Jika sebagian besar bandara berjuang untuk mencapai ketinggian yang aman, Bar Yehuda Airfield di Israel memiliki tantangan yang unik, yaitu beroperasi pada titik terendah di daratan Bumi. Bandara kecil ini bukan hanya sebuah landmark geografis, tetapi juga pintu gerbang penting menuju salah satu wilayah paling unik di planet ini.
Bar Yehuda Airfield (kode IATA: MTZ), yang terletak di dekat Laut Mati dan benteng kuno Masada, memegang rekor sebagai bandara komersial aktif terendah di dunia, dengan elevasi yang mencengangkan, yaitu berada 378 meter di bawah permukaan laut
Bandara ini berada jauh di bawah permukaan laut karena lokasinya di Cekungan Laut Mati (bagian dari Lembah Celah Yordan), yang merupakan titik terendah di planet ini.
Dari sejarahnya, bandara ini didirikan untuk tujuan logistik dan pariwisata, menghubungkan wilayah terpencil Laut Mati dengan pusat-pusat populasi Israel lainnya. Nama bandara ini diambil dari Israel Bar-Yehuda, seorang mantan menteri dan anggota parlemen yang berkontribusi pada pengembangan kawasan tersebut.
Sejak awal, Bar Yehuda dirancang sebagai pusat akses utama bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi situs bersejarah Masada dan resor di tepi Laut Mati, wilayah yang terkenal karena kandungan mineral dan manfaat kesehatannya.
Beroperasi di ketinggian negatif memberikan tantangan dan keuntungan unik bagi penerbangan, seperti daya angkat pesawat yang Lebih Baik. Tidak seperti bandara di ketinggian tinggi (seperti yang ada di Cina atau Bolivia) yang berjuang melawan udara tipis, Bar Yehuda menikmati udara yang sangat padat (dense air). Udara padat menghasilkan daya angkat (lift) yang lebih besar bagi sayap pesawat.
Peningkatan daya angkat ini memungkinkan pesawat untuk lepas landas dengan kecepatan yang lebih rendah dan, secara teoritis, menggunakan landasan pacu yang lebih pendek (meskipun suhu tinggi di gurun seringkali tetap menjadi faktor penghambat kinerja).
Meskipun secara historis pernah dilayani oleh maskapai domestik Israel (seperti Arkia Israeli Airlines) untuk penerbangan terjadwal, saat ini Bar Yehuda Airfield tidak melayani penerbangan komersial terjadwal skala besar. Sebagian besar lalu lintas udara berasal dari perusahaan charter regional yang mengangkut kelompok turis langsung dari bandara-bandara yang lebih besar.
Dengan segala keunikan geografis dan operasionalnya, Bar Yehuda Airfield tetap menjadi landmark penerbangan, membuktikan kemampuan manusia untuk menaklukkan tantangan logistik di titik terendah manapun di Bumi.
Apa jadinya jika ada bandara yang beroperasi di atas ketinggian yang hampir serupa dengan sebuah puncak gunung? Apakah para kru darat menggunakan alat khusus yang dapat memasok oksigen karena diketahui, semakin tinggi suatu tempat, maka semakin tipis pula kandungan oksigen di tempat itu. Terlepas dari asumsi tersebut, berikut KabarPenumpang.com himpun 10 bandara yang berada di ketinggian fantastis versi laman airport-technology.com.Baca Juga: Berada di Atas Awan, Daocheng Yading Jadi Bandara Tertinggi di Dunia!Daocheng Yading AirportDaocheng Yading Airport. Sumber: milesreport.com
Dibuka pada bulan September 2013, Daocheng Yading Airport memegang medali emas kategori bandara yang berada di ketinggian paling tinggi di dunia, yaitu 4.411 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandara ini terletak di Prefektur Sichuan, Cina, dekat dengan Taman Nasional Yading yang disebut-sebut sebagai Shangri-La terkakhir di dunia.
Bandara ini memiliki landas pacu tunggal dengan lebar 45 meter dan membentang sejauh 4.200 meter , dengan luas bangunan terminal mencapai 5.000 meter persegi. Hadirnya bandara ini terbukti dapat memangkas waktu tempuh dari Daocheng menuju Chengdu menjadi kurang dari satu jam, padahal jika ditempuh menggunakan bus, waktu tempuhnya bisa mencapai dua hari perjalanan.
Qamdo Bamda Airport
Bandara ini dikenal juga dengan nama Changdu Bangda Airport, merupakan bandara komersial dengan ketinggian tertinggi kedua di dunia. Terletak di ketinggian 4.334 mdpl, Qamdo Bamda Airport merupakan salah satu gerbang pelancong yang hendak berkunjung ke Qamdo (Changdu) di Tibet, Cina. Diketahui pula, bandara ini juga memiliki landas pacu terpanjang di dunia, yaitu 5.500 meter
Salah satu alasan yang paling vokal mengapa bandara ini memiliki landas pacu yang amat panjang yaitu lokasi bandara yang akhirnya turut berperan serta dalam penurunan kinerja mesin dan pesawat membutuhkan kecepatan angkat yang lebih tinggi dari biasanya saat lepas landas. Pada bulan Oktober 2015 kemarin, pembangunan landas pacu kedua sepanjang 4.000 meter dimulai, dan akan beroperasi sebelum 2018.
Kangding AirportKangding Airport
Bandara yang berada 38 km dari Ibu Kota Provinsi Sichuan, Kangding ini berada di ketinggian 4.280 mdpl. Letak gerografis bandara ini membuatnya meraih medali perunggu kategori bandara dengan ketinggian tertinggi di dunia.
Landas pacu di bandara ini mampu melayani pesawat berukuran sedang, seperti Airbus A319-100 dan Boeing 737-700. Sedangkan bangunan bandara ini menjadi saksi bisu hilir mudiknya pelancong yang mencapai angka 330.000 penumpang dan 1.980 ton kargo setiap tahunnya. Diketahui, bandara ini mulai melakukan debut penerbangannya pada Oktober 2008 silam.
Ngari Gunsa Airport
Bandara yang melayani penerbangan militer dan sipil ini berada di ketinggian 4.274 mdpl. Terletak di Prefektur Ngari, bandara ini diprediksi akan melayani 120.000 penumpang per hari pada tahun 2020 kelak. Jet A319 milik Air China menjadi yang pesawat pertama yang mengudara dari bandara yang memiliki landas pacu sepanjang 4.500 meter ini. Mei 2007 menjadi titik awal pembangunan bandara dengan ketinggian tertinggi keempat di dunia.
El Alto International AirportEl Alto International Airport
Bandara Internasional El Alto (Sebelumnya bernama Bandara John F. Kennedy), merupakan bandara dengan ketinggian tertinggi kelima di dunia. Terletak di kota El Alto, 14km sebelah barat daya Kota La Paz. Bandara ini terletak pada ketinggian 4.061 mdpl.
Bandara yang diresmikan pada tahun 1965 ini memiliki dua landasan pacu sepanjang 4.000 meter (diaspal) dan 2.050 meter (tak beraspal). El Alto International Airport ini memiliki satu terminal dan beberapa fasilitas yang dapat menunjang kenyamanan para calon penumpang, seperti bank, bar, restoran dan toko bebas cukai.
Yushu Batang Airport
Bandara yang terletak 18 km sebelah selatan kota Gyegu, Cina ini berada di ketinggian 3.890 mdpl dan membawanya menduduki peringkat keenam bandara dengan ketinggian tertinggi di dunia. Yushu Batang Airport yang memulai masa konstruksi pada tahun 2007 silam ini terbukti dapat memangkas waktu tempuh dari kota Jiegu dan Qinghai, yang tadinya membutuhkan waktu 15 jam perjalanan darat, kini hanya 70 menit saja.
Landas pacu sepanjang 3.800 meter yang berada di bandara ini mampu mengakomodir pesawat A319. Bandara yang dibuka pada 1 Agustus 2009 ini mampu melayani 7.484 penumpang pada tahun pertama pengoperasiannya. Terminal penumpang yang ada di Yushu Batang Airport ini dirancang untuk melayani hingga 80.000 penumpang per tahunnya.
Inca Manco Cápac International AirportInca Manco Capac Airport
Bandara ini terletak di Wilayah Puno, Provinsi San Román Juliaca, sekitar 5 km dari kota Juliaca, Peru. Berada di ketinggian 3.826 mdpl, menjadikannya bandara dengan ketinggian tertinggi ketujuh di dunia. Bandara ini dibuka pada tahun 1959 dan saat ini dioperasikan oleh Corporación Peruana de Aeropuertos y Aviación Comercial (CORPAC).
Bandara ini dilengkapi dengan landas pacu beraspal sepanjang 4.200 meter, menara ATC tujuh lantai setinggi 25 meter, dan terminal penumpang yang berdiri di atas lahan seluas 1.865 meter persegi.
