Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

0
Parade seragam pramugari Avianca selama 100 tahun mengudara. Foto: LATTE Luxury News

Avianca Airlines, maskapai terbesar ketiga di Amerika Latin, setelah LATAM Airlines (LTM) Chili dan GOL Linhas Aéreas (GOL) Brasil, dilaporkan mengajukan bangkrut ke pengadilan New York pada Minggu, 10 Mei 2020. Maskapai yang berbasis di Bogota, Kolombia itu mengajukan bankrut usai gagal memenuhi tenggat pembayaran utang yang mencapai lebih dari USD7,3 miliar atau Rp108 triliun (kurs 15 ,012).

Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun

Sambil menjalani proses bangkrut, maskapai tetap beroperasi seperti biasa. Selain itu, dalam upaya bertahan, perusahaan juga masih mencari pinjaman, kelonggaran utang, hingga bantuan keuangan dari pemerintah.

Tak hanya itu, maskapai tertua kedua di dunia ini (hanya berjarak sekitar dua bulan dengan KLM-Air France sebagai maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi) juga berencana menutup operasional di Peru yang selama ini menyumbang sekitar lima persen pendapatan perusahaan. Avianca juga bakal memberhentikan ratusan karyawan dalam sepuluh hari ke depan.

Saat ini, lebih dari 140 pesawat Avianca telah mendarat sejak Presiden Kolombia Ivan Duque menutup wilayah udara negara itu pada Maret. Tercatat sebanyak 20.000 karyawannya di seluruh Amerika Latin telah diberhentikan dengan status cuti yang tidak dibayar. Maskapai berumur 1 abad ini diketahui telah menutup operasinya sejak Maret 2020 dan tengah mengalami penurunan pendapatan hingga 80 persen.

“Avianca menghadapi krisis yang menantang dalam 100 tahun terakhir,” kata CEO Avianca Anko van der Werff, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari CNN Internasional.

Meski demikian, analis Center for Aviation (CAPA) menyebut, terlepas dari wabah virus Cina, Avianca telah mengalami masalah keuangan sejak lama. Tak heran, bila keadaan luar biasa membuat perlambatan ekonomi di seluruh dunia, termasuk menerjang industri penerbangan, kondisi keuangan Avianca Airlines semakin memburuk. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari kaburnya sanga CEO secara tiba-tiba yang diduga telah melihat akhir dari sepak terjang maskapai.

“Itu bukan hal mengejutkan,” kata Juan David Ballen, kepala ekonomi lembaa analis keuangan Casa de Bolsa di Bogota. “Perusahaan itu memiliki hutang yang banyak, mereka berusaha merestrukturasi hutangnya pada tahun lalu,” katanya.

Pimpinan Komersial Avianca, Silvia Mosquera mengatakan jika kondisi perusahaan sudah membaik, mereka akan mempekerjakan kembali karyawan yang di-PHK. Optimisme ini berangkat dari sejumlah negara yang sudah melonggarkan lockdown dan mengizinkan maskapai penerbangan beroperasi kembali.

Namun jika perusahaan gagal pulih, maka Avianca akan menjadi maskapai penerbangan besar pertama dan maskapai kedua yang bangkrut akibat wabah corona setelah FlyBe. Pada 2003, Avianca pernah mengajukan kebangkrutan karena masalah internal. Namun perlahan maskapai itu mampu bangkit kembali dan beroperasi seperti biasa.

Sebelumnya, pada awal Maret lalu, maskapai asal Inggris, FlyBe, dinyatakan bangkrut akibat tak mendapatkan suntikan dana segar dari pemerintah Inggris sebesar 100 juta poundsterling Rp1,8 triliun dan konsorsium pemilik perusahaan sebesar US#130 juta atau Rp1,8 triliun guna menstabilkan bisnisnya. Selain itu maskapai juga tercatat memiliki utang Rp320 miliar.

Baca juga: Gegara Virus Corona dan Tak Dapat Utang Baru, Maskapai Terbesar Inggris “FlyBe” Bangkrut

Maskapai lainnya yang juga berada di jurang kebangkrutan adalah Virgin Atlantic dan Virgin Australia milik konglomerat asal Inggris, Richard Branson. Belum lama ini, ia mengaku akan menawarkan pulau pribadi miliknya di Necker Island, Karibia kepada Pemerintah Inggris dan Australia sebagai jaminan. Hal itu dilakukan semata agar dua maskapai miliknya bisa segera mendapatkan suntikan modal demi kelangsungan hidup perusahaan di tengah ketidakpastian bisnis penerbangan akibat pandemi virus Cina.

“Kelangsungan hidup Virgin Atlantic dan Virgin Australia penting untuk memberikan kompetisi yang sangat dibutuhkan kepada British Airways, anak perusahaan IAG (ICAGY), dan Qantas (QABSY). Jika Virgin Australia menghilang (bangkrut), Qantas akan secara efektif memonopoli langit Australia,” katanya, sebagaimana dikutip dari CNN Internasional.

Leave a Reply