Antisipasi Teror, British Transport Police Hadirkan Petugas Bersenjata Laras Panjang

Sumber: dailymail.co.uk

Setelah serangkaian serangan yang melanda Tanah Britania terhitung sejak 22 Mei 2017 kemarin saat sebuah bom bunuh diri mengguncang Manchester Arena kala konser Ariana Grande, dan yang paling anyar adalah rangkaian teror yang terjadi di sekitaran London Bridge dan dan Borough Market pada Sabtu (3/6/2017) kemarin membuat sejumlah pihak berwenang menetaskan beberapa putusan yang diharapkan dapat mencegah dan menanggulangi aksi teror yang terjadi.

Baca Juga: Pertaruhkan Nyawa, Penumpang Wanita Ini Halau Teroris Lakukan Penusukkan

KabarPenumpang.com melansir dari yorkshirepost.co.uk, Kamis (25/5/2017), British Transport Police (BTP) mengumumkan langkahnya dalam upaya untuk mencegah tindak kriminal di jaringan kereta, mengingat meningkatnya level teror di Inggris, terhitung sejak 22 Mei 2017 silam. Langkah pencegahan tersebut berupa pengerahan beberapa anggota bersenjata laras panjang yang akan berpatroli di kereta jarak jauh. Sebelumnya, pada Desember 2016 lalu, para petugas bersenjata ini sudah mulai berpatroli di jaringan Underground, namun penerapan di kereta jauh merupakan yang pertama kalinya.

Paul Crowther, selaku Kepala BTP mengatakan penempatan para petugas bersejnata tersebut masih terfokus pada jalur kereta yang menghubungkan kota-kota besar. “Ini merupakan sebuah tindak pencegahan dan aksi pengamanan nyata terhadap serangan teroris yang bisa saja menyerang jaringan transportasi,” Ungkap Paul.

Pertama kali, para petugas bersenjata laras panjang ini turut dalam Virgin Trains tujuan London Euston menuju Birmingham New Street pada Kamis (25/5/2017) siang. Crowther berharap, kehadiran para petugas bersenjata tersebut dapat meningkatkan keamanan di kereta. “Kami dapat memastikan kereta dalam kondisi yang aman,” tutur Crowther. “Petugas bersenjata tersebut dapat dengan mudah dicari, namun bukan berarti kehadiran mereka di kereta malah menambah ketakutan bagi para penumpang,”tambahnya.

Paul juga meminta pada para penumpang agar tidak khawatir dengan kehadiran petugas bersenjata di perjalanan mereka. “Mereka hanyalah petugas biasa yang bersahabat, kehadiran mereka pun di-plot untuk bisa berinteraksi dengan khalayak ramai agar mereka bisa mensosialisasikan tentang masalah yang seolah menjadi santapan sehari-hari,” pungkasnya.

Sejak pemerintah mengoperasikan Operation Temperer, BTP mendapat keuntungan dengan penyertaan petugas bersenjata laras panjang dari Kementerian Kepolisian dan Pertahanan, yang akan ditempatkan di sejumlah stasiun di London. Dibalik itu semua, Paul bersikeras bahwa BTP tidak memiliki intelijen spesifik terkait ancaman terhadap jaringan kereta api, namun meminta masyarakat untuk tetap waspada.

Sejalan dengan Paul, Chief Executive dari Rail Delivery Group, Paul Plummer memuji langkah yang diambil oleh pihak BTP dalam mengentaskan tindak terorisme yang  diusung-usung sudah menjadi ancaman nasional Inggris tersebut. “Walaupun sudah ada polisi, semua orang yang berada di jaringan kereta api dihimbau untuk tetap waspada.” tutupnya.

Sumber: KapanLagi.com

Berbeda dengan di Indonesia, kehadiran polisi bersenjata api di kereta bukanlah dalam rangka untuk mengamankan penumpang pasca tindak terorisme, melainkan untuk mengamankan keamanan di dalam kereta api selama libur Hari Raya Idul Fitri 1437H yang jatuh pada tahun 2016 silam. Manager Pengamanan Operasional DAOPS I PT KAI kala itu, Suharsono, meminta bantuan keamanan Kepolisian Daerah untuk turut menerjunkan anak buahnya ke lapangan. Total ada 594 personil yang akan turun mengamankan jalannya mudik nasional tersebut.

Baca Juga: Sambut Angkutan Lebaran, Per 1 Juni 2017 PT ASDP Jual Tiket Online via Gadget

Dalam keterangannya, Suharsono mengaku akan menempatkan polisi bersenjata tersebut di daerah rawan tindak kejahatan ringan seperti copet di stasiun-stasiun besar. Penempatan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat stasiun besar seperti Gambir dan Senen biasanya selalu ramai dipenuhi oleh para pemudik dan memungkinkan untuk para pelaku kriminal melancarkan aksinya. Tidak hanya di stasiun, polisi bersenjata api pun turut ditempatkan di kereta-kereta. “Ada yang di dalam kereta, tetapi kami menempatkan di kereta makan saja tidak ikut kontrol,” tuturnya.