Cegah Covid-19, Inilah Solusi Agar Penumpang Tak Berhimpitan Saat Masuk ke Dalam Kabin Pesawat

0

Maskapai penerbangan kini mulai kembali menerbangkan armadanya untuk mengangkut penumpang. Namun bagaimana agar penumpang yang satu dan lainnya tidak berdesakan ketika akan masuk ke kabin dan duduk di kursi mereka?

Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bbc.com (15/6/2020), banyak solusi yang sudah dilakukan agar penumpang tidak berhimpitan ketika akan masuk ke kabin menuju kursi mereka. Bila dalam keadaan normal penumpang akan masuk sesuai kelas mereka dari yang paling mahal seperti kelas satu, kemudian bisnis dan terakhir kelas ekonomi yang paling sering berdesakan.

Dengan adanya Covid-19 saat ini, nantinya lalu lintas penumpang masuk ke kabin dan kursi mereka tidak akan lagi seperti itu. Penumpang menggunakan masker dan berdiri diberi jarak. Seorang insinyur di Institut Logistik dan Penerbangan Universitas Dresden Jerman, Michael Schultz mengerjakan sebuah makalah terkait hal ini dengan memperkenalkan langkah-langkah jarak sosial penumpang yang satu dengan lainnya sekitar lima kaki.

Ini akan mengurangi jumlah penumpang yang berdekatan satu hingga dua orang meski masih terlalu banyak. Kemudian mengubah prosedur naik ke pesawat dengan duduk di kursi jendela bagian belakang menjadi penumpang yang pertama kali naik dan ini mengurangi jumlah kontak kritis lebih jauh.

Selain itu juga dengan cara membuka pintu depan dan belakang yang akan memisahkan aliran masuk penumpang menjadi dua. Schultz mengatakan, jika ada yang memiliki risiko infeksi, setidaknya satu setengah bagian depan atau belakang tidak akan pernah melakukan kontak dengan orang itu.

Selain itu ada juga metode Steffen yang ditemukan oleh Jason Steffen seorang ahli astrofisika di Universitas Nevada, Las Vegas. Di mana penumpang yang duduk dekat kursi jendela satu sisi pesawat seperti 30A, 28A, 26A dan seterusnya untuk naik pertama.

Kemudian baris berikutnya di sisi lain 30F, 28F, 26F dan selanjutnya diikuti dengan kursi tengah bernomor ganjil kemudian genap yang akhirnya kursi lorong. Dengan solusi ini, Steffen mengatakan akan menggerakkan penumpang melalui sistem dengan sangat cepat.

“Ketika penumpang berhenti, mereka tidak berhenti di sebelah seseorang dan garis di dalam jetway akan lebih cepat hilang,” kata Steffen.

Meski dalam tes lapangan metode Steffen terbukti hampir dua kali lebih cepat dari boarding biasa, tetapi dengan cara ini masih merupakan tantangan. Seperti maskapai bertarif murah Amerika Serikat yakni Southwest telah berhasil memilah penumpang menjadi beberapa kelompok di gerbang, tetapi tentu membutuhkan kerja sama dari penumpang.

“Anda perlu banyak persiapan untuk proses itu. Karena semua orang harus berbaris dan Anda tidak naik dengan orang yang duduk di sebelahmu, jika sebuah keluarga bepergian bersama, itu agak sulit,” kata Michael Schmidt, seorang insinyur yang bekerja di Bandara Munich. “Ini menantang karena kami tidak benar-benar memiliki data, karena jumlah penumpang sangat terbatas,” katanya.

Dari sudut pandang bandara, ada beberapa solusi yang tidak memerlukan perombakan keseluruhan sistem, tidak efisien seperti apa adanya. Lufthansa saat ini sedang menguji boarding biometrik, di mana pemindai “mencocokkan identitas Anda dengan wajah Anda”.

Sementara saran Schultz memungkinkan penumpang untuk memiliki jumlah tas bawaan yang normal, memberi insentif kepada penumpang untuk pergi tanpa dapat mengakibatkan lebih sedikit check in di pintu gerbang, lebih sedikit pertengkaran mengenai ruang loker kabin atas dan proses yang lebih cepat secara keseluruhan.

Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

Schmidt mengatakan, beberapa bandara Jerman termasuk Munich dan Frankfurt telah mengambil langkah untuk mendorong penumpang untuk berhemat. Sementara itu, pemerintah India dilaporkan mempertimbangkan untuk melarang sama sekali masuknya koper ke dalam kabin.

Leave a Reply