Dipandang Tak Manusiawi, Kereta Sapu Jagad Kini Tinggal Kenangan

Railway Enthusiast Digest

Kereta ini memang special, pasalnya hanya dihadirkan pada saat-saat tertentu. Ya, kereta Sapu Jagad merupakan kereta tambahan bagi para penumpang yang tidak kebagian tiket kereta reguler. KA Sapu Jagad umumnya hadir menggunakan gerbong kereta barang dan tanpa tempat duduk didalamnya. Dan nama Sapu Jagad sejak beberapa dekade telah melekat pada angkutan pemudik Lebaran di Pulau Jawa.

Sayangnya, karena manajemen tiket tidak jelas untuk tempat duduk, kareba yang dipakai adalah gerbong barang, banyak penumpang yang akhirnya berdesak-desakan. Ini menimbulkan banyak pertentangan, mengingat yang di angkut dalam kereta adalah manusia, bukan barang ataupun binatang. Apalagi setiap gerbong kereta sapu jagad bisa berisi 100-125 penumpang. Anda pasti bisa membayangkan seperti apa isi kereta sapu jagad ini.

Seiring reformasi perkeretaapian di Indonesia, sejak tahun 2009 PT KAI mulai meniadakan kereta sapu jagad. Kereta ini (sapu jagad) terakhir terlihat dan beroperasi tahun 2009 dengan alasan kemanusiaan, keselamatan dan keamanan dalam perjalanan. Sehingga KAI menerapkan satu kursi satu tiket seperti sekarang.

Railway Enthusiast Digest
Railway Enthusiast Digest

Pertengahan tahun 2016 lalu, tepatnya sebelum lebaran, Komisi V DPR RI meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menyediakan kereta sapu jagad saat mudik lebaran. Pemikiran adanya kereta sapu jagad ini karena antusias masyarakat yang mudik menggunakan kereta api selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Dilansir dari Kompas.com (21/6/2017), Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, KAI sudah memiliki sistem ticketing, dimana konsep kereta sapu jagad tidak lagi memungkinkan untuk diterapkan saat ini. “Ada nomor bangku, sekarang enggak bisa lagi sebab orang masuk stasiun kan harus boarding,” ujarnya.

Menurut Edi, daripada menyediakan kereta sapu jagad, lebih baik membuat kereta tambahan untuk mengangkut penumpang, dan kapasitas kereta mengangkut pemudik bisa lebih banyak. “Kalau memang 5,3 juta kapasitas terpenuhi ya sudah silahkan mencari moda lain demi keselamatan. Kalau mau penumpangnya ditambah yang beliin kereta dong,” kata Edi.

Tak adanya persetujuan pengaktifan kereta Sapu Jagad juga disampaikan oleh Menteri Perhubungan saat itu Ignasius Jonan. Sebab, menurutnya hal ini sangat bertentangan dengan aspek keselamatan dan komitmen pelayanan PT KAI.