Siapa yang tak kenal dengan stasiun yang satu ini. Berada di lokasi yang dekat dengan Masjid Al Jabbar yang ikonik dan stadion olahraga Glora Bandung Lautan Api (GBLA), stasiun ini menjadi daya tarik wisatawan baik dari warga Bandung maupun dari luar Bandung.
Ya, Stasiun Cimekar merupakan stasiun yang berada di ketinggian +668 m ini termasuk dalam Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung. Meskipun dinamai “Cimekar,” stasiun ini tidak terletak di Desa Cimekar, tetapi terletak di sebelah barat Desa Cimekar itu sendiri.
Diketahui posisi Stasiun Cimekar sebelumnya berada pada kilometer 168+130, dan secara administratif terletak di Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Namun, sehubungan dengan rencana pengembangan Stasiun Cimekar, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Gubernur Ridwan Kamil sempat mengusulkan agar lokasi Stasiun Cimekar digeser ke arah Masjid al-Jabbar serta diintegrasikan dengan jalur kereta kecepatan tinggi Jakarta–Bandung.
Tak hanya sampai disitu, meski stasiun ini merupakan kelas III namun memiliki sejarah yang tak terlupakan. Stasiun Cimekar ternyata sempat berganti nama di era Kolonial Belanda. Ya, Stasiun Cimekar dahulunya hanya sebuah pemberhentian bernama Halte Ciendog.
Lokasi Stasiun Cimekar, berada diantara Stasiun Gedebage dengan arah Stasiun Rancaekek. Menurut penelusuran kabarpenumpang menunjukkan bahwa halte kereta api tersebut sudah ada sejak 1 Mei 1899.
Setelah dibukanya Halte Ciendog beberapa kereta api yang melintas bisa berhenti termasuk kereta lokal Bandung – Cicalengka. Layanan kereta api Bandung-Cicalengka itu bermula dari Bandung kemudian berhenti di Cikudapateuh, Kiaracondong, Ciendog, Rancaekek, Haurpugur, dan Cicalengka.
Selanjutnya pada tahun 1900, selain menjadi tempat berhenti kereta api lokal, Halte Ciendog menjadi perhentian kereta api antarkota. Halte Ciendog menjadi perhentian kereta api jurusan Bandung – Maos. Selengkapnya stasiun-stasiun di Bandung yang dilewati kereta api jurusan Bandung – Maos adalah Bandung, Cikudapateuh, Kiaracondong, Ciendog, Rancaekek, Rancakendal, Haurpugur, Cicalengka, dan Nagreg.
Halte Ciendog semakin ramai dengan penumpang kereta api. Tercatat dalam sejarah di era Kolonial, pada tahun 1921 ada 32.380 penumpang yang pergi dan 40.989 penumpang yang datang, dan totalnya sebanyak 73.399 orang penumpang yang menggunakan Halte Ciendog.
Selanjutnya pada tahun 1924, jumlah penumpang yang pergi ada 31.324 orang dan 44.461 yang datang, dan totalnya sebanyak 75.785 orang. Sedangkan untuk 1925, ada 23.084 penumpang yang pergi dan 33.467 penumpang yang datang, dengan jumlah keseluruhannya sebanyak 56.551 orang.
Meski memperlihatkan penurunan pada tahun 1925, tetapi jumlah penumpang yang mencapai puluhan ribu orang setiap tahunnya, jelas memperlihatkan pentingnya Halte Ciendog untuk sarana transportasi penduduk yang tinggal di sekitar kawasan itu. Paling tidak untuk pergi dan pulang di Kota Bandung.
Hingga kini Stasiun Cimekar menjadi bagian penting bagi penumpang kereta api, baik yang ingin berwisata maupun sebagai alternatif naik dan turun penumpang menuju kawasan pemukiman warga.
Halte KA (Kereta Api) Roban, Apakah Ada Hubungannya dengan Alas Roban?
