Friday, February 27, 2026
HomeDaratSejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda

Sejarah Stasiun Cicalengka: Saksi Bisu Pengasingan Trio Pribumi di Era Kolonial Belanda

Stasiun Cicalengka yang kita kenal merupakan stasiun besar yang berada di kawasan Bandung Timur. Jalur ujung bagi kereta Commuter Line rute Padalarang – Bandung – Cicalengka ini merupakan jalur ramai dengan aktivitas kereta api termasuk rute jarak jauh. Selain itu hingga kini Stasiun Cicalengka masih sibuk dengan aktivitas langsir untuk lokomotif penarik kereta lokal (Commutet Line) Bandung Raya.

Tak hanya itu, berdekatan dengan stasiun teppatnya berada di petak antara Cicalengka – Haurpugur merupakan saksi bisu peristiwa kecelakaan antara kereta api Commuter Line dengan Turangga yang mengakibatkan empat orang pegawai kereta api meninggal dunia dan lalu lintas kereta api di lintas selatan Jawa terutama di koridor Bandung – Kroya terganggu selama 26 jam.

Stasiun Cicalengka yang terletak di Cikuya, Cicalengka, Bandung. Stasiun yang terletak pada ketinggian +689 m ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung. Stasiun ini berada tak jauh dari Jalan Raya Cicalengka–Majalaya. Stasiun ini adalah salah satu stasiun utama di Kabupaten Bandung yang masih aktif setelah adanya pemekaran wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.

Diketahui jalur yang melintasi Stasiun Cicalengka juga merupakan jalur bersejarah yang tak pernah hilang dan menjadikan bangunan di sepanjang jalur kereta api dijadikan cagar budaya oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Stasiun Cicalengka dibangun sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Priangan yang bertolak dari Stasiun Bogor Paledang. Jalur sepanjang 183 km ini melewati kota-kota besar Priangan, seperti Sukabumi, Cianjur, dan Bandung.

Tahun 1920-an, Cicalengka yang berjarak 27 km dari Bandung ini menjadi tempat tinggal Djuanda Kartawidjaja, sosok yang kelak menjadi Perdana Menteri di era Sukarno. Di masa-masa awal menuntut ilmu di Hogere Burgerschool (HBS), Djuanda yang lahir Tasikmalaya ini sempat mendapat julukan Treinjongen (pemuda kereta) karena bersekolah menggunakan kereta api antara Cicalengka dan Bandung.

Pada akhir tahun 1929, Stasiun Cicalengka menjadi saksi pengiriman trio pribumi, yakni Sukarno, Maskun Sumadireja, dan Gatot Mangkoepradja dari Yogyakarta ke Bandung. Mereka ditangkap setelah melakukan aktivitas politik di Solo dan Yogyakarta.

Menurut Her Suganda dalam Jejak Soekarno di Bandung 1921-1934 (2015), sebelum memasuki Bandung, mereka diturunkan di Stasiun Cicalengka dan dikirim ke Bandung menggunakan mobil.

Pada peristiwa Bandung Lautan Api, Stasiun Cicalengka juga dijadikan tempat transit bagi kereta api yang mengangkut dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

Saat proses pemindahan berlangsung, para pegawai mengeluarkan arsip-arsip dari dalam gedung dan memasukkannya ke dalam gerbong-gerbong kereta yang telah disiapkan di rel yang terletak di sebelah selatan kompleks Balai Besar.

Gerbong-gerbong ini kemudian ditarik ke arah timur menuju Stasiun Cicalengka sebelum diungsikan ke kota tujuan. Selama proses pemindahan, Djuanda melakukan inspeksi dan pemeriksaan di stasiun tersebut.

Selain Stasiun Tertinggi Aktif di Indonesia, Yuk Temui Fakta Lainnya dari Stasiun Nagreg

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru