Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara?

0
Ilustrasi pilot sebelum memutuskan landing atau divert. Sumber: 43airschool.com

Sektor dirgantara memang merupakan sebuah bisnis yang sangat rumit. Tidak melulu soal harga tiket yang melambung, melainkan juga faktor teknis di dalamnya pun terbilang tidak mudah untuk dijalankan. Itulah mengapa seorang pilot memerlukan sebuah pelatihan khusus sebelum akhirnya bisa menerbangkan sebuah pesawat secara komersial. Bukan hanya dituntut untuk bisa dengan piawai mengendalikan si burung besi, melainkan juga para awak kokpit ini harus terlatih untuk mengatasi kondisi darurat – terutama ketika mereka tengah mengudara.

Baca Juga: Jika Terjadi Perkelahian di Kabin, Pilot Bisa Berlakukan Prosedur Pendaratan Darurat

Kembali ke tanggal 4 November 2010 silam, dimana salah satu mesin dari Airbus A380 yang dioperasikan oleh maskapai Qantas Airways dengan nomor penerbangan QF32 meledak sekira empat menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Changi di Singapura. Pesawat tersebut mengangkut 440 penumpang, 24 awak kabin, tiga kapten, dan dua kopilot di ruang kokpit. Ledakan tersebut berdampak pada rusaknya sistem kelistrikan dan hidrolik di dalam kabin, serta sistem kendali pesawat juga ikut terkendala.

Menurut Australian Transport Safety Bureau (ATSB), kondisi di ruang kokpit ketika situasi darurat tersebut sangatlah sulit. Tercatat dalam 20 detik setelah mesin meledak, awak kokpit menerima 36 peringatan di layar monitor. Seluruh awak kokpit harus saling bekerja sama untuk bisa mendaratkan pesawat nahas tersebut dengan selamat – termasuk membuang kapasitas bahan bakar sehingga pesawat dapat mendarat dengan aman. Beruntung, Qantas Airways QF32 berhasil mendarat dengan selamat.

Dari sini tercermin bahwa tugas yang diemban oleh awak kokpit tidaklah mudah – terlebih ketika menghadapi situasi darurat, dimana mereka harus tetap mengendalikan pesawat dengan baik dan benar, memikirkan langkah yang harus dilakukan, hingga berkomunikasi dengan menara pemantau untuk meminta ijin mendarat atau sekedar berkoordinasi dan memberitahu mereka bahwa pesawat yang dikemudikan mengalami kendala.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman hbr.org, hampir semua pilot yang diwawancarai mengenai situasi sulit yang ada di ruang kokpit ketika kondisi darurat mengatakan bahwa mereka akan meminta tolong kepada rekannya untuk memantau mereka semisal ada sesuatu yang terlewatkan. Ya, kondisi darurat yang mengancam ratusan nyawa ini menjadi tekanan tersendiri bagi para pilot dan situasi ini dapat dengan mudah membuyarkan konsentrasi mereka.

“Saya akan meminta tolong kepada rekan saya (kopilot) untuk mengawasi saya semisal ada sesuatu yang terlewat,” ujar seorang pilot berpengalaman asal Israel.

“Bahkan seorang pilot paling berpengalaman pun bisa saja melewatkan sesuatu, bekerja terlalu cepat, hingga kehilangan fokus,” sambungnya.

Baca Juga: Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Dalam kondisi darurat semacam ini, komunikasi menjadi suatu hal penting yang tidak boleh terinterupsi sama sekali. Selain komunikasi, pembagian tugas juga menjadi kunci keselamatan selanjutnya – dimana seorang pilot tidak bisa mengatasi situasi darurat seorang diri, mereka harus bekerja sama dengan kopilot untuk bisa mendaratkan pesawat dengan selamat.

“Saya selalu meminta pendapat kopilot saya dulu. Saya tidak ingin dia menerima pandangan saya tanpa kritik, terutama jika saya salah,” imbuh pilot tersebut.

Leave a Reply