Sejak akses terhadap suku cadang resmi dan dukungan teknis dari pabrikan Barat diputus pada tahun 2022, banyak pengamat memprediksi industri penerbangan Rusia akan segera “grounded”. Namun, kenyataannya hingga tahun 2026 ini, maskapai besar seperti Aeroflot dan S7 Airlines masih mampu mengoperasikan armada Boeing dan Airbus mereka untuk rute jarak jauh.
Bagaimana cara Rusia mengakali sanksi internasional yang begitu ketat demi keselamatan dan kelangsungan penerbangan mereka? Berikut adalah beberapa strategi “cerdik” yang dijalankan:
1. Jalur Logistik “Pintu Belakang” di Negara Ketiga
Rusia tidak lagi bisa memesan suku cadang langsung dari Seattle (Boeing) atau Toulouse (Airbus). Sebagai solusinya, muncul jaringan perusahaan perantara yang berbasis di negara-negara yang tidak menerapkan sanksi, seperti Uni Emirat Arab, Turki, Cina, hingga beberapa negara di Asia Tengah.
Suku cadang mulai dari ban pesawat, komponen pengereman, hingga sensor elektronik dipesan oleh perusahaan-perusahaan ini, lalu dikirimkan kembali ke Rusia. Laporan menyebutkan bahwa suku cadang penting kini bisa tiba di Moskow hanya dalam hitungan hari melalui jalur “abu-abu” ini.
2. Penyelesaian Status Hukum Pesawat Sewaan
Salah satu kendala terbesar maskapai Rusia adalah status pesawat yang sebelumnya berstatus sewa (leasing) dari perusahaan Barat. Agar pesawat ini tidak disita saat terbang ke luar negeri, pemerintah Rusia mengucurkan dana talangan miliaran dolar untuk melakukan “pembelian paksa” atau penyelesaian hukum dengan para lessor.
Dengan membayar nilai sisa pesawat, status kepemilikan menjadi sah di bawah registrasi Rusia, sehingga pesawat-pesawat Boeing 777 atau Airbus A350 mereka bisa kembali melayani rute internasional tanpa rasa was-was.
Senjata Makan Tuan, Sanksi Barat ke Rusia Bikin Lessor dan Insurer Barat ‘Ribut’ di Pengadilan
3. Kemampuan Perawatan Mandiri yang Meningkat
Karena tidak lagi mendapatkan pembaruan perangkat lunak (software) atau panduan teknis resmi, teknisi di Rusia kini dipaksa menjadi lebih mandiri. Mereka mengembangkan fasilitas perawatan (MRO) lokal yang mampu melakukan inspeksi besar secara mendalam.
Meski sempat ada kekhawatiran mengenai standar keselamatan, maskapai Rusia mengklaim bahwa prosedur perawatan tetap mengikuti standar internasional, hanya saja dengan dukungan komponen yang bersumber dari pasar non-tradisional.
4. Fokus pada Produksi Pesawat Domestik
Sadar bahwa ketergantungan pada Boeing dan Airbus tidak bisa selamanya, Rusia kini tancap gas memproduksi pesawat buatan dalam negeri seperti MC-21 dan Sukhoi Superjet New. Menariknya, pesawat-pesawat baru ini kini menggunakan mesin dan komponen elektronik yang 100% diproduksi di Rusia untuk menghindari hambatan sanksi di masa depan.
Fenomena di Rusia menunjukkan bahwa industri penerbangan global ternyata sangat sulit untuk benar-benar dipisahkan secara total. Kebutuhan akan mobilitas udara memaksa munculnya ekosistem logistik baru yang tidak terduga. Bagi penumpang, hal ini menjadi bukti bahwa ketahanan operasional sebuah maskapai sangat bergantung pada kreativitas rantai pasok di saat krisis.