Shigatse Peace Airport
Bandara yang juga dikenal dengan nama Shigatse Air Base ini merupakan bandara militer dan sipil yang terletak di Kabupaten Hongdang, Prefektur Shigatse, di Daerah Otonomi Tibet. Bandara ini berjarak sekitar 43 km dari Kota Shigatse yang diketahui sebagai kota terbesar kedua di Tibet. Bandara yang dibuka pada tahun 1973 untuk keperluan militer ini berada di ketinggian 3.782 mdpl.
Layanan sipil di bandara ini sendiri mulai beroperasi pada bulan Oktober 2010. Shigatse Peace Airport memiliki landasan pacu sepanjang 5.000 meter dan bangunan terminal seluas 4.500 meter persegi. Diharapkan, bandara ini dapat menangani 230.000 penumpang dan 1.150 ton kargo pada tahun 2020 mendatang.
Baca Juga: Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas AwanLhasa Gonggar AirportLhasa Gonggar Airport. Sumber: tibetdiscovery.com
Bandara yang terletak sekitar 62 km sebelah barat daya Lhasa, Prefektur Shannan, Cina ini berada di ketinggian 3.570 mdpl. Lhasa Gonggar Airport mulai beroperasi pada 1965 dan memegang peran sebagai hub utama Tibet Airlines. Diketahui, bandara ini mampu menampung lima pesawat A340 atau tujuh Boeing 757 secara bersamaan.
Lhasa Gonggar Airport memiliki dua landas pacu, 4.000 meter beraspal, dan 3.600 meter terbuat dari beton yang dibuat pada tahun 1994. Awalnya, bandara ini hanya memiliki satu lantai terminal penumpang, namun fasilitas tersebut ditingkatkan pada tahun 2004 silam.
Jiuzhai Huanglong Airport
Bandara ini terletak 2 km dari Kota Chuanzhusi, di Desa Songpan, Prefektur Aba, Provinsi Sichuan, Cina. Jiuzhai Huanglong Airport yang mulai melayani penumpang pada September 2003 ini berada di ketinggian 3.448 mdpl.
Diketahui, bandara ini dikembangkan dua kali pada tahun 2006 dan 2011. Saat ini, Jiuzhai Huanglong Airport memiliki bangunan terminal penumpang tunggal yang luasnya mencapai 17.000 meter persegi, dengan landas pacu sepanjang 3.400 meter.
Rute kereta api hingga Stasiun Ketapang, Banyuwangi memang sudah tersedia, namun rute tersebut baru hanya dilintasi dari arah Jakarta. Menggunakan Kereta Api (KA) Blambangan Ekspres dari dan ke Stasiun Pasar Senen. Namun, hingga kini harapan masyarakat menggunakan KA hingga ke Stasiun Ketapang berawal dari Kota Bandung.
Ya, dari berbagai kabar di media bahwa KA dengan rute Bandung – Ketapang ternyata harapan masyarakat yang terutama berdomisili di Kota Bandung. Karena selama ini kereta api dari arah Bandung hingga perjalanan terjauh hanya sampai Stasiun Surabaya Gubeng dan Surabaya Pasar Turi. Sama sekali belum ada hingga rute ujung paling timur Pulau Jawa ini.
Nah, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember menjajaki pembukaan rute kereta api baru Ketapang – Bandung pulang-pergi. Langkah ini merupakan ikhtiar membuka akses transportasi langsung antara dua kawasan wisata unggulan di Indonesia yakni Banyuwangi dan Bandung.
Penjajakan itu dilakukan dengan melakukan survei. Survei dilakukan agar layanan yang disiapkan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Tentunya masukan dari masyarakat akan menjadi acuan penting dalam perencanaan. Tentunya KAI juga akan merencanakan rangkaian yang akan digunakan nantinya untuk rute tersebut.
Saat ini belum ada rute langsung Ketapang – Bandung, penumpang harus transit terlebih dahulu, terutama di Surabaya. Rute baru ini diharapkan menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menciptakan segmen wisata baru dari ujung timur Jawa hingga pusat wisata dan budaya Jawa Barat.
Diketahui bahwa dari segi pariwisata sangat mumpuni antara Bandung dan Banyuwangi. Apalagi rute kereta api yang dilewati juga merupakan jalur strategis untuk destinasi wisata. Pastinya rute kereta api tersebut melewati beberapa kota di Pulau Jawa, seperti Kota Tasikmalaya, Yogyakarta, Solo, Madiun, Mojolerto, Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo, Jember, dan berakhir di Banyuwangi.
