Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

0

Bila di negara-negara maju trem masih menjadi sokusi transportasi di wilayah urban, maka di Indonesia trem adalah cerita masa lalu. Eksistensi trem di Indonesia tidak lepas dari masa kolonial Belanda. Pada masa itu, trem sangat terkenal karena banyak digunakan masyarakat sebagai alat transportasi yang bersifat massal. Sayangnya trem hanya terdapat di Jakarta dan Surabaya. Merujuk ke sejarahnya, trem di Tanah Air sudah ada sejak tahun 1800-an dan masuk ke Jakarta sejak tahun 1860-an.

Baca juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Model trem yang pertama dikenalkan di Indonesia adalah jenis trem kuda pada tahun 1869. Trem ini, berbentuk gerbong kereta yang cukup panjang dan mampu memuat 40 orang penumpang. Sesuai namanya ttem ini ditarik oleh tiga samai empat ekor kuda. Kusir yang menjalankan trem ini menggunakan terompet sebagai klaksonnya. Trem kuda biasa beroperasi dari pukul 05.00 pagi sampai 20.00 malam dengan tarif 20 sen dan melintas lima menit sekali.
imagesPada masa trem kuda, jalur yang ditempuh cukup panjang, salah satunya dari Kwitang ke Pasar Ikan pulang pergi. Sayangnya masa trem kuda hanya bertahan 12 tahun dikarenakan banyak kuda yang sakit dan mati akibat kelelahan. Jalanan pada masa trem kuda pun lebih kotor akibat kotoran kuda yang berceceran di jalan.

Setelah lengsernya trem kuda pada tahun 1881, muncul trem uap. Berbentuk lokomotif yang dijalankan dengan ketel uap dan di bagian depannya terdapat tempat bahan bakar batubaranya. Konon, trem ini beroperasi dari pukul 06.00 pagi hingga 19.00 malam. Untuk biaya yang harus dibayarkan penumpang pun bergam tergantung dengan kelas yang dinaiki. Kelas 1 dinaiki orang-orang Eropa dengan ongkos 20 sen.

Kelas 2 diperuntukkan untuk keturunan Arab, Tionghoa dan Pribumi keturunan bangsawan. Dengan ongkos 10 sen. Di kelas 3 biasanya dinaiki oleh Pribumi biasa, dan tidak hanya di isi manusia melainkan sayuran untuk jualan dan hewan-hewan piaraan penumpang. Makanya, dulu kelas 3 ini sering dikatakan kelas “Kambing”.

Tak hanyaa itu, rute trem uap ini pun lumayan panjang dari Jatinegara hingga Pasar Ikan atau sebaliknya. Trem uap ini sangat bising dibanding dengan trem kuda terdahulu, tak hanya itu, bila musim hujan, trem ini sering sekali mogok. Kemudian pada tahun 1901 atau 20 tahun kemudian, seiring berkembangnya teknologi, trem uap mulai digantikan dengan trem listrik. Namun, trem uap masih mendamping perjalanan trem uap hingga akhirnya dihapus tahun 1933 dan trem listrik merajai.

Trem-Listrik-jurusan-Menteng-Jakarta-1950-_-Rob-Nieuwenhuys-media.kitlv_.nl_ (1)

Tak ayal dengan hilangnya trem uap, trem listrik ini tambah diminati masyarakat karena lonjakan penduduk yang juga ikut meningkat. Trem ini, dari sejak ada terus penuh oleh penumpang. Tak hanya itu, setelah kemerdekaan diproklamirkan, trem tertus bertahan sebagai transportasi utama di Jakarta.

Trem listrik ini beroperasi di lima rute yakni Menteng-Kramat-Jakarta Kota, Senen-Gunung Sahari, Menteng-Merdeka Timur-Harmoni dan Menteng-tanah Abang-Harmoni. Ongkos yang ditawrkan trem listrik ini pun bisa dikatakan murah yakni hanya sepicis alias 10 sen. Uniknya trem bisa menjelajahi seluruh wilayah Jakarta tak seperti Kereta Rel Listrik (KRL) sekarang ini.

Sayangnya, trem listrik hanya mampu bertahan 27 tahun, pada tahun 1960 saat Jakarta dipimpin Gubernur bernama Sudiro, trem dihapuskan. Tak hanya itu, Soekarno yang masih menjabat sebagai presiden pun mengatakan trem tidak cocok untuk kota Jakarta yang sempit dan mengusulkan metro atau kereta bawah tanah.

Baca juga: Serba-Serbi Trem San Francisco yang Melegenda bin Ikonik

Semenjak trem dihapuskan, muncullah bus PPD yang merajai jalanan dan menghilangkan sistem transportasi massalnya. Sedangkan untuk metro dan kereta bawah tanah juga tak terwujud di zaman Soekarno. Dihapuskannya trem cukup disayangkan, karena daya angkut yang besar dan mampu menjadi angkutan massal yang layak digunakan.

Leave a Reply