Meskipun Masih Gunakan Single Track, Headway Jalur Citayam–Nambo Bakal Ditingkatkan

Sebagai pengguna setia Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya jalur selatan, kini patut lega. Ya, jalur yang biasa dikenal sebagai jalur sibuk ini ternyata bisa memiliki jarak yang lebih cepat dari biasanya. Karena baru-baru ini ada jalur KRL yang headway-nya makin ditingkatkan, yaitu pada jalur Citayam – Nambo. Sebagaimana diketahui bahwa jalur yang biasa dilintasi KRL rute Cirayam – Nambo ini masih menggunakan jalur tunggal (single track). KRL yang melintas pun cukup banyak dengan rata – rata penumpang yang cukup ramai. Jalur Citayam – Nambo melewati 2 stasiun yaitu Stasiun Pondok Rajeg dan Stasiun Cibinong.
Dijuluki ‘Stasiun Rock Bottom’, Nambo Ternyata Memiliki Asal Usulnya Begini
Nah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah mempercepat penataan dan optimalisasi transportasi publik di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi. Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi jalur KRL lintas Nambo – Citayam, yang dinilai strategis untuk menambah kapasitas dan frekuensi perjalanan penumpang. Mayoritas penumpang yang ramai gunakan KRL lintas tersebut terlihat di Stasiun Cibinong. Stasiun ini terlihat pada jam keberangkatan pagi hari dan kedatangan pada sore hingga malam hari. Volume kepadatan di Stasiun Cibinong sudah terbukti karena berada paling strategis dekat pemukiman, pasar, maupun jalan raya yang menghubungkan Bogor – Jakarta.
Jalur Citayam – Nambo Akan Beroperasi Satu Stasiun Baru, Apa Itu?
Saat ini pemerintah bersama jajaran direksi KAI tengah melakukan percepatan waktu perjalanan KRL di jalur tersebut. Diketahui bahwa lintas Citayam – Nambo memiliki headway satu jam lebih hanya untuk menunggu KRL tiba. Namun nantinya headway perjalanan KRL bisa mencapai setiap 15 menit. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, bahwa saat ini lintasan Nambo masih menggunakan jalur tunggal (single track) dengan frekuensi perjalanan sekitar satu jam sekali. Kondisi ini membatasi kapasitas angkut penumpang dari arah Bogor menuju Jakarta. Tapi kedepannya frekuensi bisa ditingkatkan menjadi setiap 15 menit. Peningkatan ini juga diiringi dengan penyesuaian infrastruktur di sejumlah stasiun. Bobby menyebut saat ini panjang peron di beberapa stasiun di Bogor masih terbatas dengan panjang rangkaian 8 – 10 Stamformasi (SF), sehingga belum mampu menampung rangkaian KRL 12 kereta. Jika menginginkan menjadi rangkaian KRL 12 SF pastinya akan ada perpanjangan peron agar memudahkan masyarakat untuk naik dan turun kereta. Langkah kolaboratif antara Pemda Provinsi Jawa Barat dan PT KAI ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi transportasi publik menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di wilayah metropolitan Jawa Barat.
Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

Jembatan Hongqi di Sichuan Runtuh Akibat Longsor, Infrastruktur Baru Cina Jadi Sorotan

