Friday, May 1, 2026
HomeDaratSeperti Tak Termakan Zaman, Jembatan Cirahong Tetap Kokoh Berdiri Sejak Tahun 1893

Seperti Tak Termakan Zaman, Jembatan Cirahong Tetap Kokoh Berdiri Sejak Tahun 1893

Jalur selatan kereta api sudah pasti memiliki sejuta panorama yang membuat penumpang kagum saat menikmati perjalanan. Selain melewati berbagai macam pemandangan, jalur selatan juga melewati bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, bahkan masih digunakan hingga saat ini. Perawatan yang rutin tentu menjadi bukti bahwa bangunan paling tua pun masih tetap beroperasi meski usianya sudah lebih dari seabad lamanya.

Ya, jika pernah mendengar kata ‘Cirahong’ tentu yang terpintas adalah sebuah jembatan yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebuah jembatan kereta api legendaris ini berada di petak antara Stasiun Ciamis dengan Stasiun Manonjaya. Dari bentuk dan rangkanya saja, sudah jelas bahwa jembatan ini dibangun pada masa kolonial Belanda karena konstruksinya memiliki keunikan tersendiri.

Keunikan tersebut bisa terlihat dibagian bawah rel kereta api terdapat lorong yang bisa dilewati kendaraan bermotor dari arah Tasikmalaya maupun dari arah Ciamis. Banyak yang memanfaatkan area Jembatan Cirahong ini untuk para masyarakat sekadar beristirahat atau dijadikan tempat wisata kecil-kecilan karena terdapat warung camilan. Suasana semakin meriah saat kereta api melintas di jembatan dan pandangan masyarakat pun tertuju sembari mengabadikan dengan kamera ponsel.

Jembatan Cirahong bukan sekadar tumpukan besi tua. Jembatan ini adalah monumen hidup yang merekam kemajuan teknik sipil akhir abad ke-19 dan hingga kini masih menjadi urat nadi transportasi yang vital di Jawa Barat. Sebagaimana dicatat dalam berbagai arsip sejarah, jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan susun atau geladak ganda (double deck) di Indonesia yang masih berfungsi aktif untuk dua jenis transportasi sekaligus.

Pembangunan Jembatan Cirahong dimulai pada tahun 1893 di bawah bendera pemerintah Hindia Belanda. Menurut penelitian R. Prasetyo (2022), pembangunan jembatan ini dipicu oleh dinamika ekonomi pasca-pemberlakuan Undang-Undang Agraria 1870. Kebijakan tersebut membuka keran bagi investor swasta untuk membuka perkebunan luas di Tatar Galuh, seperti perkebunan karet Bangkelung.

Untuk mengangkut hasil bumi yang melimpah menuju pelabuhan atau pusat kota, dibutuhkan infrastruktur distribusi yang cepat dan andal. Jembatan Cirahong pun hadir sebagai jawaban logistik untuk menghubungkan Distrik Ciamis dengan jalur ekonomi di wilayah sekitarnya.

Secara teknis, Jembatan Cirahong adalah sebuah keajaiban pada zamannya. Memiliki panjang mencapai 202 meter dan menjulang setinggi 66 meter di atas permukaan sungai, strukturnya didesain untuk menahan beban berat secara vertikal.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah asal-usul materialnya. Sebagaimana ditulis dalam jurnal penelitian arkeologi Sangia, rangka jembatan ini menggunakan besi baja dengan konstruksi mirip anyaman yang didatangkan langsung dari Eropa. Penggunaan teknologi rangka baja ini memungkinkan jembatan tetap stabil meski melintasi jurang sungai yang dalam dan lebar.

Sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1893, Jembatan Cirahong tidak pernah mengalami renovasi total atau perubahan desain struktural. Meskipun demikian, jembatan ini tetap mendapatkan perawatan rutin untuk menjaga keselamatannya. Perbaikan struktur baja guna mengatasi risiko korosi akibat cuaca dan usia. Kerja sama kolaboratif antara Dinas Pekerjaan Umum dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus dilakukan untuk memastikan warisan sejarah ini tetap kokoh berdiri.

Cirahong, Jembatan Double Deck Satu-Satunya di Indonesia

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru