Menikmati Perjalanan Kereta Api Tertua di Jawa Barat, Cuma Goceng
Ini Alasan Jalur KA Cianjur – Bandung tak Kunjung di Reaktivasi, Ternyata Begini Solusinya
Jalur kereta api (KA) lintas Cianjur – Bandung kembali jadi sorotan. Saat ini perjalanan KA lintas tersebut terhambat hingga batas Stasiun Cipatat yang berada di kawasan Bandung Barat. Ya,Siliwangi yang merupakan rangkaian kereta api dengan rute Sukabumi – Cianjur – Cipatat pp. Ini melayani penumpang setiap harinya.
Masyarakat di kawasan Sukabumi maupun Cianjur sebenarnya sudah terbantu dengan kehadiran kereta api yang murah meriah tersebut. Namun, masih sangat disayangkan jalur yang dilewati KA Siliwangi ini hanya bisa sampai dengan Stasiun Cipatat. Padahal masyarakat sangat berharap jalur tersebut bisa sampai dengan Stasiun Padalarang menuju pusat Kota Bandung.
Diketahui sebetulnya jalur kereta api dari Stasiun Cipatat hingga Stasiun Padalarang sudah ada sejak era Kolonial Belanda. Bahkan diantara stasiun tersebut masih terdapat satu stasiun yang dahulu menjadi alternatif warga Bandung Barat yang ingin ke Cianjur maupun sebaliknya. Stasiun tersebut adalah Tagogapu berada sangat strategis dekat dengan jalan raya Bandung – Purwakarta.
Ternyata, upaya mengaktifkan kembali jalur kereta api Bandung – Cianjur tersebut terkendala karena kondisi geografis. Pemerintah sebetulnya sudah memutuskan untuk meninggalkan jalur lama Cipatat – Padalarang karena kontur tanah yang sangat terjal dan memiliki risiko bencana yang tinggi.
Sebagai alternatif, lintasan kereta dari Cipatat ke Padalarang akan dialihkan ke jalur Padalarang-Purwakarta melalui Stasiun Sasaksaat. Opsi ini dipilih karena dinilai jauh lebih aman dibandingkan trase lama yang melintasi Stasiun Tagogapu. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi lahan yang direncanakan menjadi jalur rel baru di Kecamatan Cipatat.
Diketahui Kemenhub telah melelang proyek Detail Engineering Design (DED) Jalur dan Jembatan Kereta Api Lintas Cipatat–Padalarang dengan pagu anggaran sekitar Rp 3,8 miliar. Berdasarkan dokumen lelang, trase baru ini akan dilengkapi satu terowongan sepanjang 300 meter serta dua jembatan yang masing-masing memiliki panjang 50 meter.
Rel dari Cipatat menuju Padalarang nantinya akan dibelokkan ke arah utara hingga bertemu lintas Padalarang-Karawang, tepatnya di Stasiun Sasaksaat, Desa Sumurbandung. Dengan skema ini, perjalanan kereta dari Cianjur tidak lagi melewati Stasiun Tagogapu.
Dinas Perhubungan (Dishub) Bandung Barat pun mendukung penuh rencana pembangunan trase baru tersebut. Selain meningkatkan frekuensi perjalanan kereta di kawasan Cipatat dan Padalarang, reaktivasi ini juga masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN).
Pihaknya kini mulai fokus menyiapkan aspek keselamatan perjalanan, terutama penanganan perlintasan sebidang yang diprediksi akan mengalami peningkatan volume kendaraan. Targetnya dimulai pada tahun 2027 mendatang proyek sudah mulai dibangun. Selain itu, Dishub juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait serta tiga camat di wilayah Padalarang, Ngamprah, dan Cikalongwetan untuk membahas teknis pelaksanaan di lapangan.
