi selat harus mengandalkan feri atau pesawat, jalur kereta cepat ini nantinya akan memungkinkan mobilitas manusia dan barang dalam hitungan jam saja.
Secara teknis, proyek ini menghadapi tantangan geologis yang luar biasa di Selat Gibraltar. Kedalaman laut dan kondisi dasar laut yang kompleks memerlukan keahlian rekayasa tingkat tinggi. Terowongan ini diperkirakan akan memiliki panjang sekitar 38 hingga 40 kilometer, dengan bagian bawah laut mencapai 28 kilometer. Target penyelesaian proyek ini sengaja dikejar sebelum tahun 2030, bertepatan dengan momentum di mana Spanyol, Portugal, dan Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030.
Dampak ekonomi dari proyek ini diperkirakan akan sangat masif. Selain mendorong sektor pariwisata di kedua negara, jalur kereta ini akan membuka keran perdagangan yang lebih efisien antara Uni Eropa dan pasar Afrika yang tengah berkembang pesat. Bagi para pelancong, ini berarti era baru perjalanan berkelanjutan, di mana kereta api menjadi alternatif ramah lingkungan dibandingkan penerbangan jarak pendek yang selama ini mendominasi rute lintas benua tersebut.
Investasi sebesar US$7,4 miliar ini akan didanai melalui kombinasi dana publik dari kedua negara serta dukungan dari lembaga keuangan internasional. Pemerintah Spanyol dan Maroko memandang proyek ini sebagai warisan jangka panjang yang akan mempererat hubungan diplomatik kedua negara. Dengan dimulainya studi kelayakan akhir dan komitmen politik yang kuat, terowongan bawah laut Spanyol-Maroko siap menjadi salah satu keajaiban rekayasa modern yang akan menghubungkan sejarah dan masa depan dua benua.
Menggunakan kereta api di jalur selatan, tak sekadar bisa menikmati pemandangan yang terkenal luar biasa indah. Bahkan saat pemberhentian di stasiun , justru penumpang diperbolehkan untuk keluar dari kereta dan membeli jajanan yang telah tersedia di stasiun. Bahkan bagi penumpang momen inilah yang ditunggu saat kereta api berhenti selama 10 menit. Bahkan stasiun ini menjadi andalan penumpang untuk mengisi perut yang sudah merasa lapar.
Ya, siapa tak kenal dengan Stasiun Cipeundeuy. Julukannya saja ‘stasiun sakti’ ini membuat penumpang bisa leluasa membeli aneka jajanan yang telah disediakan pihak dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) khususnya Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung. Sebanyak belasan kios berjejer di sebelah timur stasiun dengan pedagang yang tak henti-hentinya berteriak memanggil penumpang yang tiba dan turun dari kereta.
Tak hanya penumpang kelas ekonomi saja, penumpang kelas elit pun tak luput dari pembelian aneka jajanan tersebut. Harganya yang murah meriah serta masih hangat menambah suasana yang intensitas cuaca di area stasiun selalu dingin. Bahkan jika Stasiun Cipeundeuy turun hujan, enak jajanan hangat pun sangat cocok bagi seluruh penumpang yang menikmatknya.
Diketahui kios-kios tersebut telah diresmikan pada November 2025 lalu. Dan ini merupakan kemudahan bagi seluruh penumpang kereta api jika ingin memanfaatkan waktu pemberhentian kereta api selama 10 menit tersebut diperbolehkan untuk membeli makanan di kios stasiun. Karena sebelumnya para pedagang ini menjual di luar stasiun yang membuat para penumpang terpaksa harus keluar hanya sekadar membeli jajanan.
Diketahui bahwa kereta api wajib berhenti di Stasiun Cipeundeuy yakni untuk keperluan pemeriksaan rangkaian serta sistem pengereman. Sebab, kereta api akan melalui jalur tanjakan dan turunan yang cukup tajam setelah Stasiun Cipeundeuy sehingga harus dipastikan sarananya dalam kondisi kondisi prima. Kebijakan itu berlaku untuk seluruh kereta api, baik yang datang dari arah barat maupun timur.
Rutinitas pengecekan rem dan rangkaian di Stasiun Cipeundeuy ini ternyata pengingat dari Tragedi Trowek yang terjadi pada 24 Oktober 1995 silam. Dikutip dari laman Kompas, bahwa kala itu saat tengah malam, kereta api gabungan Galuh dan Kahuripan mengalami kecelakaan di dekat Jembatan Trowek. Tepatnya, lokasi kecelakaan berada di Lembah Trowek, Kampung Sarapat, Desa Dirgahayu, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Ketika itu, satu rangkaian kereta api anjlok, terperosok, dan kemudian menabrak tebing di Lembah Trowek. Kecelakaan maut tersebut menyebabkan 20 orang kehilangan nyawa serta 90 orang lainnya luka berat dan ringan. Sebagian besar korban meninggal adalah penumpang yang melompat karena panik, tanpa menyadari bahwa kereta sedang melintasi jurang. Seluruh penumpang yang dievakuasi mencapai lebih dari 250 orang.
