Proyek Kereta Maglev Incheon Senilai 450 Miliar Won Kini Jadi “Gajah Putih” yang Sepi Penumpang

Proyek ambisius kereta rel magnet (maglev) di Bandara Internasional Incheon, yang menelan investasi fantastis sebesar 450 miliar won (sekitar Rp 5,3 triliun), kini tengah menghadapi krisis finansial yang serius. Meskipun sempat digadang-gadang sebagai sistem transportasi masa depan, kereta ini kini justru dijuluki sebagai “Gajah Putih” karena jumlah penumpangnya yang sangat minim. Berdasarkan laporan terbaru pada Januari 2026, jumlah penumpang harian rata-rata kereta maglev ini hanya berkisar di angka 1.000 orang. Angka tersebut sangat jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan prediksi awal saat proyek ini dirancang, yakni antara 30.000 hingga 40.000 penumpang per hari. Dibangun oleh pemerintah pusat, pemerintah kota Incheon, dan Incheon International Airport Corporation, kereta maglev ini resmi dibuka pada tahun 2016. Saat itu, Korea Selatan berambisi menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan kereta maglev perkotaan setelah Jepang. Teknologi ini dipuji karena tingkat kebisingan yang rendah dan minim getaran karena kereta melayang di atas rel menggunakan gaya magnet. Namun, prediksi permintaan penumpang terbukti meleset total. Rencana awal pembangunan hotel, resor, dan taman air di sepanjang rute 6,1 kilometer tersebut banyak yang terbengkalai atau batal. Sebagai contoh, di sekitar stasiun “Water Park,” tidak ditemukan taman air sama sekali—hanya hamparan lahan kosong tanpa rencana pembangunan yang jelas. Dari Transportasi Umum Menjadi Kereta Wisata Sempat dihentikan operasionalnya selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19, layanan ini baru dilanjutkan kembali pada Oktober tahun lalu. Untuk menekan kerugian operasional yang membengkak, status kereta ini diubah dari “transportasi perkotaan” menjadi “kereta wisata.” Langkah efisiensi juga dilakukan dengan memangkas frekuensi perjalanan secara drastis, dari sebelumnya 103 perjalanan per hari menjadi hanya 24 perjalanan. Hal ini berhasil menurunkan biaya operasional tahunan dari 8 miliar won menjadi 5 miliar won, namun tetap tidak mampu mendongkrak jumlah penumpang. Masa depan proyek ini terlihat semakin kelam. Studi dari Kementerian Pertahanan dan Infrastruktur Korea Selatan memperkirakan bahwa diperlukan dana tambahan sebesar 400 miliar won untuk biaya perawatan selama 30 tahun ke depan. Opsi pembongkaran sempat dibahas, namun biaya untuk meruntuhkan infrastruktur tersebut diperkirakan mencapai 60 miliar won, sebuah beban finansial tambahan yang sulit ditanggung. Para ahli mengkritik pemerintah karena terlalu optimis terhadap teknologi baru tanpa riset pasar yang mendalam, yang akhirnya berujung pada pemborosan dana publik yang masif. Kini, kereta maglev Incheon menjadi simbol peringatan bagi proyek-proyek infrastruktur berbasis teknologi tinggi lainnya agar lebih realistis dalam memprediksi kebutuhan publik dan pengembangan wilayah di sekitarnya.
Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul

Kereta Cepat Hong Kong Ekspansi: Tambah 16 Destinasi Baru ke Cina Daratan Mulai Januari 2026

