Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8

Sumber: wikipedia

Setelah menjadi headline di sejumlah media, akhirnya Boeing mengaku bahwa adanya kesalahan pada sistem pesawat 737 MAX 8. Perusahaan mengakui bahwa kesalahan sistem tersebut berkontribusi pada dua kecelakaan pesawat dalam rentang waktu lima bulan – Lion Air di Tanjung Karawang pada Oktober 2018 silam dan Ethiopian Airlines di Addis Ababa pada Maret kemarin. Melalui CEO Boeing, Dennis Muilenburg mewakili perusahaan yang ditungganginya meminta maaf atas dua kecelakaan yang menewaskan ratusan penumpang tersebut.

Baca Juga: Terkait Pembatalan Pesanan 737 MAX 8, Petinggi Boeing Sambangi Garuda Indonesia Hari Ini

“Kami di Boeing menyesal atas nyawa yang hilang dalam kecelakaan 737 baru-baru ini dan tanpa henti fokus pada keselamatan untuk memastikan tragedi seperti ini tidak pernah terjadi lagi,” ujar Dennis dalam sosial media Twitter pribadi miliknya, Kamis (4/4/2019).

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, untuk pertama kalinya Dennis mengakui bahwa dalam situasi darurat tertentu, Maneuver Characteristics Augmentation System (MCAS) dapat menyebabkanpilot kehilangan kendali atas sebuah pesawat sebagai respons terhadap data yang salah dari sensor eksternal pesawat.

MCAS atau sistem anti-stall bekerja lewat sensor yang terpasang pada hidung pesawat. Saat posisi hidung pesawat terlalu mendongak jauh ke atas, maka sistem MCAS ini akan memanipulasi ekor pesawat untuk menjaga level ketinggian pesawat dan mencegah stall.

Namun, para penyelidik dan pengungkap fakta Boeing mengklaim bahwa sensor tersebut dapat memberikan pembacaan yang salah. Akhirnya, sistem itu justru membuat hidung pesawat menukik tajam ke bawah atau dalam artian lain pilot tak bisa mengendalikan pesawat seperti kasus yang terjadi pada Ethiopian Airlines.

Pernyataan dari Dennis ini datang pada hari yang sama dimana para penyelidik kecelakaan Ethiopian Airlines mengatakan bahwa awak penerbang Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302 telah melakukan semua prosedur yang dianjurkan oleh Boeing, namun tetap tidak bisa mengendalikan pesawat nahas tersebut.

Sebenarnya, para penyelidik sudah lama mencurigai adanya kerusakan pada sistem Boeing 737 MAX 8 yang berperan dalam kedua kecelakaan tersebut. Penyelidik mengatakan bahwa ada kesamaan yang jelas antara kedua kecelakaan tersebut – dan dugaan para penyelidik tersebut diamini oleh pihak Boeing.

Baca Juga: Pasca Grounded Massal, Boeing 737 MAX 8 Masih Saja Bermasalah, Southwest Flight 8701 Mendarat Darurat

Sementara itu, beberapa waktu ke belakang Boeing sempat mengumpulkan ratusan pilot dan regulator penerbangan dari berbagai penjuru dunia guna bertukar informasi mengenai pembaruan sistem, dimana, “pembaruan ini, bersamaan dengan pemberian pelatihan dan materi pendidikan tambahan yang diinginkan pilot setelah terjadinya insiden kecelakaan. Harapannya, hal itu bisa menghilangkan kemungkinan aktivasi MCAS yang tak diinginkan dan mencegah kecelakaan akibat MCAS tak terulang lagi,” terangnya.