Bus Damri Angkutan Perintis, “Penyambung Lidah” Transportasi di Wilayah Terisolir Nusantara

Dilihat dari desain, jelas bus ukuran medium ini tak memiliki kualifikasi sebagai kendaraan off road. Namun bus bercat putih dengan garis biru ini sontak melaju perlahan menembus medan berat laksana kendaraan off road. Inilah potret bus Damri yang tak asing melayani beberapa trayek perintis di Tanah Air. Tak jarang bus Damri ini melewati jalan berlumpur dalam, tanjakan licin, menyeberangi sungai dan bermacam jalan ekstrem lainnya.

Baca juga: Akhir Maret 2018, Bus Damri Bandara Soekarno-Hatta Mulai Uji Coba Pembayaran Tiket Cashless

Misi yang diemban Damri memang sangat mulia, yaitu melayani daerah-daerah terisolir sebagai angkutan perintis, dimana di daerah tersebut tidak tersedia sarana angkutan yang memadai dengan tarif yang terjangkau, maka Damri menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam rangka menyediakan angkutan kepada seluruh masyarakat di pedalaman.

Dari kacamata bisnis, trayek perintis dengan medan berat sudah barang tentu kurang menggiurkan, lantaran tingginya harga bahan bakar dan spare part, serta tingkat kerusakan pada kendaraan yang terbilang tinggi. Kesemuanya menjadi beban biaya operasional yang tak kecil bagi perusahaan.

“Angkutan Perintis bagi kami adalah sebuah tantangan, dan tentu atas keputusan pemerintah Damri hadir di area perintis tersebut, membuka layanan transportasi bagi warga di kawasan pedalaman,” ujar SN Milatia Moemin, Direktur Utama Perum Damri kepada KabarPenumpang.com di kantornya pada Senin (12/2/2018) lalu.  Ia menambahkan, meski Angkutan Perintis secara bisnis tak membuat untung perusahaan, namun kebutuhan operasional Angkutan Perintis sedapat mungkin masih bisa ditutupi oleh layanan lain, seperti misalnya Layanan Angkutan Bus Bandara yang merupakan pundi keuntungan perusahaan.

Seperti diketahui, Perum Damri hadir melayani Angkutan Perintis melalui public service obligation, dan mendapatkan subsidi dari pemerintah bila load factor bisa mencapai minimal 30 persen. Inilah yang menjadi tantangan berat bagi Damri, pasalnya load factor 30 persen kadang sulit dicapai untuk trayek perintis, terlebih bila melihat populasi di suatu desa terbilang sedikit, seperti ada satu desa yang jumlah penduduknya hanya 150 orang.

Baca juga: Hilang dari Damri, Tata Hadir di Kopaja

Meski Damri Angkutan Perintis identik dengan trayek di luar Pulau Jawa, namun jangan salah, bus perintis Damri ternyata juga beberapa melayani trayek di Jawa, seperti ada di daerah Sukabumi, Cianjur, Pangandaran, Banyuwangi, dan masih banyak lainnya.