Sebuah momen perdana, rangkaian kereta kelas ekonomi dikirim daro Depo Cipinang menuju Sukabumi. Ya, kereta jenis ini sebenarnya sudah dijalankan pada rute Rangkasbktung sampai dengan Merak pulang pergi. Kereta dengan warna dasar hijau ini digadang-gadang merupakan terobosan baru dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang dibuat oleh kru Balai Yasa Surabaya Gubeng.
Ya, bertuliskan Kereta Khusus Petani dan Pedagang inilah yang menjadi satu-satunya unit yang dikirim ke Sukabumi. Kereta tersebut dikirim dari Depo Cipinang, Jakarta Timur melewati Stasiun Pasar Senen, Kampung Bandan, Tanah Abang, Manggarai, Depok, hingga berakhir di Stasiun Bogor. Kereta ini di tarik dari Depo Cipinang menggunakan lokomotif CC 206 hanya membawa satu unit saja.
Setelah tiba di Stasiun Bogor, kereta tersebut dilangsir dari jalur 4 menuju jalur 2 yang sebenarnya sudah tersedia rangkaian Kereta Api (KA) Pangrango yang. Kereta Khusus Petani dan Pedagang tersebut dirangkaikan ke KA Pangrango sebagai nomor kereta 226 rute Bogor Paledang – Sukabumi. Posisi kereta ini berada di paling depan atau persis di belakang lokomotif.
Satu unit Kereta Petani dan Pedagang yang dirangkaikan di KA Pangrango rute Bogor – Sukabumi.
KA Pangrango diberangkatkan dari Stasiun Bogor pada pukul 12:55 WIB menuju kedatangan di Stasiun Bogor Paledang untuk mengangkut penumpang yang sudah sedia di peron. Setibanya rangkaian KA Pangrango di Stasiun Sukabumi, Kereta Khusus Petani dan Pedagang ini dilangsir kembali ke jalur 3. Informasi yang tentunya sudah diketahui bahwa nantinya kereta kelas ekonomi tersebut akan digunakan sebagai KA Siliwangi.
KA Siliwangi dengan rute Sukabumi – Cianjur- Cipatat pp. Ini sudah melayani penumpang sejak 8 Februari 2014 silam. KA Siliwangi telah menemani perjalanan penumpang khususnya warga Sukabumi, Cianjur dan sekitarnya dengan harga yang terjangkau bahkan relatif murah. Rangkaiannya hingga kini masih menggunakan interior kelas ekonomi bersubsidi yang terdiri dari 106 tempat duduk per keretanya.
Tentunya jika sudah menggunakan rangkaian Kereta Khusus Petani dan Pedagang akan berbeda interiornya. Dengan posisi duduk yang menyamping, membuat bagian dalam kereta ini tentu menjadi luas. Kereta Petani – Pedagang memiliki kapasitas 73 tempat duduk serta area bagasi yang disiapkan untuk membawa hasil panen, olahan makanan, hingga kerajinan.
Jika sudah dioperasikan secara menyeluruh, tentunya layanan ini akan memperkuat ekonomi lokal dengan memberikan jalur distribusi yang lebih tertata dan hemat biaya. Fasilitas yang disiapkan Balai Yasa Surabaya Gubeng tentunya juga memastikan keselamatan serta kenyamanan bagi pengguna maupun penumpang umum.
Kawasan Teluk kini tengah bersiap menyambut babak baru dalam integrasi regional seiring dengan bangkitnya kembali salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di Timur Tengah. Setelah sempat terhenti selama hampir dua dekade akibat dinamika geopolitik yang kompleks, proyek konektivitas transportasi besar yang menghubungkan Uni Emirat Arab dan Qatar akhirnya menunjukkan kemajuan substansial pada Januari 2026.
Proyek ini mencakup pembangunan koridor jalan raya dua arah sepanjang 40 kilometer yang dirancang untuk menghubungkan kedua negara secara lebih langsung, sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi diplomatik pasca-Deklarasi Al-Ula tahun 2021.
Kemajuan signifikan terlihat jelas di sisi Qatar, di mana perusahaan kereta api nasional mereka telah resmi menunjuk Egis, sebuah perusahaan konsultan teknik ternama asal Perancis, untuk memimpin layanan konsultasi teknik bagi proyek konektivitas kereta api dan jalan raya lintas batas ini. Egis berhasil memenangkan kontrak strategis senilai kurang lebih US$38 juta setelah berhasil mengungguli persaingan ketat dari berbagai raksasa teknik internasional lainnya. Penunjukan ini menandai dimulainya fase desain dan perencanaan teknis yang serius untuk memastikan jalur tersebut memenuhi standar keamanan dan efisiensi global.
Sementara itu, di sisi Uni Emirat Arab, otoritas kereta api nasional tengah melakukan akselerasi pada proyek yang dikenal sebagai Western Link. Jalur ini direncanakan membentang dari pusat ekonomi Abu Dhabi menuju pulau-pulau yang berdekatan dengan wilayah perairan Qatar. Saat ini, proses perencanaan telah melibatkan partisipasi aktif dari dua konsorsium internasional besar, yakni pengembang infrastruktur dari Yunani dan China Harbour Engineering Co., Ltd., yang keduanya telah terpilih untuk masuk ke tahap perencanaan lanjutan guna mematangkan struktur jalan raya sepanjang 40 kilometer tersebut.
