Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul
Proyek Kereta Maglev Incheon Senilai 450 Miliar Won Kini Jadi “Gajah Putih” yang Sepi Penumpang
Kereta Cepat Hong Kong Ekspansi: Tambah 16 Destinasi Baru ke Cina Daratan Mulai Januari 2026
Terkait Jalur Kereta Cepat, ‘Lima Besar’ Jembatan Kereta Terpanjang di Dunia Semua ada di Cina
140 Tahun Lenyap Termakan Modernisasi, Stasiun Cicalengka Kini Terlihat Megah
Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda
Bus Listrik Cina Rajai Asia Tenggara: Ujung Tombak Dekarbonisasi Transportasi Publik
Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di CinaLangkah serupa terlihat di Singapura. Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura secara agresif memperbarui armada busnya dengan target elektrifikasi 100% pada tahun 2040. Baru-baru ini, kontrak pengadaan ratusan bus listrik baru kembali dimenangkan oleh konsorsium yang melibatkan produsen Cina, memperkuat posisi mereka sebagai penyedia infrastruktur transportasi bersih yang paling diandalkan. Faktor Kunci Kesuksesan China Ada beberapa faktor utama yang membuat bus listrik China menjadi pilihan utama dalam agenda dekarbonisasi Asia Tenggara: Efisiensi Operasional Berbeda dengan bus diesel, bus listrik Cina menawarkan transmisi otomatis yang lebih halus, biaya perawatan yang lebih rendah, serta kemudahan sistem pengisian daya semalam (overnight charging) di depo. Infrastruktur yang Terintegrasi Perusahaan Cina tidak hanya menjual bus, tetapi juga menawarkan solusi ekosistem lengkap, termasuk pemasangan stasiun pengisian daya dan sistem manajemen baterai. Dukungan Kebijakan Pemerintah Banyak negara ASEAN, seperti Thailand dan Malaysia, memberikan insentif pajak dan subsidi bagi kendaraan listrik impor maupun rakitan lokal, yang sangat menguntungkan model bisnis ekspansif perusahaan Cina. Meskipun mendominasi secara teknis dan ekonomi, tantangan bagi perusahaan Cina tetap ada, terutama terkait sentimen geopolitik di beberapa negara. Di Filipina, misalnya, meskipun bus listrik Cina sangat efisien, ketegangan di Laut Cina Selatan terkadang memicu politisasi terhadap teknologi asal Cina. Namun, di tengah tekanan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kebutuhan akan transportasi publik yang bersih tampaknya lebih kuat dibandingkan hambatan politik. Dengan target dekarbonisasi yang ambisius di seluruh ASEAN, bus listrik Cina diprediksi akan terus menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan yang lebih hijau, senyap, dan berkelanjutan di masa depan.
Ancaman Sabotase! Bus Listrik Cina di Inggris Diduga Memiliki ‘Kill Switch’ yang Bisa Dimatikan Jarak Jauh
Japan Airlines Cemas: Tren Anak Muda Jepang Berhenti Lakukan Perjalanan Luar Negeri
Garuda Indonesia dan Japan Airlines “Joint Business” Berupa Codeshare
Mengenal Jembatan KA Rancagoong, Mahakarya Kolonial yang Masih Kokoh Hingga Kini
Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia
Penumpang Cathay Pacific Dipenjara di Hong Kong Akibat Ambil Foto Upskirt Ilegal Pramugari
Atasi Jenuh, Apa yang Dilakukan Pramugari di Pesawat Saat Penerbangan Jarak Jauh? Ini 13 Jawabannya
Wajah Baru KA Gajayana Sudah Pakai Stainless Steel New Generation, Siapa Kereta Selanjutnya?
Menjajal Sensasi KA Gajayana “Next Generation” dari Malang ke Jakarta
Hari Ini 36 Tahun Lalu, McDonnell Douglas MD-11 Terbang Perdana dan Bikin Pabrikan Bangkrut
Pada hari ini, 35 tahun lalu, bertepatan dengan 10 Januari 1990, pesawat McDonnell Douglas MD-11 sukses melakukan penerbangan perdana. Pesawat hasil pengembangan dari DC-10 ini digadang bakal lebih sukses dibanding pendahulunya. Tetapi, dugaan itu salah dan MD-11 hanya laku sebanyak 200 unit sejak produksi dimulai pada 1988 dan stop produksi pada tahun 2000.
Baca juga: Bisakah MD-11 Tetap Terbang Bila Kedua Mesin di Sayap Rusak? Simak Jawabannya
Dilansir laman mcdonnelldouglas.weebly.com, MD-11 dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar yang menginginkan pesawat yang lebih modern dan lebih besar dibanding pendahulunya, DC-10.
Menyambut kebutuhan tersebut, pengembangan MD-11 pun dilakukan pada 30 Desember 1986. Setelah melalui proses penelitian panjang, perakitan prototipe pertama MD-11 dimulai tanggal 9 Maret 1988. Pabrikan terus mengebut proses pengerjaan sampai akhirnya diluncurkan atau diperkenalkan ke publik untuk pertama kalinya pada September 1989 dan berhasil terbang perdana pada 10 Januari 1990.
MD-11 memiliki beberapa perbedaan yang sangat mencolok dengan DC-10, di antaranya badan pesawat yang lebih panjang, mesin baru Pratt & Whitney PW4460 yang dinilai lebih efisien dan lebih cepat, winglet baru, dan penggunaan material komposit yang mulai marak di zamannya.
Perbedaan paling mencolok lainnya tentu di bagian kokpit. DC-10 diketahui masih mengusung konsep analog pada kokpit sehingga membutuhkan bantuan flight engineer di setiap penerbangan. Itu berbeda dengan MD-11 yang sudah mengusung enam unit flat screen glass display di kokpit.
Komputer canggih Honeywell VIA juga sanggup menggantikan peran flight engineering, mengikuti gebrakan Airbus yang mengusung two men cockpit atau dua orang dalam kokpit. Ini disebut Advanced Common Flight Deck atau ACF.
Menariknya, meski di tahun dimana pesawat dikembangkan pesawat twin engine sudah mulai menggeliat, MD-11 diputuskan untuk tetap mengusung trijet sebagaimana pendahulunya, DC-10.
Namun, MD-11, yang termasuk dalam salah satu pesawat widebody terpopuler ketika itu, tetap diplot sebagai kompetitor sejati dari Boeing 747 dan Airbus A330 yang masing-masing mengusung empat mesin dan dua mesin.
Pilihan tersebut pada akhirnya sangat fatal. MD-11 hanya terjual 200 unit secara global dan digunakan oleh beberapa maskapai kenamaan, seperti Finnair, Alitalia, KLM, Delta Airlines, China Eastern Airlines, Korean Air, American Airlines, Japan Airlines, dan Garuda Indonesia.
Selain tidak laku di pasaran, dimana maskapai lebih memilih untuk menggunakan widebody twinjet seperti Boeing 767, Boeing 777, dan Airbus A330, mahalnya pengembangan MD-11 juga tak sebanding dengan penjualan dan membuat kinerja keuangan perusahaan merosot dan akhirnya stop produksi setelah MD-90.
Baca juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43
Beberapa tahun kemudian, pabrikan dicaplok (merger) Boeing dengan mahar sebesar US$13,3 miliar di akhir abad ke-21, tepatnya pada tahun 1997.
Sampai saat ini, MD-11 masih eksis menghiasi langit dunia. Tetapi, tidak sebagai penerbangan penumpang, melainkan sebagai penerbangan kargo, salah satunya bersama FedEx.
