Pencarian CVR Lion Air JT-610: Sedot Lumpur di Perairan Tanjung Karawang Akan Dilakukan dalam Waktu Dekat

0
Ilustrasi

Seolah berpacu dengan waktu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus berupaya untuk mendapatkan komponen black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR), setelah sebelumnya pada 1 November 2018, komponen black box berupa Flight Data Recorder (FDR) berhasil ditemukan tim penyelam. Waktu memang menjadi yang dipertaruhkan, mengingat baterai beam dari CVR hanya dirancang untuk memancarkan sinyal selama 90 hari, dimana waktu yang terisa semenjak Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018, ini menyiratkan waktu tinggal 60 hari lagi dari saat ini.

Baca juga: Laporan Investigasi Awal Lion Air JT-610: KNKT Indikasikan Sensor Angle of Attack Tidak Berlaku Normal

Bila toh beam sinyal dari CVR telah mati, data yang tersimpan di dalam black box masih tetap dapat digunakan, sepanjang komponen dari CVR masih berfungsi. Hanya saja, pencarian akan menjadi lebih sulit bila beam sinyal sudah mati. Bagi KNKT, menemukan CVR menjadi sangat krusial guna mendapatkan informasi yang lengkap dalam proses investigasi jatuhnya pesawat. Komunikasi yang terjadi pada 13 menit terakhir antar awak di kokpit dan komunikasi pilot dengan ATC (Air Traffic Control) sangat penting dalam keseluruhan proses investigasi ini.

“Kami ingin mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pilot pada menit-menit terakhir tersebut,” ujar Nurcahyo Utomo, Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, dalam jumpa pers Laporan Awal Investigasi Boeing 737 Max 8 PK-LQP Lion Air di Kantor Pusat KNKT (28/11).

Dalam misi pencarian CVR ini, KNKT disebutkan oleh Nurcahyo membutuhkan peralatan dan perlengkapan khusus, yang berbeda spesifikasinya dari yang digunakan pada pencarian tahap sebelumnya.

Alat pertama yang dibutuhkan adalah kapal yang bisa berhenti tanpa jangkar. Hal ini karena lokasi CVR diduga berada di dekat pipa pertamina dan fiber optik. Kedua, yang dibutuhkan KNKT adalah alat untuk sedot lumpur sehingga lumpurnya akan dipindah sehingga yang mungkin selama ini tertutup lumpur akan terlihat.

Sementara alat ketiga yang dibutuhkan KNKT adalah alat selam yang bisa digunakan dengan durasi lebih lama. “Satu lagi kita butuh alat selam, di mana para penyelam bisa lebih lama di dalam air. Karena yang kemarin itu kalau enggak salah penyelam hanya 10 menit dalam setiap kali selam,” ucap Nurcahyo.

Baca juga: KNKT – Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

Sejumlah upaya sudah dilakukan untuk mendapatkan alat-alat tersebut. Salah satunya berdiskusi dengan pihak terkait untuk memilih kapal khusus yang akan digunakan. “Harapannya, dalam satu-dua hari ini kapal akan segera berangkat dari Singapura menuju ke lokasi,” ujarnya.

Leave a Reply