Operasional Bandara Avalon di Melbourne, Australia, sempat lumpuh sebagian selama beberapa jam setelah penemuan sebuah paket mencurigakan memicu alarm ancaman bom pada Kamis pagi waktu setempat. Insiden yang sempat membuat panik seisi terminal ini bermula ketika petugas keamanan bandara mendeteksi objek mencurigakan di dalam tas seorang penumpang saat melewati pemindaian sinar-X (X-ray screening) pada pukul 06.00 pagi.
Namun setelah diselidiki mendalam oleh tim penjinak bom, paket yang dicurigai sebagai bahan peledak tersebut ternyata hanyalah sebuah alat penghilang bulu berbasis laser (laser hair removal device) yang dikemas bersama sebuah kotak minuman cokelat panas.
Akibat dari insiden ini, pihak otoritas keamanan terpaksa menutup sebagian area terminal domestik guna memberikan ruang bagi kepolisian dan tim penjinak bom untuk melakukan sterilisasi area. Penutupan darurat yang berlangsung selama hampir empat jam ini berdampak langsung pada kacaunya jadwal penerbangan domestik di hub udara tersibuk kedua di negara bagian Victoria tersebut. Maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) Jetstar, yang menjadi operator utama di Bandara Avalon, terpaksa membatalkan dua jadwal penerbangan rute Sydney-Melbourne PP serta menunda keberangkatan sejumlah jadwal penerbangan domestik lainnya, meskipun operasional penerbangan internasional dilaporkan tetap berjalan normal.
Proses investigasi di lapangan sempat memakan waktu lebih lama dari perkiraan akibat sikap pemilik tas yang dinilai tidak kooperatif saat diinterogasi oleh pihak berwajib. Penumpang pria asal Melbourne tersebut sempat ditahan sementara oleh polisi untuk dimintai keterangan sebelum akhirnya dilepaskan tanpa tuntutan hukum setelah paket miliknya dipastikan 100% aman. Pihak Kepolisian Victoria menyayangkan sikap penumpang tersebut karena jika yang bersangkutan mau bersikap terbuka sejak awal, kepanikan massal dan penundaan operasional bandara yang merugikan banyak orang ini sebenarnya bisa diselesaikan jauh lebih cepat.
Di sisi lain, situasi penutupan terminal ini sempat memicu keluhan dari ratusan penumpang yang telantar di luar area bandara tanpa informasi yang jelas. Banyak calon penumpang, termasuk mereka yang hendak terbang menuju Brisbane, diperintahkan oleh petugas untuk menunggu di area parkir terbuka tanpa adanya kompensasi standar seperti akses toilet, tempat berteduh, maupun penyediaan makanan dan minuman ringan selama masa penutupan berlangsung. Penumpang baru menyadari bobot keseriusan masalah setelah melihat rombongan mobil patroli polisi dan tim gegana merangsek masuk ke dalam area terminal yang sudah dipasangi garis pembatas.
Menanggapi insiden memalukan yang berujung kepanikan ini, juru bicara Bandara Avalon menyatakan bahwa respons cepat yang diambil oleh seluruh elemen pengamanan justru menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan dan ketatnya prosedur pemindaian di bandara mereka.
Langkah isolasi mandiri dan penutupan terminal secara instan tersebut diklaim sebagai tindakan pencegahan standar yang wajib diambil demi menjamin keselamatan mutlak para penumpang, staf maskapai, serta masyarakat luas di lingkungan bandara dari segala bentuk potensi teror.
Akibat Ancaman Bom Palsu, Pesawat Scoot Dikuntit F-15SG dan Tunda Penerbangan Ke Thailand