Jelajahi Destinasi Wisata dari Stasiun Batang, Yuk Simak Daftarnya
Terletak di antara Semarang dan Batang, stasiun ini menawarkan kenyamanan dan efisiensi bagi penumpang yang melakukan perjalanan dari kedua arah. Stasiun Batang memiliki sejarah panjang, berasal dari era Pemerintahan Kolonial Belanda.
Stasiun Batang Lama di istilah kan masyarakat dengan Stasiun Senggol. Karena, letaknya persis di hadapan Pasar Senggol yang kini telah dirobohkan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian akibat terdampak proyek pembangunan jalur ganda pada awal tahun 2019.
Namun, setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kabupaten Batang, stasiun direlokasi di Desa Sambong, tepatnya di sebelah timur Jalan Sultan Agung (akses ke Pantai Sigandu), Desa Sambong, Kecamatan Batang.
Stasiun Batang pun kini semakin menunjukkan nilai manfaat bagi masyarakat setempat. Setelah pemerintah Kabupaten Batang melobi PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dan Kemenhub untuk memfungsikan kembali Stasiun Batang sebagai stasiun pemberhentian kereta api penumpang.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo mengatakan, momentum ini semakin kuat sejak KA Argo Muria dengan rangkaian terbaru New Generation resmi melayani naik-turun penumpang di Stasiun Batang. Layanan ini dimulai sejak Agustus 2025.
Nah, beberapa destinasi yang dapat dijangkau dari Stasiun Batang adalah sebagai berikut:
• Pantai Bojonegoro
Pantai ini terkenal dengan pemandangan matahari terbenam dan keberadaan goa alami di tebing pantai. Jalur menuju lokasi ini mudah dijangkau melalui jalan pesisir dari arah stasiun. Selain itu, wisatawan juga dapat melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ujung Negoro yang hanya berjarak sekitar 6 km dari Pantai Sigandu.
• Agrowisata Pragilaran
Bagi pencinta udara sejuk dan pemandangan alam perbukitan, Agrowisata Pagilaran menjadi pilihan menarik. Meskipun berjarak lebih jauh di wilayah Blado, tempat ini bisa ditempuh setelah perjalanan kereta dilanjutkan dengan transportasi darat sekitar 60 menit. Hamparan kebun teh dan suasana pegunungan menjadikan kawasan ini salah satu ikon wisata Batang.
• Pawone Simbah
Tempat kuliner legendaris Pawone Simbah ini berlokasi di Jl. Srondo Lebo Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang. Kampung Jawa Pawone Simbah kerap dikunjungi sejumlah nama besar. Salah satunya musisi ternama Ahmad Dhani. Tempat makan ini menyediakan beragam menu mulai dari garang asem ayam kampung, nasi liwet, mangut sayur sop, botok telur asin, buntil serta menu lain lengkap dengan pilihan minuman.
• Kopi Forest
Tempat ini menjadi pilihan baru bagi penikmat kopi dan alam. Dengan suasana rindang di tengah pepohonan pinus, Kopi Forest menghadirkan pengalaman santai menikmati kopi lokal Batang dengan udara segar khas perbukitan.
PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pelaku wisata setempat untuk mendukung potensi pariwisata yang ramah lingkungan. Pemanfaatan kereta api sebagai moda transportasi utama diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menekan emisi karbon di jalur wisata.
Merasakan Nuansa Khas Vintage Stasiun Gundih di Jalur Penghubung Semarang-Solo
Gebrakan Transjakarta di 2026: Tingkatkan Pramudi Perempuan 10 Kali Lipat – Daycare di Halte Besar
PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) melakukan gebrakan besar di awal tahun 2026. BUMD Provinsi DKI Jakarta ini menargetkan partisipasi pramudi perempuan di perseroan meningkat 1.000 persen atau 10 kali lipat. Saat ini, pengemudi wanita hanya berkisar 2-3 persen dari total pengemudi.
Baca juga: Bodi Bus Transjakarta Penuh Karakter IP Lokal untuk Kampanye “Maju Dari Aku”
Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen Transjakarta terhadap kesetaraan gender.