Konektivitas antara Hong Kong dan Cina daratan akan semakin erat. Operator kereta api MTR mengumumkan bahwa jaringan kereta cepat (High-Speed Rail) bagian Hong Kong akan memperkenalkan 16 destinasi baru mulai tanggal 26 Januari 2026. Penambahan ini akan menghubungkan Stasiun West Kowloon di Hong Kong dengan berbagai kota wisata populer di provinsi Jiangsu dan Anhui. Langkah ini diharapkan dapat mendorong sektor pariwisata dan memfasilitasi perjalanan bisnis lintas batas yang lebih efisien menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Beberapa kota utama yang masuk dalam daftar destinasi baru, seperti Nanjing (Provinsi Jiangsu), Wuxi (Provinsi Jiangsu), dan Hefei (Provinsi Anhui) Dengan penambahan 16 lokasi ini, total destinasi yang dapat diakses secara langsung dari Stasiun West Kowloon Hong Kong kini mencapai 110 destinasi. Ini menandai tonggak sejarah baru dalam integrasi infrastruktur transportasi antara wilayah administratif khusus tersebut dengan daratan utama. Selain penambahan rute, MTR juga mengumumkan peningkatan layanan pada rute yang sudah ada guna memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang, yakni dengan hadirnya Kereta Tidur Shanghai Hongqiao, layanan ini, yang sebelumnya hanya beroperasi dari hari Jumat hingga Senin, akan ditingkatkan menjadi keberangkatan setiap hari. Frekuensi kereta dari dan menuju Stasiun Guangzhounan juga akan ditambah untuk mengakomodasi tingginya permintaan penumpang yang terus meningkat. CEO MTR, Jeny Yeung, menyatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama erat dengan pemerintah Hong Kong (HKSAR) dan otoritas perkeretaapian daratan Cina untuk terus memperluas jaringan ini. “Penambahan destinasi baru ini bertujuan untuk memfasilitasi perjalanan lintas batas, membuka potensi ekonomi dari jalur kereta cepat, serta mendukung strategi pembangunan nasional,” ujar Yeung dalam pernyataan resminya. Ekspansi ini dilakukan tepat waktu untuk menyambut arus mudik dan liburan. Dengan akses harian yang lebih mudah dan jangkauan kota yang lebih luas, kereta cepat tetap menjadi pilihan utama bagi warga Hong Kong dan wisatawan dari Cina daratan untuk bepergian dengan nyaman, aman, dan cepat.
Terkait Jalur Kereta Cepat, ‘Lima Besar’ Jembatan Kereta Terpanjang di Dunia Semua ada di Cina

140 Tahun Lenyap Termakan Modernisasi, Stasiun Cicalengka Kini Terlihat Megah

Perjalanan kereta Commuter Line Bandung Raya dari Stasiun Padalarang yang berakhir di Stasiun Cicalengka memang menjadi favorit khususnya warga Bandung. Dengan adanya transportasi berbasis rel yang murah meriah ini masyarakat sangat terbantu. Seperti halnya penumpang yang menggunakan kereta Commuter Line dari Stasiun Cicalengka. Saat ini Stasiun Cicalengka sudah semakin terlihat modern dan megah. Ini karena PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dan Kementerian Perhubungan telah membangun stasiun yang lebih nyaman dan bisa menampung penumpang lebih banyak. Apalagi Stasiun Cicalengka sebagai pemberhentian kedatangan dan keberangkatan kereta lokal di kawasan Bandung. Sebelumnya, Stasiun Cicalengka merupakan stasiun dengan model arsitektur lama yang telah berdiri lebih dari satu abad. Stasiun tua yang diresmikan pada 10 September 1884 itu telah dibongkar sejak akhir Agustus 2024 lalu. Bangunan lama Stasiun Cicalengka bersejarah yang telah genap berusia 140 tahun kini lenyap termakan pemugaran proyek moderenisasi. Stasiun Cicalengka pada hakikatnya merupakan sebuah cagar budaya sesuai dengan ketetapan Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Pasal 5 yang berbunyi: Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun; c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Sebelum dilakukan pemugaran, sebenarnya ada harapan untuk menolak pembongkaran total stasiun tersebut. Salah satu usulannya adalah bangunan Stasiun Cicalengka tetap dipertahankan atau dibuat alternatif lain misalkan disulap menjadi museum, karena Stasiun Cicalengka sudah bisa dikatakan sebagai cagar budaya menurut undang-undang dan harus dilindungi. Umur Stasiun Cicalengka sendiri hampir mencapai 140 tahun dan sarat akan peristiwa-peristiwa bersejarah yang menjadi penting untuk penguatan kepribadian bangsa. Hal tersebut patut menjadi perhatian bersama, menyamakan persepsi dan membuat pergerakan agar ke depann cagar budaya ini tidak hilang dari ingatan. Bangunan baru stasiun saat ini memiliki fasilitas yang cukup terbantu berupa skybridge dengan akses anak tangga dan lift sudah berdiri di area Stasiun Cicalengka. Jembatan ini menghubungkan sisi utara dan selatan stasiun. Pekerja terus beraktivitas mengerjakan pembangunan stasiun baru ini. Di sisi timur, bangunan stasiun lama yang bersejarah masih berdiri utuh. Benda-benda bersejarah lain yang masih ada yaitu meja putar lokomotif dan corong air untuk mengisi ketel uap lokomotif di masa lalu. Sejarah mengatakan bahwa Stasiun Cicalengka bergulir sejak tahun 1862 saat Cicalengka berstatus sebagai ibukota Afdeling Bandung Selatan. 1871 Afdeling Bandung Selatan dirubah jadi Afdeling Cicalengka. Sebagai salah satu afdeling penghasil komoditi utama perkebunan, Stasiun Cicalengka berdiri dan resmi beroperasi mengangkut manusia dan barang pada 10 September 1884. Stasiun Cicalengka juga tercatat dalam sejarah perkeretaapian sebagai bagian dari awal terhubungnya jaringan kereta api jalur barat di Jawa Barat antara Cianjur dengan Bandung. Sepertinya jelas Stasiun Cicalengka memiliki nilai historis dan layak diajukan jadi bangunan cagar budaya.
Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda

Bus Listrik Cina Rajai Asia Tenggara: Ujung Tombak Dekarbonisasi Transportasi Publik

Upaya negara-negara di Asia Tenggara untuk mencapai target emisi nol bersih (net-zero emissions) kini memiliki “wajah” baru yang sangat dominan, yaitu bus listrik asal Cina. Dalam laporan terbaru, raksasa otomotif dari Negeri Tirai Bambu tercatat memimpin pasar kendaraan listrik komersial di kawasan ini, mengungguli pemain tradisional dari Jepang dan Eropa yang selama puluhan tahun menguasai transportasi publik regional. Dominasi ini bukan tanpa alasan. Produsen seperti BYD, Yutong, Skywell, dan Zhongtong menawarkan kombinasi antara harga yang kompetitif, teknologi baterai yang matang, serta kemampuan produksi massal yang belum tertandingi. Indonesia menjadi salah satu pasar paling dinamis bagi bus listrik Cina. Melalui operator transportasi publik Transjakarta, ratusan armada bus listrik buatan BYD dan Skywell telah beroperasi di rute-rute utama ibu kota. Pemerintah Indonesia bahkan menargetkan elektrifikasi penuh hingga 10.000 unit armada Transjakarta pada tahun 2030, di mana sebagian besar pasokan diharapkan datang dari kemitraan dengan perusahaan Cina yang telah membangun fasilitas perakitan lokal.
Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina
Langkah serupa terlihat di Singapura. Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura secara agresif memperbarui armada busnya dengan target elektrifikasi 100% pada tahun 2040. Baru-baru ini, kontrak pengadaan ratusan bus listrik baru kembali dimenangkan oleh konsorsium yang melibatkan produsen Cina, memperkuat posisi mereka sebagai penyedia infrastruktur transportasi bersih yang paling diandalkan. Faktor Kunci Kesuksesan China Ada beberapa faktor utama yang membuat bus listrik China menjadi pilihan utama dalam agenda dekarbonisasi Asia Tenggara: Efisiensi Operasional Berbeda dengan bus diesel, bus listrik Cina menawarkan transmisi otomatis yang lebih halus, biaya perawatan yang lebih rendah, serta kemudahan sistem pengisian daya semalam (overnight charging) di depo. Infrastruktur yang Terintegrasi Perusahaan Cina tidak hanya menjual bus, tetapi juga menawarkan solusi ekosistem lengkap, termasuk pemasangan stasiun pengisian daya dan sistem manajemen baterai. Dukungan Kebijakan Pemerintah Banyak negara ASEAN, seperti Thailand dan Malaysia, memberikan insentif pajak dan subsidi bagi kendaraan listrik impor maupun rakitan lokal, yang sangat menguntungkan model bisnis ekspansif perusahaan Cina. Meskipun mendominasi secara teknis dan ekonomi, tantangan bagi perusahaan Cina tetap ada, terutama terkait sentimen geopolitik di beberapa negara. Di Filipina, misalnya, meskipun bus listrik Cina sangat efisien, ketegangan di Laut Cina Selatan terkadang memicu politisasi terhadap teknologi asal Cina. Namun, di tengah tekanan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kebutuhan akan transportasi publik yang bersih tampaknya lebih kuat dibandingkan hambatan politik. Dengan target dekarbonisasi yang ambisius di seluruh ASEAN, bus listrik Cina diprediksi akan terus menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan yang lebih hijau, senyap, dan berkelanjutan di masa depan.
Ancaman Sabotase! Bus Listrik Cina di Inggris Diduga Memiliki ‘Kill Switch’ yang Bisa Dimatikan Jarak Jauh