Sebuah insiden kegagalan infrastruktur besar mengguncang Cina bagian barat daya setelah Jembatan Hongqi yang baru saja dibuka di Provinsi Sichuan ambruk sebagian pada hari Selasa sore (kemarin). Runtuhnya jembatan sepanjang 758 meter ini dipicu oleh longsor yang disebabkan oleh kondisi geologis yang tidak stabil di wilayah pegunungan yang curam. Jembatan Hongqi merupakan bagian penting dari Jalan Raya Nasional 317, yang menghubungkan Cina bagian tengah dengan Tibet. Proyek ini rampung dan dibuka untuk lalu lintas umum pada awal tahun 2025 (dengan konstruksi bentangan utama selesai pada Januari 2025). Jembatan ini dirancang untuk mempermudah akses dan memangkas waktu perjalanan di daerah yang sulit tersebut. Menurut laporan dari pemerintah Kota Maerkang, runtuhnya jembatan disebabkan oleh ketidakstabilan lereng gunung yang berada di dekatnya. Kondisi geologis memburuk, menyebabkan retakan besar pada lereng bukit dan jalan pendekatan di sisi kanan jembatan.
Cina Resmikan Stasiun Chongqing Timur – Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Luasnya Setara 170 Lapangan Sepak Bola
Beruntung, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Pihak berwenang setempat telah mendeteksi retakan dan pergeseran tanah pada hari Senin sore (sehari sebelum kejadian). Berkat pemantauan cepat ini, Jembatan Hongqi segera ditutup total untuk semua lalu lintas dan pejalan kaki. Rekaman video dramatis yang beredar luas di media sosial menunjukkan detik-detik ketika longsor besar menghantam dasar jembatan dan jalan pendekatan. Dalam hitungan detik, sebagian besar struktur beton, tiang penyangga, dan jalan pendekatan ambruk ke sungai di bawahnya, meninggalkan kepulan debu yang masif. Jembatan ini berlokasi di dekat Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Shuangjiangkou, di Kota Maerkang, sebuah area yang dikenal dengan medan pegunungan yang sulit dan kondisi geologis yang rentan terhadap pergerakan tanah. Meskipun pejabat daerah menyatakan bahwa runtuhnya jembatan ini dipicu oleh faktor lingkungan (longsor), bukan cacat struktural pada jembatan itu sendiri, insiden ini telah memicu kembali kekhawatiran publik mengenai kualitas dan durabilitas proyek-proyek infrastruktur besar Cina, terutama yang dibangun di provinsi barat yang memiliki aktivitas geologis tinggi. Runtuhnya Jembatan Hongqi terjadi hanya beberapa bulan setelah selesai dibangun, menambah daftar insiden infrastruktur baru-baru ini di Cina. Saat ini, tim investigasi dan insinyur telah dikirim ke lokasi untuk menstabilkan lereng yang tersisa dan melakukan pemeriksaan teknis mendalam guna memastikan apakah ada faktor desain atau konstruksi yang turut berkontribusi terhadap bencana alam ini.
Hanya 2 Menit! Jembatan Tertinggi di Dunia Resmi Dibuka di Cina, Pangkas Waktu Tempuh 2 Jam

