Bernard Ziegler, Pelopor Teknologi Fly by Wire di Pesawat Sipil Meninggal Dunia

0
Bernard Ziegler. Foto: Airbus

Kabar duka menyelimuti dunia aviasi global. Belum lama ini, Airbus mengumungkan wafatnya Bernard Ziegler, teknisi yang mempelopori penggunaan teknologi fly-by-wire pada pesawat komersial, di usia 88 tahun.

Baca juga: Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Siap Gantikan Sistem Kendali Pesawat

Dilansir FlightGlobal, putra dari bos Airbus Industrie, Henri Ziegler, ini diketahui mulai berkarir di Airbus pada tahun 1972 sebagai pilot uji, termasuk melakukan penerbangan perdana A300 di tahun tersebut. Selain menimba ilmu di sipil, ia juga turut berkarir di militer sebagai pilot pesawat tempur, pilot uji, serta mengasa kemampuan di bidang teknik penerbangan.

Setelahnya, tak disebutkan dengan jelas bagaimana kronologi Bernard Ziegler sampai dilabeli pelopor penggunaan teknologi fly-by-wire pada pesawat komersial.

Yang pasti, pesawat A300B2 yang terbang perdana pada 28 Oktober 1972 sudah mulai diuji coba Airbus untuk proyek teknologi fly-by-wire. Ketika itu, ini menjadi sangat revolusioner dan berbeda dengan pesaing Amerika-nya, yaitu Boeing, Lockheed, dan McDonnell Douglas.

Di tahun tersebut, Ziegler baru saja bergabung dengan Airbus. Bersamaan dengan tercetusnya ide Two-Men Cockpit Wiweko Soepono, Airbus mulai mengembangkan teknologi fly-by-wire pada pesawat narrowbody twin jetnya, Airbus A320. Pesawat itu berhasil memasuki tahun layanan pada tahun 1988.

Setelahnya, Ziegler terus mengawal pengembangan fly-by-wire pada pesawat-pesawat lain Airbus, salah satunya A340. Ia diketahui sampai ikut dalam penerbangan uji A340-200, dari Paris Le Bourget ke Aucland, Selandia Baru, selama 48 jam 22 menit pada tahun 1993.

Ziegler akhirnya pensiun dari Airbus dengan jabatan terakhirnya sebagai wakil presiden senior bidang teknik pada akhir 1997. Selama meniti karir di dunia aviasi, ini dianugerahi banyak penghargaan dan begitu banyak untuk disebutkan satu persatu.

Meski Ziegler sudah tiada, namun, warisannya abadi atau setidaknya sampai saat ini dan mungkin sampai di masa mendatang, bukan hanya pada seluruh pesawat-pesawat Airbus, seperti A350, A330neo dan A330-700L – pesawat kargo jumbo yang dikenal sebagai BelugaXL, melainkan juga diadopsi oleh pesawat komersial dari pabrikan lain, seperti Bombardier CSeries, sekarang Airbus A220, Irkut MC-21, dan Comac C919.

Sebagai informasi, fly by wire merupakan sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah, tetapi hal ini tidak berarti hanya sebatas mengganti peran manual manusia dalam mengontrol arah dan pergerakkan pesawat.

Baca juga: Kerap Jadi Bahan Pertanyaan, Apa Perbedaan Antara Fly by Wire dan Hydraulic System di Pesawat?

Kendati sistem fly by wire juga mempunyai komputer untuk mengolah data yang dipasok dari berbagai sensor di badan pesawat, namun kadang kadang kinerja system fly by wire secara detail tidak sinkron dengan keinginan operator – dalam hal ini adalah seorang pilot.

Tidak sinkron di sini maksudnya semisal pilot ingin membelokkan pesawat dengan memasukkan sejumlah kode, bisa jadi sistem fly by wire tersebut mengabaikan sejumlah kode yang dimasukkan oleh pilot tadi, dengan tujuan pesawat bisa belok dengan lebih mulus atau tidak membahayakan struktur pesawat.

Leave a Reply