Sebagai penumpang setia kereta api saat tentu menginginkan perjalanan yang aman dan nyaman. Selain itu ketepatan waktu menjadi nilai tambah bagi masyarakat yang sangat menghargai waktu. Hingga saat ini kereta api memang menjadi transportasi andalan baik aktivitas pekerjaan maupun mengisi liburan. Apalagi kecepatan saat ini sudah bisa mencapai 110 km/jam.
Dibalik itu semua tentunya ada yang memantau, pengecekan bahkan memperbaiki. Setiap pergerakan kereta api yang melintas tak hanya sistem rangkaiannya saja, namun infrastruktur jalan rel juga harus diperiksa.
Mengingat kejadian beberapa hari lalu yang menimpa rangkaian Kereta Api (KA) Bangunkarta rute Jombang – Pasar Senen, anjlok di Bumiayu. Dari anjloknya rangkaian tersebut mengakibatkan perjalanan kereta api lainnya yang melewati Stasiun Bumiayu terpaksa harus memutar.
Banyak yang mengira bahwa anjloknya KA Bangunkarta diakibatkan oleh rel yang mengalami masalah. Ada yang berasumsi rel tersebut memuai, bahkan ada yang menyebut rel tersebut disebabkan oleh sistem wesel yang tidak sempurna. Karena rangkaian tersebut anjlok persis di wesel penghubung antara kedua rel tersebut.
Tapi tahukah kalian, bahwa memang selama di sepanjang rel kereta api ada yang memeriksa hingga melakukan pengecekan secara rutin? Petugas ini melakukan pemeriksaan rel di sepanjang rel antar petak stasiun. Memang terlihat sederhana, namun faktanya risiko pekerjaan tersebut membutuhkan konsentrasi dan fokus yang tinggi.
Ya, dinamakan Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) tentunya harus memastikan rel dalam kondisi prima demi kelancaran kereta api yang berjalan di atasnya. Setiap harinya PPJ menyusuri rel kereta api dari awal ke stasiun berikutnya (hanya satu petak) pulang-pergi. Jaraknya pun bisa mencapai belasan kilometer, pastinya dengan berjalan kaki.
Biasanya, PPJ dalam satu minggu itu ditetapkan ada 40 jam kerja, dan satu hari diberlakukan 8 jam kerja. Saat melakukan pekerjaan, tugas PPJ pun bisa memakan waktu minimal 3 jam tergantung dari jarak pemeriksaan di lintasan. Untuk berisitirahat pun hanya sebentar sekadar minum untuk menghilangkan dahaga.
Mengecek jalur kereta yang dilakukan PPJ ini bukan cuma rel besinya saja, tapi juga meliputi ballast atau disebut juga pemberat kricak, yakni batu-batu kerikil yang menjadi penempatan bantalan rel.
Jika cuaca buruk pun, PPJ pun tetap menjalankan tugasnya karena potensi risiko yang lebih besar. Seperti memantau sekitar rel kereta api jika sewaktu-waktu ada tanah longsor, rel tertimbun lumpur, pohon tumbang, dan lain sebagainya.
Selain membawa kartu pengenal berlisensi, peralatan yang dibawa PPJ pun bisa dibilang lengkap. Mulai dari kunci Inggris, palu ukuran besar, senter (penerang), rompi, spidol putih, buku Pas Jalan, jas hujan, alat komunikasi (HT) hingga bendera (merah-kuning).
Untuk bendera, PPJ menggunakannya jika terjadi keadaan darurat misalkan ingin mengurangi kecepatan kereta api karena di daerah tersebut terjadi gangguan lintasan, petugas pun menggunakan bendera yang dikibarkan.
Pekerjaan seperti yang dilakukan PPJ ini pun tidak bisa sembarang orang tanpa sertifikasi dan lisensi dari Kementerian Perhubungan. Untuk bisa menjadi PPJ, mereka harus melewati sertifikasi untuk mendapatkan lisensi resmi siap bertugas.
Lalu untuk pelatihan PPJ sendiri, dilakukan selama 2 minggu yang kemudian diikuti dengan tes kompetensi dari Dirjen Perkeretaapian Kemenhub. Jika dinyatakan lulus tes, maka diizinkan berdinas sebagai PPJ.
Baca juga:
