Peningkatan pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) sudah terasa hingga saat ini. Berbagai stasiun di jalur yang dilewati KRL Jabodetabek seakan tak kenal waktu. Baik aktivitas hari biasa (weekday) maupun akhir pekan (weekend) KRL sering dipadati penumpang secara beragam. Terlihat di lintas Jabodetabek tiap waktu banyak pengguna melakukan aktivitas ke daerah tujuan, salah satu diantaranya adalah jalur Ramgkasbitung (green line).
Ya, akhir-akhir ini perjalanan KRL di green line terlihat peningkatan terhadap penumpang yang beraktivitas. Hal ini didasarkan pada data jumlah volume penumpang yang di sampaikan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Layaknya di jalur Bogor (red line), perjalanan KRL di green line pun sudah banyak pemukiman yang memiliki jarak dekat dengan stasiun-stasiun KRL.
Oleh karena itu, KAI pun tengah mempercepat modernisasi sistem persinyalan guna mendukung penambahan kapasitas operasional KRL Green Line. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, upaya ini dilakukan sebagai jawaban atas tingginya mobilitas di lintas Tanah Abang – Rangkasbitung.
Bobby mengatakan, lintas ini menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta serta sekitarnya. Berdasarkan data KAI, volume pengguna KRL pada lintas Rangkasbitung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 43,3 juta orang. Angka tersebut meningkat menjadi 62 juta pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69,9 juta pelanggan pada 2024, dan kembali naik menjadi 77,5 juta pelanggan pada 2025. Memasuki periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33,3 juta orang. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari.
Saat ini, okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara lintas Commuter Line lainnya. Setiap harinya, layanan ini dimanfaatkan oleh pekerja, pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, hingga masyarakat yang melakukan perjalanan untuk mengakses berbagai layanan di kawasan Jabodetabek. Tak heran, seiring meningkatnya jumlah pelanggan, tingkat okupansi pada jam sibuk juga terus bertambah.
Pada jalur Tanah Abang – Rangkasbitung, kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta. Untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di lintas tersebut. Penguatan pasokan daya ini menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional rangkaian 12 kereta. Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat sehingga ruang gerak pelanggan saat jam sibuk menjadi lebih baik.
Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan sebagai regulator perkeretaapian nasional. Kolaborasi ini mencakup perencanaan penguatan sistem kelistrikan, pengembangan kapasitas lintas, hingga modernisasi sistem operasi yang diperlukan untuk menjawab pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat di koridor Tanah Abang – Rangkasbitung.
Selain itu, sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Kondisi tersebut berdampak pada headway perjalanan yang saat ini berada pada kisaran 10 menit.
Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat. Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan.
KAI menilai peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan. Seiring berkembangnya pusat permukiman, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial di sepanjang lintas tersebut, kebutuhan terhadap transportasi massal yang aman, andal, dan berkapasitas besar akan terus meningkat.
Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen
