Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Trem listrik melintasi kawasan Gunung Sahari.

Atas perintah presiden pertama RI, Soekarno kepada Gubernur Jakarta Sudiro, pada awal tahun 1960 dilakukan pembongkaran pada jalur trem yang membentang 40 km di Jakarta. Pembongkaran jalur trem menjadikan berakhirnya masa kejayaan trem di Ibu Kota, yang jika ditilik dari aspek historis merupakan ‘nilai’ yang tak tergantingkan, mengingat debut jalur trem sudah ada sejak 1869 (era trem kuda). Menurut Soekarno, trem sebagai moda angkutan massa di Jakarta tidak cocok, ia lebih setuju pembangunan jaringan kereta bawah tanah untuk Jakarta.

Baca juga: Trem Kuda Riwayatmu “Doeloe”

Meski keberadaan trem tinggal sejarah, tapi bila sejenak kita luangkan waktu melihat foto-foto di masa lalu, maka alam pikiran justru terbawa ke suasana aktivitas trem listrik yang kini masih setia melayani warga kota-kota modern di Eropa. Indonesia kala itu berstatus wilayah jajahan Belanda, namun ada keunikan dalam implementasi trem, khususnya trem listrik, yakni peluncuran trem listrik di Indonesia (Batavia – sekarang Jakarta) ternyata lebih duluan ketimbang di Belanda.

Trem listrik dengan latar Stasiun Beos (sekarang Stasiun Kota).
Jalur Trem di Jakarta pada tahun 1940.

Trem listrik di Batavia dioperasikan oleh Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM), dan mulai mengoperasikan trem dengan lokomotif listrik pada April 1899. Sementara Belanda baru mengoperasikan lokomotif trem listrik pada Juli 1899 yang menghubungkan jalur Haarlem-Zandvoort. Bila mengulik ke sejarah masa silam, hadirnya trem listrik adalah untuk menggantikan keberadaan trem berlokomotif uap.

Karena membutuhkan instalasi jalur tiang listrik diatas rel, maka pembangunan jalur trem listrik dilakukan secara bertahap. Setidaknya butuh waktu 18 tahun bagi BETM untuk mempersiapkan jalur rel listrik. Jalur trem listrik BETM berawal dari Stasiun trem di selatan Stasiun Beos Lama langsung menuju Goenoeng Saharie Weg melalui Jacatra Weg (Jl. P. Jayakarta), kemudian melintasi Kemayoran, Pasar Senen, belok kanan di daerah Kramat menuju Gondangdia, memutari Tanah Abang, lewat di belakang Museum Gajah (Jl. Abdul Muis), dan berakhir di depan tempat hiburan kelas wahid, Societeit de Harmonie.

Trem listrik di Stasiun Tanah Abang pada tahun 1899. Foto: tdu.to

Baca juga: Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Trem listrik di kawasan Harmoni. Foto: tdu.to
Trem listrik di Jakarta dalam masa agresi militer di dekade 40-an. Foto: tdu.to

Sedangkan jalur trem uap Nederlandsch-Indische Tramweg Maatchappij (NITM) membentang utara-selatan mulai dari kawasan kota lama Batavia, melewati Gambir, Matraman Raya sampai berakhir di Kampung Melayu. Perusahaan trem listrik Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) melebur dengan NITM pada 1930 dengan membuat nama baru yaitu Bataviaasche Verkeermaatschappij (BVM). Lintas NITM yang masih berupa jalur trem uap diganti dengan trem listrik secara bertahap. Elektrifikasi bekas jaringan trem NITM akhirnya selesai seluruhnya pada 1934.

Trem listrik melintas di kawasan Kramat.

Total panjang jalur trem yang ada 40 kilometer yang terbagi menjadi 6 lajur.Jalur utama yang melayani Oud Batavia (Jakarta Kota – Jln Cengkeh) hingga Meester Cornelis (Mester – sekarang Jatinegara) menempuh jarak 14 kilometer

Baca juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?

Pada masa Belanda, nama tokoh yang mendiami daerah setempat banyak dijadikan nama jalan. Nama Kwitang, Jakarta Pusat, berasal dari nama seorang Tionghoa, Kwik Tamg Kiam. Di sini terdapat Gang Adjudant (kini Kramat Kwitang II, tempat majelis taklim Kwitang). Adjudant nama salah satu jabatan struktural pemerintahan di Batavia masa kolonial. Rupanya di jalan ini dulu tinggal seorang ajudan.