“Saat ini jumlah pramudi perempuan memang masih di angka 2-3 persen, namun dalam tiga tahun ke depan, kami mengincar angka 20-30 persen. Kami ingin mendobrak stigma dan membuktikan bahwa perempuan mampu memegang peran krusial di industri transportasi,” jelas Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza, dalam keterangan resminya.
“Kami ingin setiap perempuan merasa tenang saat melangkah masuk ke dalam bus. Selain ruang khusus, kami juga membawa misi besar dalam pilar Sustainability, yaitu kesetaraan gender di lingkungan kerja,” tambahnya.
Transjakarta juga akan membangun fasilitas daycare di kantor pusat Cawang, sebagai bentuk kepedulian sosial dan inovasi keamanan. Nantinya, fasilitas yang sama juga dibangun di halte-halte besar secara bertahap.
Baca juga: Teknologi AI Tingkatkan Pelayanan dan Jumlah Penumpang Transjakarta
“Kami ingin mendukung ibu yang bekerja maupun pelanggan dengan menyediakan ruang asuh yang layak dan nyaman bagi anak usia 2-6 tahun,” ujar Direktur Keuangan, SDM, dan Umum, Mayangsari Dian Irwantari.
Transjakarta, lanjutnya, juga meluncurkan Lentera, sebuah satuan tugas berbasis relawan yang menjadi pionir dalam pencegahan pelecehan seksual di transportasi publik. Ke depan, gerakan ini akan dikembangkan menjadi gerakan berbasis masyarakat agar pengawasan menjadi lebih luas dan partisipatif.
Mengenal Squawk 7700: Apa yang Terjadi Saat Pilot Menyatakan Status Darurat di Udara?
Bagi para pengamat penerbangan yang sering memantau aplikasi pelacak pesawat seperti FlightRadar24, munculnya notifikasi “Squawk 7700” sering kali menimbulkan kekhawatiran. Kode ini membuat ikon pesawat di peta berubah menjadi merah dan menandakan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana. Namun, apakah Squawk 7700 selalu berarti pesawat dalam bahaya besar? Jawabannya adalah: belum tentu.
Apa Itu Squawk 7700?
Secara teknis, Squawk adalah istilah penerbangan untuk menetapkan kode transponder empat digit yang diberikan oleh pengatur lalu lintas udara (ATC) kepada pesawat. Kode 7700 adalah kode standar internasional yang digunakan pilot untuk menyatakan status General Emergency (Darurat Umum).
Ketika pilot memutar angka transponder ke 7700, radar di layar ATC akan memberikan peringatan visual dan suara yang sangat jelas. Hal ini memberitahu pengawas darat bahwa pesawat tersebut membutuhkan perhatian khusus dan prioritas ruang udara di atas pesawat lainnya.
Ada berbagai alasan mengapa kru pesawat mengaktifkan Squawk 7700, dan tidak semuanya melibatkan kerusakan mesin yang dramatis. Berikut adalah penyebab paling umum:
Darurat Medis: Jika ada penumpang yang mengalami serangan jantung atau kondisi kesehatan kritis lainnya, pilot akan menyatakan darurat agar bisa mendarat di bandara terdekat secepat mungkin.
Masalah Teknis: Mulai dari gangguan sistem hidrolik, indikator asap di kabin, hingga kegagalan satu mesin.
Krisis Bahan Bakar: Seperti pada insiden Air India AI117 baru-baru ini, jika pesawat terjebak dalam cuaca buruk dan cadangan bahan bakar menipis hingga batas minimum keselamatan, kode ini wajib diaktifkan untuk mendapatkan prioritas mendarat.
Masalah Kontrol Pesawat: Gangguan pada sistem navigasi atau komunikasi yang mengganggu kemampuan pilot untuk terbang sesuai rute normal.
Apa yang Terjadi Setelah Kode Diaktifkan? Begitu Squawk 7700 terpancar, protokol keselamatan tingkat tinggi langsung aktif, maka ATC akan memerintahkan pesawat lain di sekitar untuk menjauh atau berputar (holding) guna memberi jalan bagi pesawat darurat. Bandara tujuan akan menyiagakan tim pemadam kebakaran, ambulans, dan tim SAR di pinggir landasan pacu sebagai langkah antisipasi. Pilot diizinkan memotong rute penerbangan normal langsung menuju landasan pacu untuk menghemat waktu.
Squawk 7700 adalah alat komunikasi krusial yang dirancang untuk menjaga keselamatan. Mengaktifkan kode ini bukan berarti pesawat akan jatuh, melainkan bukti bahwa pilot sedang menjalankan manajemen risiko yang proaktif. Dengan menyatakan darurat lebih awal, kru memastikan mereka memiliki semua sumber daya dan bantuan yang dibutuhkan untuk mendaratkan pesawat dengan selamat.
Wajib Tahu, Ini 10 Bahasa Rahasia Pilot
Darurat Bahan Bakar: Air India 787 Rute Amritsar-Birmingham Dialihkan ke London Heathrow Akibat Badai Salju
Sebuah pesawat Boeing 787-8 Dreamliner milik maskapai Air India terpaksa menyatakan status darurat umum (general emergency) saat mendekati wilayah udara Inggris pada Kamis malam, 8 Januari 2026. Pesawat dengan nomor penerbangan AI117 tersebut mengalami krisis bahan bakar setelah terjebak dalam pola penahanan (holding pattern) yang lama akibat cuaca musim dingin ekstrem.
Pesawat yang membawa penumpang dari Amritsar, India, menuju Birmingham, Inggris tersebut awalnya dijadwalkan mendarat di Bandara Birmingham. Namun, saat mendekati tujuan, Badai Goretti membawa hujan salju lebat dan penurunan jarak pandang yang drastis di bawah batas minimum keselamatan. Kondisi ini memaksa otoritas Bandara Birmingham untuk menutup sementara landasan pacu guna pembersihan salju.
Harga Tiket Pesawat ke Eropa Melambung Tinggi Akibat Krisis Bahan Pencair Salju dan Badai EkstremPancaran Sinyal Squawk 7700 Setelah berputar-putar di langit selama beberapa waktu menunggu pembukaan landasan, cadangan bahan bakar pesawat dengan registrasi VT-NAC tersebut mulai mencapai tingkat kritis. Menanggapi situasi ini, kru pesawat segera mengaktifkan kode transponder Squawk 7700, sebuah sinyal internasional yang menginstruksikan pengatur lalu lintas udara (ATC) bahwa pesawat memerlukan prioritas utama karena kondisi darurat. ATC Inggris segera memberikan prioritas bagi Dreamliner tersebut untuk dialihkan ke Bandara London Heathrow (LHR). London Heathrow dipilih karena memiliki landasan pacu yang lebih panjang dan dilengkapi dengan Category III Instrument Landing System (ILS) canggih, yang memungkinkan pesawat mendarat dengan aman meski dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Berkat koordinasi yang cepat, Air India AI117 berhasil mendarat dengan selamat di landasan pacu 09L London Heathrow tanpa insiden tambahan. Pesawat kemudian bergerak menuju gerbang B49 untuk menurunkan penumpang. Dilaporkan tidak ada cedera di antara penumpang maupun awak kabin. Insiden ini menambah daftar gangguan penerbangan massal yang melanda wilayah Eropa Barat pekan ini akibat badai salju dan angin kencang. Pihak maskapai menyatakan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama dan keputusan untuk menyatakan status darurat bahan bakar diambil sesuai dengan protokol keselamatan penerbangan internasional guna memastikan pesawat mendapatkan jalur pendaratan tercepat.
