Fenomena Kereta Tabrak Burung Jadi Dampak Ekologi Kehadiran Bullet Train?

0
Sumber: phys.org

Teknologi kereta cepat yang sudah dikembangkan di berbagai negara seperti Jepang, Perancis, dan Cina memang mengundang decak kagum dari berbagai kalangan. Namun, secanggih-canggihnya kereta ini tentu akan menemui masalah yang harus segera dicari solusinya, seperti ancaman hewan-hewan liar.

Baca Juga: Perkembangan Kereta Cepat Bakal ‘Interupsi’ Layanan Penerbangan di Masa Depan, Mungkinkah?

Bukan tidak mungkin jika kereta yang mampu menempuh kecepatan 185 mil per jam atau yang setara dengan 298 km per jam ini akan menghantam burung atau hewan liar lain yang tetiba melintas di jalur. Tentunya ini akan menjadi sebuah permasalahan yang besar jika tertabraknya hewan tersebut mengakibatkan kecelakaan, bukan?

Berdasarkan himpunan KabarPenumpang.com dari laman phys.org (24/1/2018), perkembangan kereta berkecepatan tinggi menimbulkan tantangan ekologi baru. Fakta menyebutkan bahwa pengoperasian kereta ini dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti kematian burung karena tertabrak. Sayangnya, hingga saat ini kasus kereta cepat menabrak burung belum dianalisis lebih lanjut.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution, telah mengembangkan sebuah metodologi baru untuk mempelajari dampak kereta api berkecepatan tinggi terhadap burung yang melintas. Demi menunjang metodologi ini, alat rekam dipasang di kabin lokomotif selama perjalanan lebih dari 8.700 mil, dengan kecepatan rataan 155 hingga 185 mph.

“Memungkinkan kami untuk mendapatkan perkiraan tentang angka kematian burung dalam satu perjalanan kereta cepat, dan penelitian semacam ini merupakan yang pertama yang pernah dilakukan dalam sejarah kereta api berkecepatan tinggi,” ungkap Juan Malo, penulis studi dan peneliti dari Autonomous University of Madrid.

Tercatat, peneliti menemukan 1.090 penampakan burung selama perjalanan tersebut. Data tersebut nantinya akan digunakan sebagai acuam agar bisa menilai penampakan burung mana yang lebih potensial mengakibatkan kecelakaan, dan mengapa itu bisa terjadi.

“Di jalur kereta cepat Madrid-Levante, di mana penelitian ini dilakukan, sekitar terdapat 60 burung per kilometer antara Madrid dan Motilla del Palancar, dan 26 burung per kilometer di antara Motilla del Palancar dan Albacete,” tambah Juan.

Tidak hanya soal burung yang tetiba melintas, kehadiran burung yang bertengger di rel pun tak luput dari penelitian ini. “Selain itu, lebih dari 25 persen perlintasan kereta ‘dihuni’ oleh burung yang bertengger di tanah,” imbuhnya.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

Satu hal yang menjadi perhitungan para peneliti ini adalah si burung yang baru bereaksi ketika kereta sudah berjarak 200 hingga 445 kaki, ini mengakibatkan waktu untuk si burung melarikan diri menjadi semakin tipis. “Alhasil, burung-burung tersebut mati tersambar kereta,” lanjut Juan.

Maka dari itu, para peneliti akan memikirkan bagaimana caranya untuk meminimalisir angka kematian burung akibat sambaran kereta cepat, baik dari segi modanya hingga infrastruktur. “Data yang kami publikasikan bertujuan agar proyek kereta cepat dapat melihat dampak yang terjadi dari segi ekologi, sehingga para kontraktor dapat mengambil langkah perbaikan.” Simpul Juan.

Leave a Reply