Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal

Ilustrasi Kereta Cepat. Sumber: Moneycontrol

Perkembangan jaman yang bisa dibilang terus melaju setiap harinya ini seolah memaksa setiap bagian untuk turut hanyut di dalamnya. Khusus di sektor transportasi, salah satu imbas dari perkembangan teknologi ini adalah lahirnya moda kereta cepat. Mengambil contoh dari Jepang dengan Shinkansennya, setiap negara seolah ingin mengaplikasikan moda serupa di tanah airnya masing-masing. Namun, apakah dengan hadirnya moda semacam ini bisa menguntungkan dan membawa pembaruan bagi negara yang ingin menghadirkannya?

Baca Juga: Berbagi Pasar dengan Dunia Penerbangan, Eurostar Rilis Layanan Kereta Cepat London-Amsterdam

Sebut saja Australia yang sempat menggagas kehadiran dari kereta cepat yang menghubungkan Sydney, Canberra, dan Melbourne di masa lampau. Gagasan tersebut hadir dari kepala Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Paul Wild yang pada awal tahun 1980-an, dirinya mengaku mendapatkan ilham sepulangnya ia dari Jepang dan menjajal teknologi kereta super cepat Shinkansen. Namun karena satu dan lain hal, visi dari Paul Wild tersebut gagal diimplementasikan dan hanya menyisakan angan. Namun ketika ditimbang kembali, perlukah setiap negara memiliki moda kereta cepat?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (11/3/2019), profesor transportasi kereta api dari University of Southampton, John Preston mengatakan bahwa sedikit kota di dunia yang dapat memenuhi kondisi yang diperlukan untuk jaringan kereta api berkecepatan tinggi yang layak secara komersial, dalam hal ini termasuk di Australia yang populasi penduduknya rendah, maka disinyalir tingkat kebutuhan pada kereta cepat tidak memadai dalam skala bisnis dan investasi.

“Tokyo-Osaka sudah jelas, dan Paris-Lyon pun sama. Shanghai-Nanjing di Cina masih memiliki harapan (untuk dibangun kereta api berkecepatan tinggi), tetapi mereka menghadapi tingkat permintaan yang relatif berat,” ujar John Preston.

“Kita berbicara total 20 juta penumpang per tahun di tahun pertama operasi, dan kemudian biasanya akan diikuti oleh pertumbuhan yang cukup besar,” lanjutnya.

Di sisi lain, konsultan transportasi Peter Thornton mengatakan bahwa ada fenomena unik yang muncul ketika wacana tentang pembangunan kereta cepat mulai mencuat ke permukaan.

“Yang menarik, orang-orang mau merancang dan membangunnya, tetapi tidak ada yang mengatakan mereka akan mau menjalankannya,” tutur Peter.

Lagi, jika kereta cepat ini hadir di setiap negara, dikhawatirkan akan berimbas pada menururnnya value dari sektor aviasi di negara terkait. Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, bukan tidak mungkin jika penumpang akan beralih menggunakan kereta cepat dan meninggalkan si burung besi.

Baca Juga: Perkembangan Kereta Cepat Bakal ‘Interupsi’ Layanan Penerbangan di Masa Depan, Mungkinkah?

Pernyataan di atas didukung oleh direktur Program Transportasi dan Kota di Institut Grattan, Marion Terrill yang juga menyatakan pandangan yang sama.

“Bahwa kereta cepat akan menggantikan rute penerbangan yang ada yang selama ini berdiri di atas kaki sendiri secara komersial,” ujarnya.