Akibat Corona, Boeing dan Airbus Bahas Merger untuk Selamatkan Bisnis

0
Airbus A380 dan Boeing 747 Lufthansa. Foto: Istimewa

Produsen pesawat terbesar di dunia Boeing dan Airbus dikabarkan tengah membahas rencana merger untuk menyelamatkan bisnis kedua perusahaan tersebut. Tak hanya itu, kedua perusahaan asal Amerika dan Eropa tersebut juga dikabarkan akan memperkuat lini bisnis keduanya ketika pandemi virus corona benar-benar telah lenyap dari muka bumi.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Dikutip dari aeronauticsonline.com, dasar keduanya untuk membahas merger tak lain dan tak bukan adalah wabah Covid-19 yang diakui telah meluluhlantahkan industri penerbangan global dan membuat seluruh perusahaan (yang bergelut di bidang penerbangan, baik suplai chain, maskapai, hingga travel agent) semuanya telah menderita kerugian, termasuk di dalamnya Airbus dan Boeing.

Airbus, misalnya, pada Februari kemarin dilaporkan sama sekali tidak menerima satupun pesanan pesawat. Adapun kompetitornya, masih lebih baik, di bulan Februari, pabrikan tersebut berhasil mengirimkan 42 pesawat hingga menyisakan 5.351 backlog pesawat (belum dikirim). Jika kondisi tersebut terus berlanjut, dampak yang lebih besar tentu akan sangat terasa. Celakanya, menurut kepala pemasaran Boeing, Tonya DelMaestro, kondisi seperti ini masih akan terus berlanjut sampai batas waktu yang belum dapat diprediksi.

Meskipun keduanya mengaku telah melakukan sejumlah langkah pencegahan (efisiensi), hal tersebut hanyalah bagian dari strategi jangka pendek dan masih belum cukup untuk membuat perusahaan benar-benar aman dalam menatap masa depan bisnis. Oleh karenanya, setelah melalui serangkaian proses, anggota dewan komisaris dari kedua belah pihak pun akhirnya mengadakan pertemuan online. Setidaknya ada lima poin penting yang dibahas pada pertemuan online tersebut.

Pertama, Boeing dan Airbus akan memproduksi jumlah pesawat dalam jumlah tetap di setiap bulannya. Adapun jumlah tetapnya berapa, hal tersebut belum diumumkan secara resmi. Kedua, produsen pesawat tersebut akan menyewakan jasa parkir pesawat untuk maskapai yang paling membutuhkan, dengan harga yang lebih kompetitif dibanding parkir di bandara setempat (Amerika dan Eropa).

Ketiga, Boeing dan Airbus akan menyiapkan jalur perawatan pesawat masing-masing dengan menawarkan harga yang lebih murah. Hal ini nantinya akan sangat membantu maskapai yang notabene tengah dalam kondisi terpuruk, selain juga membantu mencegah penumpukan yang terjadi di fasilitas perawatan milik maskapai.

Baca juga: Boeing ‘Wakafkan’ Pesawat Kargo Terbesar Miliknya untuk Perang Melawan Corona

Keempat, Boeing dan Airbus akan mengucurkan sejumlah dana untuk investasi proyek strategis mereka dan akan mengembalikan uang tersebut secara utuh. Adapun yang kelima, keduanya sepakat untuk memberikan akses ke jalur produksi masing-masing. Dengan begitu, pesawat Airbus dapat berada di fasilitas milik Boeing, begitupun sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk konversi dari penumpang ke barang, yakni Boeing Converted Freighter (BCF) dan Airbus passenger to freighter (P2F).

Kelima poin tersebut dijanjikan sesegera mungkin akan dilakukan guna menghindari kerugian yang semakin membesar. Namun, tetap saja, pada akhirnya, hanya waktu yang bisa menjawab kapan kedua perusahaan tersebut dapat benar-benar menjalankan poin-poin tersebut serta poin-poin lainnya yang mungkin tak diungkap ke publik.

Leave a Reply