Menurut data yang informasikan dari KAI, terjadi pertumbuhan 18 persen (Daop 9 Jember) baik untuk penumpang berangkat maupun tiba. Peningkatan ini menegaskan bahwa kebutuhan mobilitas masyarakat terus berkembang dan KAI menjawab peluang tersebut melalui inovasi layanan.
Wisata di Banyuwangi memang dikenal dengan Kawah Ijen, Alas Purwo, wisata pantai, dan kekayaan budaya. Sementara Bandung dikenal sebagai sentra wisata alam, kuliner, pendidikan, dan fesyen kreatif.
Konektivitas langsung antara kedua destinasi ini dipandang mampu melahirkan segmen penumpang baru, terutama wisatawan domestik maupun mancanegara, komunitas traveling, dan keluarga penikmat perjalanan panoramic.
KAI terus mendorong pengembangan layanan transportasi publik yang aman, nyaman, tersedia, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan mobilitas masa kini. Serta mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan konektivitas nasional melalui transportasi publik sebagai pilihan perjalanan yang lebih nyaman, ramah lingkungan, dan berkesan.
Berada di wikayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang, bangunan halte ini bisa dibilang cukup kecil dan sulit terlihat saat naik kereta api. Ya, posisi halte ini berada di petak antara Stasiun Kuripan dan Stasiun Ujungnegoro. Saat melintas halte ini tak sedikit pula kereta api yang melintas sangat kencang dengan kecepatan maksimumnya yakni 100 km/jam.
Halte ini dinamakan Halte Roban. Sekilas namanya tak asing dengan kawasan yang terkenal di Kendal, Jawa Tengah. Ya. Kawasan Alas Roban yang digadang-gadang menyimpan mitos atau misteri saat melewati kawasan tersebut. Lalu apakah terkait hubungannya antara Halte Roban dengan kawasan Alas Roban?
Biasanya nama stasiun/halte kereta api tak jauh dari nama kawasan atau desa yang dilewatinya. Seperti halnya Halte Roban yang sudah non aktif ini, ternyata memang tak jauh atau hampir mendekati kawasan jalan pantura yakni Alas Roban. Halte Roban dengan Jalan Alas Roban berada di kabupaten yang sama, yaitu Batang, Jawa Tengah.
Kondisi bangunan Halte Roban hingga saat ini. (Foto: Dok. Tangkapan Layar Youtube @AhmadSR4)
Keberadaan Halte Roban ini berada persis di pinggir rel yang masih lengkap dan kokoh terlihat dari berbagai sudut. Selain berada di pinggir rek kereta api, halte ini dikelilingj perkebunan karet yang menjulang tinggi. Dibagian belakang halte juga terdapat mushola kecil yang sepertinya tidak terawat dengan baik. Kemudian disampingnya terdapat jalan desa yang menghubungkan dari Jalan Raya Batang menuju Pantai Roban.
Dilansir dari laman Wikipedia, bahwa halte yang kini hanya memiliki dua jalur kereta api ini belum diketahui kapan tepatnya dinonaktifkan, kemungkinan dikarenakan lokasi haltenya yang terpencil di tengah Alas Roban dan juga jaraknya lebih dekat dengan Stasiun Kuripan. Nama Roban pun berasal dari nama hutan ini.
Bangunan halte hanya menyisakan bangunan permanen yang mirip dengan Stasiun Kendal. Bangunan itu hanya memiliki satu pintu. Ditinjau dari perbandingan bangunan tersebut dengan Stasiun Kendal, halte ini diperkirakan dibangun oleh Semarang–Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) saat perusahaan itu mulai membangun jalur kereta apinya pada tahun 1898.
Saban naik pesawat, mungkin telinga Anda bakal berdengung karena ada perbedaan suhu antara di darat dan ketinggian di angkasa. Sebenarnya dengungan ini tidak membahayakan sistem pendengaran, meski harus diakui lumayan mengganggu kenyamanan.
Baca juga: Kuping Berdengung Saat Take Off? Jangan Panik dan Pahami PenyebabnyaKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, telinga berdengung atau tinnitus merupakan masalah yang umum dialami seorang manusia. Sebenarnya, jika terjadi Anda tak perlu panik dan ada beberapa cara alami yang efektif untuk mengatasi dengungan di telinga salah satunya seperti menelan ludah atau mengunyah permen jika dengungan terasa saat berada di dalam kabin pesawat. Berikut ini cara alami lainnya jika telinga Anda berdengung.
1. Jauhi suara keras
Dengungan ini tidak disebabkan oleh suara dibawah 75 desibel. Tetapi bagi Anda yang tinggal dekat stasiun kereta api atau bekerja dengan mesin yang keras, baiknya gunakan earbud untuk menghindari dengungan.
2. Jangan gunakan cotton bud
Penggunaan cutton bud untuk membersihkan telinga sebenarnya tidak baik, karena earwax atau serumen didalam telinga bekerja untuk melindungi saluran telinga dari debu, kotoran dan serangga. Cotton bud juga tidak baik karena akan mendorong earwax semakin dekat dengan gendang telinga dan akan memperparah suara dengung. Jadi, jika Anda memiliki terlalu banyak kotoran di dalam telinga dan menyebabkan tidak nyaman, segera ke dokter THT untuk membersihkannya.
3. Pakai earphone dan dengarkan musik
Pasang earphone di telinga dan dengarkan musik yang Anda suka. Biasanya dengan suara musik dengungan di telinga bisa lebih cepat hilangnya. Cara ini juga baik untuk menyembuhkan efek samping dengungan seperti susah tidur dan tidak fokus pada pekerjaan.
4. Gingko biloba
Ramuan ini adalah obat alami terbaik mengusir dengungan karena dapat memperbaiki sirkulasi darah. Gunakan ekstrak gingko biloba 30-60 mg empat kali sehari selama enam minggu dapat membantu menyembuhkan telinga berdengung. Namun, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat herbal ini.
Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini5. Periksa tekanan darah
Pada beberapa kasus, dengungan bisa disebabkan karena tekanan darah tinggi. Ini terjadi karena telinga mendapat banyak suplai pembuluh darah dan ketika darah mengalir deras atau tekanan tinggi akan menghasilkan suara menderu. Jadi, bila sering mengalami telinga berdengung dan mengganggu, segera konsultasikan ke dokter dan periksa tekanan darah Anda siapa tahu itu penyebabnya.
Pada 9 November 2025, Mesir secara resmi memulai fase operasional perdananya untuk proyek infrastruktur transportasi terbesar di Afrika, Jaringan Kereta Api Listrik Berkecepatan Tinggi (High-Speed Electric Rail). Peluncuran ini, yang bersamaan dengan pameran industri TransMEA 2025, menandai tonggak penting dalam proyek yang sering dijuluki “Suez Canal on Rails” tersebut.
Perdana Menteri Mesir, Mostafa Madbouly, memberikan sinyal dimulainya uji coba operasional awal (pilot operation) untuk jalur pertama di dekat Kairo. Sementara itu, kereta cepat utama Velaro buatan Siemens diperkenalkan kepada publik Mesir sehari setelahnya.
Proyek ini bukan hanya satu jalur kereta, melainkan sebuah jaringan komprehensif yang dirancang untuk mengubah logistik dan mobilitas Mesir. Total panjang jaringan kereta cepat ini mencapai 2.000 km yang terbagi dalam tiga jalur utama.
Kecepatan operasi kereta cepat ini mencapai 230 km per jam untuk kereta penumpang ekspres. Sebagai kontaktor utama, mengusung konsorsium internasional yang dipimpin oleh Siemens Mobility (Jerman), yang bertanggung jawab atas suplai, instalasi persinyalan, dan perawatan. Melalui proyek ini, Siemens memasok kereta cepat Velaro (untuk layanan ekspres 230 km/jam), kereta regional Desiro HC (untuk layanan regional), dan lokomotif kargo Vectron.
Jaringan kereta cepat ini dirancang untuk menghubungkan seluruh wilayah Mesir, dari Laut Tengah hingga Laut Merah dan Lembah Sungai Nil. Jalur Hijau (Fase 1)Ain Sokhna – Kairo (NAC) – Marsa Matrouh, menghubungkan pelabuhan Laut Merah dan Mediterania, digunakan sebagai koridor vital untuk penumpang dan kargo.
Jalur Biru, menghubungkan Ibu Kota Mesir, Kairo dengan situs-situs bersejarah Mesir Selatan, mendongkrak pariwisata. Dan jalur merah,m Luxor – Hurghada/Safaga, menghubungkan Lembah Nil dengan resor-resor Laut Merah.
Uji coba perdana pada November 2025 dilakukan menggunakan kereta regional Desiro HC di Jalur Hijau, menegaskan bahwa Mesir telah berhasil menyelesaikan infrastruktur rel, elektrifikasi, dan persinyalan di segmen awal.
Meskipun fase uji coba telah dimulai, layanan komersial penuh untuk fase pertama (termasuk penggunaan kereta Velaro) diperkirakan baru akan dibuka secara bertahap, dengan target operasional penuh untuk seluruh jaringan pada akhir dekade 2020-an. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon Mesir dan mengalihkan 15% dari total volume angkutan kargo Mesir dari jalan raya yang padat.
Kota Solo memang banyak menampilkan sejarah yang kental dan juga budaya yang dipertahankan hingga sekarang. Tak hanya area yang bersejarah, dari segi transportasi kereta api pun kota yang terkenal akan batiknya ini pun masih cukup kental. Bahkan sejarah perkeretaapian di Solo menjadi legenda bagi yang gemar mengamati sejarah transportasi.
Ya, selain jalur kereta api yang terhubung dari Jakarta hingga Surabaya melewati Solo juga merupakan jalur yang bersejarah. Tapi tahukah kalian bahwa sejarah dari jalur trem di Kota Solo juga merupakan transportasi yang digemari masyarakat Solo pada jaman itu. Pasalnya trem di kawasan tersbeut terbilang unik.
Operasional moda transportasi trem bermula. Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM), sang operator menjalankan jalur trem sepanjang 27 kilometer. Dua jalur yang dioperasikan perusahaan swasta tersebut meliputi Stasiun Purwosari menuju Stasiun Solo Jebres serta Stasiun Purwosari menuju Stasiun Boyolali.
Trem SOTM di atas jembatan Kali Pepe. (Foto: Dok. Istimewa)
Jalur antara Stasiun Purwosari menuju Stasiun Jebres melewati Jl.Slamet Riyadi sampai Bundaran Gladag kemudian berbelok ke utara melewati Beteng Vastenburg di Jl.Jendral Sudirman, menyeberangi jembatan Kali Pepe lalu melintasi Jl. Urip Sumoharjo, dan berakhir di Stasiun Jebres. Dari jalur tersebut, Beteng Vastenburg, Pasar Gede, dan Warung Pelem menjadi titik henti sementara.
Di dalam gerbong berisi empat bangku saling berhadapan, di mana tiap bangkunya dapat digunakan oleh empat orang. Beberapa tahun pasca beroperasi, trem milik SoTM tak lagi menggunakan hewan. Penemuan lokomotif uap, menggeser operasional trem yang ditarik kuda.
Hingga akhirnya, pada 1906 SoTM resmi menandatangani kontrak kerja sama operasional dengan NIS yang membuat SoTM mengerdil dan diakuisisi oleh NIS pada 1911. Dengan dibukanya Stasiun Solo Kota pada 1922, jalur Stasiun Purwosari diperpanjang hingga Baturetno.
Di bawah NIS, jalur antara Stasiun Purwosari hingga Stasiun Boyolali terus dioperasikan dan mengalami revitalisasi serta pembaharuan. Jalur ini kemudian digunakan untuk meningkatkan pelayanan angkutan dari Pabrik Gula Colomadu dan Pabrik Gula Gembongan, namun tetap melayani penumpang.
Menurut kabar dari berbagai sunber, hingga tahun 2011 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pernah berwacana menghidupkan kembali trem sebagai moda transportasi massal. Namun, wacana yang digelontorkan pada saat Joko Widodo (Jokowi) menjabat sebagai Wali Kota tersebut tak terealisasi. Yosca Herman Sudrajad, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) mengatakan sejumlah kendala menghidupkan kembali trem.
Kendalanya adalah kondisi perkotaan saat ini dan perilaku masyarakat. Karena dulu trem bisa melintas bebas saat masyarakatnya tidak sebanyak sekarang, kendaraan juga masih sedikit. Kalau dipaksa jalan di tengah, malah justru khawatir menimbulkan keruwetan baru. Mempertimbangkan hal itu, wacana trem pun pupus.
Hari ini, 13 November 2025, menandai peringatan 118 tahun penerbangan perdana Cornu Helicopter yang dirancang oleh insinyur asal Perancis, Paul Cornu. Meskipun hanya berlangsung singkat, momen pada tahun 1907 ini dicatat sejarah sebagai penerbangan bebas (un-tethered) pertama yang dilakukan oleh mesin vertical-lift bertenaga, membawa manusia sejengkal lebih dekat ke impian terbang vertikal.
Pada awal abad ke-20, setelah Wright bersaudara berhasil membuktikan penerbangan pesawat sayap tetap (fixed-wing), para penemu Eropa berlomba-lomba untuk memecahkan misteri penerbangan vertikal. Paul Cornu, seorang insinyur mekanik dari Lisieux, Perancis, adalah salah satu yang paling gigih.
Cornu Helicopter tidak terlihat seperti helikopter modern. Ia menggunakan konfigurasi rotor tandem (dua rotor besar yang diletakkan di depan dan belakang sumbu pesawat) yang berputar berlawanan arah untuk meniadakan torsi.
