Pipis di Kereta Komuter, Wanita Asal Selandia Baru Terpaksa Menahan Malu

Ilustrasi wanita pipis di kereta (Youtube)

Menahan hasrat untuk buang air kecil bukanlah hal mudah. Apalagi jika kendaraan yang ditumpangi tidak memiliki toilet dan harus berhenti cukup lama karena sebuah gangguan teknis. Jadi apa yang harus diperbuat?

Baca juga: Sering Kebelet Pipis Dalam Angkutan? Simak Tips Untuk Menahannya

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman stuff.co.nz, beberapa waktu yang lalu, seorang wanita asal Wellington, Selandia Baru yang tak disebutkan namanya harus pipis di sebuah kantong plastik karena sudah tak tertahankan lagi. Hal ini disebabkan kereta komuter (Tranz Metro) yang ditumpangi dirinya dan penumpang lain harus terhenti karena gangguan listrik selama dua jam.

Dia sudah sangat putus asa karena kereta yang ditumpanginya tidak memiliki bilik toilet sama sekali dan penumpang tidak diperbolehkan turun dari kereta untuk keselamatan mereka sampai waktu tertentu. Sehingga pada saat hasrat pipis sudah tak tertahankan, wanita tersebut buang air kecil di kantong plastik dengan sembunyi-sembunyi di antara tempat duduk.

“Setelah beberapa saat, saya sampai pada titik dimana saya seperti ingin buang air kecil. Saya tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar karena saya perlu buang air kecil. Kemudian setelah saya selelsai, saya hanya duduk dan mulai menangis, ini adalah hal paling memalukan dihidup saya,” ujar wanita tersebut.

Saat kereta kembali berjalan dan tiba ditujuan, wanita tersebut membawa kantong berisi air kencingnya di kereta dan turun paling terakhir untuk bersembunyi dari penumpang lain. Manajer Tranz Metro, Scott Brooks mengatakan, pihaknya tidak mengetahui kejadian tersebut karena tidak menerima keluhan apapun.

Sebab, kejadian seperti gangguan saluran listrik pada kereta sangat jarang terjadi. Sehingga pada saat ini terjadi semua penumpang harus ditahan di kereta sampai pihaknya yakin tidak ada risiko terhadap keselamatan mereka. Diketahui, wanita tersebut tidak ingin mengadukannya kepada pihak Tranz Metro, sebab dirinya tidak nyaman jika namanya masuk dalam berita.

“Saya tidak ingin mengirim email untuk pengaduan tersebut karena semakin banyak yang melihat nama saya, semakin tidak nyaman,” ujarnya.

Kemudian dia mengirimkan email ke Fran Wilde, ketua komite transportasi regional tetapi tidak ada respon. Wanita tak diketahui namanya tersebut frustasi dengan kurangnya prosedur untuk menangani situasi yang dihadapinya dan berharap ada bilik toilet yang bisa digunakan jika terjadi hal seperti tersebut untuk memudahkan penumpang lain.

Baca juga: Kebelet Pipis, Pengemudi Uber Terpaksa Buang Air Seni di Gelas

Sayangnya Manager operasi kereta api Council Regiuonal, Angus Gabara mengatakan, jika toilet dipasang hanya untuk keadaan darurat sangat mahal dan mengambil banyak ruang.

“Biaya pemasangan dan pemeliharaan serta jumlah tempat duduk yang akan hilang akan perlu dipertimbangkan dengan keadaan darurat yang terjadi di mana orang akan perlu menggunakan toilet. Jika kami memasang toilet di armada saat ini, kami akan kehilangan 498 kursi dan itu akan menelan biaya setidaknya US$16 juta atau sekitar Rp228 miliar,” jelas Gabara.