Memecah Jarak: Kereta Cepat Sydney-Newcastle Akhirnya Diberi Lampu Hijau

Proyek kereta cepat yang telah lama dinantikan di Australia, yang menghubungkan dua kota terbesar di New South Wales, Sydney dan Newcastle, kini semakin mendekati kenyataan. Setelah evaluasi positif dari Infrastructure Australia, koridor ini, yang akan menjadi tahap pertama dari jaringan Kereta Cepat Nasional (HSR) di Pantai Timur, siap untuk mengubah dinamika kehidupan, pekerjaan, dan perjalanan regional di Australia. Pemerintah Australia memprioritaskan jalur Sydney-Newcastle (sekitar 194 km) karena adanya masalah dan peluang kritis di koridor tersebut. Koridor ini diperkirakan akan menampung tambahan 9,2 juta orang pada tahun 2061. Dengan biaya perumahan yang sangat tinggi di Sydney, kereta cepat diharapkan dapat membuka kawasan regional seperti Central Coast dan Newcastle sebagai lokasi perumahan yang layak, mengurangi tekanan perumahan di kota metropolitan. Perjalanan kereta saat ini memakan waktu lebih dari 2,5 jam. Kereta cepat yang mampu melaju hingga 320 km/jam (dan 200 km/jam di terowongan perkotaan) akan memangkas waktu tempuh menjadi hanya 1 jam antara Newcastle dan Sydney Central. Tujuan utamanya adalah menciptakan hubungan yang efisien antara pusat-pusat regional dengan ibu kota, mengubah dinamika komuter dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah regional.
Australia, Jadi Satu-satunya Benua Tanpa Kereta Cepat!
Layanan kereta cepat ini diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang masif, seperti penciptaan perumahan (Land Unlock). Sekitar 58% dari manfaat yang diproyeksikan berasal dari potensi dibukanya lahan (unlocking land) di wilayah regional, yang dapat menciptakan hingga 150.000 rumah baru. Juga memungkinkan penduduk di Newcastle dan Central Coast untuk mengakses peluang kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan di Sydney, tanpa harus pindah dari komunitas regional mereka. Dengan kecepatan yang lebih kompetitif daripada mengemudi atau bahkan penerbangan pendek, kereta cepat diharapkan dapat mengurangi kemacetan jalan raya dan memindahkan penumpang dari moda transportasi yang kurang ramah lingkungan. Meskipun potensi manfaatnya besar, proyek sebesar ini bukannya tanpa risiko dan tantangan, terutama dalam kaitannya dengan masyarakat regional, seperti risiko kenaikan harga properti. Kereta cepat akan menjadikan kawasan Central Coast dan Lake Macquarie sebagai kawasan komuter yang sangat menarik ke Sydney. Hal ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga properti yang cepat di kota-kota kecil tersebut.
Jika Berkuasa, Partai Buruh Akan Buka Rute Kereta Berkecepatan Tinggi di Australia
Kenaikan harga ini dapat mengorbankan penduduk lokal yang sudah lama tinggal, di mana mereka mungkin tidak mampu lagi membeli atau menyewa di komunitas mereka sendiri karena masuknya komuter berkantong tebal dari Sydney. Ada risiko bahwa kota-kota regional, seperti Central Coast, hanya akan berfungsi sebagai “kota tidur,” di mana penduduknya hanya pulang untuk tidur dan menghabiskan sebagian besar penghasilan dan waktu mereka di Sydney. Kereta cepat hanya akan berhasil jika diikuti oleh investasi besar pada infrastruktur lokal (sekolah, layanan kesehatan, jalan lokal) untuk mendukung lonjakan populasi. Tanpa investasi ini, pertumbuhan regional dapat menyebabkan ketegangan sosial dan sistemik. Jalur sepanjang 194 km ini memerlukan pembangunan yang kompleks, termasuk sekitar 115 km terowongan untuk melintasi pegunungan dan memasuki Sydney. Biaya konstruksi di area perkotaan padat akan sangat tinggi. Proyek HSR biasanya membutuhkan dukungan finansial dan politik yang masif dan berkelanjutan dari pemerintah federal. Keraguan atau perubahan pemerintahan di masa depan dapat menunda atau bahkan membatalkan proyek. Saat ini, proyek Sydney-Newcastle berada dalam Fase Pengembangan, di mana Otoritas Kereta Cepat Tinggi akan menyelesaikan hingga 40% desain, mengamankan jalur koridor, dan memfinalisasi perkiraan biaya sebelum diserahkan untuk persetujuan konstruksi akhir oleh Pemerintah Federal.
Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal

Hore! Stasiun Jakarta Kota Bakal Punya Monumen KRL, Ini Kata Dirut KCI

Stasiun Jakarta Kota kembali diramaikan dengan acara spesial yang kembali membuat para pecinta kereta api ini hadir. Serangkaian acara termasuk pelepasan/purnatugas rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) yang telah dipilih, yakni seri 8500, 203 dan 7000. Direktur Utama PT KAI Commuter, Asdo Artriviyanto mengatakan pada hari tersebut, ketiga seri KRL tersebut resmi pensiun melayani penumpang KRL Jabodetabek pada Selasa (11/11).
Pecinta kereta api melambaikan tangan dan berteriak “arigatou” saat purnatugas di wilayah Jabodetabek.
Dalam acaranya sendiri, KRL Seri 8500 menjadi KRL tertua di Jabodetabek saat ini, di mana sejak beroperasi di Jepang hingga di Indonesia, usianya sudah mencapai setengah abad atau 50 tahun. Namun di Indonesia, usianya sudah hampir 20 tahun. Penjelasan sejarah secara singkat mengatakan, KRL Seri 8500 sendiri diproduksi oleh Tokyu Car Corporation pada 1975, di mana saat ini namanya sudah berubah menjadi Japan Transport Engineering Company (J-Trec). Di Jepang, KRL ini dioperasikan oleh Tokyu Corporation. Acara pelepasan diwarnai sorak-sorai dan tepuk tangan panjang saat ketiga KRL terakhir kali masuk peron Stasiun Jakarta Kota. Sejumlah penumpang bahkan membawa poster bertuliskan “Terima Kasih KRL Jepang” dan bunga sebagai bentuk penghormatan. PT KAI Commuter memastikan pensiunnya tiga rangkaian lawas ini tidak akan mengganggu jadwal perjalanan. Sebagai gantinya, perusahaan telah menyiapkan armada baru seri KRL INKA 2024 buatan dalam negeri yang mulai dioperasikan secara bertahap di lintas utama Jabodetabek. Disela-sela wawancara daat konferensi pers, Asdo menambahkan bahwa berencana akan membuat hal yang menggembirakan bahkan ini menjadi pertama dalam sejarah Stasiun Jakarta Kota. Hal tersebut dikatakan bahwa rangkaian KRL yang sudah pensiun terutama bagian kabin, akan dijadikan monumen dan diletakkan bagian utara luar stasiun. Hal ini menjadi kabar menggembirakan bahwa akhirnya Stasiun Jakarta Kota akan memiliki monumen KRL tersendiri untuk mengenang masa kejayaan saat bertugas di Jabodetabek. Selain itu KRL yang akan dipurnatugaskan akan dikonservasi di Stasiun Pasirbungur, Subang, Jawa Barat. Pensiunnya tiga KRL eks Jepang di Stasiun Jakarta Kota menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah transportasi perkotaan Indonesia. Meski era baru dengan armada modern telah dimulai, kenangan dan jasa kereta-kereta lawas itu akan selalu hidup di hati para penumpang yang pernah merasakan perjalanan bersamanya.
“Bon Bon,” Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

‘Kill Switch’ dari Beijing? Norwegia Tarik Ratusan Bus Listrik Setelah Temukan Akses Jarak Jauh ke Cina

Revolusi transportasi hijau di Eropa baru-baru ini menghadapi guncangan keras. Otoritas transportasi publik di Oslo, Norwegia, Ruter, menemukan adanya kerentanan keamanan siber yang mengejutkan pada armada bus listrik buatan Cina. Temuan ini—kartu SIM tersembunyi yang memungkinkan akses digital jarak jauh oleh produsen dari luar negeri—telah memicu kekhawatiran serius tentang potensi “sakelar pemutus” (kill switch) yang dapat mengganggu, bahkan menonaktifkan, bus dari jarak ribuan kilometer. Kasus ini berpusat pada bus listrik Yutong, pabrikan raksasa Cina yang mendominasi pasar bus listrik di Eropa, termasuk Norwegia. Ruter, yang mengoperasikan sekitar 300 bus Yutong di wilayah Oslo dan Akershus, melakukan audit keamanan siber yang ketat setelah meningkatnya kekhawatiran geopolitik
Yutong, Manufaktur Bus Terbesar di Dunia, Pernah Melayani TransJakarta
Hasil pengujian menyingkap adanya kartu SIM aktif (dilaporkan berasal dari Rumania) yang terintegrasi di dalam modem sistem kontrol bus. SIM ini bukan untuk penumpang, melainkan memungkinkan produsen, Yutong, untuk secara rutin mengakses sistem kontrol bus. Meskipun produsen mengklaim akses jarak jauh ini murni untuk tujuan diagnostik, pemeliharaan prediktif, dan pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA), Ruter menemukan potensi kerentanan yang tidak dapat diterima, akses jarak jauh yang tidak sepenuhnya dikontrol oleh operator lokal menciptakan potensi celah bagi pihak asing. Ancaman Kill Switch dalam skenario terburuk, Ruter menyimpulkan bahwa akses tersebut secara teknis dapat digunakan untuk mengirimkan perintah yang mengganggu fungsi operasional atau menonaktifkan bus saat sedang bergerak, yang memiliki implikasi keamanan publik yang mengerikan. Kekhawatiran Norwegia adalah tentang kedaulatan digital. Akses backdoor ini, meskipun tidak ada bukti penyalahgunaan saat ini, berpotensi mengubah bus menjadi target serangan siber state-sponsored yang dapat melumpuhkan jaringan transportasi penting. Menanggapi risiko ini, Ruter mengambil langkah drastis, yaitu pencabutan SIM Card, seluruh kartu SIM yang memungkinkan koneksi jarak jauh segera dicabut dari bus-bus Yutong yang beroperasi di wilayah Oslo. Bus-bus tersebut kini dipaksa beroperasi dalam mode lokal dan offline. Hal ini mengembalikan kontrol penuh kepada operator Norwegia tetapi sebagai konsekuensinya, bus tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak otomatis atau diagnostik jarak jauh yang dapat mengoptimalkan kinerja dan pemeliharaan. Penemuan di Norwegia ini telah bergema di seluruh Eropa. Negara-negara yang memiliki armada bus listrik buatan Cina dalam jumlah besar, seperti Denmark dan Inggris, dilaporkan mulai meninjau dan mengaudit keamanan siber pada bus mereka. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi negara-negara Barat, ketika beralih ke teknologi hijau dari pemasok luar negeri, harga yang dibayar mungkin bukan hanya uang, tetapi juga potensi kedaulatan atas infrastruktur penting nasional. Peristiwa di Oslo ini menandai dimulainya era baru, di mana keamanan siber dan pengawasan siber menjadi syarat utama dalam setiap pengadaan kendaraan transportasi publik.
Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

Revolusi Langit: Starlink Bawa WiFi Berkecepatan Tinggi ke Pesawat Komersial

Koneksi internet yang lambat, mahal, dan sering terputus di pesawat kini terancam menjadi masa lalu. Layanan internet satelit Low Earth Orbit (LEO) dari SpaceX, Starlink, telah resmi merambah sektor penerbangan komersial, menjanjikan kecepatan yang setara dengan koneksi di rumah bahkan saat pesawat berada di ketinggian jelajah puluhan ribu kaki. Maskapai-maskapai global, termasuk Qatar Airways, United Airlines, Hawaiian Airlines, dan Air France, berlomba-lomba memasang terminal Starlink di seluruh armada mereka, menjadikannya standar baru dalam pengalaman penumpang. Dibandingkan dengan sistem WiFi pesawat tradisional yang menggunakan satelit Geostationary Orbit (GEO) yang jauh (sekitar 35.000 km), Starlink menawarkan beberapa keunggulan signifikan, di antaranya seperti kecepatan dan latensi rendah. Satelit LEO Starlink mengorbit hanya sekitar 550 km dari Bumi. Jarak yang sangat dekat ini mengurangi waktu perjalanan data (latency). Kemudian kapasitas tinggi, jaringan mesh dengan ribuan satelit Starlink yang saling terhubung (termasuk menggunakan laser) mampu mengalokasikan bandwidth yang besar, memungkinkan setiap penumpang melakukan streaming video 4K, video call, atau bermain game online.Kapasitas mencukupi untuk streaming bagi setiap penumpang di pesawat. Karena Starlink memiliki ribuan satelit LEO di berbagai orbit, koneksi dapat dipertahankan di hampir seluruh rute penerbangan global, termasuk rute laut dan kutub yang sering menjadi “titik buta” bagi satelit GEO. Pemasangan terminal Starlink Aviation diklaim membutuhkan waktu hanya sekitar 4 hari per pesawat, jauh lebih cepat dan sederhana dibandingkan perangkat keras IFC (In-Flight Connectivity) konvensional. Meskipun keunggulannya luar biasa, adopsi Starlink di pesawat komersial menghadapi beberapa tantangan serius, pemasangan terminal Starlink (disebut Aero Terminal) pada setiap jenis pesawat memerlukan sertifikasi ketat dari regulator penerbangan, seperti FAA (Federal Aviation Administration) di AS atau EASA di Eropa. Proses sertifikasi ini membutuhkan waktu. Meskipun biaya bulanannya kompetitif (untuk maskapai), biaya hardware awal untuk terminal aviasi Starlink sangat tinggi, berkisar antara $20.000 hingga lebih dari $100.000 per pesawat. Terminal Starlink (termasuk radome di atas pesawat) harus seringan mungkin agar tidak menambah bobot pesawat secara signifikan dan memengaruhi efisiensi bahan bakar. Layanan Starlink memerlukan izin operasional dari setiap negara yang dilintasi atau diterbangi. Tantangan regulasi dan geopolitik dapat menciptakan celah layanan di rute-rute tertentu.
Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

