Stasiun transit yang satu ini termasuk stasiun yang cukup ramai dengan penumpang baik dari Jakarta maupun Bekasi. Stasiun ini juga terkenal dengan keunikan sejak dulu karena memiliki jalur atas dan bawah.
Ya, Kampung Bandan sebetulnya bukan hanya soal stasiun kereta nan unik, namun juga kisah asal-usulnya yang berkelindan dengan perkembangan Jakarta sebagai sebuah kota. Nama Kampung Bandan tak luput disebut dalam sejarah Jakarta sejak era kolonial Belanda.
Sejarah singkat mengatakan bahwa asal-usul Kampung Bandan menjadi sorotan dengan berbagai versi cerita. Ada yang menyebut bahwa nama Kampung Bandan berasal dari pulau Banda di Maluku.
Sementara versi lain menyebutkan bahwa kata “banda” diambil dari Bahasa Jawa yang berarti “ikatan”. Interpretasi lain mengaitkannya dengan kata “pandan”, mengacu pada pohon pandan yang dulunya tumbuh subur di kawasan ini.
Tak hanya sejarah yang dimiliki stasiun ini, ternyata ada hal lain yang dimiliki Kampung Bandan. Selain stasiun sebuah masjid tua yang dibangun akhir abad XVIII, Masjid Kampung Bandan, juga masih berdiri dengan pemandangan jalan tol ke arah bandara.
Di antara kekumuhan, kondisi tak sehat, kotor, berantakan, kawasan ini tetap layak menjadi tujuan wisata karena menyisakan stasiun dan masjid dari abad 19. Kampung Bandan dalam peta kawasan Kota Tua sesuai dengan Peraturan Gubernur No 34 tahun 2006 adalah batas bagian Timur. Jadi tempat ini pun masuk dalam program revitalisasi Kota Tua.
Sampai sekarang Stasiun Kampung Bandan tak hanya melayani penumpang, namun hingga kini masih berfungsi sebagai stasiun keberangkatan kereta barang yang melayani jurusan Jakarta-Surabaya pp. Tapi dari megahnya stasiun ini ternyata masih minim keamanan dan keselamatan bagi penumpang.
Ya, seperti yang terlihat pertama di stasiun ini banyaknya anak tangga untuk penyeberangan menuju ke peron lainnya. Ada total 5 jalur di Stasiun Kampung Bandan. Jalur 1 sampai dengan 3 melayani perjalanan KRL rute Jakarta Kota, Manggarai, maupun Cikarang. Sedangkan jalur 4 dan 5 atau berada di lantai atas untuk rute Jakarta Kota maupun Tanjung Priok.
Di tengah padatnya arus penumpang yang setiap hari berganti antara jalur yang disebutkan masih memiliki fasilitas yang minim membuat perjalanan di stasiun ini terasa seperti uji napas bagi banyak orang. Tentunya keluhan yang tak bisa dihindari saat ingin berpindah peron.
Tanpa eskalator, tanpa lift, dan tanpa jalur ramah difabel, keseharian penumpang di Kampung Bandan berubah menjadi pertaruhan kenyamanan bahkan keselamatan. Tentu ini berdampak pada penumpang lansia, disabilitias, ibu menggendong anak, hingga penumpang yang membawa barang lebih.
Harapan untuk Stasiun Kampung Bandan ini sangatlah besar apalagi menyangkut kenyamanan dan keamanan pengguna KRL. Dan sekali lagi, Stasiun Kampung Bandan bukan sekadar titik pemberangkatan. Stasiun ini menjadi jalur transit dari berbagai arah Jakarta Kota, Tanjung Priok, Angke, Duri, Pasar Senen, hingga Manggarai. Setiap hari, penumpang silih berganti memadati peron atas dan bawah.
Jika sudah tersedia fasilitas penunjang yang memudahkan penumpang untuk keselamatan, tentu merasa sangat terbantu. Apalagi Stasiun Kampung Bandan berusia sudah sangat lama serta penumpang yang transit sudah cukup padat. Dan jika ada fasilitas yang ramah akan penumpang lansia maupun disabilitas, tentu hal ini menjadi kabar baik bagi seluruh penumpang KRL. Kita tunggu saja!
