Terlalu Mahal dan Okupansi Rendah, Mahathir Terpaksa Batalkan Pembangunan Fase 3 MRT Malaysia

0
Mahathir Mohamad. Sumber: harianriau.co

Sebagai moda transportasi berbasis massal yang digadang-gadang mampu menjadi solusi kemacetan yang ada, Mass Rapid Transit atau yang biasa disingkat MRT ini tentu kehadirannya diidam-idamkan oleh banyak negara. Tidak perlu jauh-jauh, di Jakarta saja, proyek yang kini tengah ditangani oleh PT MRT Jakarta ini saja telah dinantikan kehadirannya. Namun apa jadinya jika ada satu negara yang membatalkan proyek pengadaan moda transportasi ini?

Baca Juga: Di Malaysia, Jalur MRT Ini Justru Sepi Peminat

Adalah Malaysia, melalui Perdana Menterinya, Dr. Mahathir Mohamad yang pada pertengahan tahun 2018 kemarin membatalkan pembangunan fase 3 MRT Malaysia. Tidak asal membatalkan, Mahathir punya beberapa analisa yang lantas menggiringnya untuk membatalkan mega proyek tersebut – salah satunya adalah kendala ekonomi. “Kami telah membuang banyak uang, dan beberapa proyek ini tidak diperlukan,” ujar Mahathir, dikutip KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (30/11/2018).

Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, biaya pengadaan moda transportasi berbasis massal ini tidaklah murah. Untuk biaya pembangunan MRT yang sekarang eksis di Malaysia saja, otoritas terkait sudah menggelontorkan dana senilai RM50 miliar atau yang setara dengan Rp175,5 triliun (kurs Rp3.500 per ringgit Malaysia). Mahathir berpendapat bahwa dengan dana sebesar itu, atau mungkin lebih untuk pembangunan MRT fase 3, ada baiknya disalurkan ke sektor lain yang lebih membutuhkan.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa moda-moda mahal nan fungsional semacam ini akan memegang peranan besar bagi sektor transportasi di masa yang akan datang, namun Mahathir mengatakan, “Anda bisa membangun jaringan kereta ringan yang notabene lebih ekonomis dan memiliki daya angkut yang tidak terlalu besar. MRT itu satu kereta utuh, itu besar dan mahal,” tukasnya.

Maksud perkataan Mahathir barusan adalah dengan dana pengadaan yang sangat besar, namun okupansi atau daya angkut dari MRT Malaysia sendiri sangatlah kecil. Sederhananya, okupansi MRT Malaysia tidak sepadan dengan dana yang sudah dikeluarkan untuk pengadaan moda ini.

“Orang-orang senang ketika mereka punya MRT sebagai moda transportasi baru,” ujar Mahathir.

Baca Juga: MRT Malaysia Butuhkan 250.000 Penumpang per Hari Agar Bisa Tembus Break Even Point

“Harganya RM50 miliar, tetapi jumlah penumpang yang menggunakan MRT sangatlah kecil, sekitar 130.000 saja. Itu tidak cukup untuk mengembalikan apa pun,” tandasnya.

Berkaca pada Malaysia yang pernah gagal dalam pengadaan MRT, warga Indonesia seharusnya dapat lebih bijaksana dan lebih mempertimbangkan penggunaan sarana transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Selain dapat secara langsung mengatasi masalah kemacetan, dengan menggunakan sarana transportasi berbasis massal, Anda sudah berperan aktif dalam mengatasi masalah polusi.

 

 

Leave a Reply