KAI Services Hadirkan Menu Sarapan di KA Pandanwangi, Jember–Ketapang (Banyuwangi)

KAI Services melalui unit bisnis Kuliner Kereta resmi menghadirkan berbagai pilihan menu sarapan di Kereta Api Pandanwangi relasi Jember–Ketapang (Banyuwangi) mulai 1 November 2025. Kehadiran layanan ini memberikan pengalaman perjalanan pagi yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi para penumpang. Kini, pelanggan KA Pandanwangi dapat menikmati ragam menu sarapan favorit selama perjalanan, mulai dari Pop Mie hingga Bakso Enak yang hangat. Tidak hanya itu, tersedia pula aneka pilihan minuman seperti air mineral dan teh premium, yang dapat dinikmati langsung di Kereta Makan. Semua sajian dapat dipesan dengan mudah melalui Prama Prami yang siap melayani dengan ramah dan profesional. Dengan adanya layanan untuk membeli menu sarapan ini, penumpang dapat memulai hari dengan hidangan tanpa perlu repot mencari makanan di pagi hari. Menyantap sajian hangat sambil menikmati panorama sepanjang perjalanan menuju Banyuwangi tentu memberikan pengalaman tersendiri. Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menyampaikan bahwa penambahan layanan kuliner ini merupakan bentuk komitmen KAI Services dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan. “Kini penumpang dapat memesan sarapan sebagai langkah mengawali hari dalam perjalanan menggunakan KA Pandanwangi yang berangkat pukul 05.10 WIB dari Stasiun Jember menuju Stasiun Ketapang. Dengan hadirnya menu sarapan di KA Pandanwangi, penumpang tidak perlu khawatir untuk mencari sajian makanan di pagi hari karena sudah tersedia di kereta makan,” ujar Nyoman dalam keterangan resminya, Senin (10/11).
KA Pandanwangi Kembali Beroperasi di Daop 9 Jember

Masih Berdiri Kokoh, Dahulu Halte Kalimenur dapet Predikat Julukan Nama Unik

Meski tak terawat, bangunan ini masih berdiri kokoh dan tetap terlihat keseluruhan bangunan aslinya. Ya, Halte Kalimenur yang digadang-gadang memiliki panorama jalur kereta api yang eksotik ini ternyata mendapat predikat julukan nama unik. Padahal halte yang non aktif ini terlihat biasa saja. Halte ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan rel kereta api Surabaya-Cilacap pada tahun 1887. Hingga masa revolusi, Halte Kalimenur menjadi tempat pemberhentian yang ramai penumpang di mana waktu itu kereta api masih menggunakan tenaga lokomotif uap. Lantas, apa keunikan nama yang diberikan Haltr Kalimenur ini? Ya, halte ini dulu mendapat julukan Stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang adalah para penjual tahu dari Desa Tuksono yang hendak berjualan tahu ke Kota Yogyakarta atau Kutoarjo. Pada masa revolusi sekitar tahun 1948, Halte Kalimenur pernah dibom oleh Belanda hingga hancur. Djawatan Kereta Api (DKA) kemudian membangun kembali dan meresmikan Stasiun Kalimenur sebagai tempat pemberhentian kereta pada tahun 1954. Namun sejak tahun 1974, Halte Kalimenur tidak beroperasi lagi. Posisinya dinilai tidak strategis, sepi penumpang, dan berada di tikungan besar. Walaupun sempat terkena bom, arsitektur bangunan Halte Kalimenur sampai sekarang masih asli peninggalan Belanda.
Plat bertuliskan Stasiun Kalimenur dengan aksara Jawa.
Bagusnya, halte ini masih dipertahankan karena masa kejayaan Indonesia saat itu menjadikan Kalimenur sebagai saksi bisu khususnya kereta api. Akses menuju Halte Kalimenur pun tidaklah sulit. Ada jalan desa tepat berada di samping halte yang memungkinkan bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4. Tak heran banyak masyarakat pecinta kereta api tak bosan berkunjung di Halte Kalimenur hanya sekadar berfoto/video sekaligus saat kereta api melintas. Diketahui kereta api yang melewati Halte Kalimenur pun terbilang ramai, baik dari arah barat (Jakarta/Bandung) maupun daei timur (Yogyakarta/Malang/Surabaya). Sempat terjadi kisah kelam yang membuat perjalanan kereta api dekat dengan Halte Kalimenur adalah insiden anjloknya Kereta Api Argo Semeru. Kejadian tersebut terjadi pada 17 Oktober 2023 di mana saat itu kereta tersebut beroperadi pada relasi Surabaya Gubeng – Gambir di km 520+4, tepatnya di depan Halte Kalimenur. Maka tak heran, halte yang berlokasi di Sukoreno, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kini Halte Kalimenur masih digandrungi para pecinta kereta api dari berbagai wilayah yang turut mengabadikan kereta api melintas dengan latar belakang Halte Kalimenur yang bersejarah.
Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Railfans Wajib Hadir! Mini Museum KRL Hadir Satu Minggu di Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun terbesar dan bersejarah di wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Stasiun ini terkenal ramai dengan masyarakat dari berbagai wilayah Jabodetabek untuk sekedar menghabiskan waktu bersama rekan bahkan keluarga. Tak hanya itu, stasiun yang terkenal dengan sebutan Beos ini pun pernah diadakan acara khusus yang bertemakan kereta api, seperti Parade 100 tahun oprerasional Kereta Rel Listrik (KRL) yang diselenggarakan pada 6 April 2025 lalu. Acara tersebut menarik perhatian masyarakat khususnya pecinta kereta api di Indonesia. Nah,kini PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama komunitas Indonesian Railway Praservation Society (IRPS) menggelar acara spesial berupa museum mini yang diselenggarakan di Stasiun Jakarta Kota. Seperti diketahui bahwa pagelaran museum biasanya diadakan di gedung atau galery dengan ornamen-ornamen yang bersejarah dan bernilai harganya. Namun, acara museum mini ini menggunakan rangkaian KRL seri 8500 (8518 – 8618) yang interiornya dilengkapi dengan ornamen unik khas Negeri Sakura. Selain itu, ada pula berbagai macam miniatur kereta yang di pamerkan termasuk KRL dari masa ke masa. Dan tak lupa informasi mengenai undang-undang perkeretaapian seperti tertib berlalu lintas di perlintasan kereta hingga kampanye anti pelecehan seksual.
Kampanye undang-undang pelecehan sexual yang ada di dalam interior museum mini KRL.
Museum mini yang menggunakan KRL ini ternyata tidak dipungut biaya alias gratis. Peserta yang hadir bisa dari seluruh kalangan (mulai dari anak hingga dewasa) dengan mendaftar atau registrasi langsung di lokasi. Setelah registrasi masyarakat bisa langsung masuk ke dalam rangkaian KRL dan bisa mengabadikan pernak pernik yang dipamerkan. Acara tersebut berlangsung satu minggu yakni mulai tanggal 10 – 16 November 2025. Dibuka untuk umum mulai pukul 13.00 WIB – 19.00 WIB. Selain rangkaian KRL seri 8500 yang dipamerkan, nantinya ada 2 rangkaian KRL lagi yang akan bertandang di Stasiun Jakarta Kota. Kedua KRL tersebut adalah seri 203 dan 7000. Dipilihnya ketiga seri tersebut karena di tahun ini masa dinas/beroperasinya KRL tersebut sudah habis. Jadi tidak ada lagi yang wara-wiri di jalur Jabodetabek. Nah, mini museum tersebut juga sekaligus mengenang jasa-jasa KRL yang sudah beroperasi di kawasan Jabodetabek dengan menampilkan foto-foto mulai dari awal kedatangan di Indonesia.
Pendatang Wajib Tahu! Inilah Stasiun Kereta Api Paling Populer di Seputar Jakarta

Atasi Risiko Tertabrak Kereta, Inggris Ciptakan Aplikasi “Peringatan” Berbasis LBS

Masalah kecelakaan kereta hampir tiap hari terdengar dimana-mana, apalagi dengan kondisi pejalan kaki yang kerap menyeberang rel di perlintasan sebidang. Para penyeberang rel kereta terkadang sengaja menyeberang di detik-detik kereta akan melintas, tujuannya boleh jadi untuk membuat sensasi, ataupun memang tidak mendengar adanya kereta karena sibuk dengan gadget yang digunakannya. Baca juga: Bukti Cinta Pada Kereta, Halaman Belakang Rumah Disulap Jadi Replika Stasiun Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk, dari hasil CCTV yang berada di Simpson’s Foot Crossing di Sittingbourne – Kent, Inggris, memperlihatkan banyak remaja tanggung dan anak muda yang berkeliara di sekitaran jalur kereta. Terlihat mereka duduk-duduk, tiduran hingga mengambil foto tepat berada di tengah jalur kereta api tanpa mengingat bahaya yang ada di depan mata.
Daily Mail
Dari hasil survei Nertwork Rail, terungkap bahwa sebanyak 70 persen dari tiga gangguan teratas penyeberangan rel kereta api yakni teman 4 persen, ponsel 12 persen dan penggunaan ponsel 20 persen. Dari hasil ini, sepertiganya atau 29 persennya para pemuda ini mengaku menggunakan ponsel saat melintasi jalur kereta api. Sebanyak 95 persen diketahui berusia dibawah 25 tahun dan memiliki ponsel serta menghabiskan waktu sebanyak dua kali lipat dalam menggunakan ponsel dibandingkan rata-rata pada umumnya. Baca juga: Dibalik Sengkarut Jadwal Kereta Bawah Tanah di New York Dari beberapa problem diatas, Network Rail memperkenalkan teknologi untuk menyadarkan pengguna jalan yang menggunakan ponsel saat menyeberang di jalur kereta. Sebenarnya perilisan video ini juga bertepatan dengan pengenalan polisi transportasi Inggris pada aplikasi berbasis geografi dan LBS (Location Based Service) untuk mengingatkan para pejalan kaki di aplikasi ponsel saat mereka mendekati persimpangan rel kereta agar berhati-hati.
Daily Mail
Video ini juga digunakan untuk mendidik anak-anak tentang bahayanya berjalan di sepanjang rel kereta api. Dalam video tersebut menampilkan sebuah identifikasi dan resiko yang akan dirasakan bila berdiri, tiduran hingga mengambil gambar. “Banyak anak muda yang tidak memikirkan bahaya kereta api dan orang tua akan tahu betapa sulitnya menyeret anak-anak mereka menjauh dari penggunaan ponsel,” ujar Manager Keamanan Komunitas Network Rail, Nicola Dooris.
Daily Mail