Berpendingin Es Balok, Inilah Kereta Kepresidenan Soekarno

0

Persepsi wahana favorit untuk membawa pimpinan negara atau presiden umumnya berupa pesawat dan mobil, yang lantas kemudian identik dengan label ‘Pesawat Kepresidenan’ dan ‘Mobil Kepresidenan.’ Tapi lain dari itu, meski terbilang langka, juga dikenal sosok kereta kepresidenan. Disebut langka, pasalnya hanya beberapa negara saja yang secara resmi mempunyai wahana transportasi khusus ini.

Baca juga: Mewah Bak Limousine, Berlapis Baja Laksana Tank, Inilah Kereta Diktator Korea Utara

Contoh yang paling eksis saat ini adalah kereta kepresidenan milik pimpinan Korea Utara Kim Jong Un yang disebut-sebut mewah bak limousine dan berlapis baja laksanana kendaraan tempur. Negeri Paman Sam juga tercatat sebagai pengguna kereta kepresidenan di masa lalu, seperti kereta kepresidenan yang digunakan Abraham Lincoln pada tahun 1865, kemudian ada kereta Ferdinad Magellan yang dipakai presiden AS pada periode 1943-1958.

Nah, kembali ke jaman revolusi 1945, Indonesia justru pada saat itu telah menggunakan kereta kepresidenan atau yang lebih dikenal sebagai Kereta Luar Biasa (KLB). Tentu saja rangkaian kereta, baik lokomotif dan gerbongnya adalah peninggalan Belanda. Dua gerbong mewah KLB dibuat khusus untuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dua gerbong khusus itu dibuat Staatspoorwegen (perusahaan KA Hindia Belanda) di Hoofd Werkplaats di Bandung pada 1919.

Masing-masing IL7 dan IL 8 memiliki panjang 18,5 meter. Gerbong IL7 memiliki bobot 39 ton, sementara IL8 36 ton. Nasib dua gerbong mewah ini sempat terancam saat Jepang masuk ke Indonesia.

Sementara untuk lokomotifnya, kala itu dipilih Lokomotif C2849 yang tersimpan di Dipo Jatinegara. Melengkapi satu rangkaiannya, turut disambungkan enam gerbong lagi. Yakni gerbong barang/bagasi DL8009, gerbong penumpang kelas 1 dan 2 ABGL 8001 serta ABGL 8004, gerbong makan FL 8001, serta dua gerbong tidur SAGL 9006 dan SAGL 9004.

Cerita sejarah dari penggunaan KLB didasari atas maraknya provokasi yang terjadi setiap hari di Jakarta, maka pada 1 Januari 1946, pimpinan kereta di Jakarta diperintah secara langsung dan rahasia oleh Soekarno untuk membawa Presiden, Wakil Presiden, seluruh memteri kabinet dan para pejabat tinggi negara untuk pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Untuk itu Balai Yasa di Manggarai diserahi tugas untuk mempersiapkan kereta api khusus dalam waktu secepatnya.

Kursi rotan yang menjadi bagian dari sejarah Presiden RI Soekarno saat tiba di di Stasiun Tugu Yogyakarta, saat itu Soekarno baru tiba dari perjalanan dengan Kereta Api Luar Biasa dari Jakarta ke Yogyakarta, 4 Januari 1946.

KLB berangkat pada 3 Januari 1946 sekira pukul 6 petang dan tiba dengan selamat di Yogyakarta pada 4 Januari sekira pukul 9 pagi. Rangkaian kereta penumpang terdiri dari delapan gerbong yang disusun sebagai berikut:
1. Kerata pertama untuk barang bagasi.
2. Kereta kedua untuk penumpang kelas 1 dan kelas 2.
3. Kereta ketiga untuk penumpang kelas 1 dan kelas 2.
4. Kereta keempat untuk kereta makan.
5. Kereta kelima, kereta tidur kelas 1
6. Kereta keenam, kereta tidur kelas 2
7. Kereta ketujuh, kereta inspeksi khusus Presiden
8. Kereta kedelapan. kereta inspeksi khusus wakil Presiden

Baca juga: NIS 107, Jejak Lokomotif Tertua di Indonesia Yang Terlupakan

Masing-masing gerbong bergandar empat (4 as) dan menggunakan sistem rem pakem. Aslinya seluruh rangkaian merupakan peninggalan kererta kolonial Belanda yang sudah tidak digunakan lagi sejak 1942.

Yang cukup unik, pada masa itu sistem pendingin di gerbong kereta belum seperti sekarang, melainkan pendingin kabin mengandalkan uap dari es balok. KLB itu sendiri kembali ke Jakarta setelah mengantar rombongan pemerintahan ke Yogya, untuk kemudian turut digunakan misi RAPWI (pengurusan interniran dan bala tentara Jepang). Sempat pula kemudian digunakan Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Abdoel Haris Nasution, serta jajaran kabinet lainnya.

Leave a Reply