Utamakan Produk Dalam Negeri, Indonesia Pertimbangkan Pembatasan Impor Kereta dari Jepang

Pemerintah Indonesia mulai mempertimbangkan untuk membatasi impor kereta dari Jepang. Ini merupakan tindak lanjut dari ramainya perbincangan mengenai kapabilitas domestik untuk menyediakan kereta serupa. Jika negara-negara lain memikirkan hal serupa, maka Jepang bisa kehilangan pendapatan dari penjualan kereta bekas lebih dari 90 persen, dan ini bisa saja memicu kekhawatiran pejabat terkait.

Baca Juga: Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

PT KAI Commuter Jabodetabek, yang mengoperasikan layanan kereta api di daerah Metropolitan Jakarta, sampai saat ini telah mengimpor kereta bekas dari East Japan Railway Co., Tokyo Metro Co., Tokyu Corp, dan perusahaan lainnya. Dari sekitar 860 kereta api yang dimiliki PT KAI, penggunaan kereta yang di datangkan dari Jepang lebih dari 90 persen, dan sisanya adalah kereta lokal. Kereta bekas dari Negeri Sakura pun kerap kali menghiasi rel-rel di negara lain, seperti Thailand, Filipina, Myanmar, dan mereka mendapatkan reputasi yang bagus karena tingkat malfungsi yang rendah.

Salah satu alasan logis mengapa negara di dunia banyak memilih kereta bekas dari Jepang adalah karena harganya yang bisa dibilang miring. Umumnya, biaya untuk membeli kereta baru adalah sekitar ¥100 juta. Sedangkan biaya untuk membeli kereta bekas hanyalah sekitar ratusan ribu Yen. Berlandaskan harganya yang murah, inilah yang menjadi salah satu sumber pendapatan Jepang.

JR East telah mengekspor lebih dari 600 kereta bekas sejak periode 1990-an. Sebagaimana KabarPenumpang.com lansir dari the-japan-news.com (23/6/2017), seorang pejabat sebuah perusahaan perkeretaapian besar di Jepang mengatakan, “Kami berasumsi bahwa sebanyak 2.000 mobil bekas telah diekspor dari Jepang.”

Baca Juga: PT INKA, Kepercayaan Dunia Dalam Industri Kereta di Dalam Negeri

Awalnya, tujuan utama mengekspor kereta bekas adalah untuk mendukung negara-negara berkembang yang menghadapi kebutuhan akan sistem transportasi umum. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan kereta api Jepang telah mulai menaruh lebih banyak semangat untuk mengekspor kereta bekas mereka, dengan memperhatikan bahwa hal itu bisa menjadi kesempatan untuk membantu layanan kereta api bergaya Jepang di negara-negara Asia yang sedang mengalami perkembangan ekonomi yang pesat.

Sekarang ada lebih dari 850.000 penumpang yang menggunakan jasa layanan kereta api di Jakarta setiap harinya, meningkat dari 360.000 pengguna di tahun 2010, dan diprediksi peningkatan ini akan terus berlanjut.

Baca Juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Kementerian BUMN, yang bertugas mengembangkan industri dalam negeri, mengatakan bahwa impor kereta harus dibatasi untuk mempromosikan kereta api lokal. Namun, kereta yang diproduksi di dalam negeri kerap kali terkena masalah, seperti pemberhentian akibat gangguan listrik dan lain sebagainya. Mereka yang terlibat dalam operasi sehari-hari sebenarnya merasakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemampuan transportasi nasional.

“Kami membutuhkan lebih banyak kereta api dari Jepang, yang memiliki gangguan lebih sedikit,” ujar seorang pejabat PT KAI Commuter Jabodetabek. Seakan mengamini, seorang pejabat yang terkait dengan industri perkeretaapian Jepang mengatakan, “Kami berharap pemerintah Indonesia akan mendengarkan pendapat tersebut.” tuturnya.