Damai! Sriwijaya Rujuk Dengan Garuda Untuk Tiga Bulan ke Depan

Setelah pada Kamis (7/11) kemarin sempat menelantarkan penumpang, kini kabar baik datang dari Sriwijaya Air, dimana Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan bahwa kerja sama antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia diperpanjang hingga tiga bulan ke depan. Ya, sebelumnya santer beredar kabar bahwa kerja sama yang terjalin antara dua maskapai tersebut sempat pecah – dimana berimbas pada pembatalan keberangkatan pada hari Kamis kemarin.

Baca Juga: (Kembali) Pecah Kongsi Dengan Garuda Indonesia, Ratusan Penumpang Sriwijaya Air Terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Menteri Luhut juga menambahkan bahwa hasil pertemuan antara Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara dan salah satu pemegang saham dari Sriwijaya Air, Yusril Izha Mahendra berujung pada audit yang kelak akan dilaksanakan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

“Garuda tadi kita sudah sepakat, (kerja sama) ditandatangani selama 3 bulan ke depan, kemudian dilakukan audit terhadap kerja sama ini oleh BPKP. Itu sudah mulai berjalan. Kita harapkan audit itu akan keluar hasilnya mungkin dalam seminggu atau 10 hari ke depan,” ujar Luhut, dikutip dari laman detik.com (7/11).

“Yang tadi disepakati adalah bahwa perjanjian sementara diperpanjang disepakati 3 bulan, tapi segera diadakan revisi kalau revisi selesai kemudian penggantian direksi supaya tidak terjadi conflict of interest kan agak susah orang Garuda me-manage Sriwijaya,” katanya.

Seperti yang sudah diketahui bersama, Sriwijaya Air tengah terlilit sejumlah hutang kepada Garuda Indonesia dan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya. Alih-alih hutangnya mereda, Yusril menyebutkan bahwa kerja sama yang terjalin antara dua maskapai ini membuat kondisi hutang pihak Sriwijaya semakin membengkak.

“Menurut persepsi Sriwijaya utang bukannya berkurang, malah membengkak selama di-manage oleh Garuda Indonesia,” katanya dikutip dari laman sumber lain.

Baca Juga: Belum Lewati ‘Masa Kritis,’ Akankah Sriwijaya Air Menyusul Merpati dan Adam Air?

Ia menjelaskan kondisi tersebut dipicu kenaikan biaya operasional Sriwijaya pasca kerja sama, dimana perawatan armada pesawat dialihkan kepada anak usaha Garuda Indonesia, PT GMF AeroAsia.

“Dengan itu, biaya jauh lebih mahal,” tandas Yusril.