Walau Langganan Perang, Suriah Investasi Besar-besaran di Sekitar Stasiun Bersejarah Abad 19

0
Stasiun Al-Hejaz. Foto: enabbaladi.net

Arab Spring atau Musim Semi Arab (sering disebut juga Kebangkitan Arab) mendorong terjadinya perang saudara di berbagai negara di Timur Tengah, tak terkecuali Suriah. Sejak tahun 2011 lalu, perang tiada henti terus berkecamuk hingga menewaskan 465.000 jiwa, satu juta orang terluka, serta 12 juta lainnya mengungsi.

Baca juga: Hejaz Railway – Jaringan Kereta Abad 19 yang Mampu Reduksi Waktu Perjalanan Jamaah Haji

Akan tetapi, meskipun sampai saat ini perang terus berkecamuk, ternyata, penguasa sah Suriah tetap menatap masa depan. Setidaknya hal itu terlihat dari kejelasan proyek prestisius kompleks “Nirvana”. Belum lama ini, Direktur Jenderal General Foundation for the al-Hejaz Railway Station, Hassanein Muhammad Ali, mengumumkan bahwa proses tender proyek tersebut telah usai dan dimenangkan oleh Syrian Private Company al-Hejaz for Investment.

Pernyataan tersebut juga bukan hanya menjadi pertanda bahwa proyek tersebut serius digarap, melainkan juga menjadi jawaban dari kontroversi pemenang tender yang sempat terkatung-katung selama beberapa lamanya. Bukan karena terganggu aktivitas perang saudara, melainkan pertarungan sengit sekitar empat perusahaan yang ngotot untuk menggarap proyek itu.

Kantor berita enabbaladi.net menyebut, proyek berdurasi selama tiga tahun ini nantinya akan mencakup hotel bintang lima dengan 12 lantai, kawasan komersial, restoran, dan ruang bawah tanah empat lantai, dengan kompensasi ke al-Hejaz Foundation sebesar $640 ribu sebagai pemilik lahan. Adapun nilai total investasinya masih dirahasiakan.

Proyek kompleks Nirvana akan dibangun di atas tanah seluas 5.000 meter persegi (m2) yang dikuasai oleh al-Hejaz Foundation, di sebelah stasiun di salah satu situs paling vital di pusat Kota Damaskus, dekat Al-Marjeh Square, al-Hamidiyah Souq, Benteng Damaskus, dan Masjid Umayyah, menghadap jalan al-Nasr dan Khalid Ibn al-Walid yang populer di Suriah.

Bila proyek sudah selesai, pengelolaan kompleks Nirvana akan dikuasai oleh pihak investor. Setelah 45 tahun, barulah al-Hejaz Foundation, kompleks Nirvana sepenuhnya dimiliki oleh yayasan tersebut.

Meskipun proyek prestisius tersebut digadang-gadang mampu menghidupkan kembali ekonomi Suriah, khususnya Kota Damaskus, pada umumnya banyak masyarakat yang menolak. Hal itu dikarenakan, bangunan tinggi 12 lantai dalam proyek tersebut akan menutupi bangunan bersejarah Stasiun al-Hejaz. Selain itu, bangunan nan megah dan tinggi terlalu mencolok untuk mendistorsi arsitektur di sekitarnya yang notabene kebanggaan masyarakat Suriah.

Baca juga: Canangkan Pembangunan ‘Kereta Perdamaian,’ Israel Nantinya Akan Terhubung dengan Sejumlah Negara Teluk

Tak hanya itu, proyek kompleks Nirvana juga akan mengorbankan salah satu café paling legendaris dan populer di Suriah, Cafe al-Hejaz. Café yang dibuka pada awal 1950-an di atas lahan seluas 1.600 m2 ini terpaksa dirobohkan karena masuk dalam kawasan kompleks Nirvana.

Padahal, café yang memiliki ruang dua musim ini, satu musim panas dan lainnya musim dengan dengan menampung hingga 600 orang, kerap menjadi tempat bersosialiasi, berkumpul, bergaul warga kota. Terang saja masyarakat tak rela begitu saja bila proyek prestisius pada akhirnya mengorbankan bangunan prestisius.

Leave a Reply