Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

0
Sambil tetap memakai masker dan menjaga jarak, peserta karantina di Darwin tetap bisa beraktivitas normal layaknya orang berlibur. Foto: Lexi Spurr

Untuk pertama kalinya sejak Juni lalu, zona merah Covid-19 di Australia, negara bagian Victoria, melaporkan nihil kasus virus Corona pada Oktober dan November lalu. Kesuksesan itu dipercaya berkat aturan lockdown ketat selama enam pekan yang membuat warga jenuh berada di dalam rumah. Namun, tidak untuk Sheree Rubinstein dan bayinya yang baru berusia lima bulan.

Baca juga: Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia

Sebelum lockdown diberlakukan, Sheree dan buah hati, Goldie, didesak hijrah oleh teman-temannya agar tak merasakan lockdown berkepanjangan nan membosankan di Victoria. Meskipun sempat menolak, desakan kabur dari negara bagian dengan penduduk terpadat kedua di Australia itu akhirnya diterima dan pindah ke Darwin sebelum menuju Byron Shire, di pantai utara New South Wales.

Di sana, Sheree memang tetap diwajibkan menjalani karatina selama 14 hari. Namun, karantina di sini berbeda dengan karantina di Victoria ataupun di kota-kota lainnya. Sebab, karantina di Darwin, masih memungkinkan seseorang untuk beraktivitas, seperti jogging hingga berenang.

Sheree dan sang buah hati, Goldie. Foto: Lexi Spurr

Dilansir ABC Australia, karantina di fasilitas Howard Springs selama dua pekan wajib dijalani Sheree dan warga lainnya yang hendak masuk ke Darwin dengan biaya $2.500 untuk perorangan dan $5.000 untuk keluarga.

Dahulu, fasilitas Howard Springs merupakan sebuah kamp pekerja. Namun, sejak tahun lalu, kamp tersebut kosong dan dikelola oleh pemerintah Northern Territory. Di awal pandemi, fasilitas ini sempat digunakan untuk mengkarantina warga Australia yang baru pulang dari Wuhan, Cina.

Fasilitas karantina yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan CBD Darwin ini terdiri dari puluhan kamar luas; lengkap dengan televisi, dapur, internet, AC, dan balkon. Dengan berbagai fasilitas tersebut, peserta karantina, termasuk Sheree dimungkinkan untuk tetap berinteraksi satu sama lain dari balkon masing-masing, baik berkomunikasi secara langsung ataupun via virtual melalui video games.

Peserta karantina bisa jogging di sekitar kawasan. Foto: Lexi Spurr

Setiap hari, sambil tetap mengenakan masker dan menjaga jarak, Sheree dan yang lainnya memulai aktivitas dengan melakukan stretching di balkon masing-masing. Kemudian, mereka berjalan-jalan keliling kawasan, berkumpul sambil berjemur, bermain games ketangkasan, menikmati matahari terbenam di Top End, dan bahkan berenang di pantai.

Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Tak ayal, dengan kelonggaran tersebut, fasilitas karantina di sini kerap disebut sebagai karantina sambil berlibur ala Darwin, sebuah kondisi yang sama sekali berbeda dengan karantina di Melbourne, Victoria, Australia, dimana warga yang karantina di sana sampai menangis atau berteriak, saking jenuhnya terkurung di hotel.

Sheree sendiri mengamini bahwa fasilitas karantina di Darwin itu sebagai karantina sambil berlibur. “Kami benar-benar menikmatinya,” katanya. “Sejujurnya, rasanya seperti liburan dibanding di Melbourne. Setiap hari kami melakukan kelas Pilates virtual di balkon atau kami bermain kartu di malam hari,” tambahnya.

LEAVE A REPLY