Peneliti – Bus Rapid Transit Dapat Bersaing Dengan Transportasi Berbasis Massal Lainnya

0
Sumber: istimewa

Hadirnya beberapa moda transportasi baru yang dapat memudahkan masyarakat dalam berkendara merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah akan warganya. Di dalam negeri sendiri, Commuter Line Jabodetabek (KRL) merupakan sebuah bukti efisiensi masyarakat dalam berkendara menggunakan transportasi umum, ditambah lagi dengan sistem Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) yang hingga kini masih dalam tahap pembangunan.

Baca Juga: SAPTCO Percayakan Armada Mercedes Benz Untuk Operasikan BRT

Tidak hanya KRL, Jakarta sendiri memiliki ‘sistem semi’ Bus Rapid Transit (BRT), yaitu TransJakarta. Dibilang ‘semi’ karena jalur khusus untuk TransJakarta ini terkontaminasi oleh pengguna jalan lain, sehingga jalur yang seharusnya bersih dari pengguna jalan lain, malah ikut-ikutan macet karena penumpukkan kendaraan pribadi di jalur khusus tersebut. Jika ditarik kesimpulan, KRL bisa dibilang lebih efisien ketimbang sistem ‘semi’ BRT yang ada di Ibukota, ditinjau dari segi penghematan waktu perjalanan, kenaikan permintaan dari pengendara, dan perubahan pembangunan perkotaan. Lalu, jika digunakan pendekatan yang sama, apakah melulu sistem transportasi massal berbasis kereta akan terus merajai sistem transportasi umum?

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thecityfix.com (23/10/2017), peneliti Transport Review Jesper Ingvardson dan Otto Nielsen dari Technical University of Denmark menyebutkan bahwa kehadiran BRT kerap kali dikaitkan dengan ‘sepupu’ mereka yang lambat, bus lokal. Namun dalam beberapa kasus, BRT dianggap jauh lebih ekonomis dan mengungguli sistem rel.

Studi pun dilakukan oleh Jesper dan Otto dengan melihat apakah BRT dapat mengurangi waktu perjalanan dan memberikan keuntungan (frekuensi bus, kualitas stasiun, jenis kendaraan dan sistem informasi pengguna) terhadap para penggunanya sendiri. Ada variasi besar di sistem BRT mengenai waktu tempuh, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang luas, namun secara keseluruhan, Jesper dan Otto melihat adanya penurunan dari dua objek studi tersebut.

Jesper dan Otto mengatakan bahwa Metrobüs di Istanbul,Bus-VAO di Madrid, dan South Miami-Dade Busway di Florida sebagai contoh BRT yang tidak mengalami penurunan waktu tempuh. Metrobüs di Istanbul menujukkan penghematan waktu perjalanan sebesar 65 persen, jalur Bus-VAO di Madrid menghasilkan penghematan 33 persen dan South Miami-Dade Busway hanya 10 persen.

Keuntungan pengguna sistem BRT di ketiga tempat pun bervariasi: 150 persen di Istanbul, 85 persen di Madrid dan 50 persen di Miami. Poin menarik dari studi ini adalah pengaruh kehadiran BRT terhadap pengemudi. Di 13 kota di mana Jesper dan Otto mempelajari BRT, jumlah pengendara yang bergeser dari perjalanan mobil berkisar antara 5 persen (Stockholm) sampai 40 persen (Adelaide), dengan rata-rata sebesar 17 persen.

Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Jesper dan Otto, mereka berkesimpulan bahwa sistem BRT dapat bersaing dengan kompetitornya, yaitu LRT dan sistem Metro, karena mereka berpendapat bahwa perbandingan diantara seluruh objeknya tidakah terlalu  signifikan. Mungkin akan beda cerita jika Jesper dan Otto mengamati kondisi transportasi di Jakarta, mungkin penilaiannya akan berbeda.

Leave a Reply