Wednesday, June 3, 2026
HomeAnalisa AngkutanCampuran Bahan Bakar Sawit ke Lokomotif dan Kereta Pembangkit Sudah Digunakan, Ternyata...

Campuran Bahan Bakar Sawit ke Lokomotif dan Kereta Pembangkit Sudah Digunakan, Ternyata Ini Hasilnya

Kereta api di Indonesia kini masih menggunakan tahap uji coba bahan bakar yang bercampur dari kelapa sawit. Lokomotif yang dijalankan pun sudah menarik rangkaian kereta api yang beragam, mulai dari angkutan penumpang maupun angkutan barang seperti petikemas. Tak hanya lokomotif yang bercampur bahan bakar dari kelapa sawit, ada pula kereta api pembangkit yang juga menggunakan campuran yang sama. Dan tentunya sudah digunakan pada rangkakan kereta api, salah satunya pada Kereta Api (KA) Bogowonto rute Lempuyangan – Pasar Senen pp.

Menurut informasi yang beredar,nantinya pemerintah akan memberlakukan implementasi mandatori biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi dan transisi menuju penggunaan energi yang lebih berkelanjutan. Kebijakan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperbesar pemanfaatan energi berbasis nabati pada berbagai sektor transportasi nasional.

Sebagai operator transportasi publik berbasis rel, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) terus memperkuat kesiapan implementasi B50 melalui serangkaian pengujian teknis pada sarana perkeretaapian berbasis diesel. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan, keandalan operasional, dan kualitas layanan kepada pelanggan tetap terjaga selama proses transisi energi berlangsung.

Diketahui bahwa sepanjang tahun 2025, penggunaan biodiesel B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh menghasilkan total emisi karbon sebesar 127.315.192 kg CO₂e atau sekitar 127,3 ribu ton dari total 47,4 juta penumpang. Sementara pada Januari – April 2026, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI telah melayani 19.218.440 penumpang dengan konsistensi penggunaan bahan bakar berbasis biodiesel pada berbagai perjalanan kereta api berbasis diesel.

Dalam berbagai studi transportasi, moda berbasis rel memiliki tingkat emisi yang lebih rendah dibanding kendaraan pribadi. Rata-rata emisi kereta api berada di kisaran 15-40 gram CO₂ per penumpang-kilometer, sementara kendaraan pribadi dapat mencapai sekitar 120-250 gram CO₂ per penumpang-kilometer.

Dalam mendukung implementasi B50, KAI bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta LEMIGAS melalui tahapan pengujian yang dilakukan secara bertahap sejak pertengahan April 2026. Rangkaian pengujian dimulai dari proses blending bahan bakar, pemeriksaan kondisi sarana, hingga pengujian operasional pada berbagai jenis armada.

Untuk lokomotif, pengujian dilakukan di Depo Sidotopo dengan fokus pemantauan pada performa engine dan konsumsi bahan bakar selama penggunaan B50. Pengamatan dilakukan untuk memastikan karakteristik pembakaran, stabilitas performa mesin, serta efisiensi operasional tetap berjalan optimal dalam penggunaan harian. Sementara itu, pengujian pada kereta pembangkit dilaksanakan di Depo Kereta Yogyakarta dengan fokus pada pemantauan konsumsi bahan bakar dan pengujian berkala setiap 300 jam operasi.

KAI juga menyiapkan pengujian lanjutan dalam jangka waktu lebih panjang guna memastikan ketahanan sarana tetap terjaga saat beroperasi secara intensif di lapangan. Hingga saat ini, seluruh hasil pengujian masih dalam proses evaluasi dan pemantauan bersama pemerintah serta tim teknis terkait. KAI juga terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.

Railfans Wajib Tahu! Inilah Bahan Bakar Lokomotif yang Digunakan Saat Ini dan Kapasitasnya

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru