Industri penerbangan global kembali diguncang ketidakpastian besar. Maskapai raksasa asal Korea Selatan, Korean Air, secara resmi mengumumkan masuk ke dalam “mode darurat” (emergency mode) guna menghadapi tekanan finansial yang kian berat. Langkah ekstrem ini diambil menyusul jejak maskapai besar lainnya seperti Asiana Airlines, Qantas, United Airlines, hingga Delta Air Lines yang telah lebih dulu melakukan efisiensi ketat.
Krisis ini dipicu oleh kombinasi mematikan antara lonjakan harga bahan bakar pesawat yang mencapai rekor tertinggi, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta ketidakstabilan rute internasional akibat ketegangan geopolitik.
Untuk menjaga arus kas tetap stabil, Korean Air dilaporkan mulai menawarkan skema cuti tak berbayar (unpaid leave) bagi karyawannya. Langkah ini merupakan upaya terakhir untuk menekan biaya operasional tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Selain efisiensi SDM, Korean Air juga melakukan peninjauan ulang terhadap rute-rute penerbangan yang dianggap kurang menguntungkan. Pemangkasan rute ini diperkirakan akan berdampak pada jadwal penerbangan internasional jarak jauh, yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan maskapai.
Salah satu dampak paling nyata yang akan dirasakan oleh penumpang adalah kenaikan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge. Dengan harga avtur yang terus meroket, Korean Air dan para pesaingnya tidak memiliki pilihan selain membebankan sebagian biaya tersebut kepada konsumen.
Kondisi ini diperkirakan akan membuat harga tiket pesawat tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, yang pada gilirannya bisa menghambat laju pemulihan sektor pariwisata global yang baru saja ingin bangkit.
Masuknya Korean Air ke dalam mode darurat ini membuktikan bahwa krisis ini bukan masalah lokal. Qantas di Australia serta maskapai “Big Three” dari Amerika Serikat (United, Delta, American Airlines) juga tengah berjuang dengan masalah serupa. Masalah kekurangan tenaga kerja dan biaya pemeliharaan armada yang membengkak semakin memperparah kondisi internal maskapai.
Bagi para pelancong, situasi ini menjadi peringatan untuk lebih teliti dalam merencanakan perjalanan, mengingat adanya potensi perubahan jadwal mendadak serta kenaikan harga tiket yang sewaktu-waktu bisa terjadi di tengah upaya maskapai bertahan hidup di masa sulit ini.
Air New Zealand Batalkan 1.100 Penerbangan Akibat Krisis Bahan Bakar