Cornu Helicopter ditenagai oleh mesin Antoinette 24 tenaga kuda (hp) yang relatif ringan, yang digunakan untuk menggerakkan kedua rotor.
Paul Cornu
Tantangan terbesar pada saat itu adalah kontrol. Cornu mencoba mengatasi torsi dan menyediakan dorongan ke depan menggunakan baling-baling yang dapat dimiringkan (swiveling vanes) yang ditempatkan di jalur udara rotor. Ini adalah mekanisme yang sangat primitif dari apa yang kita kenal sekarang sebagai kontrol cyclic dan collective.
Pada 13 November 1907, di Coquainvilliers, Perancis, Cornu memutuskan untuk melakukan uji coba terbang. Meskipun laporan kontemporer sering kali melebih-lebihkan ketinggian, sejarah mencatat bahwa Paul Cornu berhasil menerbangkan helikopter buatannya setinggi sekitar 30 sentimeter (satu kaki) dari tanah, membawa dirinya sendiri sebagai pilot.
Yang menjadikan penerbangan ini bersejarah adalah helikopter tersebut tidak diikat dengan kabel (un-tethered) dan kenaikan vertikal sepenuhnya didorong oleh tenaga mesin, bukan otot atau daya dorong eksternal.
Meskipun Cornu hanya mampu mempertahankan posisi melayang (hover) selama kurang dari satu menit dan tidak ada mekanisme kontrol yang efektif, ia telah membuktikan prinsip dasar bahwa rotor bertenaga dapat mengangkat berat badan manusia dan mesin ke udara.
Sayangnya, helikopter Cornu tidak pernah dikembangkan lebih lanjut menjadi mesin yang praktis. Masalah utamanya adalah kurangnya sistem kontrol yang memadai. Paul Cornu kesulitan mempertahankan stabilitas dan arah terbang. Mesin tersebut hanya dapat melayang singkat dan tidak dapat dikendalikan dalam arti operasional.
Penerbangan helikopter praktis yang sesungguhnya harus menunggu penemuan sistem cyclic dan collective pitch control yang lebih baik, yang kemudian berhasil dikembangkan oleh penemu-penemu seperti Juan de la Cierva (dengan autogiro-nya) dan, yang paling signifikan, Igor Sikorsky pada tahun 1930-an dan 1940-an.
Meskipun demikian, Paul Cornu tetap diabadikan sebagai salah satu pionir penerbangan vertikal. Eksperimennya pada tahun 1907 membuktikan bahwa teori penerbangan vertikal bisa diwujudkan. Ia membuka jalan bagi generasi insinyur yang kemudian berhasil memecahkan tantangan rumit dalam menciptakan kontrol dan stabilitas yang menjadikan helikopter alat yang tak tergantikan di dunia modern.
Merasakan perjalanan kereta api (KA) dari Jakarta ke Banyuwangi ataupun sebaliknya hingga kini sudah tak perlu repot lagi untuk transit. Dengan waktu yang sangat fleksibel karena keberangkatan dan kedatangan yang cocok, menggunakan KA ini sudah terasa nyaman dengan fasilitas yang disediakan.
Ya, menggunakan KA Blambangan Ekspres sudah menjadi solusi terbaik dan satu-satunya kereta api melayani dari barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Diketahui bahwa KA Blambangan Ekspres menjadi satu-satunya rute terpanjang. Kereta itu melaju selama 16 jam dan 30 menit.
Perjalanan dengan KA Blambangan Express dijanjikan nyaman untuk penumpang kendati dengan kereta api ekonomi. KAI menyebut KA Blambangan Express memiliki fasilitas standar kelas ekonomi, termasuk AC, reclining seat, dan toilet di dalam kereta.
Rute yang dilewati KA ini memiliki kecepatan diatas 90 km/jam, yaitu melewati sepanjang jalur utara. Tentu stasiun-stasiun yang disinggahi KA Blambangan Ekspres ini meliputi Stasiun Cirebon, Stasiun Tegal, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Bojonegoro, Stasiun Lamongan, dan Stasiun Surabaya Pasar Turi.
Setelah singgah di Stasiun Pasar Turi, KA Blambangan Ekspres pun berlanjut menuju Stasiun Surabaya Gubeng lalu melewati Stasiun Sidoarjo, Stasiun Bangil sampai berakhir di Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Penumpang juga bisa menikmati layanan pembelian tiket online melalui aplikasi KAI Access atau loket stasiun, sehingga perjalanan menjadi lebih praktis dan efisien.