Menilik sejarahnya, proyek ini sebenarnya membawa misi lama yang sempat muncul ke permukaan pada tahun 2005. Rencana awal kala itu bertujuan untuk membangun rute lintas laut yang dapat menghindari wilayah daratan negara tetangga guna memperpendek waktu tempuh antar-negara secara signifikan.
Namun, visi tersebut sempat membeku total akibat ketegangan kedaulatan perairan dan krisis diplomatik regional pada tahun 2017. Baru pada masa sekarang, dengan pulihnya hubungan bilateral kedua negara, rencana pembangunan dari Ras Jumeirah di UEA menuju terminal feri di Pulau Makasib kembali dihidupkan untuk menghubungkan kedua negara melalui kombinasi layanan transportasi modern.
Dampak dari selesainya proyek ini diprediksi akan mengubah peta logistik dan ekonomi di seluruh kawasan Teluk secara permanen. Selain memangkas waktu perjalanan bagi personel dan barang antara Abu Dhabi dan Doha secara drastis, koridor ini juga memberikan alternatif jalur darat dan laut mandiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada transit melalui pihak ketiga.
Lebih dari sekadar aspal dan beton, jalan tol ini menjadi manifestasi fisik dari integrasi blok ekonomi GCC yang semakin solid, yang mampu menyeimbangkan ambisi ekonomi masing-masing negara dengan kebutuhan kolektif akan stabilitas dan konektivitas regional.
Jika Anda melihat peta pelacakan penerbangan menuju Sydney menjelang tengah malam, Anda mungkin akan melihat pemandangan unik, deretan pesawat yang seolah-olah sedang “balapan” atau berputar-putar di lepas pantai. Fenomena ini terjadi karena Bandara Sydney menerapkan salah satu kebijakan jam malam (curfew) paling ketat di dunia, yang melarang hampir semua aktivitas pendaratan dan lepas landas selama tujuh jam setiap harinya.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Berikut adalah rangkuman mengapa salah satu bandara tersibuk di Australia ini harus “tidur” di saat bandara internasional lainnya tetap beroperasi 24 jam.
Perlindungan Warga dari Polusi Suara
Alasan utama penerapan jam malam ini adalah untuk mengelola polusi suara pesawat guna melindungi kualitas tidur masyarakat yang tinggal di sekitar area bandara. Secara hukum federal, Bandara Sydney dilarang beroperasi antara pukul 23.00 hingga 06.00 waktu setempat.
Aturan ini diawasi ketat oleh Departemen Infrastruktur dan Transportasi Australia. Maskapai yang melanggar batas waktu tersebut tanpa izin khusus dapat menghadapi denda besar dan tuntutan hukum. Hal inilah yang memicu kesibukan luar biasa bagi pilot dan petugas menara pengawas sesaat sebelum jam 11 malam, guna memastikan pesawat mendarat tepat waktu sebelum pintu gerbang udara benar-benar tertutup.
Siapa Saja yang Boleh Terbang Saat Jam Malam?
Meskipun disebut “jam malam”, bandara tidak sepenuhnya mati total. Ada beberapa pengecualian untuk jenis penerbangan tertentu yang dianggap mendesak atau memenuhi kriteria khusus, antara lain:
Penerbangan Darurat
Termasuk ambulans udara, pesawat polisi, misi pencarian dan penyelamatan (SAR), serta pesawat yang mengalami keadaan darurat medis di tengah penerbangan.
Pesawat yang Lebih Senyap
Beberapa pesawat kargo kecil atau jet pribadi yang memiliki tingkat kebisingan sangat rendah dan memenuhi standar teknis tertentu terkadang diizinkan beroperasi.
Penerbangan Khusus (Shoulder Flights)
Pemerintah terkadang memberikan izin terbatas untuk sejumlah kecil penerbangan internasional yang terdampak perbedaan waktu, biasanya di antara pukul 23.00-00.00 atau 05.00-06.00.
Kebijakan Sydney ini cukup kontras jika dibandingkan dengan hub internasional besar lainnya. Sebagai contoh, Bandara Heathrow di London tidak menutup operasional secara total, melainkan menggunakan sistem kuota poin kebisingan untuk membatasi jumlah penerbangan malam. Sebaliknya, Bandara Zurich di Swiss menerapkan aturan serupa dengan Sydney, yaitu penutupan hampir total dari pukul 23.30 hingga 06.00.
Langkah Sydney ini menunjukkan komitmen pemerintah Australia dalam menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi transportasi udara dengan kenyamanan hidup warga lokal. Bagi para pelancong, aturan ini berarti perencanaan perjalanan yang lebih ketat, namun bagi warga Sydney, ini adalah jaminan untuk malam yang lebih tenang tanpa deru mesin jet di atas atap rumah mereka.