Rusia-Cina Ribut, Proyek Pesawat CR929 Batal?

0
CR929. Sumber: kfgo.com

Cina sangat berambisi merusak duopoli Airbus dan Boeing sebagai raksasa produsen pesawat global. Menurut para pakar, dari tiga syarat menuju ke sana, Cina sudah menguasai satu di antaranya, yakni terkait pendanaan.

Baca juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat ialah melalui pasar modal dan hutang bank. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Saat ini, Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial terbesar di dunia yang digunakan untuk penyewaan pesawat. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

Akan tetapi, syarat lainnya untuk bisa merusak hegemoni Boeing-Airbus, yakni teknologi, belum dikuasai Cina. Hal itu bisa dilihat bagaimana pesawat yang diklaim Made in Cina, C919, besutan BUMN rezim Partai Komunis Cina, China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), diproduksi.

Laporan NTD Indonesia, penasehat senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), Scott Kennedy, mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in Cina. Sebab, seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Interior pesawat Cina-Rusia, CR929. Foto: Getty Images

Misalnya, mesin C919 memakai produk CFM Internasional, perusahaan patungan AS-Perancis. Sistem utamanya, seperti avionik, flight control, bahan bakar, landing gear, dan lainnya juga berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan pesawat Made in Cina lainnya, COMAC ARJ21.

Oleh sebab itu, guna memenuhi kebutuhan teknologi, Cina menggandeng Rusia, yang juga dikenal memiliki teknologi matang di bidang aviasi, untuk memproduksi pesawat perusak hegemoni Airbus-Boeing lainnya yang lebih besar (widebody), CR929; melengkapi C919 yang merupakan narrowbody.

Di awal kemunculannya, proyek besutan perusahaan patungan sesama Negeri Komunis itu, China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC), tampak cukup menjanjikan. Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC sempat memamerkan CR929 dan sesumbar bakal menerbangkan prototipe pesawat tersebut pada tahun 2023. Setahun berikutnya, CR929 direncakan sudah bisa masuk ke dalam layanan maskapai.

Hanya saja, belum lama ini, proyek tersebut terancam tertunda cukup lama hingga tahun 2029. Mengutip laman Simple Flying, hal itu lantaran Rusia dan Cina disebut tengah bersitegang terkait pemilihan pemasok utama pesawat.

Selain itu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov, mengatakan bahwa pihaknya juga tengah bersitegang dengan Cina terkait transfer teknologi dan akses pasar (suplai chain). Sayangnya, informasi yang diberikan tak menyeluruh. Tak disebutkan dengan jelas pihak mana yang memulai terlebih dahulu.

Bila melihat dari kesepakatan kedua negara terkait proyek CR929, dimana Rusia menyediakan teknologi dan pengetahuan teknis serta Cina menyediakan pendanaan, sebagian kalangan menduga bahwa Cina memulai perseteruan itu lebih dahulu. Cina merasa mempunyai segalanya dengan kepemilikan uang yang pada akhirnya mendorong mereka untuk berlaku sedikit arogan.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Integrasi militer-sipil Cina juga disinyalir bakal membuar proyek pesawat CR929 Cina-Rusia tertunda kembali. Terlebih gesekan terkait wabah virus Corona dan buruknya politik luar negeri rezim komunis Cina juga membuat Barat-Jepang bersatu melawan. Perlahan tapi pasti, perlawanan Barat-Jepang terhadap ekspansi Cina untuk menjadi pemimpin baru global juga ditunjukkan dengan memblokade pertukaran teknologi secara massif. Mereka khawatir, teknologi darinya akan diterapkan untuk kebutuhan militer.

Belum lama ini, seperti diberitakan Epoch Times, Jepang menggandeng empat negara Barat, yakni Jerman, Belanda, Inggris, dan AS agar tak mentransfer empat teknologi utama ke Cina, meliputi artificial intelligence (AI), quantum computers, biotechnology, dan hypersonic speed. Blokade dua dari empat teknologi itu, AI dan komputer quantum, dinilai dapat memperlambat proyek tersebut.

Leave a Reply