Tuesday, January 20, 2026
HomeAnalisa AngkutanRahasia Libur Nataru Tanpa Macet: Siapa Sosok Penting di Balik Kesuksesannya?

Rahasia Libur Nataru Tanpa Macet: Siapa Sosok Penting di Balik Kesuksesannya?

Indonesia sangat identik saat libur akhir pekan maupun liburan panjang masyarakatnya berbondong-bondong mencari tempat destinasi favorit dengan kereta api. Seperti halnya libur hari raya seperti Lebaran serta Natal dan Tahun Baru (Nataru) sudah pasti transportasi berbasis rel ini ramai digunakan.

Dikabarkan libur Nataru kemarin sudah banyak masyarakat berkunjung ke destinasi wisata baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Menggunakan kereta api tentu sangat di favoritkan masyarakat karena lebih efisien, cepat dan praktis. Tak hanya itu, selain perjalanan kereta api reguler ada pula perjalanan kereta api tambahan guna bisa menampung masyarakat yang ingin menghabiskan waktu libur Nataru.

Menggunakan kereta api selain relatif nyaman, kereta api dipilih karena punya jalur sendiri, sehingga perjalanan tidak terdampak kemacetan dan bisa ditempuh lebih cepat. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu sosok penting yang jasanya jarang disadari masyarakar.

Adalah seorang tentara Belanda bernama J.H.R. Van der Wijk. Pada dekade 1840-an, dia mengajukan gagasan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membangun jalur kereta api pertama di Pulau Jawa. Jalur ini direncanakan membentang dari Batavia (Jakarta) hingga Surabaya.

Tujuan awal pembangunan kereta api bukanlah untuk melayani masyarakat sipil. Kereta api dirancang demi kepentingan militer. Dengan adanya jalur rel, perpindahan pasukan dan alat utama sistem persenjataan dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan harus melewati jalan darat biasa yang memakan waktu lama.

Dalam buku Sejarah Perkeretapian Indonesia 1867-2014 (2015) disebutkan, gagasan serupa juga muncul dari kalangan pengusaha perkebunan di Jawa. Mereka mengusulkan pembangunan jalur kereta api, khususnya di Jawa Tengah, agar distribusi hasil perkebunan dapat berlangsung lebih efisien.

Meski ide tersebut sudah muncul sejak lama, pemerintah kolonial baru merealisasikannya sekitar satu dekade kemudian. Pada 31 Oktober 1852, pemerintah memberikan izin kepada perusahaan swasta untuk membangun dan mengelola jalur kereta api, termasuk menentukan rutenya sendiri. Dari sinilah kemudian lahir Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Dikutip dari laman CNBC menyebutkan bahwa NISM mendapat mandat membangun jalur kereta api Semarang-Yogyakarta serta Batavia-Bogor. Namun, jalur di Jawa Tengah menjadi proyek yang lebih dulu rampung. Pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Baron Sloet van den Belle meresmikan jalur kereta api pertama di Jawa dengan rute Semarang-Yogyakarta. Sementara itu, jalur Batavia-Bogor baru mulai beroperasi pada 21 Mei 1873.

Sejak saat itu, gagasan yang dicetuskan pada 1840-an mulai terbukti manfaatnya. Kereta api mempercepat distribusi hasil perkebunan sekaligus mempermudah mobilisasi militer. Ketergantungan pada tenaga manusia dan hewan pun berkurang drastis, digantikan oleh sarana transportasi modern yang mampu menghubungkan pedalaman Jawa dengan pusat-pusat ekonomi.

Tak hanya itu, keberadaan jalur kereta api juga mendorong pertumbuhan wilayah di sekitarnya. Banyak desa mengalami perkembangan ekonomi, sementara infrastruktur jalan mulai dibenahi demi menunjang akses menuju stasiun. Seiring waktu, fungsi kereta api pun meluas, tak lagi sebatas mengangkut barang, tetapi juga penumpang.

Sensasi Naik Kereta Api di Bumi Parahyangan Melewati Jembatan Terpanjang dan Tertua

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru