Demi Kereta Cepat “Aero Train,” Cina dan Jepang Resmi Berkolaborasi

Sumber: scmp.com

Seolah tiada henti menelurkan beragam teknologi baru, Cina dan Jepang terus berada di jalur persaingan demi memenangkan pasar, tidak terkecuali di sektor transportasi. Baru-baru ini, kedua negara kampiun industri ini saling bahu membahu dalam mengembangkan sebuah kereta berkecepatan tinggi yang mampu melesat hingga kecepatan 500 km per jam. Konsep Aero Train ini digadang bakal menandingi kecepatan yang kini dijawarai oleh Shanghai Maglev yang punya kecepatan 430 km per jam.

Baca Juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (26/4/2018), desain Aero Train ini sendiri terinspirasi dari burung albatros, salah satu jenis burung laut besar. Dengan menggunakan desain ini, kedua negara penghasil kereta cepat ini mempercayai bahwa mampu mencuri perhatian publik. Selain cepat, desainnya pun sangat menarik perhatian.

Menurut Lai Chenguang, seorang profesor dari Chongqing University of Technology menyebutkan bahwa pembuatan dan uji coba Aero Train versi pertama dan kedua ini telah dilakukan di Jepang. Semisal rampung kelak, kereta ini akan memangkas estimasi perjalanan dari Tokyo menuju Osaka, yang semula membutuhkan waktu dua setengah jam, menjadi satu jam saja.

Menggunakan dasar teknologi yang sama seperti Shanghai Transrapid, Aero Train ini pun mengaplikasikan gaya levitasi magnetik (maglev), yang menjadikan kereta tidak berjalan di atas rel. Adapun kehadiran sayap yang menyerupai huruf U ini membuat kereta lebih aerodinamis.

Menurut laporan dari Industry Leaders, kereta Shanghai Transrapid terkesan tidak efisien dan memiliki biaya pengoperasian yang diatas ambang, karena adanya hambatan angin yang khas di antara bagian bawah kereta maglev dan rel.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

Tidak bisa dipungkiri, Cina memang salah satu eksportir kereta cepat ke seluruh dunia. Ini merupakan bagian dari program “Belt and Road Initiative”, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan hubungan perdagangan dan infrastruktur dengan negara-negara dari Asia ke Afrika.

Pada kesempatan yang sama, Lai Chenguang mengemukakan bahwa desain Aero Train yang menyerupai burung albatros ini pun mengadopsi teknik terbangnya, yaitu Dynamic Soaring untuk mencapai elevasi antara massa udara dengan kecepatan yang berbeda. Unik ya!