Viral! Penumpang Tunanetra Kecebur Selokan Setelah Petugas Tolak Bantu Dampingi, Transjakarta Bilang Begini

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) buka suara usai insiden viral penumpang tunanetra masuk ke selokan yang terletak tak jauh dari halte. Sebelum kejadian, penyandang disabilitas sensorik tersebut sudah meminta pendampingan dari petugas Transjakarta namun ditolak. Baca juga: Gebrakan Transjakarta di 2026: Tingkatkan Pramudi Perempuan 10 Kali Lipat – Daycare di Halte Besar Dalam video viral yang dilihat KabarPenumpang.com, tampak pakaian rekan tunanetra yang memegang tongkat putih atau white cane itu berlumuran lumpur di bagian lengan dan belakang kiri. Celana panjang hitam bagian kiri yang dikenakannya juga terlihat basah, sejalan dengan narasi yang menyebut telah tercebur ke dalam selokan. “Saudara-saudara, ini ada tunanetra turun dari Transcares (Transjakarta Cares) tadi ga diantar sama petugasnya padahal tadi beliau sudah minta tolong diantar sampai pintunya tapi dari petugas bilangnya mohon maaf tinggal lurus ngikutin aja tapi ternyata di daerah sini, PLN Bulungan, ada got besar jadinya beliau ternyata (masuk ke selokan),” jelas perekam dalam video viral tersebut. Usai kejadian tersebut, Transjakarta buka suara. Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Transjakarta, Tjahyadi DPM, mengaku menyayangkan kejadian tersebut dan mengaku telah berkomunikasi dengan korban atau penumpang tunanetra yang terjatuh ke selokan. Lebih lanjut, pihaknya juga akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Baca juga: 15 Golongan Ini Gratis Naik Bus Transjakarta, MRT, dan LRT “Kami menyesalkan kejadian tersebut dan telah berkomunikasi dengan pelanggan. Transjakarta siap memberikan perhatian serta pendampingan kepada pelanggan yang bersangkutan,” jelasnya. “Saat ini kami melakukan evaluasi internal dan memperkuat kembali standar pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang,” tutupnya.

Japan Airlines Cemas: Tren Anak Muda Jepang Berhenti Lakukan Perjalanan Luar Negeri

Maskapai nasional Japan Airlines (JAL) secara resmi menyatakan keprihatinannya terhadap tren penurunan minat perjalanan internasional di kalangan generasi muda Jepang. Fenomena yang disebut sebagai “pengunduran diri dari perjalanan” ini dianggap sebagai ancaman serius bagi pertumbuhan jangka panjang industri penerbangan dan pariwisata di Negeri Sakura. Pihak manajemen JAL mencatat bahwa meskipun sektor perjalanan global mulai pulih sepenuhnya pasca-pandemi, anak muda Jepang (khususnya Gen Z dan milenial) justru menunjukkan kecenderungan untuk tetap berada di dalam negeri. Berdasarkan laporan terbaru, ada beberapa faktor krusial yang membuat kaum muda Jepang enggan terbang ke luar negeri: Pelemahan Nilai Tukar Yen Nilai tukar Yen yang masih rendah terhadap Dolar AS dan Euro membuat biaya perjalanan internasional, mulai dari tiket pesawat hingga biaya hidup di luar negeri, menjadi sangat mahal bagi kantong pelajar dan pekerja muda. Inflasi Global Kenaikan harga barang dan jasa di destinasi populer seperti Amerika Serikat dan Eropa semakin menekan minat mereka untuk berlibur ke luar negeri. Perubahan Gaya Hidup Munculnya tren “Digital Nomad” di dalam negeri dan kemudahan akses hiburan digital membuat perjalanan fisik ke luar negeri dianggap bukan lagi prioritas utama untuk mencari pengalaman baru. Ketidakstabilan Geopolitik Kekhawatiran akan keamanan global juga menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda Jepang merasa lebih aman melakukan domestic travel. Menanggapi situasi ini, Japan Airlines tidak tinggal diam. Maskapai ini mulai menyusun berbagai program untuk “memancing” kembali minat generasi muda agar mau melihat dunia luar. Beberapa langkah yang diambil antara lain, JAL mempertimbangkan paket harga tiket yang lebih terjangkau bagi pemegang kartu pelajar untuk rute internasional tertentu, berkolaborasi dengan platform media sosial untuk menunjukkan nilai penting dari pengalaman lintas budaya yang tidak bisa didapatkan melalui layar smartphone, dan melalui anak usahanya di sektor Low-Cost Carrier (LCC), JAL berusaha menyediakan opsi perjalanan ke destinasi Asia yang lebih ekonomis. Jika tren ini terus berlanjut, Jepang terancam kehilangan daya saing global dalam aspek pertukaran budaya dan pemahaman internasional. Selain itu, ketergantungan hanya pada pasar domestik atau wisatawan asing yang masuk (inbound) dianggap tidak cukup untuk menjaga stabilitas industri penerbangan Jepang dalam dekade mendatang. Japan Airlines berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah, seperti kemudahan administrasi paspor atau subsidi program pertukaran pelajar, untuk membantu membalikkan keadaan ini sebelum “budaya bepergian” benar-benar hilang dari DNA anak muda Jepang.
Garuda Indonesia dan Japan Airlines “Joint Business” Berupa Codeshare

Mengenal Jembatan KA Rancagoong, Mahakarya Kolonial yang Masih Kokoh Hingga Kini

Jalur kereta api (KA) non aktif di Jawa Barat selalu asyik menjadi pembahasan. Selain terkenal, jalur tersebut menjadi saksi sejarah mahakarya sejak jaman Kolonial Belanda yang tak terlupakan. Bahkan hingga jejak peninggalannya masih dapat kita lihat secara utuh. Tak hanya jalur KA non aktif antara Banjar – Pangandaran yang selalu menjadi sorotan media, namun jalur di Kabupaten Bandung pun juga terkenal dengan peninggalannya. Seperti halnya pada jalur Bandung – Ciwidey yang terdapat bangunan bersejarah dan masih kokoh hingga kini. Ya, inilah Jembatan Rancagoong. Jembatan ini merupakan yang terpanjang dan tertinggi berada di jalur legendaris Stasiun Soreang – Stasiun Ciwidey. Tak hanya menjadi saksi bisu masa kejayaan perkeretaapian Hindia Belanda, jembatan ini juga pernah menjadi sorotan media televisi karena keindahannya yang luar biasa. Dengan panjang mencapai 150 meter, jembatan ini menjulang di atas lembah sungai yang dalam dan membentang di antara hamparan sawah serta vegetasi alami. Struktur jembatan yang megah ini terdiri dari kombinasi rangka baja melengkung dan beton, menjadikannya tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis. Di era kolonial Belanda, pembangunan Jembatan Rancagoong dimulai pada 1922 dan rampung pada 1924. Diletahui secara keseluruhan, jembatan ini memiliki panjang 150 meter, terdiri atas struktur beton sepanjang 90 meter dan rangka baja sepanjang 60 meter. Sayangnya, jalur kereta api Bandung – Ciwidey sendiri resmi ditutup pada 1982, seiring menua­nya sarana prasarana serta kalah bersaing dengan moda transportasi kendaraan pribadi. Meskipun begitu jembatan ini memiliki keunikan tersendiri, keunikan Jembatan Rancagoong adalah terletak pada penggunaan beton sebagai bagian struktur utama, yang terbilang jarang ditemukan pada jembatan kereta api di luar kawasan perkotaan. Rangka bajanya berasal dari bekas jembatan kereta api di atas Sungai Citarum, Karawang yang digunakan kembali akibat mahalnya harga besi pasca Perang Dunia Pertama. Meski sudah lama tidak difungsikan sebagai jalur kereta api, Jembatan Rancagoong hingga kini masih berdiri kokoh dan dimanfaatkan sebagai jalur alternatif bagi pengendara sepeda motor. Kelengkapan jembatan ini pun makin terlihat pada bagian komponen penting, seperti “sleeko” (penyangga rel) masih tampak utuh di beberapa bagian jembatan. Saking jembatan ini masih terlihat utuh, tak sedikit pula wisatawan atau pemburu konten yang sengaja datang ke lokasi ini demi mengabadikan keindahan jembatan tersebut. Keberadaan jembatan ini jelas menjadi bukti kehebatan insinyur Belanda dalam membangun infrastruktur kokoh yang tetap berdiri tegak meski telah berusia hampir satu abad. Dari sinilah sudah yakin bahwa Jembatan Rancagoong bukan sekadar peninggalan sejarah semata, melainkan simbol harapan agar jalur kereta Bandung – Ciwidey bisa kembali berfungsi dan menjadi moda transportasi ramah lingkungan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia

Penumpang Cathay Pacific Dipenjara di Hong Kong Akibat Ambil Foto Upskirt Ilegal Pramugari

Seorang pria asal Jepang telah dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan Hong Kong setelah terbukti melakukan tindakan tidak senonoh di dalam pesawat. Penumpang tersebut diketahui mengambil foto ilegal bagian intim (upskirt) milik kru kabin maskapai Cathay Pacific saat penerbangan sedang berlangsung. Terdakwa, yang diidentifikasi sebagai Onishi Ryu (46), seorang manajer IT, dijatuhi hukuman empat minggu penjara dan denda sebesar HK$10.000 (sekitar Rp20 juta) setelah mengaku bersalah atas dakwaan merekam bagian intim wanita secara ilegal. Insiden memalukan ini terjadi pada 24 November 2025 dalam penerbangan rute Jepang menuju India via Hong Kong. Saat pesawat sedang dalam proses pendaratan, Onishi yang duduk di kursi jendela awalnya terlihat seperti sedang mengambil foto pemandangan di luar pesawat. Namun, aksi liciknya terbongkar ketika seorang penumpang pria yang duduk di belakangnya menyadari bahwa kamera ponsel Onishi justru diarahkan ke bagian bawah tubuh dua pramugari yang sedang bertugas. Saksi mata segera melaporkan kecurigaan tersebut kepada kru kabin. Setelah dikonfrontasi, Onishi terlihat berusaha menghapus gambar dari perangkatnya. Namun, setelah diperiksa melalui folder recently deleted, polisi menemukan lima hingga enam foto yang diambil dari arah belakang pramugari, termasuk satu foto zoom-in yang mengonfirmasi tindakan upskirt. Dua kru kabin yang menjadi korban adalah seorang wanita asal Korea Selatan berusia 37 tahun dan seorang wanita asal Taiwan berusia 26 tahun. Keduanya dilaporkan sedang menjalankan tugas rutin di kabin saat insiden terjadi. Dalam pembelaannya, Onishi mengklaim bahwa ia hanya berniat memotret pemandangan Hong Kong saat pendaratan dan foto tersebut terambil secara tidak sengaja. Namun, hakim menolak alasan tersebut dan menyebut tindakan tersebut sebagai aksi yang “oportunistik” dan disengaja, bukan karena faktor ketidaksengajaan. Meskipun pihak pembela meminta keringanan karena terdakwa tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan memiliki tanggung jawab keluarga, pengadilan tetap memutuskan hukuman penjara sebagai bentuk penegasan atas seriusnya pelanggaran privasi dan martabat kru kabin di dalam pesawat. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pelancong udara bahwa tindakan pelecehan atau pelanggaran privasi terhadap kru kabin akan ditindak secara tegas di bawah hukum Hong Kong. Pihak maskapai dan otoritas bandara terus mengimbau penumpang untuk menjaga etika dan menghormati para kru yang sedang bertugas demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Atasi Jenuh, Apa yang Dilakukan Pramugari di Pesawat Saat Penerbangan Jarak Jauh? Ini 13 Jawabannya

Wajah Baru KA Gajayana Sudah Pakai Stainless Steel New Generation, Siapa Kereta Selanjutnya?

Perjalanan kereta api dengan rute Jakarta/Bandung – Malang kini sudah semakin nyaman dan berkesan. Kereta api yang bervariatif membuat masyarakat yang ingin ke kota julukan apel ini makin dimudahkan. Mulai dari kelas ekonomi hingga kelas eksekutif bahkan VIP, membuat perjalanan tentu terasa nyaman. Seperti diketahui beberapa kereta api yang mondar-mandir dari Jakarta ataupun Bandung ke Malang maupun sebaliknya diantaranya adalah Kereta Api (KA) Matarmaja (Pasar Senen – Malang pp.), KA Majapahit (Pasar Senen – Malang pp.), KA Jayabaya (Pasar Senen – Malang pp.) KA Malabar (Bandung – Malang pp.), KA Brawijaya (Gambir – Malang pp.), dan KA Gajayana (Gambir – Malang pp.). Nah, dari beberapa kereta yang disebutkan tadi ada beberapa kereta menggunakan terbaru yakni jenis Stainless Steel New Generation yang diproduksi dari PT Industri Kereta Api (INKA), diantaranya adalah KA Majapahit dan KA Jayabaya. Berbeda dari kedua rangkaian tersebut ada juga yang menggunakan jenis rangkaian New Generation Modifikasi dari Balai Yasa Manggarai, yaitu KA Matarmaja. Lalu bagaimana dengan rangkaian KA kelas eksekutif? Ya, 2 rangkaian kelas eksekutif rute Jakarta (Gambir) – Malang pp. Terdiri dari KA Brawijaya dan Gajayana. Untuk rangkaian KA Brawijaya masih menggunakan jenis eksekutif new image yang diluncurkan pada tahun 2016 lalu. Nah, sedangkan untuk rangkaian KA Gajayana menggunakan rangkaian jenis stainless steel. Namun, beredar informasi bahwa KA Gajayana sudah menggunakan jenis stainless steel New Generation. Tentu ini merupakan kabar baik bagi penumpang yang setia menggunakan KA Gajayana. Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba yang dikutip dari laman Kompas mengatakan, modernisasi sarana ini menjadi bagian dari penguatan layanan perjalanan jarak jauh untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman, aman, dan andal bagi pelanggan. Rangkaian baru KA Gajayana ini resmi di operasikan sejak tanggal 10 Januari 2026 dengan keberangkatan awal dari Stasiun Malang sebagai kereta api dengan nomor KA 35 pada pukul 14:55 WIB. Perluasan penggunaan rangkaian KA Gajayana tersebut berlanjut pada 11 Januari 2026 atau keesokan harinya sebagai KA Gajayana rute Gambir – Malang. Tak hanya itu, rangkaian tersebut juga digunakan sebagai KA Parahyangan bernomor KA 132 – 133 dengan relasi Gambir–Bandung (PP). Tentu penumpang yang ingin ke Bandung maupun sebaliknya menggunakan jadwal tersebut pasti juga merasakan kenyamanan dengan rangkaian New Generation. Dalam satu kali perjalanan, rangkaian KA Gajayana terdiri atas 8 Kereta Eksekutif (K1) SSNG, 1 Kereta Makan (M1) SSNG, 1 Kereta Luxury Generasi Kedua, serta 1 Kereta Pembangkit SSNG. Rangkaian baru ini menghadirkan pembaruan desain interior, kursi ergonomis, sistem informasi perjalanan, serta peningkatan keandalan sarana. Dari informasi KA Gajayana yang menggunakan rangkaian stainless steel New Generation ternyata baru – baru ini ada pula rangkaian yang menggunakan jenis yang sama. Namun rangkaian ini terdiri dari kelas ekonomi dan eksekutif. Adalah KA Ranggajati dengan rute Cirebon – Jember pp. Diketahui sebelumnya, KA Ranggajati menggunakan kelas bisnis dan eksekutif yang merupakan rangkaian bekas kereta api dengan rute Jakarta – Cirebon. Namun terjadi pembaharuan untuk kelas ekonominya, yakni menjadi jenis New Generation modifikasi balai yasa. Seperti tak mau kalah, satu hari setelah rangkaian KA Gajayana menggunakan stainless steel New Generation, ternyata rangkaian KA Ranggajati pun juga menggunakan rangkaian yang sama. Ini menggambarkan bahwa kereta api semakin maju dan berkembang terutama pelayanan untuk kenyamanan para penumpang setianya. KA Ranggajati menggunakan rangkaian baru tersebut dimulai pada 11 Januari 2026 dengan keberangkatan dari Stasiun Cirebon pada pukul 07:00 WIB sampai dengan Stasiun Jember pukul 20:25 WIB. Penumpang sudah bisa merasakan rangkaian baru tersebut setiap hari dengan pelayanan yang lebih maksimal. Tak hanya sebagai KA Ranggjati, saat weekend atau libur nasional, rangkaian yang semula digunakan sebagai KA Ranggajati tentunya akan digunakan sebagai KA Cheribon Fakultatif. KA tersebut berangkat dari Stasiun Cirebon pada pukul 20:30 WIB dan keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 23:55 WIB. Dikabarkan sebelumnya, hingga November 2025, KAI telah menerima 34 trainset Stainless Steel New Generation produksi PT INKA tahun 2025 yang terdiri dari kereta penumpang, kereta makan, dan kereta pembangkit. Kehadiran sarana baru ini dapat memperkuat kapasitas pelayanan sekaligus kesiapan operasional KAI dalam menghadapi tingginya mobilitas masyarakat.
Menjajal Sensasi KA Gajayana “Next Generation” dari Malang ke Jakarta

