Sebagai jalur kereta api paling barat Pulau Jawa, tentu menyimpan cerita bersejarah mengenai kereta api yang melintas. Apalagi sangat dikenal sejak jaman Kolonial Belanda yang digunakan sebagai penghubung jalur perdagangan maupun angkutan masyarakat. Bahkan hingga kini jalur tersebut masih banyak digunakan untuk menyambung aktivitas dari berbagai kota khususnya wilayah Banten dan sekitarnya.
Ya, jalur ini cukup terkenal antara Stasiun Rangkasbitung hingga paling akhir di Stasiun Merak. Bahkan stasiun yang digadang-gadang memiliki aset bersejarah ini pun merupakan transportasi penghubung antara Jawa dan Sumatra. Stasiun Merak yang bangunannya terlihat sederhana ini sudah tak asing lagi dengan aktivitas kereta api yang dikenal sebagai lokalnya jalur barat. Masyarakat pun tentunya sangat terbantu dengan transportasi kereta api tersebut dengan tarifnya yang terjangkau dan murah.
Diketahui Stasiun Merak diresmikan pada 1 Desember 1914 oleh Staatsspoorwegen Hindia Belanda. Sejak awal, stasiun ini dibangun untuk mendukung pergerakan penumpang dan barang, khususnya bagi masyarakat yang akan menyeberang ke Sumatra melalui jalur laut. Terletak di pesisir Cilegon, Banten, Stasiun Merak menjadi titik temu penting antara jalur rel dan jalur laut.
Hingga kini, arsitektur bergaya Indische Klasik masih dipertahankan, menjadikan Stasiun Merak bagian penting dari sejarah perkeretaapian nasional. Keunggulan utama Stasiun Merak adalah lokasinya yang bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Penyeberangan Merak–Bakauheni. Integrasi ini memudahkan penumpang berpindah moda transportasi dengan cepat, baik menuju kapal laut, bus antarkota, maupun angkutan lokal.
Stasiun Merak sekarang ini melayani perjalanan KA Commuter Line Merak dengan relasi Merak-Rangkasbitung (pp) sebanyak 14 perjalanan setiap hari. Volume pelanggan mencapai rata-rata 1.300 orang per hari atau sekitar 40.000 pelanggan per bulan. Sebagian besar adalah pengguna komuter harian, sementara sisanya merupakan wisatawan dan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan dengan kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak.
Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry
Berbagai fakta tentunya bisa ditemukan di Stasiun Merak. Diketahui bahwa pada dekade 1890-an, perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) memiliki rencana untuk membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Duri hingga Serang, melalui Tangerang dan Cikande. Tujuan utama dari proyek ini adalah meningkatkan mobilitas penumpang dari Batavia ke kawasan Banten, sehingga perjalanan dapat berjalan lebih lancar dan terkoneksi secara efisien melalui jalur kereta api yang direncanakan.
Sejarah menyebutkan pada Stasiun Merak ini awalnya memiliki kanopi kayu dan berdekatan langsung dengan laut dan dermaga. Diperkirakan, kanopi ini dihancurkan pada masa kemerdekaan. Bangunan ini sebelumnya dilengkapi dengan turntable dan jalur cabang menuju Pelabuhan Indah Kiat untuk kereta api angkutan bubur kertas, namun fasilitas tersebut telah dibongkar dan tidak lagi ada.
Fakta lainnya adalah bangunan stasiun asli telah dihancurkan pada akhir 1980-an untuk pembangunan terminal penyeberangan kapal feri, yang sekarang menjadi kantor Pelabuhan ASDP Merak. Pada masa lalu, antara Stasiun Merak dan Stasiun Krentjeng (Krenceng), terdapat Halte Rangkamila dan Halte Tegalwangi, tetapi keduanya tidak aktif lagi.
Hingga kini, Stasiun Merak menjadi contoh nyata bagaimana aset bersejarah dapat terus berperan dalam sistem transportasi modern. Melalui inovasi digital seperti aplikasi Access by KAI, masyarakat kini dapat memesan tiket, mengecek jadwal perjalanan secara real-time, memilih tempat duduk, hingga mengakses informasi promo dengan lebih mudah. Meski usianya lebih dari seratus tahun, Stasiun Merak tetap menjadi nadi transportasi dan simbol keterhubungan antarpulau, menjembatani masa lalu dan masa depan perkeretaapian Indonesia.
