Belum Lewati ‘Masa Kritis,’ Akankah Sriwijaya Air Menyusul Merpati dan Adam Air?

0
Sumber: istimewa

Selain pemberitaan tentang Thomas Cook Group yang terpaksa gulung tikar setelah lebih dari satu abad melayani para pelancong yang hendak traveling, sebelumnya mungkin isu serupa sempat menyeruak dari dalam negeri, dimana salah satu maskapai swasta yang sempat ‘berkolaborasi’ dengan Garuda Indonesia, Swiwijaya Air juga dirundung isu bangkrut. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada maskapai yang didirikan oleh Hendry Lie, Chandra Lie, Johannes Bundjamin, dan Andy Halim ini?

Baca Juga: Digoyang Isu Stop Beroperasi, Sriwijaya Air Group Keluarkan Bantahan

Sebelum membahas tentang kisruh yang terjadi di tubuh Sriwijaya, ada baiknya untuk menyimak terlebih dahulu kilas sejarah dari maskapai ini. Didirikan pada tahun 2003, adapun penerbangan perdana Sriwijaya Air ini bertepatan dengan Hari Pahlawan – 10 November 2003. Kala itu, Sriwijaya Air langsung mengoperasikan empat penerbangan sekaligus, Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.

Diawal perjalanannya, maskapai ini hanya mengoperasikan satu unit Boeing 737-200 saja, namun seiring berkembangnya bisnis perusahaan, pada Maret 2016 tercatat Sriwijaya Air menggunakan 36 unit pesawat yang terdiri dari Boeing 737-300, Boeing 737-500, Boeing 737-800, Boeing 737-900ER, Boeing 737 MAX 8, dan Boeing 777-300ER.

Polemik
Singkat cerita, induk perusahaan dari NAM Air ini mulai mengalami masalah finansial. Mengutip dari laman moneysmart.id (16/11/2018), Sriwijaya Air memiliki total hutang senilai Rp355 miliar kepada Garuda Indonesia. Mengingat bisnis di sektor transportasi udara diharuskan memiliki sokongan dana yang super kuat, maka Kerja Sama Operasional (KSO) di bidang marketing dan manajemen perusahaan pun dihelat antara Sriwijaya Air dan Citilink Indonesia – anak perusahaan dari Garuda Indonesia Group pada akhir tahun 2018 kemarin. Kendati begitu, banyak pihak di luar sana yang menganggap bahwa Sriwijaya Air diakuisisi oleh Garuda Indonesia Group.

Ternyata beragam penghargaan bergengsi yang berhasil disabet oleh Sriwijaya Air seperti Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft pada 2007 hingga sertifikasi Basic Aviation Risk Standard (BARS) yang didapat dari Flight Safety Foundation pada tahun 2015 silam tidak melulu memuluskan langkah bisnis dari maskapai ini.

Polemik Berkelanjutan
Seiring waktu berjalan, lagi-lagi langkah Sriwijaya harus terseok-seok manakala Direktur Quality, Safety, dan Security PT Sriwijaya Air Toto Soebandoro merekomendasikan agar maskapai ini stop operasi karena dipengaruhi oleh beragam faktor – mulai dari Sriwijaya Air hanya mengerjakan line maintenance sendiri, dengan metode Engineer On Board (EOB) dengan jumlah engineer 50 orang, dengan komposisi 20 orang certifying staff, 25 orang RII dan certifying staff, 5 orang management and control, dan personnel tersebut dibagi dalam 4 grup.

Mengutip dari cnbcindonesia.com (30/9), Sriwijaya Air juga memiliki minimum stock consumable part dan rotable part di beberapa bandara yakni CGK (Cengkareng), SUB (Surabaya), KNO (Medan) dan DPS (Denpasar), sebagai penunjang operasi penerbangan. Ditambah soal kendala di sektor operasional yang membobol kas perusahan senilai Rp3,2 miliar dalam kurun waktu satu bulan.

Belum lagi pemberitaan tentang pihak maskapai yang tidak bisa memenuhi kewajiban pembayaran jasa dari kesepakatan kedua belah pihak (Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group). Kerja sama dilakukan dalam rangka penyelesaian utang kepada sejumlah perusahaan, seperti PT GMF AeroAsia Tbk, PT Bank Negara Indonesia, dan PT Pertamina.

Baca Juga: Buntut Pencabutan Logo “Garuda Indonesia,” Sriwijaya Air Group Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Peliknya masalah yang menggelayuti tubuh perusahaan sampai-sampai menyeret Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno guna menjadi mediator untuk mencari jalan keluar terbaik bagi semua pihak.

Terakhir, dikabarkan bahwa dua direksi dari Sriwijaya Air, Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengundurkan diri dari perusahaan. Tidak lain dan tidak bukan, pengunduran diri ini merupakan buntut dari pertikaian bisnis antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group.

“Saya terus terang, sejak putus (hubungan dengan) GMF sampai hari ini saya khawatir sekali. Ada tunggakan Rp 800 miliar, operasional penerbangan berisiko,” kata Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto, dikutip dari laman cnbcindonesia.com (30/9).

Akhir kata, akankah Sriwijaya Air menyusul Merpati, Adam Air, dan Bouraq yang sudah terlebih dahulu pensiun dini akibat polemik finansial perusahaan?

Leave a Reply