Krisis De-Icing di Eropa: Maskapai Berebut Bahan Pencair Salju demi Terjang Badai Ekstrem
15 Tahun Tragedi Iran Air Flight 277: Mengenang Jatuhnya Boeing 727 di Tengah Badai Salju Urmia
9 Januari 2026 menandai tepat 15 tahun sejak peristiwa memilukan yang menimpa dunia penerbangan Timur Tengah, yakni jatuhnya Iran Air Flight 277. Pada malam hari tanggal 9 Januari 2011, sebuah pesawat Boeing 727-286Adv milik maskapai nasional Iran jatuh di dekat kota Urmia, Provinsi Azerbaijan Barat, merenggut 77 nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi industri dirgantara yang tengah berjuang melawan sanksi internasional.
Pesawat dengan kode registrasi EP-IRP tersebut lepas landas dari Bandara Mehrabad, Teheran, menuju Bandara Urmia dengan membawa 105 orang (94 penumpang dan 11 awak). Saat mendekati tujuan, wilayah Urmia sedang dilanda cuaca sangat buruk dengan jarak pandang rendah dan hujan salju lebat.
Setelah upaya pendaratan pertama gagal akibat kabut tebal, pilot memutuskan untuk melakukan prosedur go-around (terbang kembali untuk mencoba pendaratan kedua). Namun, tak lama setelah membatalkan pendaratan, pesawat kehilangan ketinggian dengan cepat dan jatuh di sebuah area persawahan dekat desa Tarmani, sekitar 8 kilometer dari landasan pacu.
Pesawat hancur menjadi beberapa bagian besar, namun beruntung tidak terjadi ledakan hebat, sehingga 28 orang berhasil ditemukan selamat dari reruntuhan di tengah tumpukan salju.
Penyelidikan resmi oleh otoritas penerbangan sipil Iran menyimpulkan bahwa faktor utama kecelakaan adalah kondisi pembekuan (icing) yang parah. Akumulasi es pada lubang masuk udara mesin menyebabkan mesin nomor 1 dan nomor 3 mengalami mati mendalam (flame-out).
Ketidakmampuan kru untuk mengelola tenaga mesin dalam kondisi icing ekstrem tersebut membuat pesawat tidak memiliki daya dorong yang cukup untuk mendaki kembali saat proses go-around. Selain itu, faktor usia pesawat—yang diproduksi pada tahun 1974—dan keterbatasan suku cadang akibat sanksi ekonomi seringkali disebut sebagai latar belakang tantangan pemeliharaan armada udara di Iran pada masa itu.
Pesawat yang terlibat dalam insiden ini memiliki sejarah yang panjang dan unik. Sebelum jatuh di Urmia, EP-IRP sempat disita di Baghdad, Irak, selama bertahun-tahun (1984–1990) akibat dampak perang Iran-Irak, dan baru kembali beroperasi setelah menjalani perbaikan besar pada tahun 2002.
Lima belas tahun setelah tragedi tersebut, nama Iran Air 277 tetap menjadi pengingat bagi dunia internasional mengenai pentingnya standar keselamatan penerbangan dan akses terhadap pembaruan teknologi pesawat, terlepas dari dinamika politik global. Bagi masyarakat Urmia, reruntuhan di tengah badai salju malam itu adalah memori tentang keberanian tim SAR yang bekerja di bawah nol derajat demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.
Pesawat hancur menjadi beberapa bagian besar, namun beruntung tidak terjadi ledakan hebat, sehingga 28 orang berhasil ditemukan selamat dari reruntuhan di tengah tumpukan salju.
Penyelidikan resmi oleh otoritas penerbangan sipil Iran menyimpulkan bahwa faktor utama kecelakaan adalah kondisi pembekuan (icing) yang parah. Akumulasi es pada lubang masuk udara mesin menyebabkan mesin nomor 1 dan nomor 3 mengalami mati mendalam (flame-out).
Ketidakmampuan kru untuk mengelola tenaga mesin dalam kondisi icing ekstrem tersebut membuat pesawat tidak memiliki daya dorong yang cukup untuk mendaki kembali saat proses go-around. Selain itu, faktor usia pesawat—yang diproduksi pada tahun 1974—dan keterbatasan suku cadang akibat sanksi ekonomi seringkali disebut sebagai latar belakang tantangan pemeliharaan armada udara di Iran pada masa itu.
