Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengambil langkah tegas dengan memerintahkan grounding terhadap 38 unit pesawat Airbus A320 Family yang beroperasi di dalam negeri. Tindakan ini merupakan respons cepat terhadap mandat keselamatan penerbangan darurat yang dikeluarkan oleh Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) pada akhir November 2025.
Isu ini berakar dari cacat kritis yang ditemukan pada sistem kendali penerbangan pesawat Airbus A320 Family (meliputi A319, A320, dan A321). Masalah berpusat pada komponen vital yang disebut Elevator Aileron Computer (ELAC), khususnya unit dengan batch tertentu (ELAC B L104). Komputer ini bertanggung jawab mengirimkan perintah dari sidestick pilot ke kendali penerbangan utama (elevator dan aileron).
Analisis teknis dari Airbus dan EASA menunjukkan bahwa radiasi matahari yang kuat (intense solar radiation) memiliki potensi untuk merusak (corrupt) data yang sangat penting di dalam komputer ELAC.
Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!
Kondisi darurat ini dipicu oleh insiden yang melibatkan pesawat JetBlue A320 pada 30 Oktober 2025. Dalam insiden tersebut, pesawat mengalami pitch-down (hidung menukik) secara tiba-tiba dan tidak terduga, yang kemudian ditelusuri terkait dengan malfungsi ELAC. EASA memperingatkan, dalam skenario terburuk, kondisi ini dapat menyebabkan pergerakan elevator yang tidak terkendali, berpotensi melebihi batas struktural pesawat.
EASA mengeluarkan Emergency Airworthiness Directive (EAD 2025-0268-E) yang berlaku efektif mulai 30 November 2025, yang mengharuskan operator seluruh dunia untuk segera bertindak.
Dari total 143 unit pesawat A320 Family yang aktif beroperasi di Indonesia, 38 unit (sekitar 26%) terdampak langsung oleh perintah perbaikan ini.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub mengadopsi mandat EASA tersebut dan mewajibkan semua operator untuk memastikan pesawat yang terdampak telah mengganti atau memodifikasi komputer ELAC dengan versi yang serviceable (ELAC B L103 atau lebih tinggi) sebelum penerbangan berikutnya.
Grounding mendadak terhadap 38 pesawat di tengah masa puncak perjalanan akhir tahun memiliki dampak operasional dan finansial yang signifikan bagi maskapai domestik. 38 pesawat yang grounding tersebar di enam maskapai penerbangan domestik utama yang mengandalkan armada A320 Family, yaitu Batik Air, Super Air Jet, Citilink Indonesia, Indonesia AirAsia, Pelita Air dan TransNusa
Kekurangan Armada: Armada A320 adalah tulang punggung penerbangan domestik dan regional di Indonesia. Grounding massal ini menyebabkan kekurangan armada yang parah. Terjadi tepat menjelang lonjakan volume penumpang akhir tahun (Natal dan Tahun Baru), memaksa maskapai melakukan banyak pembatalan dan penundaan jadwal (delay) untuk menyesuaikan dengan ketersediaan pesawat yang tersisa.
Maskapai didorong untuk membuat rencana mitigasi risiko yang ketat, termasuk menyediakan refund atau penjadwalan ulang (rebooking) bagi penumpang yang terdampak.
Kemenhub mengimbau masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan pada periode 30 November hingga 4 Desember 2025 untuk segera menghubungi maskapai guna konfirmasi jadwal keberangkatan, sekaligus menekankan bahwa keselamatan penerbangan adalah prioritas tertinggi.