Hari Ini 36 Tahun Lalu, McDonnell Douglas MD-11 Terbang Perdana dan Bikin Pabrikan Bangkrut

Pada hari ini, 35 tahun lalu, bertepatan dengan 10 Januari 1990, pesawat McDonnell Douglas MD-11 sukses melakukan penerbangan perdana. Pesawat hasil pengembangan dari DC-10 ini digadang bakal lebih sukses dibanding pendahulunya. Tetapi, dugaan itu salah dan MD-11 hanya laku sebanyak 200 unit sejak produksi dimulai pada 1988 dan stop produksi pada tahun 2000.

Baca juga: Bisakah MD-11 Tetap Terbang Bila Kedua Mesin di Sayap Rusak? Simak Jawabannya

Dilansir laman mcdonnelldouglas.weebly.com, MD-11 dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar yang menginginkan pesawat yang lebih modern dan lebih besar dibanding pendahulunya, DC-10.

Menyambut kebutuhan tersebut, pengembangan MD-11 pun dilakukan pada 30 Desember 1986. Setelah melalui proses penelitian panjang, perakitan prototipe pertama MD-11 dimulai tanggal 9 Maret 1988. Pabrikan terus mengebut proses pengerjaan sampai akhirnya diluncurkan atau diperkenalkan ke publik untuk pertama kalinya pada September 1989 dan berhasil terbang perdana pada 10 Januari 1990.

MD-11 memiliki beberapa perbedaan yang sangat mencolok dengan DC-10, di antaranya badan pesawat yang lebih panjang, mesin baru Pratt & Whitney PW4460 yang dinilai lebih efisien dan lebih cepat, winglet baru, dan penggunaan material komposit yang mulai marak di zamannya.

Perbedaan paling mencolok lainnya tentu di bagian kokpit. DC-10 diketahui masih mengusung konsep analog pada kokpit sehingga membutuhkan bantuan flight engineer di setiap penerbangan. Itu berbeda dengan MD-11 yang sudah mengusung enam unit flat screen glass display di kokpit.

Komputer canggih Honeywell VIA juga sanggup menggantikan peran flight engineering, mengikuti gebrakan Airbus yang mengusung two men cockpit atau dua orang dalam kokpit. Ini disebut Advanced Common Flight Deck atau ACF.

Menariknya, meski di tahun dimana pesawat dikembangkan pesawat twin engine sudah mulai menggeliat, MD-11 diputuskan untuk tetap mengusung trijet sebagaimana pendahulunya, DC-10.

Namun, MD-11, yang termasuk dalam salah satu pesawat widebody terpopuler ketika itu, tetap diplot sebagai kompetitor sejati dari Boeing 747 dan Airbus A330 yang masing-masing mengusung empat mesin dan dua mesin.

Pilihan tersebut pada akhirnya sangat fatal. MD-11 hanya terjual 200 unit secara global dan digunakan oleh beberapa maskapai kenamaan, seperti Finnair, Alitalia, KLM, Delta Airlines, China Eastern Airlines, Korean Air, American Airlines, Japan Airlines, dan Garuda Indonesia.

Selain tidak laku di pasaran, dimana maskapai lebih memilih untuk menggunakan widebody twinjet seperti Boeing 767, Boeing 777, dan Airbus A330, mahalnya pengembangan MD-11 juga tak sebanding dengan penjualan dan membuat kinerja keuangan perusahaan merosot dan akhirnya stop produksi setelah MD-90.

Baca juga: MD-11, Tak Berusia Panjang, Inilah Kado Ulang Tahun Garuda Indonesia Ke-43

Beberapa tahun kemudian, pabrikan dicaplok (merger) Boeing dengan mahar sebesar US$13,3 miliar di akhir abad ke-21, tepatnya pada tahun 1997.

Sampai saat ini, MD-11 masih eksis menghiasi langit dunia. Tetapi, tidak sebagai penerbangan penumpang, melainkan sebagai penerbangan kargo, salah satunya bersama FedEx.