Pesawat yang terlibat dalam insiden ini memiliki sejarah yang panjang dan unik. Sebelum jatuh di Urmia, EP-IRP sempat disita di Baghdad, Irak, selama bertahun-tahun (1984–1990) akibat dampak perang Iran-Irak, dan baru kembali beroperasi setelah menjalani perbaikan besar pada tahun 2002.
Lima belas tahun setelah tragedi tersebut, nama Iran Air 277 tetap menjadi pengingat bagi dunia internasional mengenai pentingnya standar keselamatan penerbangan dan akses terhadap pembaruan teknologi pesawat, terlepas dari dinamika politik global. Bagi masyarakat Urmia, reruntuhan di tengah badai salju malam itu adalah memori tentang keberanian tim SAR yang bekerja di bawah nol derajat demi menyelamatkan nyawa yang tersisa.
Gegara AS, Iran Air Batal Datangkan Airbus A380
Lima Tahun Tragedi Sriwijaya Air SJ 182: Mengenang Kembali dan Pelajaran Berharga bagi Penerbangan Indonesia
Tepat hari ini, 9 Januari 2026, Indonesia mengenang lima tahun peristiwa pilu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air penerbangan SJ 182. Tragedi yang terjadi pada Sabtu sore di awal tahun 2021 tersebut tetap menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah transportasi udara tanah air. Pesawat jenis Boeing 737-500 tersebut hilang kontak hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Pontianak, sebelum akhirnya terkonfirmasi jatuh di perairan Kepulauan Seribu, tepatnya di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang.
Kejadian yang merenggut 62 nyawa—terdiri dari kru dan penumpang—ini memicu operasi pencarian dan pertolongan (SAR) besar-besaran di tengah kondisi cuaca yang menantang. Selama berhari-hari, seluruh elemen nasional mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan penyelam bekerja bahu-membahu menyisir dasar laut untuk menemukan bagian badan pesawat serta kotak hitam (black box). Penemuan Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) menjadi titik terang bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menyusun teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ketinggian tersebut.
Berdasarkan laporan akhir investigasi, terungkap bahwa salah satu faktor teknis utama yang memicu kecelakaan adalah gangguan pada sistem autothrottle. Sistem ini mengalami anomali yang menyebabkan tuas gas sebelah kiri bergerak mundur secara otomatis (tenaga mesin berkurang), sementara tuas sebelah kanan tetap pada posisinya. Ketidakseimbangan tenaga mesin ini menyebabkan pesawat miring ke kiri secara ekstrem hingga masuk ke dalam kondisi upset yang tidak dapat dipulihkan oleh kru dalam waktu yang sangat singkat. KNKT juga menyoroti aspek pelatihan kru mengenai pemulihan kondisi darurat dan pengawasan perawatan pesawat sebagai poin-penting dalam rekomendasi keselamatan.
Lima tahun berlalu, tragedi SJ 182 telah membawa transformasi signifikan bagi dunia penerbangan Indonesia. Maskapai nasional kini dituntut untuk memperketat protokol perawatan komponen pesawat, terutama bagi armada yang berusia tua.
Tiga Fakta Kejadian Aneh Berbalut Mistis Dibalik Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182Selain itu, sistem pelatihan pilot di Indonesia semakin menekankan pada kesiapsiagaan menghadapi kegagalan sistem otomatis (automasi). Bagi keluarga korban, peringatan lima tahun ini bukan sekadar mengenang duka, melainkan sebuah pengingat bahwa keselamatan penumpang harus selalu menjadi prioritas absolut yang tidak bisa ditawar. Di dermaga JICT II Tanjung Priok hingga perairan Kepulauan Seribu, tabur bunga mungkin telah menjadi ritual tahunan yang penuh haru. Namun, warisan terbesar dari tragedi ini adalah komitmen berkelanjutan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi keluarga yang harus kehilangan orang tercinta akibat celah dalam sistem keselamatan udara. Indonesia terus belajar, berbenah, dan mengenang setiap jiwa yang pergi pada sore mendung lima tahun silam tersebut.
Berada Satu Meter Dibawah Lumpur, Bagian Inti CVR Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan
Mengapa Sebagian Besar Runway di Bandara Terbuat dari Aspal Bukan Beton?
Bagi penumpang pesawat yang sering bepergian dan memperhatikan sekitar, pasti kerap melihat mayoritas landasan pacu (runway) bandara terbuat dari aspal, bukan beton. Padahal, beton jauh lebih kuat menahan beban pesawat yang mencapai ratusan ribu sampai jutaan pon dibanding aspal. Kenapa demikian? Kenapa runway tidak dibuat dari beton saja?
Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, diketahui runway setidaknya dibangun dengan empat pondasi, mulai dari tanah dasar (sub grade), lapisan pondasi bawah (sub base course), lapisan pondasi atas (base course), lapisan permukaan (surface course).
Antara landasan pacu, cross taxiway, parallel taxiway, dan apron diketahui memiliki ketebalan aspal atau beton yang berbeda-beda.
Di bagian atas permukaan, aspal atau beton runway harus berkualitas tinggi, seperti tak bisa ditembus air serta mampu memperbesar daya dukung lapisan terhadap beban roda pendaratan.
Perihal dipakainya beton atau aspal di bagian atas permukaan, menurut salah seorang pengguna Quora, Ryan Lee Jackson, suatu runway bandara diputuskan menggunakan aspal atau beton tergantung dari wilayah di sekitar dan lapisan di bawah runway itu sendiri.
Bandara Svalbard, Norwegia, misalnya, memiliki satu landasan pacu yang terbuat dari aspal. Kenapa diputuskan menggunakan aspal, bukan beton? Jawabannya adalah lapisan di bawah runway itu sendiri yang terdapat banyak permafrost atau tanah beku.
Sekalipun berada di lingkar kutub utara, ada kalanya lapisan es mencair. Saat itu terjadi, pondasi akan mengikuti. Mengingat lapisan permafrost mencair tak merata, maka runway menjadi bergelombang dan pada membuatnya rusak. Apapun lapisan atas runway terbuat, entah itu beton atau aspal, kondisi tersebut pasti membuat runway rusak.
Bedanya, bila runway dibuat dari beton, itu akan lebih sulit dan mahal untuk diperbaiki dibanding aspal yang murah dan mudah diperbaiki.
Kebalikan dari kondisi di atas, seperti Bandara Houston, misalnya, yang notabene tanah di bawah runway jarang atau hampir tidak pernah bergerak, membuatnya diputuskan landasan pacunya menggunakan beton.
Selain itu, dipakainya beton sebagai lapisan atas runway adalah karena cuacanya yang kering dan panas. Di kondisi itu, aspal akan melunak dan membuat roda atau bandara pesawat terperosok atau amblas.
Secara teori, beton lebih banyak digunakan di bandara-bandara besar. Itu karena beberapa alasan, mulai dari lebih awet dan tidak gampang rusak serta lebih kuat dalam menahan besaran beban friksi atau tumbukan atau tekanan dari roda pesawat.
Tekanan pada ban pesawat terhadap permukaan runway saat ini memang sudah jauh berkurang seiring banyaknya roda di pesawat. Prispinya, semakin banyak roda semakin, semakin banyak bobot pesawat yang terdistribusikan ke roda, sehingga mengurangi beban yang diberikan setiap ban di landasan pacu atau taxiway.
Kendati begitu, tetap saja kembali ke teori bahwa landasan pacu dari beton lebih kuat dibanding dari aspal.
Baca juga: Mengapa Ban Pesawat Sekarang Lebih Kecil Dibanding Ban Pesawat Lawas?
Landasan pacu aspal diketahui hanya sanggup menahan beban di bawah 12.500 pound berat lepas landas kotor. Sedangkan landasan pacu yang terbuat dari beton bisa menahan beban di atas itu.
Di dunia, terdapat beberapa pesawat yang memiliki bobot cukup besar. Boeing 747-8, misalnya, memiliki bobot maksimum 975.000 pound. Pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Rusia diketahui memiliki bobot hingga 1,4 juta pound. Selain jadi pesawat terbesar, itu juga dinobatkan menjadi pesawat terberat di dunia.
Hubungkan Tiga Bandara Utama: Ambisi Megaproyek Thailand Bangun Kereta Cepat Sepanjang 220 Km
Thailand tengah mengukir sejarah baru dalam dunia transportasi Asia Tenggara melalui proyek Kereta Cepat Tiga Bandara yang sangat ambisius. Megaproyek ini dirancang untuk membentang sepanjang 220 kilometer, menciptakan koneksi tanpa putus antara tiga pintu masuk utama negara tersebut, yakni Bandara Internasional Don Mueang di utara Bangkok, Bandara Suvarnabhumi yang menjadi hub utama, hingga Bandara Internasional U-Tapao di pesisir timur.
Dengan kecepatan maksimum mencapai 250 kilometer per jam, layanan kereta cepat ini akan memangkas waktu tempuh antara pusat kota Bangkok menuju kawasan pesisir menjadi hanya sekitar 45 hingga 60 menit saja.
Perencanaan rute ini sangat strategis karena tidak hanya menghubungkan bandara, tetapi juga melewati sembilan stasiun penting yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Jalur ini terintegrasi mulai dari Stasiun Bang Sue yang megah di Bangkok, melintasi Makkasan dan Chachoengsao, hingga menyentuh titik-titik pariwisata serta industri di Chonburi, Sriracha, dan Pattaya sebelum berakhir di U-Tapao. Kehadiran kereta ini diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas bagi jutaan wisatawan dan tenaga ahli yang bergerak di kawasan koridor ekonomi timur (EEC).
Bandara Mana yang Paling Mudah untuk Pilot Lepas Landas dan Mendarat?Dari sisi finansial, proyek ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi publik-swasta (PPP) terbesar di Thailand dengan nilai investasi yang fantastis mencapai 224,5 miliar Baht atau setara dengan sekitar Rp98 triliun. Konsorsium yang dipimpin oleh raksasa bisnis Charoen Pokphand (CP) Group telah dipercaya untuk menangani konstruksi hingga pengelolaan selama masa konsesi 50 tahun. Skema pendanaan ini memungkinkan pemerintah Thailand untuk melakukan lompatan teknologi transportasi tanpa harus membebani anggaran negara sepenuhnya di awal, sementara sektor swasta diberikan ruang untuk mengelola efisiensi layanan secara komersial. Meskipun sempat menghadapi dinamika pembebasan lahan dan tantangan teknis dalam integrasi jalur kereta bandara yang sudah ada, pemerintah Thailand terus menunjukkan komitmen kuat agar target realisasi tidak meleset jauh. Fokus konstruksi saat ini diarahkan pada penyelesaian struktur utama agar layanan kereta cepat ini bisa mulai beroperasi secara penuh pada rentang tahun 2028 hingga 2029. Kehadiran sistem transportasi ini tidak hanya dipandang sebagai kemudahan bagi penumpang pesawat, tetapi juga sebagai pemicu lahirnya kota-kota modern di sepanjang rute yang dilaluinya. Dengan meleburnya tiga bandara ke dalam satu ekosistem transportasi yang efisien, Thailand berambisi mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin logistik dan pariwisata di kawasan semenanjung Indochina, sekaligus memberikan standar baru bagi pengembangan kereta cepat di Asia Tenggara.
Shanghai Maglev – Kereta Bandara Tercepat di Dunia, Bisa ‘Ngewhoosh’ Sampai 500 Km per Jam