Harga tiket KA Blambangan Ekspress kelas ekonomi rute Jakarta-Banyuwangi adalah Rp505 ribu. Sedangkan untuk kelas eksekutif adalah Rp775 ribu. Keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen adalah pukul 12.10 WIB dan tiba di Stasiun Ketapang pukul 04.04 WIB. Lalu keberangkatan dari Stasiun Ketapang pukul 15.45 WIB dan tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 08.16 WIB.
Kereta api Blambangan Ekspres menyediakan rute pulang-pergi untuk Jakarta – Banyuwangi. Fasilitas yang ditawarkan KA ini pun cukup nyaman. Seperti pada kereta kelas ekonomi yang hingga kini menggunakan ekonomi new generation. Kelas ekonomi ini terdiri dari 19 baris dan 72 kursi dalam satu kereta.
Nah, kereta yang dimodifikasi itu memiliki leg room yang lebih luas, lalu tipe captain seat atau kursi terpisah, dan sandaran di kedua sisi, yang bisa diatur posisinya searah laju kereta atau berhadapan. Interior kereta juga dimodifikasi dengan warna yang lebih cerah, bagian bagasi didesain mirip dengan kereta eksekutif. Selain itu, toilet dibuat senyaman mungkin dan terdapat mushola di kereta restorasi.
Dengan harga yang wajar tapi memiliki fasilitas yang nyaman, pastinya penumpang bakal betah dengan rute perjalanan terjauh. KA Blambangan Ekspres tetap menjadi primadona yang menemani penumpang dari ujung barat sampai dengan ujung timur Pulau Jawa tanpa harus berpindah kereta api. Penumpang tinggal menikmati perjalanan dan fasilitas yang disediakan dengan baik.
Sebagai pengguna setia Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya jalur selatan, kini patut lega. Ya, jalur yang biasa dikenal sebagai jalur sibuk ini ternyata bisa memiliki jarak yang lebih cepat dari biasanya. Karena baru-baru ini ada jalur KRL yang headway-nya makin ditingkatkan, yaitu pada jalur Citayam – Nambo.
Sebagaimana diketahui bahwa jalur yang biasa dilintasi KRL rute Cirayam – Nambo ini masih menggunakan jalur tunggal (single track). KRL yang melintas pun cukup banyak dengan rata – rata penumpang yang cukup ramai. Jalur Citayam – Nambo melewati 2 stasiun yaitu Stasiun Pondok Rajeg dan Stasiun Cibinong.
Nah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah mempercepat penataan dan optimalisasi transportasi publik di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi. Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi jalur KRL lintas Nambo – Citayam, yang dinilai strategis untuk menambah kapasitas dan frekuensi perjalanan penumpang.
Mayoritas penumpang yang ramai gunakan KRL lintas tersebut terlihat di Stasiun Cibinong. Stasiun ini terlihat pada jam keberangkatan pagi hari dan kedatangan pada sore hingga malam hari. Volume kepadatan di Stasiun Cibinong sudah terbukti karena berada paling strategis dekat pemukiman, pasar, maupun jalan raya yang menghubungkan Bogor – Jakarta.
Saat ini pemerintah bersama jajaran direksi KAI tengah melakukan percepatan waktu perjalanan KRL di jalur tersebut. Diketahui bahwa lintas Citayam – Nambo memiliki headway satu jam lebih hanya untuk menunggu KRL tiba. Namun nantinya headway perjalanan KRL bisa mencapai setiap 15 menit.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, bahwa saat ini lintasan Nambo masih menggunakan jalur tunggal (single track) dengan frekuensi perjalanan sekitar satu jam sekali. Kondisi ini membatasi kapasitas angkut penumpang dari arah Bogor menuju Jakarta. Tapi kedepannya frekuensi bisa ditingkatkan menjadi setiap 15 menit.
Peningkatan ini juga diiringi dengan penyesuaian infrastruktur di sejumlah stasiun. Bobby menyebut saat ini panjang peron di beberapa stasiun di Bogor masih terbatas dengan panjang rangkaian 8 – 10 Stamformasi (SF), sehingga belum mampu menampung rangkaian KRL 12 kereta.
Jika menginginkan menjadi rangkaian KRL 12 SF pastinya akan ada perpanjangan peron agar memudahkan masyarakat untuk naik dan turun kereta. Langkah kolaboratif antara Pemda Provinsi Jawa Barat dan PT KAI ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi transportasi publik menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di wilayah metropolitan Jawa Barat.